
"Dad..sepertinya aku tidak bisa masuk ke kantor hari ini" Darren menghubungi Felix. Ia ingin menghabiskan waktunya berdua bersama Feli.
"Apa semuanya baik-baik saja Son?" terdengar jawaban Felix dari seberang telepon.
"Ya Dad..kau...akhh..maksudku kau tidak perlu khawatir Dad" Ucap Darren dengan suara tertahan. Darren melebarkan matanya memberi peringatan pada Feli yang berada dalam pelukannya. Bagaimana mungkin ia tidak mengerang Feli menciumi dada Darren memainkan jemarinya diatas dadanya.
"Apa kau yakin dengan ucapanmu Son? Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja. Suara mu seperti menahan sesuatu?"
Ya putrimu nakal sekali Daddy..Feli yang kau anggap kecil ini menggerayangi tubuhku. Batin Darren.
"Bagaimana dengan Feli?" suara Felix kembali terdengar.
"Dia masih tidur Dad..Dia baik-baik saja. Nanti malam aku akan mengantarnya pulang. Kau tahu putrimu itu akan marah jika tidak menemukan ada orang saat ia terbangun" Darren beralasan. Bukankah ia sudah mengatakan untuk meyakinkan Daddy nya itu butuh usaha.
"Lalu katakan sekarang posisimu ada di mana?"suara Felix terdengar waspada. Darren terkekeh. Sepetinya Daddy nya curiga ia dan Feli berada dalam satu ruangan. Dan sialnya dugaannya itu memang benar.
"Aku sedang di kamar mandi Dad" Darren membawa tangan Feli ke wajahnya. Menciuminya.
"Apa yang kau lakukan di kamar mandi?"
"Astaga Dad..memangnya apa yang bisa dilakukan pria dewasa dikamar mandi" Darren menggoda Daddy nya.
"Katakan jika aku salah. Sepertinya aku mendengar kau mengerang tadi. Apa kau sedang melepaskan hasratmu dikamar mandi"
"C'mon Dad..aku tidak kekurangan wanita jika ingin melepaskan hasratku"
"Apa sekarang kau sedang mengatakan kau sedang bersama seorang wanita di kamar mandi?"
"Aku hanya sendiri Dad. Feli bisa membunuhku jika membawa wanita kedalam rumahku" Jawabnya jujur. Ia memang tidak pernah membawa wanita masuk kedalam apartmennya. Jika ia ingin melepaskan hasratnya dengan salah satu kekasihnya dulu ia akan memilih hotel sebagai tempatnya.
"Di mana Feli tidur semalam?"
"Di kamarku"
Begitu Darren menjawab Felix memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Darren terkekeh. Lalu meletakkan ponselnya diatas nakas.
"Kau harus dihukum" Darren memutar posisi mereka yang tadinya Feli berada didalam pelukan Daren kini berada dibawah Darren.
"Kau yang memancing terlebih dahulu" Darren mengingatkan. Feli tersenyum senang. Darren menciumnya.
"Darren..sekarang aku kekasihmu kan?" Feli memastikan begitu Darren melepaskan ciumannya
"Hmmm.." jawab Darren
"Berarti aku berhak atas dirimu kan?"
"Sepenuhnya" jawab Darren singkat.
"Kalau begitu aku harus membersihkan mu Darren"
Darren mengernyit tidak faham maksud ucapan Feli.
"Aku harus membersihkan bibir mu dari jejak Stevy" Feli memasang wajah masam mengingat Stevy dan Darren yang berciuman dihadapannya sehingga ia mabuk untuk pertama kalinya. Darren mengulum senyumnya.
"Silahkan" Darren menutup matanya menunggu Feli membersihkan bibirnya.
Feli menelan ludahnya dengan susah payah. Ternyata praktek tidak semudah teori. Dengan perlahan ia mengangkat tangannya mengalungkan nya dibelakang leher Darren. Ia menggigit bibirnya. Ia gugup. Ini pertama kali buatnya. Apakah ia harus membuka mulutnya, ia tidak tahu.
"Feli aku menunggu" Darren membuka matanya. Ia tersenyum begitu melihat wajah gugup Feli.
"Aku akan menunjukkan caranya" Darren mendekatkan wajahnya. Menyatukan bibir mereka.
"Buka mulutmu sayang" Darren mengajari dan dengan patuh Feli membuka mulutnya. Lidah mereka saling membelit. Feli merasakan panas diseluruh tubuhnya. Nafasnya terengah begitu Darren melepaskan ciuman mereka.
"Sekarang kau bisa mencobanya" Darren kembali menutup matanya.
Dengan patuh Feli melakukan hal seperti yang diajarkan Darren. Ia menyatukan bibir mereka.
"Buka mulutmu Darren" gumamnya malu-malu. Darren tersenyum lalu membuka mulutnya. Mereka kembali berciuman. Lebih tepatnya Feli menggigit lidah dan bibir Darren beberapa kali.
