
Darren mendatangi studio fhoto milik Allan tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Ia mengetahui dari Rachel hari ini Feli mengadakan pemotretan di studio milik Allan. Kata-kata Feli yang mengatakan Allan cukup menggoda baginya membuat Darren tidak bisa tidur. Ia memikirkannya semalam suntuk.
Kedatangan Darren cukup membuat Rachel terkejut. Ia orang pertama menyadari kehadiran Darren. Ia tidak menyangka Darren akan datang mengunjungi Feli saat bekerja. Ini baru pertama kali terjadi.
"Kenapa kau datang?" tanya Rachel was-was. Pasalnya Feli saat ini sedang melakukan sesi pemotretan dengan seorang pria yang tidak lain adalah Allan. Darren mengabaikan pertanyaan Rachel. Matanya fokus melihat Feli dan Allan yang melakukan berbagai pose. Rahangnya mengeras tatkala tangan Allan melingkar dipinggang Feli. Dan kenapa juga Allan harus membuka seluruh kancing kemejanya. Dan astaga pakaian seperti apa yang dikenakan Feli itu. Kenapa minim sekali. Darren mengumpat dalam hati. Tangannya mengepal dikedua sisinya. Pantas saja selama ini Feli tidak mengizinkannya datang melihat saat ia bekerja. Ternyata pekerjaan yang dilakukannya seperti ini. Darren menggeram kesal. Ia akan meminta Feli berhenti bekerja. Sudah berapa banyak tangan pria yang berhasil memeluk pinggang ramping milik Feli. Bisa gila ia jika memikirkan hal itu.
kira-kira seperti itu pose Feli dengan rekannya .
"Kau menanyakan dimana Feli melakukan pemotretan untuk ini. Untuk mendatangi kami"
"Apa Feli selalu melakukan pekerjaannya seperti ini?" Darren bertanya dan mengabaikan ucapan Rachel
Rachel terkekeh. Sahabatnya itu sedang dibakar api cemburu.
"Tidak..Apa kau pernah melihatnya di surat khabar, televisi dan media sosial lainnya? Ini pertama kalinya buat Feli. Selama ini ia selalu menghindari pekerjaan yang melibatkan lawan jenisnya. Kau tahu itu" ucap Rachel jujur. Ucapan jujur Rachel bukannya membuat Darren tenang tetapi malah membuatnya semakin kesal. Pasalnya kenapa sekarang ia mau. Dan kenapa pria itu harus Allan. Atau karena pria itu Allan makanya Feli tidak menolak. Darren kembali menatap tajam kearah Feli dan Allan yang masih belum menyadari kehadirannya.
"Aku pergi" Darren berbalik meninggalkan Rachel yang mengernyit bingung
"Kau tidak ingin bertemu dengan Feli?" tanya Rachel setengah berteriak. Darren terus berjalan mengacuhkan pertanyaan Rachel. Ia butuh pelampiasan.
Darren memdorong pintu ruangannya dengan sedikit kasar. Bayangan Allan dan Feli yang sedang berpelukan membuatnya marah. Ia cemburu. Darren menghempaskan bokongnya dikursi kebesarannya. Ia mengacak rambutnya frustasi.
"Apa yang harus kulakukan?" gumamnya.
Pintu ruangan Darren kembali terbuka. Darren mendongak. Ia berdecak kesal begitu melihat siapa yang datang keruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Aku sedang tidak ingin diganggu Stevy" ucapnya dingin.
"Aku merindukanmu" Stevy berjalan mendekati Darren mengabaikan sikap dingin yang ditunjukkan Darren secara terang-terangan
"Lalu jika kau merindukan ku, apa aku harus meladenimu" ucapnya ketus. Suasana hatinya lagi kacau begini. Bisa-bisa Stevy terkena imbasnya.
Tanpa tahu malu Stevy duduk dipangkuan Darren. Melingkarkan tangannya dibelakang leher Darren.
"Suasana hati ku lagi kacau Stevy. Menyingkirlah dari hadapanku"
"Aku datang untuk menyenangkanmu sayang, tidak kah kau merindukan ku?" bisik Stevy ditelinga Darren. Jari jemarinya menelusuri rahang kokoh milik Darren.
Darren menahan tangan Stevy, menghentikan kegiatannya.
