
...🍀🍀🍀...
Regan panik begitu ia melihat istrinya jatuh tak sadarkan diri di lantai dapur. Regan membopong tubuh istrinya itu dan tanpa pikir panjang, Regan membawa istrinya ke rumah sakit dengan ditemani mang Didin yang kebetulan malam itu mang Didin jaga di pos ronda bersama mang Herman. Siapa yang tau bahwa malam ini Regan membutuhkan bantuannya.
"Mang Didin!" teriak Regan panik, tangannya menggendong sang istri yang tidak sadarkan diri.
Didin dan Herman yang sedang asik ngopi, langsung beranjak dari tempat duduknya, ketika melihat majikan mereka.
"Tuan!"
"Mang Didin tolong siapkan mobil, cepat pak!" ujar Regan setengah berteriak pada mang Didin dan Regan melempar kunci pada pria paruh baya itu. Dengan cepat Didin pun membuka garasi dibantu oleh Herman dan mengambil mobil. Kini Regan, Ara dan Didin berada di dalam mobil. Mereka menuju ke rumah sakit terdekat disana.
Regan dan Ara berada di kursi belakang. Regan terus mendekap tubuh istrinya yang ternyata panas. "Sayang, bangun sayang...jangan buat aku cemas sayang." lirih Regan cemas seraya menatap sang istri di dalam dekapannya.
Sesekali Didin melihat majikannya itu lewat kaca depan, Didin merasakan kasih sayang Regan pada istrinya begitu besar. Dia sudah mengenal Regan dari kecil, sejak kejadian penculikan itu Regan menjadi dingin dan jarang mengekspresikan dirinya. Tapi sekarang Regan merasakan kembali kehangatan dan berubah menjadi hangat karena Ara. Didin senang akan hal itu.
"Mang cepetan!" seru Regan lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Iya tuan, ini mang ngebut!" jawab Didin dan ia mempercepat laju mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit, akhirnya mobil yang membawa Regan dan Ara sampai di depan bagian ruang UGD rumah sakit.
Regan membawa Ara masuk ke dalam sana. Sumpah, ia sangat panik melihat keadaan Ara seperti ini. Takut terjadi sesuatu pada Ara. Tanpa bicara sepatah katapun dan hanya menunjukkan raut wajah panik saja, Regan langsung membaringkan sang istri di salah satu ranjang di ruang UGD. Padahal dia bisa saja meminta bantuan kepada perawat dan disana perawat sudah siap menolong. Akan tetapi Regan memilih membawa istrinya sendiri kesana.
"Dok, tolong periksa istri saya dulu!" seru Regan pada seorang dokter wanita yang tengah merawat pasien lain. Sedangkan ada dokter pria disana yang menganggur disana, tapi Regan tidak meminta bantuannya.
"Maaf pak, saya sedang menangani pasien lain. Bapak bisa minta dokter itu untuk memeriksa istri bapak." jelas si dokter wanita pada Regan.
"Ya pak, saya yang akan memeriksa kondisi istri bapak." kata dokter pria berkacamata itu, ia siap memegang tangan Ara untuk memeriksa kondisinya.
"Saya tidak mau istri saya disentuh oleh pria!" tegas Regan retoris. Ia tak mau Ara disentuh dokter pria, maunya Ara ditangani dokter wanita. Kedua dokter itu pun mendesah kesal dan akhirnya gantian merawat pasien.
Kini dokter wanita itu memeriksa kondisi Ara dengan stetoskopnya. Tangannya menyentuh pergelangan tangan wanita yang masih tak sadarkan diri itu. Sementara Regan suaminya, masih menunggu dengan harap-harap cemas. Regan tak mau jauh dari istrinya.
"Pak, istri bapak mengalami kelelahan dan sepertinya saya harus mengecek kondisi istri bapak lebih lanjut."
"A-apa terjadi sesuatu pada istri saya, dok? Istri saya sakit apa?" tanya Regan pada dokter itu.
__ADS_1
"Saya belum bisa memastikannya sebelum istri bapak melakukan tes lebih dulu. Namun sebelum itu, bapak silahkan urus biaya administrasinya dan pihak rumah sakit akan memindahkan istri bapak ke ruang perawatan." jelas dokter paruh baya itu.
Ah ya, Regan jadi lupa untuk membayar biaya administrasi rumah sakit karena saking paniknya dengan kondisi sang istri. Dan dia juga lupa untuk mengabari mertuanya. Bahkan saat ini Regan masih memakai baju setelan kantor.
Selagi menunggu Ara di periksa lebih lanjut oleh dokter. Regan pergi ke bagian resepsionis dan membayar biaya tagihan rumah sakit di bagian ruang rawat VVIP. Setelah itu Regan mengambil ponsel yang ada di dalam saku jasnya dan ia pun mulai menghubungi ibu mertuanya.
"Assalamualaikum Ma," sapa Regan ketika telponnya tersambung.
"Waalaikumsalam nak, ada apa?" tanya Anna ramah.
"Maaf ma, Regan telpon malam-malam begini. Regan cuma mau ngabarin kalau Ara di rumah sakit, Ma." jelas Regan sambil menghela nafas panjang.
"APA? kenapa bisa nak? Apa yang terjadi?" sentak Anna terkejut mendengar berita tentang anaknya yang masuk rumah sakit.
"Ma, ada apa ma?" tanya Sean pada mamanya yang masih berbicara di telepon dengan Regan.
"Ara masuk rumah sakit, Se." kata Anna pada putranya.