"Maafkan aku. Sepertinya aku masih perlu belajar banyak" Wajah Feli merona malu
"Tidak apa-apa Feli. Aku suka gigitanmu" Darren mengerling nakal.
"Feli Stevy bukan hanya mencium bibir ku" Darren terlihat serius.
__ADS_1
"Katakan dimana ia menyentuhmu lagi. Aku akan membersihkannya" Darren terkekeh mendengar ucapan Feli yang seperti mengcopy ucapannya 5 tahun lalu.
"Disini" Darren menunjuk lehernya. Ia penasaran apa Feli akan menciumnya.
"Tapi Darren aku hanya melihat ia mencium bibirmu" Ucap Feli ragu.
"Dia melakukannya sebelum kau datang" bohong Darren
"Tunjukkan bagaimana aku harus melakukannya" Bodoh dan polos memang beda tipis. Darren menahan senyumnya. Hasratnya benar-benar di uji.
Adik kecil, aku harap kau tenang bawah sana. Batin Darren
Darren mendekatkan wajahnya keleher Feli. Bulu Feli meremang merasakan nafas Darren dilehernya. Tubuhnya menegang. Cup. Darren hanya mengecupnya. Jika ia berbuat lebih ia yakin ia akan lepas kendali. Ia menarik leher Feli dan ******* bibirnya. Melepaskan hasratnya dengan bergrilya didalam mulut Feli.
Ting..Tong
Terdengar bel pintu. Darren dan Feli terdiam sesaat lalu mereka memilih mengacuhkannya. Darren mencium Feli kembali.
Ting..Tong
Bel pintu terdengar kembali bertepatan dengan suara ponsel Darren. Dengan berat hati Darren melepaskan ciumannya dan beranjak dari posisinya.
Ia melebarkan matanya begitu nama Daddy nya tertera dilayar ponselnya.
"Daddy menelepon. Mungkin Daddy sekarang ada didepan" ucapanya panik.
"Kenapa panik, kita hanya perlu keluar dan menyapanya lalu memberitahukan kabar gembira ini. Dan meminta Daddy dan Mommy segera menikahkan kita" Feli menepuk tangannya lalu beranjak ingin membukakan pintu untuk Daddy nya.
"Tidak..tidak...kau tidak bisa keluar dengan pakaian seperti itu. Dan dengarkan aku Feli untuk sementara biarkan seperti ini. Maksud ku kita harus merahasiakannya dulu. Biar aku nanti yang bicara kepada Mommy dan Daddy" Darren berusaha menjelaskan. Bisa kacau jika Feli bertindak.
"Kenapa harus seperti itu Darren"
"Sayang dengarkan aku. Jika kita mengatakannya sekarang Mommy dan Daddy akan terkejut. Kau tidak ingin melihat Mommy jantungan kan. Sayang aku mohon dengarkan aku kali ini. Dihadapan mereka kita harus bersikap seperti biasanya. Jangan membuat mereka curiga juga. Kau mau kan sayang" Dengan penuh hati-hati dan penuh kelembutan Darren berusaha membujuk Feli.
"Baiklah jika itu memang mau mu" Feli menyerah. Ia memang selalu patuh terhadap Darren. Apa lagi Darren tadi mengatakan sayang Feli tidak akan bisa berkutik sama sekali.
"Baiklah sayang sekarang ganti pakaianmu yang lebih layak. Dan beraktinglah seolah-olah kau sedang tidur. Dan jangan katakan kau mabuk semalam. Dan Feli aku minta beraktinglah dengan bagus" Feli mengangguk dan Darren segera keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu untuk Daddy nya.
Darren menarik nafasnya sesaat lalu membuka pintu. Felix mendorong tubuh Darren begitu pintu terbuka agar menyingkir dari pintu.
"Maafkan aku" hanya kata itu yang terlontar dari mulut Darren
"Dimana adikmu?" Felix berjalan menuju kamar Darren
"Dia masih tidur Dad"
"Kau datang hanya ingin melihatnya?"
"Kebetulan aku ada rapat disekitar sini. Jadi tidak ada salahnya mengunjungimu dan Feli" Tentu saja Darren tahu itu hanya alasan Daddy nya.
Felix mendorong pintu kamar Darren dan melihat putrinya sedang tertidur pulas. Darren dan Felix serempak bernafas lega tapi untuk alasan yang berbeda. Felix mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan begitu juga dengan Darren. Mata mereka sama-sama berhenti di pakaian Feli yang tergeletak dilantai.
Felix segera berjalan mendekati pakaian Feli yang tergeletak itu dan mengambilnya.
"Bukan kah ini pakaian Feli" Felix menyipitkan matanya menatap penuh selidik kearah putranya Darren
"Sepertinya begitu"
"Apa itu artinya Feli tidak mengenakan pakaiannya dibalik selimutnya?" Felix mulai waspada.
Darren tertawa dalam hati.
