
"Jaga dirimu baik-baik" Mika memeluk erat tubuh Darren.
Saat ini mereka semua sedang berada di bandara Internasional Jhon F. Kennedy. Bandara yang terletak di negara New York Amerika Serikat.
"Ya Mom, jaga kesehatanmu. Aku akan sering-sering menghubungimu" Darren membalas pelukan Mommy nya.
"Berhati-hati lah disana. Dan selalu beri kabar pada kami." Felix merangkul putranya itu.
"Ya Dad, jangan mengkhawatirkan ku. Aku disana paling lama hanya satu bulan. Daddy juga jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak bekerja. Kasihan istri cantik mu itu akan merasa kesepian"
Felix terkekeh mendengar nasihat anaknya itu. Ia sungguh tidak menyangka putra yang dibesarkannya itu sudah pandai memberikan nasihat padanya.
Darren melepaskan pelukannya dari Daddy nya. Matanya menoleh menatap Feli yang sedari tadi hanya diam di tempatnya. Mike tidak bisa ikut karena harus bersekolah.
"Apakah tidak ada pelukan buat ku, Feli" Darren sudah berdiri dihadapan Feli. Feli tetap bungkam dan menundukkan kepalanya. Darren tahu pasti Feli sedang menahan tangisnya.
Dari dulu memang selalu begitu. Setiap Darren pergi baik itu saat Darren menjalani study nya atau pun melakukan perjalanan bisnisnya, Feli selalu menangisi kepergiaannya. Ia selalu merengek meminta ikut bersama Darren. Kali ini juga sama, tanpa sepengetahuan Darren, Feli membujuk Momny dan Daddy nya agar mengizinkannya ikut bersama Darren. Dan sudah bisa ditebak Daddy nya Felix tidak memberikan izinnya dengan alasan Darren kesana untuk bekerja bukan untuk liburan. Ia tidak ingin Feli mengganggunya.
"Feli berikan pelukan buat Darren" Pinta Mika. Feli tetap bungkam. Bahkan untuk menatap wajah Darren sepertinya ia juga enggan. Selama dua hari ini Darren sudah berusaha membujuknya tapi tidak ada hasil. Feli masih belum memaafkannya.
"Son, sepertinya kau tidak akan mendapatkan pelukan Feli kali ini. Pergilah sebelum kau ketinggalan pesawatmu" ucap Felix.
Darren mengangguk
"Baiklah..aku pergi. Jaga dirimu" Darren mengecup kepala Feli lalu mengusapnya lembut
"Aku pasti merindukanmu, honey" masih sempat-sempatnya Darren membungkuk dan membisikkan kalimat itu ditelinga Feli agar tidak didengar oleh Mommy dan Daddy nya. Telinga Feli memanas, ia menggigit bibirnya.
si brengsek ini masih sempat-sempatnya menggodaku. umpatnya dalam hati.
Darren berbalik lalu menatap kedua orang tuanya.
"Mom, Dad, aku pergi..." pamitnya.
"Take care" Mommy, Daddy nya kompak.
Darren dan sekretarisnya Lucas pun berjalan meninggalkan Mommy, Daddy dan Feli yang masih menatap kepergiannya sampai tidak terlihat lagi.
Dan ya, jika kebanyakan para pengusaha lebih memilih wanita cantik dan seksi sebagai sekretaris pribadinya, berbeda dengan Darren yang lebih memilih seorang pria untuk dijadikan sekretarisnya. Bukan tanpa alasan, ia hanya tidak ingin direpotkan oleh Feli yang memintanya terus mengganti sekretarisnya, sama halnya seperti yang dilakukannya terhadap para mantan kekasih Darren.
¤¤¤¤¤¤
__ADS_1
"Oh...aku sungguh tidak menyangka kau yang datang langsung menjemputku Allan. Percayalah aku sungguh sangat tersanjung kawan" Darren dan Allan saling menyatukan tinju mereka layak nya dua pria dewasa saling menyambut.
"Ibu ku pernah berkata, jika kawan mu melempari mu batu, maka balas lah dengan melemparinya bunga" sindir Allan
Darren tergelak. Ia tahu kemana arah sindiran Allan padanya.
"Apakah maksud mu melempar bunga beserta tanah dan potnya?" Darren menimpali sindiran Allan.
Allan mendengus.
"Apakah kau masih kesal padaku karna aku memutuskan kerja sama mu dengan Feli?"
"Apa kau masih perlu bertanya?" desis Allan.
"Maafkan aku. Tapi bukankah aku sudah membayar mahal untuk itu"
"Ciiihhh..." Allan berdecak.
"Sungguh adikmu itu sangat menarik"
"Aku belum melakukan pendekatan, kau sudah memutuskan kontraknya secara sepihak. Apa kau menderita semacam penyakit brother complex, dude?"