"Dengarkan aku selagi aku bicara baik-baik" Darren menatap Stevy dengan sorot mata tajam lalu menghentakkan tangan Stevy dengan sedikit kasar bertepatan dengan itu pintu ruangannya kembali terbuka. Darren mengumpat dalam hati. Ia mulai meragukan kinerja sekretarisnya yang mengizinkan orang masuk sembarangan. Darren dan Stevy menoleh kearah pintu. Feli sedikit tekejut melihat apa yang ada dihadapannya. Stevy yang masih duduk dipangkuan Darren dengan melingkarkan satu tangannya dibelakang leher Darren.
"Apa-apan ini Darren. Kenapa wanita ini ada disini?" Feli menatap tajam kearah Darren.
"Dan kau Stevy menyingkirlah dari pangkuannya" hardik Feli
Stevy yang mengetahui bagaimana sayangnya Darren terhadap adiknya itu memilih mencari aman. Tidak ada gunanya membantah Feli ditambah lagi suasana hati Darren memang sedang tidak mendukungnya. Ia baru saja ingin turun dari pangkuan Darren, tapi Darren malah menahannya dengan melingkarkan tangannya diperut rata Stevy. Feli yang melihatnya membelalakkan matanya tidak percaya.
Ia menatap Darren seolah bertanya Apa yang kau lakukan?
__ADS_1
"Kenapa ia harus menyingkir Feli?" Datar dan dingin. Begitulah nada suara Darren yang ditangkap Feli. Feli tahu Darren sedang marah kepadanya. Setelah mendengar dari Rachel bahwa Darren datang dan melihat sesi pemotretan ia langsung berlari kesini. Tapi sungguh ia tidak menyangka akan melihat Stevy yang sedang berada diatas pangkuannya
"Bukankah kau dan Stevy sudah mengakhirinya?" ucapnya pelan.
"Kami baru saja memulainya kembali. Bukan begitu Stevy?" Darren menunduk menatap Stevy. Stevy yang kurang faham dengan situasi yang terjadi hanya bisa mengangguk. Ia bingung bercampur senang dengan perubahan Darren yang tiba-tiba menginginkannya itu.
"Apa kau bodoh! Stevy berselingkuh dibelakangmu Darren. Bukan hanya sekali, dua kali Darren tapi berkali-kali" Feli gusar
"Biar itu menjadi urusan kami" ucap Darren tanpa menatap wajah Feli
"Tadi kau mengatakan kau merindukanku. Aku juga merindukanmu diatas ranjangku Stevy" Darren mengecup bibir Stevy yang langsung disambut Stevy dengan menahan leher Darren agar ciuaman mereka tidak terlepas. Tidak bisa dipungkiri ciuaman Darren sangat memabukkan. Ia ahli dalam memainkan lidahnya. Dan itu yang membuat Darren sulit untuk dilupakan oleh wanita. Permainannya sangat hebat. Hanya saja ia jarang meluangkan waktunya untuk para kekasihnya sehingga para kekasihnya mencari kepuasan pada pria lain. Dan itu bukan masalah buat Darren karena ia juga tidak pernah mencintai salah satu dari mereka. Ia hanya tidak ingin berurusan dengan jalang untuk memuaskan hasratnya jadi ia lebih memilih untuk mempunyai seorang kekasih yang berkelas untuk menghangatkan ranjangnya.
"Darren hentikan. Kau ingin aku marah" suara Feli bergetar. Dengan susah payah ia menahan agar air matanya tidak keluar. Selama ini ia hanya cemburu jika melihat Darren mempunyai kekasih. Tapi selama itu juga Darren tidak pernah menyentuh wanita lain yang menjadi kekasihnya dihadapannya secara terang-terangan. Ini pertama kalinya Darren terlihat seperti **** dihadapan Feli. Dadanya sesak. Ia merasakan seperti ada ribuan jarum yang menghujam ulu hatinya. Sakit tak berdarah.
Darren melepaskan ciumannya dengan Stevy. Ia mengernyit menatap Feli.
"Kau masih disitu?"
Dan itu sukses membuat Feli ingin melempar Darren dengan high heels yang dipakainya.
"Kau sungguh ingin melihatku marah?"
"Kenapa kau harus marah. Apa kesalahanku?" Datar tanpa beban itulah reaksi yang ditunjukkan Darren.
