
"Haii Emily.." sapa Feli ramah begitu melihat Emily yang sedang merangkai bunga dari hasil yang petiknya dari halaman belakang mansion itu.
"Hai Feli" Emily tersenyum seraya menepuk kursi disebelahnya agar Feli duduk disana.
"Woow..kau pintar sekali merangkainya. Apa aku bisa mencobanya" Feli menatap kagum pada bunga yang baru selesai dirangkai oleh Emily.
"Tentu saja"
"Emily, ceritakan padaku bagaimana Darren saat ia kecil dulu"
"Wah..kau tidak salah bertanya padaku?" Emily tertawa.
"Bukankah hampir seluruh hidupnya ia habiskan bersamamu"
"Ya..tapi aku mengenalnya saat ia sudah berusia hampir 10 tahun. Aku penasaran bagaimana ia saat kecil. Apa ia nakal sama seperti anak laki-laki kebanyakan"
Emily menggelengkan kepalanya cepat
"Darren berbeda dari anak laki-laki kebanyakan. Dia sangat baik dan sangat manis dan dia juga sangat mencintai aunty Ashley. Bahkan saat anak-anak lainnya mengambil mainannya ia hanya akan memilih diam dibandingkan ribut untuk hal seperti itu"
"Wahh bukankah Darrenku itu sangat manis Emily. Sampai sekarang ia masih seperti itu."
"Ya..kau beruntung" jawab Emily.
"Lalu ceritakan tentangmu Emily" Feli mengganti topik.
"Kau juga pensaran tentangku?" Emily terkekeh.
Feli hanya mengangguk sebagai respon.
"Tidak ada yang menarik dariku Feli"
"Apa Clarissa memang sepupumu?" Feli tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Hmm" Emily bergumam.
"Lalu dimana keluargamu Em, kenapa kau dan Clarissa hanya berdua"
"Mom dan Dad sudah meninggal, begitu juga dengan kedua orang tua Clarissa. Aku hanya memilikinya dan dia juga hanya memilikiku. Dan kau tahu aku sangat bersyukur ada disini. Nonna wanita yang sangat baik dan penyayang."
"Aku turut berduka Em, maafkan aku sudah mengingatkanmu pada aunty dan uncle. Kau pasti sangat sedih" ucap Feli penuh sesal.
Emily menggeleng
"Tidak apa-apa Feli. Itu sudah lama sekali"
"Woooww...ada Mrs. Maxston disini" suara Clarissa terdengar sangat menggelegar. Feli dan Emily kompak menoleh ke arahnya.
"Aku penasaran apa kau masih takut kepadaku?" Clarissa mengangkat sebelah alisnya. Dan percayalah melihat wajahnya saja membuat Feli merasa kesal.
"Kenapa aku harus takut" jawab Feli singkat.
"Bukankah sebelumnya begitu melihatku kau akan gemetaran" Clarissa tertawa memcemooh.
"Ciihhh...Apa kau punya kelainan? merasa bahagia saat orang merasa tertekan?"
Clarissa mengangguk cepat.
"Harusnya aku tidak heran mengingat kau pernah dirawat akaibat gangguan kejiwaan" ucap Feli telak yang membuat wajah Clarissa berang seketika.
"Beraninya kau..."
"Dan Clarissa asal kau tahu aku tidak akan membiarkanmu menekanku lagi"
"Aku tidak takut padamu" Feli menyela ucapan Clarissa.
"Huuh.." Clarissa mendengus
"Bagaimana rasanya?" Clarissa menatap Feli kembali dengan tatapan mencemooh. Feli yang ditatap seperti itu mengangkat kedua alisnya.
"Bagaimana rasanya mendadak menjadi istri sang triliuner?" Clarissa memperjelas sindirannya.
Feli tersenyum mengejek begitu faham apa yang dimkasud oleh Clarissa.
"Clarissa apa kau lupa, sebelum menjadi istri Darren aku adalah putri seorang McKenzie. Aku bisa membelimu sekarang tanpa harus menggunakan uang Maxston"
__ADS_1
"Sombong sekali kau dan beraninya kau mengatakan akan membeliku..."
"Clarissa kendalikan emosimu" Emily menyela setelah dari tadi diam menyimak. Ia tidak ingin Clarissa gelap mata dan melukai Feli karena mengingat ucapan Darren tadi pagi sepertinya Darren tidak akan main-main dengan ucapannya.
"Darah McKenzie mengalir di tubuhku Clarissa dan sombong adalah sifat alami kami" jawab Feli enteng tanpa beban.
"Sepertinya kau memang mencari gara-gara padaku" Clarissa mengangkat tangannya dan segera melayangkannya.
