
Feli bersenandung ria, menyanyikan lagu kesukaannya dengan dengan nada dan lirik yang berantakan. Suasana hatinya lagi bahagia, ia memutuskan untuk mengunjungi Darren di kantornya. Memberi kejutan kepada Darren dengan membawakannya bekal makan siang yang dimasak olehnya sendiri.
"Oohhh...kenapa ini pedih sekali" untuk kesekian kalinya Feli mengusap air mata yang menetes akibat ia mengiris bawang merah.
"Oh..astaga..telurnya sudah gosong" pekik Feli kaget begitu mencium aroma gosong dan benar saja omelet buatannya sudah tidak berbentuk lagi.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Feli segera menoleh ke belakang dan menemukan Laura di sana sedang menatap takjub keadaan dapur yang sudah seperti kapal pecah.
"Apa seorang pencuri baru saja masuk ke dalam sini?!" tanya Laura.
Feli menggelengkan kepalanya dengan dahi berkerut.
"Lalu kenapa dapur ini sangat berantakan?"
"Maafkan aku, aku yang melakukannya" ringis Feli
"Aku lagi menyiapkan bekal makan siang buat keponakanmu."
Laura menaikkan kedua alisnya.
"Memangnya apa yang sedang kau masak sehingga dapur ini berubah menjadi kapal pecah" Laura berjalan mendekat dan menatap tidak percaya begitu melihat sesuatu yang gosong di atas wajan.
"Apa kau menangis karena masakanmu gosong?" tanya Laura begitu menyadari mata Feli memerah. Feli menggeleng cepat.
"Mataku berair karena sedang mengiris bawang ini" tunjuk Feli ke arah bawang merah yang sudah di irisnya.
Laura membelalakkan matanya, menatap tidak percaya kepada bentuk irisan bawang Feli. Sungguh tidak ada seni dan irisannya terlihat sangat mengerikan, lalu tanpa sengaja ia melihat beberapa jari Feli sudah di plester.
"Apa kau yakin ingin membuatkan Darren bekal makan siang? Maksudku apa Darren akan baik-baik saja setelah memakan bekal buatanmu?"
"Terakhir kali Darren memakan masakanku ia harus berakhir di kamar mandi. Seharian bolak balik kamar mandi, Aunty" jawab Feli jujur yang sontak membuat Laura membelalakkan matanya.
"Lalu sekarang apa kau berniat ingin membunuhnya dengan masakanmu lagi?"
"Aunty..." erang Feli tidak suka dengan pemilihan bahasa yang digunakan oleh Laura.
__ADS_1
"Menyingkirlah dan bersihkan ini semua, aku akan membuatakan bekal makan siang buat suamimu dan kau perhatikan aku disaat aku memasak tapi jangan banyak pertanyaan, kau mengerti?"
Feli mengangguk cepat dengan senyum lebar di wajahnya.
"Aunty, aku tidak menyangka kau baik sekali" Feli mengulurkan kedua tangannya berniat untuk memeluk Laura.
"Tidak ada kontak fisik, Feli" Laura segera mundur beberapa langkah guna menghindari pelukan Feli, Feli berdecak kesal.
Empat puluh lima menit akhirnya acara menyiapkan bekal buat Darren selesai juga. Dan tentu saja acara memasak itu diselingi dengan adu mulut antara Feli dan Laura. Laura benar-benar di uji kesabarannya dengan berbagai pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh Feli. Mulai dari pertanyaan kenapa matanya perih jika mengiris bawang merah tapi tidak dengan bawang putih. Feli juga tidak bisa membedakan antara kunyit dan jahe. Bahkan Feli tidak sungkan menanyakan kenapa Laura bisa menikahi pria tua seperti Bernard yang membuat Laura tersedak beberapa kali.
"Hentikan pertanyaan konyolmu itu, Feli dan katakan kau pergi bersama siapa ke kantor Darren?"
"Aku akan meminta sopir untuk mengantarku, dan mungkin akan meminta Emily untuk menemaniku."
"Aku yang akan mengantarmu dan kita hanya akan pergi berdua, jadi jangan meminta siapa pun untuk menemanimu"
"Tapi, Aunty..."
"Aku tidak mendengarkan bantahan Feli, jadi bersiaplah. Dua puluh menit lagi kita berangkat" Laura segera meninggalkan Feli yang masih bingung dengan sikap Laura yang mendadak jadi bersikap lebih ramah terhadapnya.
π£π£π£
"Apa kau ingin pergi?"
Feli menoleh ke sumber suara dan menemukan Clarissa yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Clarissa terlihat mengenakan pakaian rapi, sepertinya ia juga akan pergi. Dress polkadot yang dikenakannya terlihat pas di tubuh seksinya.
"Bukan urusanmu" jawab Feli tidak bersahabat seraya memalingkan wajahnya. Clarissa memutar bola matanya jengah lalu berlalu begitu saja.
