Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
54. Ngidam


__ADS_3

Kehamilan Feli adalah kabar yang sangat menggembirakan bagi Darren dan keluarga McKenzie. Kehamilan Feli adalah hal yang paling mereka tunggu-tunggu. Bahkan Felix sang Daddy yang melarang Darren menghamili putrinya segera mendonasikan sejumlah uang yang cukup besar untuk sebuah panti asuhan atas rasa syukurnya akan kehamilan putrinya itu.


Dan sekarang usia kandungan Feli memasuki bulan ketiga. Masa-masa ngidam yang menyiksa para suami. Tapi tidak bagi Darren dengan tabah dan sabar ia selalu berusaha memenuhi keinginan Feli. Kapan pun itu.


Darren merasakan wajahnya ditusuk-tusuk. Darren membuka matanya walau masih mengantuk. Ia melihat Feli yang memasang wajah kucing. Wajah yang selalu ia gunakan saat ia menginginkan sesuatu di waktu yang tidak tepat. Darren melirik jam dindingnya. Jam 03.00 dini hari itu artinya ia dan Feli baru saja tidur 2 jam setelah olah raga malam mereka.


"Aku ingin Tteokbokki"


"Itu makanan apa lagi sayang?" Darren duduk dan menyandarkan kepalanya di ujung ranjang


"Memangnya kau tidak capek? Kita baru tidur 2 jam sayang"


"Aku lapar dan aku ingin Tteokbokki"


"Besok aja ya sayang" Darren memohon dalam hati semoga Feli mau mengerti


Harapannya sirna, Feli menggeleng


"Jam 3 begini dimana aku bisa mendapatkannya sayang. Dan itu makanan apa?"


"Di restoran Korea. Itu makanan Korea yang terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan bumbu yang pedas dan manis Darren" Feli menjelaskan.


"Mungkin tidak ada lagi yang buka sayang. Kau lihat ini sudah jam berapa. Besok aja ya?"


"Anakmu maunya sekarang Darren" Feli memaksa.


"Jika tidak aku akan menangis" ancam Feli. Darren menatap Feli tidak percaya.


"Aku benaran menangis Darren" Feli mengancam kembali. Darren menunggu. Ia penasaran apa Feli sungguh akan menangis.


Dan akhirnya kristal bening itu membasahi wajah Feli. Feli sungguh menangis.


"Sudah jangan menangis. Aku akan membelikannya" Darren mengacak rambut Feli sebelum beranjak dari tempatnya. Dan air mata Feli otomatis berhenti.


"Aku pergi" Pamitnya lalu mencium pipi Feli


πŸ¦€πŸ¦€πŸ¦€


"Apa kau tidak melihat ini jam berapa, Son?" Suara Felix terdengar serak dan kesal. Jelas saja Felix kesal ini masih terlalu pagi untuk bangun.


"Maafkan aku, Dad" Darren merasa tidak enak hati. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk memenuhi keinginan istrinya. Ia sudah berkeliling cukup lama tapi tidak juga menemukan restoran Korea yang buka 24 jam. Yang ada difikirannya hanya Daddy-nya.


"Katakan ada apa? Aku akan memecatmu jika kau meneleponku hanya masalah yang tidak penting" Felix masih terdengar kesal.


"Feli menginginkan makanan Korea. Tapi aku sudah berputar-putar cukup lama tapi tidak menemukan restoran Korea yang buka 24 jam Dad"


"CK...masalah seperti itu saja kau harus menghubungiku. Kau tinggal berbicara pada ponselmu 'ok google' maka ponselmu akan menampilkan apa yang kau inginkan"


"Apa yang diinginkan Feli?"


"Tteokbokki"


"Datanglah ke rumah. Dad akan meminta Mommymu membuatkannya" setelah mengatakan itu Felix memutuskan sambungan teleponnya.


Setelah 15 menit Darren sampai di kediaman keluarganya.


"Maaf Mom aku merepotkanmu lagi" Darren menarik kursi disamping Daddy-nya. Menatap punggung Mommy-nya yang sibuk membuat makanan yang diinginkan Feli


"Tidak apa-apa sayang"


"Ini tidak merepotkan sama sekali. Mommy harap kau sabar menghadapi kehamilan Feli" Mommy nya menjawab

__ADS_1


"Apa dia masih mengalami muntah di pagi hari?" Mommy nya menatap Darren


"No Mom. Feli tidak mengalaminya lagi".


"Apa kehamilannya membuatmu merasa tersiksa?" Felix menatap Darren.


"No Dad"


"Kau yakin?" Tanya Daddy-nya lagi.


"Ayolah Dad, aku tahu apa yang sedang kau fikirkan jika aku mengatakan aku tersiksa pasti kau akan membuatnya menjadi suatu masalah dan mengancamku" Darren menatap Daddy-nya kesal. Sangat mudah baginya untuk menebak apa yang ada difikiran Daddy-nya.


"Jika tidak memecatku, kau akan mengancam mengambil Feli dariku" lanjutnya kemudian.


Felix terkekeh


"Wuah..kau menyakiti hatiku, son, apa menurutmu Daddy tega memisahkanmu dengan Feli"


"Tidak ada yang tahu jalan fikiranmu Dad".


Felix makin tergelak mendengar jawaban putranya itu.


"Sekalipun Daddy meminta, Feli tidak akan pernah mau meninggalkanmu".


"Dan aku memang tidak akan pernah membiarkan Feli meninggalkanku. Tidak akan" jawab Darren tegas. Felix mengangguk seraya menepuk bahu putranya itu.


"Sudah selesai" Mika meletakan hasil masakan nya diatas meja.