"Kuberi satu rahasia, Tuan Willson. Aku bukan menderita penyakit brother complex tapi aku adalah seorang kekasih yang posesif" Darren menaikkan alisnya seraya menyunggingkan senyum mengejek.
"Kekasih? Kau dan Felicia?" ucapnya tidak yakin.
Darren mengangguk mantap
"Jadi mulai sekarang perhatikan ucapan mu Dude, dan jangan coba-coba mendekatinya lagi. Kau tahu aku tidak akan segan-segan padamu sekalipun kau sahabatku" Darren terdengar seperti bergurau tapi percayalah setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah benar adanya. Feli miliknya. Jadi tidak ada yang bisa merebutnya.
"Kau gila!!"
"Dia adikmu!! Pekik Allan tidak percaya.
"Dia bukan adikku. Kau ingat dulu aku pernah bercerita bahwa aku menyukai seorang wanita. Wanita itu Feli" jelas Darren yang membuat Allan tertegun.
"Nanti aku akan menjelaskannya padamu. Sekarang mari kita bekerja" Ucapnya bertepatan dengan datangnya seorang wanita cantik yang menghampiri mereka.
"Mobilnya sudah siap Sir" ucapnya. Allan mengangguk.
"Kenalkan, ini sekretarisku" jelas Allan. Darren hanya melihatnya sekilas lalu mengangguk. Tidak ada jabat tangan atau pun senyum ramah dibibirnya. Ia ingat jelas perintah kekasihnya yang melarang ia untuk tersenyum kepada wanita lain karena menurut gadisnya itu senyum nya terlalu memabukkan. Hatinya tiba-tiba menghangat begitu mengingat Feli. Baru 12 jam mereka berpisah ia sudah sangat merindukannya.
__ADS_1
"Long time no see Darren" sapa sekretaris Allan ramah. Allan dan Darren mengernyit. Terlebih Darren, ini pertama kali ia menginjakkan kaki nya ditempat kelahirannya ini setelah 24 tahun lamanya. Ia kembali menoleh menatap sekretaris Allan sambil berfikir apa ia mengenal wanita yang dihadapannya ini. Atau mungkin wanita ini salah satu dari mantan kekasihnya. Darren menggeleng-gelengkan kepalanya, seburuk-buruknya dia dalam menjalin hubungan tapi ia tidak pernah melupakan wajah dari wanita yang pernah dekat dengannya.
Sekretaris itu tersenyum melihat kebingungan Darren.
"Ya, tidak mungkin bagimu untuk mengingatku. Itu sudah lama sekali saat terakhir kali kita bertemu. Itu 24 tahun yang lalu" ucapnya.
Darren membelalakkan matanya. 24 tahun yang lalu. Astaga apa wanita ini sedang bergurau dengannya. Jelas saja ia tidak akan mengingat, saat itu ia masih kecik. Masih berusia 4 tahun.
"Haruskah aku memanggilmu Lion? Darren Lionel?"
Darren terdiam. Ia kembali menatap wanita itu dan berusaha mengingat-ingat kenangannya selama tinggal disini.
"Emily?" tanya nya ragu.
"Yes, I'm" Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Oh astaga, ini sungguh dirimu"
"Dimana kuncir kuda yang menjadi ciri khas mu itu. Dan oh gigi mu sudah tumbuh kembali" Ucap Darren antusias. Ia tidak menyangka wanita yang dihadapannya ini adalah teman masa kecilnya selama tinggal disini. Setiap hari mereka habiskan waktu bersama.
"Sudah bisakah kita berangkat" Jengah Allan merasa diabaikan.
"Lanjutkan nostalgia kalian nanti saja jika pekerjaan kita sudah selesai" ucapnya seraya berbalik meninggalkan Darren dan Emily yang terkekeh.
"Kau sudah lama bekerja dengannya?" tanya Darren. Wajahnya melembut berbeda dengan saat tadi Allan mengenalkan mereka.
"Ya, hampir 4 tahun aku sudah menjadi sekretarisnya" jawab Emily dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
"Oh itu pasti berat sekali. Allan pria yang sangat arogan, ia pasti banyak menyulitkanmu" Darren sengaja mengeraskan suaranya agar didengar Allan.
"Kau tidak berniat pindah. Aku akan memberikan mu gaji 3 kali lipat dari yang diberikannya?" Darren terkikik geli mendengar tawarannya yang terdengar seperti rayuan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Feli jika ia mendengar ini.
"Aku bisa mendengarkannya Mr. McKenzie" Allan yang sudah berdiri didepan mobilnya menatap Darren kesal.
Emily tergelak
"Aku akan mempertimbangkannya" ucapnya lalu mempercepat langkahnya mendekati Allan dan membukakannya pintu.
T.B.C
Emily
__ADS_1