Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
21.Kekonyolan Darren


__ADS_3

"*Kakak...cepatlah...Anjing itu sudah mendekatimu" teriak Feli dari seberang jalan.


"Darren...berlarilah yang kencang jika kau tidak ingin menjadi santapan anjing itu"


Darren, Feli dan Rachel sedang bermain ketika tiba-tiba ada anjing liar yang menggila datang menghampiri mereka entah dari mana asalnya mereka pun tidak tahu. Darren mengambil batu dan melemparinya dan meminta kedua gadis itu Feli dan Rachel segera berlari menyelamatkan diri mereka dan meminta bantuan kepada Mommy mereka.


Darren terus berlari sambil melempari anjing itu dengan batu yang dipungutnya asal. Rachel dan Feli sudah ada diseberang jalan.


Darren terus berlari tanpa memperhatikan sekitarnya, Matanya hanya fokus pada anjing yang mengejar mereka. Hingga ia tidak sadar dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju dengan kencangnya


"Kakak..awas" Feli berlari mendekati Darren. Ia mendorong tubuh Darren agar terhindar dari hantaman mobi tersebut. Tapi naas, karena menyelamatkan kakaknya Darren, Feli terpental begitu juga dengan anjing yang mengejar mereka tadi*


"Feli...." teriak Darren


Darren tersentak dari tidurnya. Ia memijit keningnya. Ia tertidur dikursi kebesarannya. Kenapa tiba-tiba ia memimpikan kejadian itu. Kejadian yang terjadi 15 tahun lalu. Dimana Felinya harus terbaring koma selama 2 minggu karena menyelamatkannya. Dan kenyataan pahit yang harus diterima keluarganya bahwa Feli menderita kanker tulang. Untung saja kanker yang dideritanya masih jinak sehingga tidak butuh waktu lama untuk penyembuhannya.


Darren mengambil ponselnya, berniat menghubungi Feli. Belum sempat ia menekan tombol ponselnya pintu ruangannya terbuka. Rachel melangkah masuk dengan senyum mengejek diwajahnya.


"Dimana ponsel ku?" Rachel menyodorkan satu tangannya.


Darren membuka laci mejanya dan mengambil ponsel Rachel lalu menyerahkannya.


"Bukankah seharusnya kau mengatakan terimakasih" sindir Rachel


"Terimakasih, ponselmu memang sangat membantu dan sangat berjasa terhadap hubungan ku dan Feli" ucapnya datar


"Cihhh..wajah mu tidak menunjukkan raut bahagia. Ada apa denganmu? Bukan kah ini yang kau tunggu-tunggu. Menjadikan adik kecil mu itu sebagai kekasih hatimu" Rachel menarik kursi dihadapan Darren. Ia menelisik raut wajah Darren yang terlihat sangat muram. Bukankah seharusnya orang yang baru memiliki kekasih wajahnya berbinar-binar. Tidak mungkin Feli menolaknya. Melihat wajah cerah Feli yang secerah mentari di pagi hari, ia yakin semuanya berjalan lancar. Lalu apa yang membuat sahabatnya itu terlihat muram.


"Aku memimpikannya lagi" gumam Darren. Rachel mengernyit tidak tahu maksud dari ucapan Darren.


"Kejadian 15 tahun lalu" lanjutnya yang membuat Rachel menghela nafas


"Bukan kah semuanya baik-baik saja sekarang" Rachel memberi semangat pada Darren.


Darren mengangguk.


"Ya. Tapi kenapa aku tiba-tiba memimpikannya. Aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk" Darren menatap Rachel.


"Ayolah. Itu hanya perasaanmu saja. Tidak akan terjadi hal buruk apa pun. Mungkin satu-satunya hal buruk yang terjadi padamu adalah Mommy dan Daddy tidak menerima mu sebagai menantu mereka" gurau Rachel untuk menghilangkan kekusaman Darren.


Darren berdecak kesal


"Ya sepertinya Daddy akan mempersulitku. Sekarang saja aku sudah dilarang menginap dirumahnya"


"Dan aku yakin kau tidak mendengarkannya" timpal Rache.


