Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
6. Film Perang-Perangan


__ADS_3

"Felicia Breyonna McKenzie pulaaaannggggg...."


"Adakah orang dirumah?" teriak Feli ketika hanya ada maid yang menyambutnya. Jadi maksudnya maid tidak orang ? Ada-ada saja Feli ini.


"Bi, Mom sama Daddy kemana?" ini sudah sore tidak biasanya Mommy sama Daddy nya tidak ada dirumah. Feli menghempaskan tubuhnya kesofa


"Tuan bersama Nyonya membawa tuan Mike kedokter gigi nona. Gigi tuan Mike kumat lagi" jelas asisten rumah tangga itu seraya mengambil tas Feli dan menyimpannya ketempatnya.


"Tuan Darren ada diatas non, katanya mau mengambil berkas yang ketinggalan" ucap maid itu lagi sebelum pergi mengambilkan minum buat nona mudanya itu. Feli langsung duduk begitu mendengar nama kakaknya disebut. Senyum manis mengembang diwajahnya. Ia segera berlari keatas menuju kamar yang biasa ditempati Darren.


"Kakak..kenapa datang tidak bilang-bilang" Feli membuka pintu kamar Darren dan langsung masuk. Feli mematung ditempatnya ketika tidak menemukan kakaknya disana melainkan menemukan seorang pria asing yang tidak kalah terkejutnya akan kedatangan Feli. Wajah pria itu gugup dan pucat dan sepertinya sedang berusaha menutupi sesuatu dibalik tubuhnya. Ia mungkin tidak ingin Feli melihatnya tapi sialnya Feli bisa mendengar suara dari komputer itu dengan sangat jelas. Feli mengerutkan dahinya, bingung mendengar suara yang sepertinya pernah didengarnya itu tapi ia tidak ingat dimana ia pernah mendengarnya.


"Apa yang sedang kau tonton dikomputer kakak ku?" Feli penasaran dan berusaha melihat kebalik tubuh pria itu


"Itu..aku sedang..." pria itu gugup tidak tahu mau mengatakan apa. Ia juga bingung kenapa tiba-tiba ada anak SMA dikamar Darren dan ia semakin terkejut tatkala Feli menyebut kata kakak pasalnya Darren tidak pernah bercerita bahwa ia mempunyai seorang adik perempuan.


"*What the *****!" Darren yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat ada Feli yang sedang mematung berdiri dikamarnya dan suara erangan dan desahan terdengar dari komputer yang coba ditutupi temannya itu.


"Apa yang kau lakukan brengsek!" Darren melotot tajam kearah temannya itu. Darren berjalan cepat kearah komputer dan mencabut kabelnya. Darren kembali berbalik berjalan mendekati Feli yang sekarang sedang terpana melihat tubuh Darren. Hanya ada handuk yang melilit dipinggangnya. Feli tiba-tiba cegukan. Jantungnya berdebar dan kakinya melemas begitu Darren sudah ada dihadapannya. Wajahnya memanas melihat tubuh Darren yang bersih mulus dan sangat terawat itu. Lebih dari 10 tahun mereka hidup bersama ini pertama kalinya bagi Feli melihat dada telanjang kakaknya itu. Feli tidak menyangka dada telanjang Darren sangat mempengaruhinya. Ada apa dengannya?


Darren yang tidak sadar kondisinya segera membawa Feli keluar dari kamarnya.


"Kakak apa yang sedang dilihat temanmu dikomputermu. Sepertinya seru" tanya Feli begitu mereka berada dikamar Feli. Darren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak tahu mau menjawab apa. Tidak mungkin ia menjawab bahwa temannya sedang menonton film dewasa 18 tahun keatas karna Feli akan menanyakan seperti apa Film itu dan jika Darren tidak menjawabnya maka bisa Darren pastikan Feli akan bertanya kepada Mommy atau Daddy mereka. Dan itu tentu saja akan menjadi petaka buat Darren. Daddy nya bisa-bisa mengirimnya berlibur ke kutub utara. Dan ratu rumah ini akan murka dan menarik semua fasilitasnya.


Darren merutuki kebodohan temannya itu. Beraninya ia membuat telinga Feli yang suci terkontaminasi akan suara-suara maksiat itu.


"Tapi sepertinya aku pernah mendengar suara seperti itu dari kamar Mommy dan Daddy. Apa Mommy dan Daddy juga menonton hal yang sama dengan teman mu kak?" Feli masih penasaran

__ADS_1


"Feli dengarkan kakak, yang dilihat teman kakak itu hanya film tembak-tembakan. Wanita tidak menyukai perang-perangankan" Darren berusaha menjelaskan tapi hatinya terus mengumpat akan kebodohan temannya itu.


"Tapi aku tidak mendengar ada suara peluru"


Jelas saja kau tidak mendengar Feli. Tembak-tembakannya tidak menggunakan peluru tapi cairan yang bisa menumbuhkan benih kecebong, ucap Darren dalam hati.