"Aku tidak tahu. Jika Daddy penasaran kita bisa membuka selimutnya dan melihatnya" ucapnya enteng tanpa beban
"Kau ingin berlaku kurang ajar pada ADIKmu" Felix sengaja menekan kata adik di akhir kalimatnya.
"Aku mana berani"
"Aku hanya menyarankan jika Daddy penasaran" Darren meluruskan.
"Apa kau ingin Daddy mengadukanmu kepada Mommy mu"ancam Felix
"Memangnya apa kesalahanku" Darren membela diri.
Felix berdecak kesal
__ADS_1
"Kau selalu menjawab dan menantang Daddy mu ini"
"Apa hanya pakaiannya yang tergeletak disini?" Felix berjalan perlahan memeriksa setiap sudut ruangan kamar Darren
"Memangnya kau memgharapkan apa?"Darren mengulum senyumnya. Ia tahu apa yang ada difikiran Daddy nya.
"Ya hal lainnya selain pakaiannya" jawab Felix
"Apa maksudmu seperti pakaian dalam Feli" Jawaban enteng Darren sontak membuat Felix memutar tubuhnya menatap Darren. Memang itu yang sebenarnya yang ada difikiran Felix. Dan tentu saja Felix tidak mau mengakuinya.
"Kau mesum sekali Darren. Kau sungguh ingin Daddy melaporkanmu pada Mommy"
"Kemesuman ini ku warisi dari mu,Dad"
"Kau fikir Daddy bangga"
"Justru aku yang merasa tercela Dad. Dari banyak hal yang bisa kau wariskan kenapa hanya kemesumanmu yang kau wariskan pada ku"
"Oh..kenapa kalian berdua berisik sekali" Feli bangkit dari tidurnya. Darren dan Felix terkejut. Terlebih Daddy nya Felix. Ia berjalan mendekati ranjang.
"Kau tidak tidur?"
"Aku baru saja bangun" bohong Feli
"Kau tidak terlihat seperti bangun tidur" selidik Felix
"Aku memang selalu terlihat cantik saat bangun tidur. Daddy tidak akan menemukan rambut yang berantakan. Bekas iler yang menempel saat aku bangun tidur Daddy. Seorang model profesional bangun dari tidurnya dengan cara yang elegant Daddy"
"Ckk...putriku sedang berusaha membohongiku" Felix berdecak kesal.
"Darren mengatakan kau sakit. Tapi kau terlihat baik-baik saja"
"Tadi malam aku memang sakit Daddy. Tapi hari ini sudah tidak lagi" wajah Feli bersemu merah. Ia melirik Darren sekilas. Darren meniupkan ciuman jauh dan mengedipkan matanya. Feli tergelak dan tersipu. Felix mengerutkan dahinya melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh putrinya. Ia segera menoleh kebelakang dan mendapati Darren yang sedang sibuk dengan ponselnya. Tentu saja ia hanya pura-pura sibuk.
"Dan kau Darren apa kau kehabisan baju sehingga kau hanya mengenakan boxer pendek itu ditubuhmu" Felix menyoroti tubuh Darren dengan kesal.
Kenapa tubuhnya bisa sebagus itu. Batin Felix.
Felix yang tampan saja mengatakan seperti itu. Bagaimana dengan kami wahai Felix para wanita dibumi ini.
"Memangnya aku harus mengenakan pakaian seperti apa didalam rumahku?" Darren menahan senyumnya. Ia yakin Daddy nya sekarang seperti kebakaran jenggot.
"Setidaknya kenakan atasanmu. Ada Feli disini"
"Memangnya Feli bisa melakukan apa padaku?" Darren masih pura-pura bodoh.
"Kau menodai mata suci adik mu anak sialan" hardik Felix
"Dan kau jika kau sudah baik-baik saja. Ayo pulang" Felix menarik tangan Feli.
"Aku masih pusing Daddy. Biarkan Darren yang mengantarku nanti" Feli meringis seolah menahan sakit. Tentu saja itu hany akting
"Darren harus kekantor. Kau harus pulang agar Mommy mu bisa merawat mu"
"Tapi aku sudah meminti izin Daddy agar tidak masuk kekantor hari ini" Darren mengingatkan pembicaraan mereka tadi di telepon.
"Kau harus memimpin rapat hari ini" jawab Felix ketus.
"Sebagai atasan mu Daddy tidak memberikan mu izin"
"Tadi kau sudah mengizinkannya Daddy"
"Aku bossnya. Dan aku menarik izin mu kembali" Putus Felix yang membuat Darren dan Felix kompak berdecak kesal.
T.b.c
Tinggalkan koment dan like sebanyak-banyak nya agar bisa double updetπ€πππ
Terimakasih buat semua yang sudah ngevote cerita itu. Yang sudah auto Vote, part ini penulis dedikasikan buat mu TA31ππ
Dan yang request fhoto Darren selamat mengagumi ketampanan Darren. Jangan sampai lupa suami dan pacarπ. Sumber foto dari pinterest
__ADS_1