Darren terkekeh


"Sepertinya aku harus mencari waktu untuk berbicara dengan mereka"


"Ya, sepertinya kau sudah tidak tahan lagi untuk memiliki Feli seutuhnya. Aku yakin Mommy dan Daddy Felix akan menerima ini. Mereka pasti akan bisa melihat cinta mu yang besar itu kepada putri mereka"


"Aku harap memang begitu. Tapi cinta ku yang besar menurutmu ini masih belum cukup. Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan Feli padaku"


"Jangan katakan perasaan yang kau miliki hanya perasaan bersalah Darren" Rachel memyipitkan matanya menyelidik


Darren tergelak.


"Kau sama saja dengan Feli. Aku mencintainya Rachel. Bahkan sangat mencintainya. Tidak dipungkiri semenjak kejadian itu aku memang merasa bersalah. Tapi setelah kejadian itu juga aku jadi memandang nya dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Dan semakin ia tumbuh, rasa ku padanya juga semakin tumbuh. Setiap melihat senyumnya aku selalu jatuh cinta. Aku tidak tahu apa jadinya diriku tanpa nya" ucapnya tulus dan Rachel bisa merasakan kejujuran dalam kalimatnya.


"Dan aku minta padamu putuskan semua kontrak yang berhubungan dengan Feli"


"Apa?" Pekik Rachel. Ia menatap Darren tidak percaya. Pasalnya banyak perusahaan ternama yang menjalin kontrak dengan Feli. Dan jika mereka membatalkan nya secara sepihak maka mereka harus membayar ganti rugi beberapa kali lipat dari bayaran jasa Feli.


"Kau tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu kan?"


"Aku akan mengganti kerugiaannya"


"Dan itu bukan sedikit" Rachel mengingatkan


"Aku bukan pengusaha miskin Rachel. Jadi lakukan saja apa yang ku katakan" ucapnya datar.


"Apa Feli menyetujuinya?"


"Dia belum mengetahuinya"


"Dan kau ingin aku melakukannya tanpa sepengetahuan Feli" Hardik Rachel

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan seperti itu. Aku akan memberitahunya. Lagian ia pernah mengatakan ia akan melepaskan profesinya jika aku mau menjadi kekasaihnya" ucapnya lempeng.


"Kau sungguh membuat ku gila" Rachel melotot kesal.


"Terimakasih Rachel kau sangat pengertian" Darren tersenyum manis yang membuat Rachel ingin melemparnya.


¤¤¤¤¤¤¤¤


"Kau datang lagi?" Felix melihat Darren yang baru saja memasuki rumahnya. Semenjak resmi menjadi kekasih Feli, Darren bisa dikatakan tiap hari mendatangi rumah keluarganya. Darren berjalan menghampiri Mommy dan Daddynya. Darren memaksa masuk duduk diantara Mommy dan Daddy. Mau tidak mau Felix terpaksa menggeser tubuhnya. Ia tidak ingin istri tercintanya merasa terhimpit.


Darren menopangkan kepalanya di bahu Mommy nya. Ia butuh sentuhan Mommy nya untuk megghadapi kemarahan wanitanya.


Felix berdecak kesal


"Jangan memasang tampang menyedihkan seperti itu agar bisa menyentuh istriku"


Dan tentu saja kemarahan Daddy nya juga. Ia sudah melakukan hal gila tadi.


"Aku sangat menyukai bau tubuhmu Mom" Darren mengacuhkan ocehan Daddy nya.


"Ada apa dengan mu? Kau mempunyai masalah?" Mika mengelus kepala Darren.


"Hmm..."


"Sepertinya putrimu akan memarahiku"


Felix tergelak


"Akhirnya kau juga akan merasakannya"


"Sepertinya kau sangat senang Dad jika anak-anak mu tidak akur" Darren meluruskan kepalanya dan menatap Daddy nya kesal


"Kau tahu son, aku sudah lama menantikan hari ini datang. Hari dimana putri rumah ini mengeluarkan taringnya kepada mu"


"Dan kau tahu Dad, kau sungguh mengesalkan" desis Darren


"Dan kau tak kalah menyebalkan Darren" terdengar suara Feli. Darren menghela nafas berat. Pertempuran pertamanya dengan Feli sepertinya akan dimulai.


