Buang Saja Penyesalanmu

Buang Saja Penyesalanmu
Bab 67. Panggilan Mas


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Kamu? Pegawai baru kan?" tanya seseorang yang ada di belakang Ara dan sontak membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


"Benar Bu," jawab Ara diiringi dengan senyuman ramah dibibirnya. Ara ingin menunjukkan kesan baik di hari pertama dirinya bekerja di perusahaan tersebut.


Ia masuk kesana bukan karena koneksi dari papanya, melainkan karena kerja kerasnya sendiri yang meraih nilai tertinggi sebagai mahasiswa terbaik di kampusnya.


Sebelumnya Bryce dan Anna ingin Ara bekerja dengan posisi yang tinggi di perusahaan. Tapi Ara menolaknya, ia ingin belajar bekerja dari nol dan dia ingin semua berjalan apa adanya.


Bahkan Ara mengatakan pada Bryce dan Anna agar merahasiakan identitas Ara di kantor sebagai anak mereka. Walau bagaimanapun juga hanya segelintir orang yang mengetahui tentang identitas Ara karena gadis itu tidak ingin ada publikasi bahwa ia adalah anggota keluarga Gallan.


"Kamu dapat bagian apa?" tanya wanita itu.


"Departemen pemasaran Bu," jawab Ara sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Ikut saya." kata wanita cantik itu dengan gaya anggun dan tegasnya.


"Baik Bu."


Ara mengikuti wanita itu, kemudian dia pun sampai di sebuah ruangan lantai 1 yang bertuliskan didepannya, 'departemen pemasaran'.


Ruangan itu cukup luas dan terlihat beberapa meja kerja yang terpajang di sana. Ara selalu bermimpi bila suatu saat nanti dia akan bekerja di ruangan kantoran seperti ini dan kali ini impiannya tercapai.


Tidak hanya Ara, karyawan baru yang ada di sana. Tapi ada tiga orang karyawan pelatihan lainnya yang akan menjadi karyawan tetap disana bila mereka telah berhasil melewati proses pelatihan karyawan. Sungguh, pelatihan ini adalah tantangan untuk Ara yang baru saja terjun ke dunia perkantoran.


"Baiklah, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Bella, saya adalah ketua tim dari departemen pemasaran." Bella, namanya. Dia adalah wanita yang mengajak Ara ke departemen pemasaran barusan, ya beliau adalah ketua dari departemen pemasaran itu sendiri.


Keempat karyawan pelatihan itu termasuk Ara, hanya menganggukkan kepala mereka dan senantiasa mendengarkan penjelasan dari Bella tentang perusahaan yang akan menjadi tempat mereka bekerja dari hari senin sampai sabtu.


Dari mulai fasilitas, jam kerja operasional gedung tersebut dan apa saja yang harus dilakukan oleh para karyawan pelatihan disana.


"Jika kalian berhasil melewati pelatihan ini dengan nilai yang sempurna, maka kalian bisa menjadi karyawan tetap di sini. Namun kalian tenang saja, karena bagi yang gagal dalam pelatihan akan tetap direkrut menjadi karyawan magang kalau kinerja kalian memang bagus. Tapi bila nilai kalian dan kinerja kalian kurang bagus, maka dengan terpaksa perusahaan akan mengeluarkan kalian. Nah, kalian sudah mendengarkan semua penjelasan saya bukan? Saya harap dalam 1 bulan ini, lakukan pekerjaan kalian dengan bagus dan raihlah nilai sempurna!" tegas Bella kepada 4 karyawan baru itu. Dua laki-laki dan dua wanita, adalah karyawan baru di departemen pemasaran ini.


"Baik Bu." sahut para karyawan baru itu dengan tegas.


Ara melihat Bella dengan kagum karena gadis


Setelah sesi penjelasan selesai, Ara dan ketiga karyawan baru itu juga berkenalan satu sama lain. Sebelum mereka akan memulai pekerjaan mereka sebagai karyawan magang, tentunya mereka harus saling mengenal satu sama lain.