Tidak berapa lama Lauran pun dari kamarnya. Mereka berdua pun segera pergi menuju kantor Darren.
"Aunty.." Feli mulai bersuara.
"Feli, aku minta kau duduk dengan tenang dan manis di tempatmu. Aku sedang tidak ingin mendengarkan hal konyol keluar dari mulutmu, dan biarkan aku mengendarai mobil ini dengan tenang" Laura menyela ucapan Feli dengan cepat. Jika diladeni Feli tidak akan berhenti berbicara. Sungguh ia sudah belajar tadi disaat mereka memasak bersama, banyak hal konyol yang keluar dari mulut Feli yang mampu membuat kesabarannya di uji. Laura bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa keponkannya itu cinta mati kepada wanita yang duduk di sampingnya sekarang.
Selain wajah cantik sepertinya wanita ini tidak memiliki kelebihan apa pun, Laura membatin.
15 menit kemudian akhirnya mereka sampai di perusahaan yang sekarang menjadi milik Darren. Semua menunduk hormat begitu Feli dan Laura lewat. Feli tahu rasa hormat itu ditujukan kepada Laura karena ia yakin belum ada yang tahu dan mengenali dirinya siapa.
__ADS_1
"Aku akan ke toilet sebentar, kau naiklah ke lantai 20 maka kau akan menemukan ruangan suamimu di sana. Aku akan menyusulmu nanti" Laura menepuk bahu Feli lalu segera pergi.
Feli segera menaiki lift seperti yang diperintahkan oleh Laura. Dan begitu sampai di lantai 20 ternyata ada beberapa ruangan di sana.
"Yang mana ruangan Darren?" Feli bergumam.
"Haruskah aku menghubunginya?" kembali Feli berbicara sendiri.
"Tidak..tidak..aku akan mencari tahunya sendiri dan memberi kejutan padanya" senyum lebar menghiasi wajahnya. Dengan langkah semangat ia berjalan menuju ruangan yang paling dekat dengannya. Feli mengernyit begitu sampai di depan pintu ruangan itu. Ia mendengar suara wanita dan juga seorang pria yang tidak asing di telingnya. Karena rasa penasarannya Feli segera mendorong pintu ruangan itu secara perlahan sehingga memberikan celah bagi Feli untuk bisa melihat ke dalam ruangan.
Terlihat seorang wanita sedang duduk di atas pangkuan pria yang tidak lain adalah Bernard. Feli tidak bisa melihat wajah sang wanita karena membelakanginya. Feli menyipitkan matanya seperti mengenali pakaian yang dikenakan oleh wanita tersebut.
"Kenapa kau datang kemari, apa kau ingin rencana kita berantakan?" Bernard mengecup tangan wanita tersebut.
Bernard si pria tua itu mengkhianati aunty Laura.
"Aku hanya merindukanmu" jawab wanita tersebut seraya mengecup kilat bibir Bernard yang membuat Feli mual seketika.
"Aku mendengar Feli akan kemari mengunjungi suaminya, tidak bisakah kau memanfaatkan kesempatan ini dengan menghabisi bayi yang dikandungnya" Feli tersentak seketika begitu mendengar kalimat itu meluncur dari mulut wanita itu.
Mereka ingin menghabisi bayiku? Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhnya. Feli memegang perutnya.
"Darren.." Feli bergumam seraya melangkah berniat untuk meninggalkan ruangan Bernard. Sepertinya nasib buruk sedang mengikuti Feli, tanpa sengaja ia malah menendang tong sampah yang berada di dekat kakinya hingga menimbulkan suara.
"Siapa itu?" terdengar teriakan Bernard dari dalam.
"Astaga, kenapa kau tidak mengunci pintunya?" Bernard dengan nada kesal bertanya kepada wanita yang sedang bersamanya. Feli bisa mendengar derap langkah kaki sedang mendekat ke arahnya. Ia segara berlari tidak tentu arah hingga ia sampai di ujung tangga darurat.
"Feli.." terdengar seseorang memanggil namanya.. Feli segera menoleh dan wajahnya seketika memucat begitu melihat Clarissa yang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Apa kau datang ingin mengunjungi Darren?" Clarissa mendekat ke arahnya.
"Jangan mendekat" teriak Feli yang membuat Clarissa terkejut dan berhenti di tempat.
"Ada apa denganmu?" kembali Clarissa berjalan ke arahnya.
"Sudah kukatakan jangan mendekat!" Feli segera mundur tanpa menyadari di mana posisinya berdiri sekarang. Alhasil ia tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya yang berakhir dengan ia jatuh berguling dari atas tangga hingga ke bawah.
__ADS_1
"Bayiku.." lirihnya hingga akhirnya Feli kehilangan kesadarannya.
T.B.C