"Rumah sakit mana, Gan?" tanya Sean langsung pada Regan.
"Rumah sakit Cahaya Harapan." jawab Regan.
"Maaf mas, saya gak--" wanita itu mengambil dompet Regan yang ada di bawah lantai, kemudian matanya menatap pria itu dengan dalam.
Regan agak terusik dengan tatapan wanita itu, namun ia segera mengambil dompetnya dari tangan si wanita bermata sipit itu. Dan Regan melangkah pergi dari sana.
"Regan!" wanita itu memegang tangan Regan dan membuatnya berhenti melangkah.
"Lepas!"
"Regan, ini kamu kan? Regan, aku mau ngomong sama kamu!" seru wanita itu seraya memohon pada Regan. Regan menatap tak suka dan menepisnya. Ia sangat dingin.
"Gan...aku minta maaf."
Regan mengajukan wanita yang meminta maaf kepadanya itu. Dia pergi begitu saja meninggalkannya disana, tapi sayangnya wanita itu tidak menyerah untuk mengejar Regan. Entah siapa wanita itu, sepertinya Regan juga mengenalnya.
"Kamu apa-apaan sih?!" hardik Regan kepada wanita itu karena tidak tahan dengan sikapnya. Matanya menatap nyalang dan kini posisinya sudah berada di depan ruangan Ara.
__ADS_1
"Gan, kalau kamu nggak bisa bicara sekarang. Aku minta nomor telepon kamu, kita bisa bicara nanti!" seru wanita itu seraya menyodorkan ponselnya kepada Regan.
"Stop, Win! Jangan ganggu gue lagi." kata Regan sinis dan menepis tangan Windi yang memegang tangannya. Regan tak suka dengan sikap kurang ajar Windi padanya. Gadis yang bernama Windi ini, terkejut melihat ada cincin melingkar di jari Regan.
'Apa Regan udah nikah?' batin Windi tersentak.
Tak lama kemudian, pintu ruang rawat itu pun terbuka dan memperlihatkan dokter yang tadi merawat Ara. Regan pun mengalihkan pandangannya kepada dokter itu.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Istri saya baik-baik saja kan?" tanya Regan pada dokter dengan cemas.
'Istri? Regan bilang istrinya?' Windi yang masih ada disana terkejut mendengarnya.
"Istri bapak sedikit kelelahan dan kurang cairan sehingga tubuhnya lemah. Tapi maaf pak, apa istri bapak bekerja? Atau banyak melakukan pekerjaan berat?" tanya sang dokter.
"Istri saya kerja di kantor dok."
"Oh begitu...pantas saja istri bapak mengalami dehidrasi. Tolong ya pak, nanti dibilangin sama istrinya supaya jangan kerja dulu. Kandungan istri bapak masih berada di trimester pertama dan tergolong lemah. Jadi saya mohon dengan sangat, setelah demam ibu Haura turun. Tolong di jaga ya, terutama pola makan dan istirahatnya." tutur sang dokter.
"A-apa?! Kandungan? Istri saya hamil dok?!" Regan tersentak kaget mendengar penuturan dokter yang panjang lebar itu.
"Iya pak, istri bapak sedang mengandung. Usia kandungannya menginjak 3 Minggu pak." jawab dokter itu yang ternyata memberikan kabar bahagia untuk Regan.
Pria itu sampai tak bisa bicara saking senangnya dengan berita dari dokter. Rencananya sukses membuat Ara hamil, jadi sesuai janji. Ara tidak boleh pergi bekerja lagi dan itu yang Regan inginkan. Tapi diatas semua itu, Regan merasa bahagia karena dia akan menjadi seorang ayah. Hatinya seperti dipenuhi oleh kupu-kupu yang berterbangan di hamparan taman bunga. Senang, bahagia, haru, Allah telah memberikannya amanah secepat ini.
'Aku akan jadi seorang ayah? Ara hamil. Jadi keanehannya selama ini karena dia sedang hamil? Ya Allah, Alhamdulillah... terima kasih atas amanah yang kau berikan. Kami akan menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya' batin Regan bahagia.
"Alhamdulillah ya Allah!! Akhirnya aku akan punya cucu!" kata Anna sumringah, ia sudah ada di samping Regan. Entah kapan datangnya, tapi tampaknya tiga anggota keluarga Ara itu sudah mendengar penjelasan dari dokter. Sean dan Bryce tampak tersenyum bahagia mendengar kabar bahagia ini.
"Kita bakal punya cucu, Ma." sahut Bryce bahagia.
"Alhamdulillah, aku bakal punya keponakan." ujar Sean sambil memegang dadanya.
"Ya kamu bakal punya keponakan, tapi kamu belum kasih mama dan papa cucu." ketus Anna pada Sean.
"Otw ma, Sean nikah dulu." kata Sean sambil tersenyum pada mamanya. Setelah kesalahpahaman antara dirinya dan Rachel selesai, ia akan menikahinya.
Tapi lain halnya dengan Windi, raut wajahnya terlihat suram dan air matanya berlinang. Windi hendak bicara dengan Regan, namun seseorang memegang tangannya dan membawa gadis itu pergi dari sana.
__ADS_1
"Jangan pernah berani Lo gangguin Regan lagi! Gue sendiri yang bakal turun tangan kalau Lo gangguin kebahagiaan Regan, cewek gila!" sarkas Arga pada wanita itu, ia menatap Windi dengan penuh amarah. Windi balas menatap Arga dengan penuh kemarahan juga.
...****...