"Hai...kenalin aku Nila." sapa seorang wanita cantik berambut pendek pada Ara dan kedua pria didepannya itu. Keduanya masih tampak muda.


"Aku Robby, ini Tian." ucap Robby sambil tersenyum, ia memperkenalkan temannya juga. Tian dan Robby satu almamater di kampus.


"Hai Robby, Tian, Nila. Aku Haura, panggil saja Ara." sapa Ara ramah.


Namun tak lama kemudian, Nila menatap Ara dengan tatapan menyelidik dan mengunci tatapannya itu. Nila seperti sedang menduga-duga sesuatu.


"Maaf, ada apa ya? Apa ada yang salah di wajahku?" refleks Ara memegang kedua pipinya, mungkinkah ada yang salah di wajahnya saat ini.


"Nama kamu...Haura. Haura apa ya kalau boleh tau?" tanya Nila dengan mata yang terlihat penasaran.

__ADS_1


"Haura Yameena Arandita." jawab Ara jujur, tapi dia tidak menggunakan kata Gallan dibelakang namanya karena ia tidak mau identitasnya ketahuan dan dianggap spesial.


Nila, Robby dan Tian terperangah tak menyangka bahwa mereka akan bertemu Ara di perusahaan itu. "Kamu...mantan istri dari pak Bramasta Wiratama itu?"


"Dulu beritanya sempat heboh kan? Kalau model Giselle Amelia Gallan, jadi pelakor dan dia merebut suami kamu?" tanya Tian heboh.


"Jahat banget ya dia, tega banget merebut suami kamu!" cetus Nila tak terima, ia membela Ara sebagai pihak yang tersakiti.


"Padahal kamu cantik gini loh, kenapa pak Bramasta malah milih wanita itu? Heran deh! Buta kali ya tuh orang." kata Robby yang ikutan marah pada Bram.


Ya, dulu berita tentang Giselle sempat heboh dan Ara terseret ke dalamnya. Saat itu Giselle di hujat dan karirnya sebagai model pun hancur. Jujur saja, Ara tidak nyaman dengan pembicaraan ini.


"Em...udah yuk ngobrolnya. Kita kan harus mulai kerja!" seru Ara sambil tersenyum, ia ingin menyudahi pembicaraan itu dan tidak mau melanjutkan pembicaraan tentang masa lalunya lebih lanjut.


Ya Allah, padahal aku ingin mengubur tentang semua masa laluku. Kenapa mereka malah membahasnya?


*****


Hari itu berlangsung dengan sangat lancar meskipun cukup melelahkan untuk Ara yang baru pertama kalinya bekerja di kantor Gallan grup. Malam itu usai shalat magrib, Regan menjemputnya pulang, ia sudah menunggu di depan kantor. Ara pulang terlambat karena dia sibuk mempelajari aturan aturan di perusahaan itu.


Suasana diantara mereka jadi canggung karena kejadian tadi pagi. Bahkan Regan kerap kali salah tingkah didepan Ara, begitupun juga dengan Ara yang tidak bisa menatap Regan.


Tiba-tiba saja saat Regan akan menancap pedal gas, terdengar bunyi BIP BIP beberapa kali.


"Ra..."


"I-iya kak." jawab Ara tergagap.


'Ya Allah Gusti, malu banget. Gak berani lihat Ara, dia pasti marah sama aku'. Pikir Regan dalam hatinya.


"O-oh...iya kak!" sahut Ara, lalu wanita itu mencoba membetulkan posisi sabuk pengamannya. Tangannya gemetar saat mencoba membetulkan sabuk pengaman.


"Ka-kamu bisa gak?" tanya Regan yang masih menunggu Ara untuk membetulkan posisi sabuk pengaman itu.


"Bi-bisa kok...tadi bisa. Kenapa sekarang susah?" tanyanya sambil berusaha susah payah memasangkan sabuk pengaman itu.


