
"Selamat pagi semuanya" Feli berlari menuruni tangga.
"Hati-hati Felicia" tegur Mommy nya
"Mom, apa kah kau sudah memikirkan hukuman untukku? Percayalah aku sangat semangat untuk menjalani hukuman darimu" Feli mengecup pipi Mommy nya yang sedang duduk sambil menyeduh kopi disamping Daddy nya.
"Oh..adik kecil ku. Empat hari tidak melihat wajah menyebalkan mu ini ternyata sangat membuatku merindukannya" Feli mencubit gemas kedua pipi Mike.
"Hentikan Feli" ucapnya malas.
Feli berdecak. Adik nya itu memang sangat irit bicara. Tidak tahu adiknya itu mengikuti gen siapa.
"Bagaimana luka mu, apa kah sudah sembuh" Feli mengecup pipi Darren. Darren mengangguk seraya menarikkan kursi untuk Feli tempati.
"Kau mau roti?" tawar Darren yang langsung diangguki Feli. Darren mengambil dan mengolesinya dengan selai coklat kesukaan Feli.
"Apakah Daddy transparan? Tidak ada ciuman selamat pagi untuk Daddy" Felix menatap Feli yang sepertinya enggan melihatnya.
"Mike kau mendengar sesuatu?" Feli menyenggol tangan Mike.
Mike mengernyit bingung
"Daddy baru saja berbicara padamu" jawabnya Mike apa adanya yang membuat Feli mendengus lalu menatap Daddy nya malas.
"Maafkan aku Dad, aku tidak melihatmu karna mata suci ku ini memang enggan melihat orang yang sudah seenaknya menggunakan tinjunya" sindir Feli menatap kesal kearah Daddy nya.
"Kau mengadu?" Felix menatap Darren
Darren menggeleng
"Feli bertanya tentu saja ku jawab" jawabnya tenang
"Kau bisa mencari alasan. Bukan kah itu keahlianmu"
"Kau dan Mommy selalu mengajarkan kami untuk jujur dan tidak berbohong" jawabnya dengan wajah yang menurut Felix sengaja dibuat dengan sangat menyebalkan.
"Jawaban yang sangat bijak son" delik Felix kesal.
"Jadi kau mengacuhkan Daddy karena Daddy meninju wajahnya yang tidak seberapa itu?" Kembali Felix menatap Feli.
"Darren lebih tampan dan tentu saja lebih menawan dari mu Dad" Mike menimpali. Ia memang sangat mengagumi wajah tampan Darren.
Mommy nya Mika terkekeh mendengar celutukan anak bungsunya itu. Felix semakin dibuatnya kesal
"Apa kau juga sependapat dengan apa yang dikatakan putra bungsu mu itu?"
"Terimalah kenyataan nya sayang" Mika tersenyum
"Kalian tahu hal paling menyakitkan dihidup ini?" Felix menatap ketiga anak nya satu persatu
__ADS_1
"Apa?" tanya ketiga anak nya kompak tapi dengan ekspresi malas
"Ketika keluarga yang kau percaya mengkhianatimu" ucap Felix dengan seringai diwajahnya.
Ketiga anaknya kembali kompak memutar bola mata jengah
"Memangnya apa yang bisa dikhianati dari mu Dad" Mike mewakili suara hati ketiganya.
"Sayang, sebaiknya aku pergi. Aku khawatir gula darah ku naik menghadapi ketiga anak mu yang tidak tahu diri ini" Matanya menatap tajam anak-anaknya yang tentu saja diabaikan ketiga anaknya.
Mika mengangguk
"Anak yang kau katakan tidak tahu diri itu adalah hasil dari kecebong yang kau tanam disini sayang" Mika mengusap-usapa perut datarnya.
"Sebaiknya aku tidak kekantor. Ayo kita buat satu anak lagi yang lain dari pada yang ada" sindirnya lagi kepada ketiga anaknya
"Mesum!" jawab ketiganya kompak
Darren beranjak dari kursinya ia juga harus berangkat ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya karena selama satu minggu ia tidak masuk bekerja karena harus menangani pekerjaannya yang di Itali.
"Kau belum mengenakan dasi mu. Aku akan mengambilkannya" Feli beranjak dari kursinya dan berlari menuju kamar Darren.
"Mau kemana?" Pertanyaan Daddy nya menghentikan langkah Darren yang akan mengikuti Feli
"Mungkin Feli tidak mengetahui dimana aku menyimpan dasi ku" Darren tersenyum manis.
"Bukan kah itu terdengar seperti alasan" Felix tersenyum mengejek
"Kenapa dia selalu mempunyai jawaban setiap membalas ucapan ku" gumam Felix
¤¤¤¤¤¤
"Kau menemukannya?" Darren memeluk Feli dari belakang.
Feli berbalik dengan dasi ditangannya.
