
"DARREN, AWAS!!"
Darren menoleh kebelakang, dan seketika itu matanya melebar melihat mobil Noura yang melaju dengan kencang ke arahnya. Darren belum sempat memberikan reaksi ia sudah merasakan tubuhnya didorong dengan kuat.
Darren melihat dengan jelas bagaimana tubuh Feli kembali dihantam dengan keras untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama. Menyelamatkannya. Darren melihat tubuh Feli melayang di udara sebelum terhempas ke jalanan. Sementara mobil yang dikendarai Noura beradu dengan truk yang datang dari arah berlawanan. Dalam sekejap tempat itu berlumuran darah di aspal.
Melihat tubuh Feli yang tergeletak berlumuran darah, Darren merasa nyawanya seakan ikut melayang. Ia membatu dan sungguh ia tidak mampu lagi untuk sekedar menggerakkan tubuhnya, bahkan untuk menyebut nama Feli, bibirnya tidak mampu untuk bergerak. Hingga akhirnya pandangannya mulai buram dan sesaat kemudian semuanya terlihat gelap gulita. Darren pingsan.
"FELIIII....." teriak Darren begitu ia sadar. Nafasnya tersenggal-senggal. Ia melihat sekelilingnya dengan bingung. Ruangan yang didominasi warna putih dan bau yang menyengat khas rumah sakit. Seketika itu Darren merasakan nyawanya melayang.
"Ternyata bukan mimpi" gumamnya dengan suara bergetar.
"Oh..Thanks God"
"Akhirnya kau sadar" Mike muncul tiba-tiba di hadapannya.
"Feli..." Darren menatap Mike.
"Masih ditangani Dokter"
Melihat wajah Mike yang kacau Darren tahu Feli_nya tidak baik-baik saja. Darren segera turun dari tempatnya. Ia meringis menahan sakit di kepalanya.
"Darren jangan memaksakan dirimu. Kau juga butuh perawatan" Mike menahan Darren agar tidak beranjak dari tempatnya.
"Aku baik-baik saja" Darren melepaskan tangan Mike dari bahunya. Ia berlari keluar seperti orang gila memanggil-manggil nama Feli.
Felix yang melihat Darren berlari dengan tertatih-tatih datang menghampirinya.
"Kau baik-baik saja" Felix memegang pundak Darren
"Dad...Feli" Air matanya jatuh tanpa permisi. Ia melihat Mommy nya menangis meraung di pelukan Mike. Entah sejak kapan Mike sudah berada di situ.
Felix menunjuk ruangan Feli ditangani. Darren melihat kini tubuh Feli yang berlumuran darah sedang dibersihkan dan ditangani oleh beberapa perawat. Darren kembali merasakan nyawanya seperti ditarik paksa dari raganya melihat kondisi Feli yang terbaring tak sadarkan diri. Darren merutuki dan menyalahkan dirinya sendiri.
Dengan langkah gontai ia berjalah mendekati Feli yang terbaring di atas bankar. Begitu sampai di hadapan Feli ia langsung membawa Feli ke dalam dekapannya. Mendekapnya dengan erat. Feli tidak memberikan reaksi. Feli yang menutup matanya rapat-rapat dan tidak terlihat berniat sama sekali akan membuka matanya benar-benar membuatnya ketakutan setengah mati. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Semua yang terjadi seperti mimipi buruk baginya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menggenggam tangan Feli dan menciuminya, dengan harapan gadisnya itu dapat merasakan kehangatan yang ia salurkan.
"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Maafkan aku. Aku salah" kata yang sama berulang kali ia ucapkan berharap Feli mendengar dan membuka matanya. Air mata sudah membasahi wajahnya, ia menangis ketakutan. Felix yang melihatnya yang dari tadi terlihat cukup tegar di hadapan keluarganya juga tidak dapat membendung air matanya lagi. Ia hancur melihat kondisi kedua anaknya itu.
"Permisi...kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi untuk segera ditangani"
"Lakukan Dokter. Lakukan yang terbaik untuk putri saya.Tolong selamatkan putri saya" Felix mendekat dan menarik Darren agar melepaskan Feli, dengan begitu Feli bisa ditangani dengan cepat.
__ADS_1
"Biarkan aku ikut bersamanya" pinta Darren dengan sangat memohon. Dia ingin selalu berada di dekat Feli untuk memberi kekutan pada kekasihnya itu. Ia ingin Feli merasakan kehadirannya.
"Son, kau tidak bisa ikut..."
"Dad, aku hanya ingin tetap di sampingnya" potong Darren cepat.
"Aku hanya ingin ada di dekatnya Dad, aku hanya ingin melihatnya dan aku hanya ingin Feli merasakan kehadiranku" jawab Darren dengan suara serak tanpa melepaskan tatapannya pada Feli.
"Dokter, jantung pasien melemah" Teriak seorang perawat terdengar cemas membuat keadaan semakin mencekam.
"Siapakan Defibrillator" perintah sang Dokter.
Darren terpaku. Jika seandainya memungkinkan ia ingin sekali menggantikan posisi Feli dengan dirinya.Menggantikan rasa sakit wanita itu. Suara dari mesin yang terhubung dengan tubuh Feli terdengar semakin cepat.
Tuhan, kumohon jangan ambil Feli dari hidupku. Kumohon!!! Feli kumohon bertahanlah sayang, aku yakin kau kuat sayang, ratapan doa Darren dalam hati.