'Ya Allah Ara, kamu tuh kenapa sih? Kenapa jadi dag Dig dug gini'


"Aku bantu ya, biar gak lama." kata Regan sambil melepas sabuk pengamannya, lalu ia membantu Ara memasangkan sabuk pengaman itu.


Cekret!


"Nah udah, yuk kita--"


Tak sengaja netra penuh cinta keduanya kembali bertemu. Mereka merasakan jantung yang berdegup kencang dan nafas yang mulai memburu. Mereka sudah memiliki keinginan untuk bersama-sama.


Ya Allah Ara makin cantik aja!Bener kata Arga, aku harus cepet-cepet nikah. Kalau kayak gini terus, bisa bahaya. Aku tidak bisa terus menahannya, bisa-bisa terus digangguin setan.


Ara dan Regan sama-sama menelan saliva saat melihat keindahan wajah masing-masing. Terpesona, jatuh cinta, itulah yang mereka rasakan saat ini.


"Kita berangkat ya Ra,"

__ADS_1


"Iya kak."


Regan meremass setir kemudian setir kemudinya dengan gemas. Mendengar kata kak itu membuatnya kesal lagi. Regan menoleh pada Ara. "Aku bukan kakak kamu loh Ra, aku calon suamimu."


"Hah?" Ara terkejut mendengar ucapan Regan yang begitu tiba-tiba.


"Ra, boleh aku jujur?"


"Tentu saja kakak harus jujur dong."


"Oke. Aku nggak suka dipanggil kak!" protesnya dengan bibir mencebik. Akhirnya unek-unek tadi pagi itu keluar juga dari bibirnya.


"Jadi--tadi pagi kakak tiba-tiba marah karena ini?" tanya Ara menebak dan itu benar. "Terus kakak mau dipanggil apa?"


"Mas, aku mau dipanggil mas dan kamu harus panggil Bram dengan sebutan pak Bram, jangan mas lagi." ungkap Regan.


"Ya kak...eh mas..." jawab Ara setuju.


"Yang ikhlas dong panggilnya, pake senyum juga." perintah Regan.


Ara tersenyum lalu mengatakan mas dengan suara merdunya itu. "Iya MAS Regan."


Gila...gila...aku pasti sudah gila. Hanya dipanggil mas saja, hatiku sudah terbang melayang begini. Apalagi kalau menikah.


"Mas..."


"I-iya sayang. Eh iya Ara," Regan gugup dan keceplosan memanggil Ara dengan kata sayang. Ara pun terkekeh dengan sikap Regan, ia tak menyangka bahwa Regan yang terkenal cuek itu bisa menunjukkan sisi lucu dan lugunya.


Lalu Regan pun tancap gas, namun bukan menuju ke rumah Ara tapi ke tempat lain dan Ara pun bertanya pada Regan kenapa pria itu membawanya ke arah yang berbeda.


"Kita mau kemana Mas?"


"Kita mau ketemu mamaku," jawab Regan.


"Ketemu Tante Riana?" raut wajah Ara berubah senang, ketika dia mendengar akan bertemu dengan mama Regan. Sebenarnya banyak yang ingin dikatakan oleh Ara pada calon ibu mertuanya itu dan ingin dekat dengan ibu mertuanya.


"Iya, nggak apa-apa ya kita ketemu mama sama temannya juga." kata Regan sambil tersenyum.


Aku harus menunjukkan pada mama, bahwa Ara adalah calon istriku. Mama semakin menjadi-jadi saja, enak sekali dia mengaturku.


"Iya Mas, aku mau. Ayo kita ketemu mama mas Regan." Ara senang mendengarnya.


...****...


Spoiler bab berikutnya...


"**Selamat atas pernikahan kalian, maka aku tinggal menghancurkanny**a." kata seorang pria sambil tersenyum menyeringai, saat melihat pasangan pengantin duduk bersanding di pelaminan.


...****...


Hai Readers, author mohon bantuannya dong buat Tap love dan like audiobook novel ini..😍😍

__ADS_1



__ADS_2