Feli mendaratkan bokongnya dikursi tepat dihadapan Mommy, Daddy dan Darren. Ia melotot kesal kearah Darren sambil melipat kedua tangannya di dada.


Darren menoleh menatap Mommy nya. Mommy nya mengerutkan dahinya


"Kau melakukan kesalahan apa?" tanya nya lembut.


"Putra mu itu sudah membuatku menjadi PENGANGGURAN!!" Feli menekan kalimatnya di akhir. Matanya masih melotot tajam kearah Darren. Darren meringis.


"Apa?" Felix dan Mika kompak


"Wahh...berani sekali kau Darren" Felix mencibir Darren. Tapi percayalah dalam hatinya ia sangat senang dengan apa yang dilakukan Darren. Dari dulu mereka memang tidak menyukai pekerjaan yang dilakukan Feli. Profesi yang sangat dekat dengan dunia malam..Tapi untungnya sejauh ini putrinya itu memang tidak pernah terlibat dengan hal begituan. Syarat yang memang mereka ajukan saat memutuskan untuk menghargai keputusan Feli yang ingin terjun di dunia modeling.


Mereka tidak tahu saja Feli sudah pernah melanggar janji itu sekali yang berujung dengan terjalin nya kasih antara putranya Darren dan putrinya Feli.


"Katakan sayang apa yang sebenarnya dilakukan pria pembuat onar ini?" Tanya Felix antusias.


"Darren memutuskan semua kontrak yang memakai jasaku Daddy" rengek Feli.


"Dan itu tanpa sepengetahuanku" lanjutnya.


"Wahh...kau sungguh mencari mati anak muda" kembali Felix mencibir dengan wajah yang sangat mengesalkan menurut Darren.


"Aku bisa menjelaskannya Feli" Darren beranjak dari tempatnya dan duduk disamping Feli. Feli mendengus. Memalingkan wajahnya begitu Darren duduk disampingnya.


"Enak sekali kau bicara" Felix pantang menyerah. ia terus saja memanas-manasi keadaan. Ibarat api ia sengaja menyiramkan bensin keatasnya.


"Bukankah Feli bisa saja dituntut jika tidak bisa membayar ganti rugi"


"Wah..wah..kau sengaja mengacaukan hidup adikmu Darren" Felix sebenarnya tahu putranya itu tidak mungkin membuat masalah tanpa ada penyelesaiannya.


"Daddy aku merasa kau seperti memancing di air keruh" sindir Darren kesal. Felix terkekeh lalu mengidikkan bahu nya acuh.


"Ya, kau terlihat sangat kekanakan sekali sayang"


"Kau sepertinya sangat menikmati kemarahan putri mu pada putra kita Darren" Mika menatap suaminya kesal. Entah kapan suaminya itu bisa dewasa.


"Kenapa kau melakukannya Darren?" Mika menatap putranya itu lembut. Ia juga memang tidak menyukai pekerjaan Feli tapi tetap saja memutuskan kontrak secara sepihak bukan lah tindakan bagus. Ia juga tidak ingin terlihat mendukung keputusan putranya itu, bisa-bisa putri nya itu berbalik ikut marah kepadanya.


"Aku hanya tidak ingin ia bekerja menjadi model lagi Mom" jawab Darren

__ADS_1


"Kenapa?"


"Bukan kah selama ini aku tidak melanggar syarat yang kalian berikan" Hardik Feli. Sungguh ia sangat kesal kepada Darren.


"Kau juga mengatakan jika aku sudah menjadi..." Darren tiba-tiba menghentikan ucapannya. Hampir saja ia mengumumkan dengan suka rela hubungannya dengan Feli dihadapan kedua orangtuanya.


Felix dan Mika mengernyit.


"Menjadi apa Darren?" tantang Feli. Ia tersenyum licik.


Tidak apa-apa jadi pengangguran asalkan bisa jadi kekasih Darren secara terbuka. Batinnya


Darren terkekeh. Ia tahu apa yang ada difikiran Feli.


"Kau yakin Feli tidak melanggar janjimu?" Darren menaikkan alisnya


"Untuk mengingatkanmu, Rachel tadi datang menjemput ponselnya kekantorku" Tambah Darren. Nalar Feli pun berfungsi. Ia tahu kemana arah tujuan pembicaraan Darren. Ia mabuk. Bisa gawat jika Mommy dan Daddy nya tahu. Ouh...Feli tidak bisa membayangkan kemurkaan ratu rumah ini.