Feli menggigit bibirnya menahan amarahnya.
"Stevy bisakah kau meninggalkan kami sebentar" pinta Feli dengan tatapan yang mengarah kepada Darren.
"Aku akan menghubungi mu nanti" ucapnya yang membuat senyum mengembang diwajah Stevy. Feli mendengus.
"Apa maksudmu mengatakan kau kembali dengannya?" tanya Feli dingin begitu Stevy keluar dari ruangannya.
"Aku butuh seseorang untuk menghangatkan ranjangku" jawabnya datar. Darren menautkan tangannya lalu memangkukan dagunya diatasnya.
"Kau bisa menyewa para jalang untuk menghangatkan ranjangmu"
"Aku tidak suka para jalang menyentuh tubuhku"
"Stevy juga tidak ada bedanya dengan para jalang diluar sana. Ia sering bergonta ganti pasangan Darren"
"Setidaknya ia lebih berkelas daripada jalang diluar sana"
"Apa sekarang kau sedang mengajak ku ribut. Ini pertengkaran pertama kita Darren" Feli menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku tidak sedang mengajakmu bertengkar Feli. Tapi mulai sekarang berhentilah mengurusi hubunganku" Darren mengambil asal dokumen diatas mejanya. Lalu membukanya.
"Jika tidak ada lagi yang mau kau katakan kau boleh pergi" ucapnya datar tanpa menatap wajah Feli.
Feli menarik kasar dokumen yang sedang dipegang oleh Darren lalu membuangnya asal.
"Sudah ku katakan aku tidak suka kau mengalihkan tatapanmu disaat aku ada dihadapanmu"
__ADS_1
Darren berdecak kesal
"Katakan apa mau mu"
"Aku tidak ingin kau menjalin hubungan dengan Stevy atau siapa pun itu" ucapnya lantang
"Lalu?"
Feli mengernyit mendengar pertanyaan satu kata yang keluar dari mulut Darren
"Lalu apa?" tanya Feli bego
"Hanya itu?" Tanya Darren kembali
Feli mengangguk bingung.
"Jika aku memintamu berhenti dari pekerjaanmu apa kau mau?" Darren berdiri dari tempatnya. Berjalan mengitari meja. Lalu menyandarkan tubunya dimeja seraya menatap Feli dengan melipat tangannya di dadanya.
"Aku akan berhenti jika kau mau menikah denganku"
"Jangan mengatakan hal konyol yang tidak mungkin terjadi Feli.
"Itu bukan hal konyol Darren kau dan aku..." Feli tidak melanjutkan kata-katanya. Darren menaikkan alisnya
"Aku dan kau kenapa Feli?" tanya nya penasaran. Feli menggeleng
"Pokoknya aku tidak akan berhenti dari pekerjaanku kecuali kau menikahiku" Feli mengalihkan tatapannya dari Darren
"Bukan kah itu tidak adil Feli. Selama ini kau selalu meminta dan aku selalu memenuhinya tanpa meminta balas darimu. Permintaanku hany satu tapi kau malah menuntut balasan dari ku yang tidak mungkin bisa kupenuhi"
Jika saja aku tidak mendengar apa yang dikatakan Mommy dan Daddy aku sudah cepat menikahi mu Feli.
"Kenapa kau tiba-tiba memintaku berhenti dari pekerjaanku. Aku tidak melanggar aturan yang Mommy, Daddy dan kau berikan"
"Aku tidak suka pria lain menyentuhmu" jawabnya jujur
"Apa kau cemburu pada Allan. Bukankah Allan sahabatmu. Itu hanya pekerjaan Darren. Hubungan kami hanya sebatas profesional. Kau bahkan mencium Stevy dihadapanku"
"Kenapa?"
"Kau sungguh bertanya kenapa?" Tanya Feli gusar
"Tentu saja aku cemburu sialan" pekik Feli. Ia tidak menyangka Darren mempunyai sisi menyebalkan seperti Mike.
"Kenapa?" tanya nya lagi
"KARENA AKU MENCINTAIMU" ucap Feli penuh penekanan.
"Kau tahu Feli, setiap kau mengatakan itu kau memberiku kontraksi ventrikel pradini"
Dan tentu saja Feli tidak mengetahui artinya apa.
__ADS_1
T.B.C