
...🍀🍀🍀...
Ara terkejut melihat seseorang yang menolongnya itu. Bram, dia ada disini. Bagaimana bisa? Ara juga tak tau. Ara semakin bingung manakala ia melihat ada keluarga Gallan disana, kecuali Giselle. Mau apa mereka semua disini? Wanita itu bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Berani kalian menganggu istriku! Akan ku patahkan tangan kalian!" serka Bram pada Bimo dan Riki yang sudah menganggu Ara. Mendengar kata istriku dari bibir Bram, bukannya senang tapi Ara malah muak.
Istriku? Apa mas Bram bercanda?
Bimo dan Riko yang sudah dihajar oleh Bram, langsung pergi lari kocar-kacir dari sana. Sementara itu Bram mengulurkan tangannya untuk membantu Ara berdiri.
"Ra, kamu gak apa-apa?" tanya Bram pada Ara dengan suara lembut. Tidak membentak-bentak seperti biasanya.
Ara tidak membalas uluran tangan pria itu dan memilih berdiri sendiri. Ia malas melihat mantan suaminya itu, terlihat tak ada senyuman sedikit pun di wajahnya. Hanya ada sorot mata tajam, muak, penuh kebencian.
Aku pasti akan memperbaiki semuanya Ra, aku akan mengambil hatimu lagi. Aku akan mengembalikan senyuman yang dulu sering kamu tunjukkan padaku.
Bram merindukan sosok Ara yang selalu tersenyum padanya, menunggunya saat pulang kerja, menyiapkan semua kebutuhannya dan menjadi istri yang baik selama beberapa bulan ini. Bram menyesali semua perbuatannya dulu yang mengabaikan Ara. Jika waktu bisa di putar ulang, Bram ingin kembali pada masa-masa Ara masih mencintainya dengan menggebu, tidak seperti sekarang yang penuh kebencian.
Aku akan berusaha Ra, aku akan mempertahankanmu, aku akan memperbaiki semuanya.
"Kamu gak apa-apa nak?" tanya Anna seraya menghampiri Ara dengan cemas.
"Apa kamu terluka?" tanya Bryce yang ingin memegang tangan Ara, namun wanita itu beringsut menjauh dari Bryce. Hatinya memang sudah memaafkan Bryce, tapi bukan berarti Ara melupakan semua yang dilakukan pria itu padanya.
Ara ingat, ingat sekali bahwa pria itu yang sudah membuatnya terluka karena kehilangan bayinya yang belum lahir. Dia tidak akan pernah melupakan itu, meski sudah memaafkan.
Jujur saja, hari Bryce mencelos melihat sikap Ara yang masih menjauhinya. Padahal Bryce ingin sekali memeluk putrinya yang sudah lama hilang ini.
"Saya gak apa-apa. Tapi kenapa kalian semua ada disini?" tanya Ara sambil menundukkan tubuhnya untuk mengambil barang belanjaannya yang sempat terjatuh tadi. Bram mendahuluinya, menyambar keresek belanjaan Ara.
"Biar aku yang bawa, Ra." pria itu melebarkan senyumnya, Ara merebut keresek itu dari tangan Bram. Meski diabaikan oleh Ara,
"Nak, kami ingin bicara denganmu." kata Anna dengan lirih dan tatapan sendu yang membuat Ara tidak tega.
Sebenarnya Ara tidak tega, malam-malam begini mereka semua datang kesana pasti ada hal yang penting. Maka dari itu Ara pun mengundang semua keluarga Gallan untuk pergi ke rumah mendiang ibu dan ayah Ara.
Keluarga Gallan duduk di kursi tua yang ada di ruang tengah. Kecuali Bram yang ikut ke dapur dengan alih-alih membantu Ara menyiapkan minuman.
__ADS_1
Mata Bryce, Anna dan Sean menatap ke setiap sudut ruangan itu. Rumah tua dan sempit untuk mereka, bahkan rumah itu tidak sebesar kamar mandi di rumah mereka yang luas. Tapi bagi Ara, rumah ini adalah rumah sederhana dan mewah. Sebab disinilah Ara dibesarkan dan dilimpahkan dengan banyak kasih sayang.
"Pa, Ma, jadi selama ini Lyodra tinggal di rumah ini?" tanya Sean miris. Ia merasakan hidup kaya tanpa kekurangan suatu apapun, tapi adiknya hidup susah.
"Iya nak, mama juga tidak tega. Selama ini sepertinya usaha mama dan papa yang kurang untuk menemukan Lyodra dan malah mengira adikmu sudah tiada." Anna kembali merasa bersalah, apalagi teringat sikapnya pada Ara.
Bryce mengedarkan pandangannya ke dinding dinding di rumah itu, lalu atensinya tertuju pada foto Ara waktu berusia 2 tahunan. Bryce melangkah ke arah dinding yang ada foto itu untuk melihatnya lebih jelas.
"Ini...ini..." Bryce mengenali wajah Ara, apalagi gelang yang ada ditangan mungil Ara adalah gelang pemberiannya. "Ya Allah...."