"Kau sengaja?" Ia tahu Darren pasti sengaja tidak mengenakan dasinya agar bisa berduaan seeprti ini.
"Hmm" gumam Darren seraya membungkukkan sedikit tubuhnya agar lebih mudah buat Feli memasangkan dasinya.
"Bukan kah kita terlihat seperti sepasang suami istri muda yang sangat berbahagia" tangan Feli cekatan memasang dasi Darren
"Hitung-hitung belajar" jawab Darren
"Perlu kah kita belajar juga membuat anak" celetuk Feli yang membuat wajah Darren merona.
"Oh..telinga mu memerah" Feli memegang telinga Darren yang memanas.
"Kau sakit?" tanya Feli khawatir. Darren menggeleng. Ia menegakkan tubuhnya, menarik Feli kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Kalimat mu itu berbahaya sayang. Kau terdengar seperti menggodaku" Darren mengeratkan pelukannya.
"Aku bukan menggodamu Darren. Tapi aku meminta" ucapnya enteng yang membuat Darren terbatuk
"Feli sayang, kekasih mu yang sangat mencintaimu ini tidak akan menyentuhmu sebelum mendapat restu dari Mommy dan Daddy mertua" Darren mengecup kepalanya seraya melepaskan pelukannya. Ia kemudian tersenyum geli mengingat kembali ucapannya. Bagaimana bisa mulutnya terasa nyaman mengatakan Mommy dan Daddy nya sebagai mertua.
"Kita tidak harus praktek. Cukup teori sebagai pengantar" mendengar ucapan Feli, Darren tergelak
"Teori tanpa praktek tidak akan berhasil sayang" Sungguh Darren dibuat gemas oleh kekasihnya itu
"Dengan praktek aku juga tidak akan keberatan" Feli menaikkan kedua alisnya dengan senyum nakal di wajahnya. Bukan hanya gemas tapi sepertinya akal sehat nya juga sedang diuji
"Feliiiiii" tegur Darren. Wajah Feli yang seperti itu terlalu berbahaya buat juniornya. Bisa-bisa tubuhnya mengkhianati hati nya dan langsung menerkam Feli. Darren perlu menyelamatkan Feli nya yang polos yang sangat mencintai diri nya dari kebuasan nafsu yang terlalu menginginkan Feli.
"Baiklah istri ku, suami mu ini akan pergi bekerja dan mengumpulkan uang yang banyak. Jaga rumah dan rindukan aku" Darren menggigit ujung hidung Feli.
Wajah Feli bersemu merah mendengar kata istri dari mulut Darren.
"Aku menunggumu" Feli berjinjit lalu mengecup bibir Darren. Dan hancur sudah pertahanan dan akal sehat Darren ia menahan tengkuk Feli dan memperdalam ciumannya.
"Soooonnn.....Kau ingin ku pecat karena keterlambatanmu" teriakan Daddy nya Felix kompak membuat Darren dan Feli saling melepaskan ciuman mereka.
"Aku pergi. Daddy mertua sudah sangat merindukan ku" Darren mengecup kilat kening Feli lalu pergi.
"Kenapa harus menunggu ku" kesal Darren begitu ia melihat Daddy nya yang berdiri menatapnya dengan tatapan jijik
Apa lagi kesalahanku? Kenapa Daddy menatapku seperti itu, tanya Darren dalam hati.
"Mom, aku pergi" Darren hendak mencium Mommy nya tapi dengan cepatnya Daddy nya menarik Mommy nya agar menghindar dari Darren.
"Daddy bukan kah kau sangat keterlaluan" Darren menggeram kesal.
"Istriku tidak butuh ciuman bekas dari mu" Suara Felix tidak kalah kesal.
Mika yang menyadari maksud ucapan suaminya berusaha menahan tawa karena sepertinya Darren tidak menyadari dan tidak mengerti maksud ucapan Daddy nya
"Ciuman bekas apa maksudmu Dad?"
Mike mengambil tissue dimeja lalu berjalan mendekati Darren.
"Menunduklah" pinta Mike. Darren menurut.
Mike mengusap bibir Darren, Darren masih tidak mengerti. Mike memberikan bekas tissue ketangan Darren
"Lipstik Feli meninggalkan jejak di bibir mu" kalimat Mike sukses membuat mata Darren melebar
"Aku tidak menyangka kau juga ganas seperti Daddy" Mike tersenyum mengejek seraya menggelengkan kepalanya lalu pergi. Mommy nya Mika yang sedari tadi menahan tawanya akhirnya melepaskan tawanya.
"Sungguh Daddy ingin sekali meninju wajah mu itu" Felix mendelik kesal
__ADS_1
"Maaf, aku lepas kendali" gumam Darren yang membuat Felix menatap tajam kearahnya dan Mommy nya Mika semakin terbahak.
T.B.C