Plak
Beruntung tamparan itu tidak mengenai wajah Feli. Tidak tahu apa yang akan dilakukan Darren jika sampai wajah istrinya itu terluka.
"Em.." Feli bergumam. Ia terkejut tiba-tiba Emily sudah berdiri di hadapannya menghalangi tamparan Clarissa yang harusnya mengenai wajahnya.
"Dasar bodoh! Kenapa kau menghalangiku?" Clarissa menatap Emily dengan kesal.
"Harusnya kau meminta maaf bukannya mengatainya sialan!" emosi Feli mulai terpancing.
"Ooouuu..apa sekarang kalian sedang berlakon sebagai dua sahabat yang saling melindungi dan saling membela" Clarisa menatap Feli dan Emily bergantian.
"Ku ingatkan padamu Em, jangan terlalu dekat dengan wanita ini, karena bisa saja ia mendekatimu hanya untuk mencari informasi"
"Memangnya informasi apa yang perlu ku cari. Orang-oranglah yang selalu mencari informasi tentangku" Feli tergelak.
"Dan kau jangan terlalu mudah percaya pada orang lain, Emily yang disampingmu ini bisa saja menusukmu secara perlahan. Apa kau tahu, dulu ia bahkan akan menyebarkan vidio tentang bagaimana tubuhmu digerayangi oleh orang-orang seuruhanku dulu" Clarissa tersenyum penuh kemenangan begitu melihat perubahan raut wajah Feli. Feli menoleh menatap Emily. Emily hanya diam dan tak membantah.
"Bukan begitu Em..?" Clarisa meminta pembenaran dari Emily.
"Katakan sesuatu biar Ms.Maxston ini tahu untuk lebih berhati-hati dan menurunkan kadar kesombongannya itu" kembali Clarissa menatap Feli masih dengan wajah menjengkelkan.
"Berhati-hatilah karena banyak pasang mata yang memantaumu disini" sinisnya lalu pergi meninggalkan Feli dan Emily disana.
"Feli..aku juga kebelakang dulu. Aku akan menyiapkan makan siang" tanpa menunggu jawaban Feli, Emilypun segera berlalu. Feli masih mematung ditempatnya. Mencerna setiap kata yang baru didengarnya. Benar yang dikatakan Darren ia harus wasapada terhadap semuanya. Istana ini benar-benar penuh dengan para penyamun. Feli mengusap perutnya.
Mommy harap kita bisa bertahan dan baik-baik saja sayang. Feli membatin.
"Aku mencarimu ke kamar ternyata kau ada disini"
Feli tersentak dari lamunannya. Ia segera menoleh dan melihat nonna sedang berjalan kearahnya. Feli tersenyum hangat begitupun nonna.
"Apa kau masih mengalami mual dipagi hari?"
"Tidak lagi nonna"
"Katakan bagaimana khabar cicitku didalam sini" Nonna mengusap perut Feli.
"Apa dia sudah mulai bergerak didalam sana?"
"Belom nonna, aku belum merasakannya" Feli tersenyum.
"Minggu depan aku dan Darren akan memeriksakannya ke Dokter"
"Oh..aku tidak sabar untuk kelahiran cicitku"
"Begitupun aku nonna"
"Sayang bisakah kau menceritakan Darren kepadaku"
"Aku juga baru melakukan hal yang sama nonna. Aku meminta Emily untuk menceritakan tentang Darren kecil" Feli tertawa.
"Oh benarkah"
"Tapi tunggu dulu Emily mengenal Darren kecil?" nonna terlihat bingung.
"Ya..Darren dan Emily teman masa kecil nonna"
"Aku baru mengetahuinya"
"Ceritakan padaku bagaimana ia tumbuh selama ini sayang"
"Darren pria yang sangat pintar nonna. Dia selalu menjadi juara dalam sekolah. Karena kepintarannya ia disukai banyak wanita dan tentu saja karena ia juga sangat tampan. Darren sangat menyayangiku, Mike, mommy dan daddy. Tapi kau tahu nonna Darren dan daddy selalu saja ribut setiap kali mereka bertemu." Feli tertawa mengingat bagaimana Darren selalu membuat daddy nya jengkel.
"Dan kau tahu nonna setiap kali mereka berdebat Darren selalu menjadi pemenang" Feli terkikik.
"Tapi aku sangat berterima kasih pada daddy mu. Ia bisa mendidik Darren menjadi seorang pengusaha yang hebat"
__ADS_1
"Ia bahkan lebih hebat dari daddy" Feli memuji suaminya itu.