Feli mendengus kesal. Ia memang tidak pernah menang melawan Darren.


"Apa sebenarnya yang kedua anakmu itu bicarakan?" Tanya Felix pada istrinya


"Aku juga tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka sampai membawa Rachel segala"


"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan jika perusahaan yang bekerja sama dengan mu menuntutmu sayang?" Felix kembali membahas poin penting dalam pembiraan ini.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya Dad, Darren sudah membayar pinaltinya" aku Feli. Mika tersenyum lega.


"Aku yakin itu tidak sedikit. Apa kau sedang menggunakan uang perusahaanku son?" tuduh Felix


"Aku tidak semiskin itu Dad!. Kau tahu aku tidak kalah kaya darimu" Darren menyombongkan diri


"Ya, tetap saja aku tidak ingin kau membuat perusahaanku bangkrut jadi aku perlu memastikannya"


"Bukankah kau sudah menyerahkan perusahaanmu padaku Dad" Darren mengingatkan pembicaraan mereka beberapa minggu lalu


"Kau menolaknya jika kau lupa" sarkas Felix


"Katakan apa kau menjual beberapa mobil mewahmu untuk menutupi kerugian Feli?" sindir Felix


"Tidak! Aku hanya menjual beberapa persen saham milik mu"Jawab Darren enteng


"Saham siapa?" Felix meragukan pendengarannya.


Darren mengidikkan bahunya acuh. Feli sudah menahan tawanya. Ia juga tidak menyangka Darren senekat itu.


"Sayang katakan jika aku salah mendengar?"Ucapan Felix tertuju pada istrinya tapi matanya mengarah tajam kearah Darren. Darren tidak terpengaruh sama sekali atas tatapan membunuh Daddy nya itu.


"Sepertinya tidak ada yang bermasalah dengan telinga mu sayang. Kau masih bisa mendengar dengan jelas" Mika terkekeh. Sungguh kegilaan putranya itu memang sangat luar biasa. Bagaimana mungkin ia bisa berfikir secerdas itu.


"Dasar anak sialan!! Kenapa kau tidak menjual saham milik mu sendiri" geram Felix


"Masa depanku masih panjang Dad" jawabnya lempeng


"Selain wajah tampanku ini, aku perlu harta untuk menunjang masa depanku yang lebih cerah"


"Maksudmu masa depan Daddy sudah tidak perlu lagi?"


"Bukankah masa depanmu sudah ada dihadapanmu Dad, yang tidak lain adalah istrimu, Mommy"


"Kau hanya perlu menikmati masa tua mu bersama istri cantikmu itu"


"Kau seakan mengatakan umur Daddy tidak panjang lagi" Desis Felix


"Kau memang selalu salah mengartikan ucapanku Dad. Percayalah Dad, aku selalu mendoakan keberkahan umurmu. Walau pada akhirnya rahasia umur hanya Tuhan yang tahu"


"Kau lihat itu, sepertinya anakmu itu sedang mendoakan suami mu ini cepat menuju liang lahat" kesal Felix mengadu pada istrinya


"Dad, kau salah faham lagi. Aku tidak mungkin mendoakanmu cepat mati. Aku tidak ingin melihat air mata mengalir diwajah Mommy" ucapnya serius


"Aku juga tidak ingin melihat kesedihan diwajah cantiknya karena kepergianmu. Walau aku yakin itu tidak akan bertahan lama karena secepatnya Mommy akan mendapatkan penggantimu. Kau tahu istrimu itu sangat cantik" Darren tersenyum iblis yang membuat wajah Felix merah padam.


"AYRIN MIKAYLA MCKENZIE, INGATKAN AKU UNTUK MENGHAPUS DARREN LIONEL MCKENZIE DARI DAFTAR KARTU KELUARGA"


"Dan percaya lah Dad itu suatu kehormatan buatku" senyum penuh kemenangan menghiasi wajah Darren. Feli dan Mika hanya tersenyum geli. Entah kenapa Felix dan putrinya Feli tidak pernah menang melawan makhluk yang bernama Darren itu.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2