"Kita harus membawa Lyodra kembali hari ini pa, kita harus membawanya pulang!" kata Sean pada papanya.
"Iya nak, itu tujuan kita kemari! Semoga saja dia mau ikut pulang bersama kita," ucap Bryce sambil mengusap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Anna juga menangis, dia ingin Ara tinggal bersamanya. Di rumah keluarga Gallan.
"Lalu bagaimana dengan Giselle? Dia belum tau semua ini kan?" tanya Sean pada mama dan papanya.
"Kita beritahu dia nanti, pasti dia akan keras kepala dan menolak. Jika dia menolak Ara, terpaksa papa harus mengusirnya!" tegas Bryce.
"Pa! Bagaimana pun juga Giselle adikku juga," kata Sean yang masih membela Giselle karena belum tau kelakuan buruknya.
Anna dan Bryce telah sepakat bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk Ara.
****
Sementara itu di dapur, Ara sedang menyajikan teh hangat untuk Sean, Bryce dan Anna. Tapi untuk Bram dia tidak membuatkannya, keberadaan Bram disana saja sudah kasat mata dimatanya.
"Ra, kok minumannya cuma tiga sih? Aku gak dikasih?" tanya Bram yang tidak mendapatkan jawaban dari Ara.
"Ra, aku lagi nanya kamu loh." ucap Bram lagi.
"Ra, aku mau dibuatin minuman juga. Dulu kan kamu suka buatin aku kopi kalau aku pulang kerja dan saat berangkat kerja juga."
Ara menoleh ke arah Bram dengan wajah marahnya. "Itu dulu Mas, DULU. Jadi tolong jangan mengungkit masa lalu lagi." ucapnya ketus.
"Nggak Ra, itu bukan hanya masa lalu...tapi masa depan juga. Setiap hari kamu akan melayaniku, membuatku makanan yang enak, mencuci bajuku, menyambut ku saat pulang bekerja, tersenyum dan--"
__ADS_1
Seketika kadar darah dalam diri Ara mendidih dengan semua ocehan Bram. Ara muak! Sungguh muak.
"Kamu bisa minta itu pada mbak Giselle yang akan segera menjadi istrimu, mas." katanya ketus.
Mau apa sih mas Bram kemari?
"Aku tidak akan pernah menikahi wanita lain, selain kamu Ra. Aku sadar aku cinta kamu, Ra."
Ara tidak menanggapinya dan memilih pergi dan membawa nampan berisi 3 cangkir teh itu ke ruang tamu. Bram mengekorimya dari belakang, ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Ara lagi.
Setibanya Ara di ruang tengah, suasana di sana jadi terasa tegang. Ara juga berusaha untuk mengusir Bram, tapi pria itu dengan tidak tahu malunya terus duduk merapat dengannya.
Lalu Bryce memulai pembicaraan, ia mengatakan pada Ara bahwa Ara adalah anak kandungnya dan Anna.
"Sebenarnya kamu adalah anak kandung saya dan istri saya, kamu adalah keluarga Gallan. Anak bungsu kami yang hilang beberapa tahun silam."
"Apa bapak sedang bercanda dengan saya?" Ara tersenyum tipis menanggapi ucapan Bryce. Malah Bram yang ada disana terkejut saat mendengar itu.
Anna pun menunjukkan gelang milik Ara, beserta tes DNA dan juga foto masa kecil Ara. Ara melihat semua itu dan tercengang.
"Bagaimana bisa? Saya punya orang tua, nama orang tua saya adalah Dewi dan Danang! Bukan Bryce dan Anna," ucap Ara tidak percaya dengan semua yang dilihatnya.
"Kamu anak kami nak, tolong percayalah!"
"Iya Ra, kamu adalah adik kakak!"
Tanpa sengaja air mata Ara luruh begitu saja, ia terlalu kaget dengan fakta ini. Pasalnya selama ini Ara tidak tahu bahwa ia adalah anak angkat Dewi dan Danang.
"Maaf, saya tidak punya orang tua seperti kalian! Ataupun kakak seperti anda, maaf tapi kalian harus pergi dari sini dan termasuk kamu mas Bram!" Ara mengusir semua orang itu, sambil menunjukkan jarinya pada pintu keluar rumahnya.
"Ra...kenapa aku di usir juga? Aku masih suamimu, Ra." rengek Bram.
"KELUAR KALIAN SEMUA atau saya panggilkan warga karena kalian telah menganggu ketenangan SAYA!" teriak Ara. Tidak pernah Ara menunjukkan dirinya yang emosi seperti ini.
Bagaimana bisa orang-orang yang menyakitiku datang kemari dan mengatakan bahwa mereka keluarga kandungku? Mas Bram juga, kenapa dia datang kesini dan mengakui aku sebagai istrinya?
Keluarga Gallan bingung, niat mereka membawa Ara malah membuat hati gadis itu semakin terluka.
__ADS_1
"PERGI KALIAN SEMUA!"
...****...