Baru saja Darren selesai memanjatkan doanya, ruangan itu tiba-tiba mendadak menjadi hening, hingga yang terdengar adalah Bip panjang dari monitor yang terhubung dengan tubuh Feli. Sesak, itulah yang dirasakan Darren.
"Tidak,," suaranya tercekat.
"Tidak..tidak..tidak Feli, jangan lakukan itu aku mohon" lirihnya.
"Mom, Dad," ia menoleh menatap ke dua orang tuanya ingin menanyakan apa yang ia lihat adalah salah, tapi melihat mommy_nya yang meraung histeris di pelukan Daddy_nya membuat ia tersenyum lirih dengan air mata yang terus mengalir di wajahnya. Ia menghembuskan nafas kasar, lalu berjalan mendekat ke arah sang Dokter dengan beberapa perawat yang masih berdiri di tempatnya.
"AKU TANYA KENAPA KALIAN HANYA BERDIRI DI SINI, SIALAN?!"
"LAKUKAN TUGAS KALIAN DAN SELAMATKAN KEKASIHKU!!SELAMATKAN KEKASIHKU, BRENGSEK!!!" teriak Darren sambil mencengkeram kerah baju Dokter yang menangani Feli. Dokter tersebut tidak memberikan respon apa-apa. Ia hanya diam dan pasrah merelakan lehernya dalam cengkeraman Darren, karena memang tidak ada bisa melakukan apapun begitu melihat garis lurus di layar monitor mesin tersebut.
Darren menatap Mommy, Daddy dan juga adiknya Mike. Ia berjalan mendekati Daddy_nya.
"Dad..." panggilnya dengan suara lemah
"Dad..aku mohon tolong katakan pada mereka untuk menyelamatkan Feli." "Menyelamatkan Feli kita"
"Kumohon Dad, Tolong katakan pada mereka" Darren meluruh ke lantai sambil menggenggam tangan Daddy_nya. Ia terisak dengan wajah tertunduk.
Tiba-tiba Darren berdiri.
"Feli masih hidup" gumamnya.
"Ya. Feli masih hidup. Kekasihku masih hidup. Dia adalah wanita yang kuat" Darren berjalan mendekati tubuh Feli yang pucat menyatukan jemarinya dengan jemari Feli.
__ADS_1
"Sayang, aku benarkan sayang"
"Buka matamu sayang"
"Tunjukkan pada mereka bahwa kau kuat, bahwa yang kukatakan benar. Kau tidak akan mungkin meninggalkan aku kan, sayang" Darren menciumi seluruh permukaan wajah Feli yang dingin. Berharap ciumannya memberikan kehangatan di tubuh dingin tak berdaya itu.
"Sayang, jangan membuatku takut. Aku mohon buka matamu sayang"
"Sayang bukankah kau melarangku untuk tersenyum kepada wanita lain. Aku berjanji akan menepatinya sayang. Lagi pula bukan aku yang tersenyum pada mereka, tapi merekalah yang tersenyun kepadaku sayang, tapi mulai hari ini aku tidak akan membalas senyum mereka. Bangunlah. Atau senyum di wajahku akan benar-benar menghilang selamanya. Apa kau tega sayang" Darren semakin terisak dan semakin ketakutan tatkala Feli tidak memberikan respon apapun.
"Sayang, bukankah kau meminta agar kita belajar membuat anak. Ayo sayang buka matamu kita akan melakukan semua yang kau inginkan. Memproduksi anak sebanyak yang kau inginkan" Darren terkekeh dalam tangis. Percayalah siapa pun yang melihat kondisi Darren tanpa berada di posisinya bisa merasakan betapa pilu hatinya saat ini. Bahkan beberapa perawat sampai meneteskan air mata melihat kerapuhan Darren. Sungguh keadaan Darren sangat memilukan.
Mike berjalan mendekati Darren
"Darren" panggilnya pelan.
Darren tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kekasihku masih hidup Mike"
"Kakakmu masih hidup"
"Feli kita semua masih hidup"
Tubuh Mike bergetar menahan tangisnya. Sungguh ia tidak tahu harus bagaimana. Ingin rasanya ia mempercayai perkataan Darren tapi matanya juga melihat jelas garis lurus di mesin tersebut.
"Maafkan kami Mr. McKenzie" ucap Dokter tersebut dengan sangat menyesal
"Waktu kematian pasien....."
"DIA BELUM MATI, BRENGSEK!!" kembali Darren mengamuk dan melayangkan tinjunya kepada Dokter yang tidak berdaya itu.
"Sekali lagi kau membuka mulutmu, aku tidak akan segan-segan membunuhmu" Bentak Darren tajam sambil menatap Dokter tersebut. Dokter itu menghela nafas pasrah. Ia terdiam.
"DARREN SADARLAH" bentak Mike.
"Mike, kau juga mempercayai apa yang dikatakan Dokter sialan itu" Darren menangis. Hatinya hancur tak bersisa.
Tuhan, tolong jangan mempermainkan hidupku dengan cobaan yang mungkin tidak akan bisa kutanggung. Aku mohon jangan mengambil Feli dari sisiku. Feli adalah kekuatan dan juga kelemahanku. Aku tidak akan berarti tanpa dia, aku tidak akan sanggup menjalani hidup tanpa dia di sampingku, pintanya dalam hati.
T.B.C
__ADS_1
Bagaimana part ini, sudahkah anda mewekðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ karna percayalah author bahkan dag dig dug seeerrr menulis part ini✌✌