"Oh betapa aku sangat mencintai suamiku itu"
Nonna tergelak mendengar pernyataan Feli yang spontan itu.
"Ya, aku juga melihat dia sangat tergila-gila padamu. Dia sangat mencintaimu dan ya dia sangat beruntung mendapatkan istri sepertimu"
"Tidak nonna, akulah yang beruntung mendapatkannya. Dia adalah hidupku. Aku bisa mati jika tidak ada Darren disampingku. Dan tentu saja cintaku lebih besar dibandingkan Darren"
Nonna semakin tergelak mendengar penuturan Feli yang terang-terangan itu.
"Wah kau sangat jujur terhadap perasaanmu, bukankah seharusnya pria yang mengatakan hal seperti itu terhadap wanita"
"Tapi Darren juga akan menggila jika tidak aku nonna" ucap Feli jujur penuh percaya diri.
"Ya aku bisa melihatnya. Kau dan Darren saling mencintai satu sama lain."
"Aku penasaran siapa yang lebih menggila diantara kalian jika itu berurusan dengan ranjang"
Wajah Feli bersemu merah begitu mendengar pertanyaan nonna lalu ia tersenyum malu-malu.
"Darren akan menggila jika aku sedikit liar dan nakal nonna" ucapnya genit dan tak tahu malu membuat nonna terbahak.
"Nonna, apa kau selama ini tinggal disini?" tanya Feli penasaran.
"Ya" nonna mengangguk.
"Lalu kenapa kau bisa tidak mengetahui keberadaan Darren selama ini. Dia lahir disini dan tinggal disini selama 4 tahun"
"Aku tidak mengetahui kejadian yang menimpanya dulu" jawabnya dengan raut sedih.
"Salahku yang terlalu memaksakan kehendakku padanya. Ia tidak menyukai bisnis tapi aku memaksanya. Ia lalu memilih pergi meninggalkan rumah ini. Dan begitu ia pulang yang datang hanyalah jasad" suaranya terdengar bergetar.
"Maafkan aku. Kau jadi terlihat sedih" Feli segera memeluknya memberikan kekuatan.
"Lalu selama ini siapa yang memegang kendali atas semua perusahaanmu itu nonna?"
"Robert, suami pertama Laura. Dia juga pebisnis yang handal dan kau tahu aku juga sangat kehilangan saat ia meninggal secara mendadak" kembali wajah tua itu terlihat murung.
"Itu artinya kau sangat menyayangi menantumu itu nonna"
"Bagaimana dengan uncle Bernard. Kau tak memberikan apapun padanya"
"Maafkan aku yang terlalu banyak bertanya" Feli tersenyum kikuk.
Nonna menggeleng seraya tersenyum.
"Tidak apa-apa sayang. Dan masalah Bernard aku tidak menyukainya tapi putriku menyukainya aku bisa apa" Nonna menghela nafasnya dalam.
"Aku merasa keluarga ini penuh banyak misteri nonna" ucap Feli jujur.
"Aku mencarimu kemana-mana ternyata Mom ada disini. Mom jadi melupakanku semenjak putri pembunuh itu ada disini" desis Laura seraya menatap Feli sinis.
"Laura perhatikan ucapanmu"
"Dan kau sayang jangan masukkan ke hati ucapannya" nonna mengusap punggung tangan Feli.
Laura mendengus.
"Kenyataannya daddy nya memang membunuh Sean!"
"Aunty, aku tidak akan membela daddy tapi percayalah daddy juga tidak menginginkan itu terjadi. Semuanya hanya kesalahfahaman akibat ulah seseorang. Dan aku mewakili daddy meminta maaf yang sebesar-besarnya"
"Apa kau fikir dengan kata maaf saudaraku akan hidup kembali?" sinis Laura. Feli terdiam. Ia tidak bisa menjawabnya.
"Dan kau datang dengan tidak tahu malunya dan tinggal disini"
"Aunty apa kau lupa ini adalah rumah suamiku lalu kenapa aku harus malu. Dan aunty percayalah aku dan Darren tidak keberatan sama sekali untuk menampung kalian disini" ucapan Feli membuat Laura geram. Ditambah lagi saat Feli mengatakan itu dengan wajah tidak berdosanya membuat Laura menatapnya dengan nyalang yang dibalas Feli dengan senyum manis.
T.B.C
Buat yang menantikan cerita ini maaf atas keterlambatan updatenya. Dan mungkin untuk part ini feelnya kurang dapat tapi untuk part selanjutnya akan dibuat lebih greget. Tetap berikan dukungan kepada penulis sayang-sayangku❤🙏😂🤗
Darren tidak nongol✌
__ADS_1