"Kau ingin mencobanya?" Mommy-nya menawarkan.


Darren menggeleng


"Baiklah..Mommy akan membungkusnya"


"Terimakasih Mom" ucap Darren tulus


"Pulanglah dan berikan ini pada cucuku" Mika meyerahkan tteokbokki hasil masakannya.


"Sekali lagi terima kasih Mom" Darren memeluk Mommy-nya.


"Aku pergi Dad" pamitnya pada Daddy-nya. Felix mengangguk.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Sayang bangun lah. Aku sudah datang" Darren membangunkan Feli.


"Kenapa lama sekali" Feli duduk dengan mata yang masih terpejam.


"Aku tidak menemukan restoran Korea yang buka 24 jam sayang"


"Buka mulutmu" perintahnya. Dan dengan patuh Feli membuka mulutnya.


"Lalu kau mendapatkan ini dari mana?" Feli mengunyah makanannya.


"Mommy yang membuatnya"


Feli membuka matanya


"Mommy memang yang terbaik dan ini sangat enak Darren" Feli kembali membuka mulutnya. Dan selera makan orang hamil memang patut diacungi jempol. Feli menghabiskan tteokbokki porsi untuk 3 orang habis tidak bersisa.


"Terima kasih Darren"

__ADS_1


"Berterima kasihlah pada Mommy, sayang" yang langsung diangguki oleh Feli.


Hari berikutnya kembali Darren merasakan tubuhnya terguncang. Darren membuka matanya dan tersenyum begitu melihat wajah cantik istrinya. Ia menarik Feli ke dalam pelukannya. Memeluk erat tubuh istrinya itu.


"Darren...bangun!"


"Masih malam sayang"


"Aku tidak bisa tidur"


"Pejamkan saja matanya sayang. Nanti juga tidur sendiri" Darren menyarankan. Feli menggeleng


"Kalau matanya tidak dipejamkan bagaimana bisa tidur, Feli" ucap Darren lembut dengan mata yang masih tertutup dan enngan untuk membukanya.


"Darrren!!" Seketika Darren membuka matanya dan segera duduk.


"Feli sayang ini sudah malam. Mom dan Daddy juga sudah tidur. Tapi aku janji besok kita akan ke sana dan menginap di sana" Pinta Darren lembut sambil membelai wajah cantik istrinya.


"Anakmu maunya sekarang Darren" rengek Feli dengan wajah memelas.


"Feli..."Darren mengerang.


"Kalau kau tidak mau aku bisa pergi sendiri" Darren menghela nafasnya. Sungguh kehamilan Feli ini menguji kesabarannya. Tidak ada lagi Feli yang manis dan penurut. Yang ada adalah Feli yang manja dan pemaksa. Tapi Darren berfikir itu mungkin memang bawaan bayi yang dikandung Feli.


Darren segera beranjak dari tempatnya untuk mengganti pakaiannya sebelum istrinya benar-benar pergi sendiri.


Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di kediaman keluarganya. Mereka langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Feli segera menuju kamar Mommy dan Daddy nya.


"Mom....Dad.." Panggil Feli sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar. Darren hanya diam di belakangnya, mempersiapkan batin mendengar umpatan Daddy-nya nanti.


Pintu terbuka setelah Darren dan Feli menunggu beberapa saat.


Darren tertawa begitu melihat wajah Mommy dan Daddy-nya. Wajah kelelahan setengah puas dan setengah kesal. Wajah yang terlihat aneh dan menggelikan.


"Apa kalian lakukan di sini?" tanya Felix tanpa menyembunyikan kekesalannya. Wajahnya juga ditekuk seolah menunjukkan ia tidak mengharapkan kedatangan tamu tak diundang itu.


"Mom, Dad, maafkan kami yang sudah mengganggu kegiatan kalian. Tapi istriku sangat merindukan kalian" Darren mengulum senyumnya.


"Daddy kenapa kesal melihat kami datang. Daddy tidak suka aku dan Darren datang berkunjung"


"Bagaimana tidak kesal sayang, sepertinya Mom dan Daddy belum selesai. Kita menganggu kegiatan mereka" jelas Darren menatap Daddy nya dengan tatapan mengejek


"Kita tidur di kamarmu saja ya sayang biar Mom dan Daddy bisa melanjutkan urusan mereka yang tertunda tadi. Biar Daddy bisa menyalurkannya dan tidak sakit kepala" Wajah Mika merona mendengar penuturan putranya itu sedangkan Felix suaminya menatap kesal ke arahnya.


"Dasar tidak ada akhlak" Felix bergumam yang sontak membuat Darren terkikik.


"Aku mau tidur sama Mommy dan Daddy" Feli mengabaikan bujukan Darren dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar Mommy-nya, Darren juga mengekor dari belakang, sementara Felix dan Mika hanya saling tatap.


Feli dan Darren sama-sama dibuat terpaku melihat kondisi kamar Mommy dan Daddy-nya yang sangat berantakan. Tepatnya kondisi ranjang mereka yang berantakan.


Darren bersiul


"Sepertinya umurmu tidak mempengaruhi staminamu sama sekali, Dad" Darren mengacungi kedua jempolnya.


"Sayang sebaiknya kita pergi membiarkan Mommy dan Daddy melanjutkan kegiatan mereka. Karna aku melihat di bawah Daddy masih ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan" Kalimat Darren membuat semua mata tertuju ke arah bawah pinggul Felix. Mika dan Feli terpekik. Seperti yang dikatakan Darren sesuatu memang masih berdiri tegak di sana.


"ANAK SIALAN..PERGI KALIAN DARI KAMARKU!!" Felix mengusir Feli dan Darren dengan sangat gusar.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2