"Katakan apa judulnya Kak, aku akan mencarinya nanti dan mungkin saja aku menyukainya. Apa kau juga menyukainya" Feli menatap penuh antusias wajah Darren.


"Ehmm..Semua pria menyukainya Feli. Tapi..Feli akhir pekan ini kakak akan membawa mu jalan-jalan. Apa kau suka?" Darren berusaha mengalihkan topik.


"Benarkah?" tanya Feli semangat. Darren mengangguk dan bernafas lega pengalihannya berhasil.


"Aku tidak ingin kekasihmu ikut" pinta Feli yang langsung diangguki oleh Darren. Feli memang tidak akur dengan kekasih Darren. Feli kurang menyukai kekasih Darren itu. Tapi karena Darren menyukainya Feli hanya diam. Sebenarnya Darren mengetahui Feli yang tidak menyukai kekasihnya. Tapi Darren mengabaikannya karena ia juga butuh seorang kekasih untuk dijadikan pengalihan. Pengalihan dari apa hanya Darren yang tahu.


"Baiklah kau ganti seragammu. Kakak akan meminta maid membawakan makanan untukmu. Jangan turun dari kamar mu sebelum kakak datang. Kau mengerti?" Feli mengangguk patuh mendengar perintah kakaknya itu. Darren segera keluar dari kamar Feli. Ia kebawah meminta salah satu maid keluarganya membawakan makanan kekamar Feli. Ia lalu berjalan terburu-buru ke kamarnya. Ia akan memberi pelajaran pada sahabat bodohnya itu.


Temannya itu terkekeh lalu bangkit


"Aku tidak mengira kau memiliki saudara perempuan"


"Tetap saja tidak seharusnya kau menonton tanpa memastikan pintu terkunci dengan benar" ucap Darren kesal menatap tajam kearah temannya itu


"Sudah ku katakan, aku mana tahu kau mempunyai seorang adik. Dan adikmu begitu bebas masuk kekamar mu" Temannya membela diri.


¤¤¤¤¤¤¤


Akhir pekan pun tiba. Seperti yang telah disepakati oleh Darren dan Mommy nya Mika, ia pulang kerumah. Darren memang sudah tinggal terpisah dengan mereka sejak ia menyelesaikan study nya. Dan sekarang ia sudah bekerja diperusahaan Daddy nya sebagai wakil direktur yang dulu dipegang oleh Roland sahabat Daddy nya. Daddy nya Felix tak serta merta langsung mengangkatnya sebagai wakil direktur diperusahaanya. Selama dua tahun ia merintis karirnya dari bawah. Mulai dari OB, marketing yang terjun langsung kelapangan, menjadi karyawan biasa dan suvervisor hingga akhirnya menduduki jabatan wakil direktur. Mommy dan Daddy nya benar-benar mendidik mereka dengan baik.

__ADS_1


"Kakaaakkk" Feli berlari kedalam pelukan Darren. Darren menyambutnya dan mencium puncak kepalanya.


"Apa kau merindukan ku?" Darren melonggarkan sedikit pelukannya agar bisa melihat wajah Feli.


"Hhmm" Feli mengangguk


"Kau sudah datang?" Mommy nya datang menghampiri.


"Kenapa kau kurus sekali?" Mommy nya menarik Feli agar melepaskan pelukannya dari Darren tapi Feli tetap memeluk erat tubuh Darren. Darren terkekeh lalu menarik Mommy nya kedalam pelukannya dengan satu tangannya. Akhirnya kedua wanita yang sangat disayanginya itu ada dalam pelukannya.


"Wah..kau membuat ku cemburu son"


"Mereka terlihat lebih menginginkan mu dibanding diriku" Felix datang dengan Mike yang saling menggenggam.


"Mungkin pesona mu sudah mulai termakan usia Dad" Darren tersenyum mengejek yang membuat Daddy nya Felix terkekeh.


"Sayang, kemarilah. Lepaskan putra mu itu. Aku tidak suka kau dipeluk pria lain lebih dari tiga detik" cemburunya kumat.


"Dia putra kita sayang" Mommy nya masih enggan melepaskan pelukannya.


"Tapi kau hanya milik ku" Daddy nya menarik tangan Mommy nya. Pelukannya pun terlepas.


"Uruslah bayi besarmu itu Mom, bisa repot urusannya jika cemburunya kumat" ujar Feli masih dalam pelukan Darren. Feli mengendus-ngendus dada Darren layaknya anjing pelacak. Feli memang sangat menyukai bau maskulin tubuh kakaknya itu. Tapi Feli tidak sadar setiap ia melakukan tindakannya itu membuat Darren mengatupkan giginya rapat-rapat seperti menahan sesuatu.


Feli aku mohon hentikan. Kau menyiksaku, batin Darren.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2