Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
42. Welcome Back


__ADS_3

"Good morning, Love" Darren menyapa Feli, mengecup kening sang kekasih pujaan hati. Hal yang selalu ia lakukan setiap pagi, siang, sore dan malam dan seperti biasa ia tidak akan mendapat jawaban karena Feli masih terpejam dalam tidur panjang yang mengerikan buat Darren.


Darren merebahkan kepalanya di sisi ranjang, menggenggam tangan Feli yang bebas dari selang infus. Yang terdengar hanyalah bunyi detak jantung Feli yang menandakan gadis itu masih hidup dan bernafas.


Darren kembali memohon untuk kemurahan sang pencipta. Meminta agar Tuhan membangunkan Feli dari tidurnya yang sangat mengerikan bagi Darren. Kepada siapa lagi ia bisa meminta, jika tidak kepada Tuhan, karena hanya Tuhanlah yang bisa menolongnya. Bukankah Tuhan selalu mempunyai cara yang sempurna untuk hambanya. RencanaNya selalu indah, walau dalam rencana itu ada duka dan air mata tapi pada akhirnya semua akan indah pada waktunya, karena Tuhan akan selalu memberikan akhir yang bahagia bagi hambanya.


Manik coklat itu secara perlahan membuka matanya setelah hampir dua bulan tertidur dalam tidur panjangnya. Feli mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan sinar matahari yang menyilaukan itu.


Feli menatap sekelilingnya. Ruangan yang didominasi warna putih. Ia meringis menahan sakit di kepalanya. Mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Kilas balik kecelakaan itu berputar di memorinya. Apa Darren baik-baik saja? Sudah berapa lama ia berada di rumah sakit? Pertanyaan demi pertanyaan menyerangnya.


Feli kembali meringis begitu ia ingin menggerakkan tangannya. Ia menoleh untuk melihat benda yang menahan tangannya itu. Hatinya seketika menghangat. Senyum mengembang di wajahnya begitu melihat benda yang ternyata menimpa tangannya adalah kepala milik pria yang baru saja ia sebut namanya dalam hatinya. Feli bernafas lega, Darren ternyata baik-baik saja. Feli mengangkat tangannya, mengulurkan nya dan mengusap lembut rambut Darren. Feli, bisa melihat tubuh Darren terhenyak begitu ia mengusap lembut rambut Darren. Ia tahu Darren terbangun akibat sentuhannya itu Tapi kenapa Darren masih membatu dan tidak mengangkat kepalanya. Feli mengernyit bingung tapi masih dengan tangan yang berada di atas kepala Darren.


"Bangunlah" terdengar suara Feli.


Ini suara Feli, Feli sungguh bangun dari tidurnya. Ini bukan mimpi. Darren membatin.


Dengan jantung berdegup kencang ia secara perlahan mengangkat kepalanya. Mata hazel miliknya beradu dengan mata coklat Feli yang selalu mampu menenangkannya.


Feli tersenyum seraya mengulurkan tangannya berniat untuk menyentuh wajah Darren. Darren menggeleng, ia menggenggam tangan itu sebelum mendarat di wajahnya. Membawanya ke bibirnya. Darren menghujani tangan itu dengan ciumannya.


Penantian panjangnya akhirnya terbayar lunas. Lelahnya akan penantian itu menguap begitu saja digantikan dengan rasa syukur yang tak terhingga. Darren tidak tahu untuk mengungkapkan bagaimana bahagianya ia saat ini.


"Kakak..." panggilan Feli langsung membuat Darren berhenti menciumi tangan Feli


Apakah barusan ia memanggilku kakak? tanyanya dalam hati. Tuhan takdir seperti apa yang akan kau berikan lagi kepadaku. Kenapa Feli memanggilku kakak?


Darren menatap lekat wajah Feli, baru saja ia akan membuka mulutnya untuk memastikan pendengarannya pintu ruangan Feli terbuka. Feli dan Darren menoleh. Di sana berdiri Mommy, Daddy nya dan Mike.


Mommy nya Mika berjalan dengan cepat mendekati putrinya. Menyentuh wajah Feli mengusapnya dengan lembut lalu menariknya ke dalam pelukannya. Tangis haru memenuhi ruangan itu.


"Terima kasih Tuhan, terima kasih sayang sudah kembali" Mika mengecup kepala putrinya berulang kali.


Feli hanya diam, ia hanya mengerat kan pelukannya di tubuh Mommy nya.


"Welcome back, sweetie" Ucapan Felix menginterupsi Mika untuk melepaskan pelukannya. Felix memeluk putrinya itu mengecup keningnya


"Kami sangat merindukanmu sayang" ucapnya menahan tangis lalu melepaskan pelukannya.


"Aku yakin kau kuat, dan keyakinanku memang tidak sia-sia. Kau kembali" Mike memeluk Feli, menghujaninya dengan ciuman. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak bangun dari tidur panjangmu itu. Pria itu bisa gila" Mike menunjuk ke arah Darren yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya kenapa Feli memanggilnya kakak.


Feli menoleh menatap Darren lalu tersenyum hangat.


"Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu kak. Sekarang aku baik-baik saja dan begitu juga denganmu"


Semua terdiam begitu mendengar cara Feli menyebut Darren. Mereka menatap Darren untuk bertanya, mengerti akan arti tatapan keluarganya Darren menggelengkan kepalanya tanda ia juga tidak mengerti apa yang terjadi.


"Sayang, kau menyebut Darren apa?" Tanya Mika lembut seraya mengusap kepala Feli.

__ADS_1


"Kakak" Jawabnya singkat tapi seperti tamparan keras di wajah Darren.


"Apa kau sedang bergurau Feli?" tanya Mike dan menatap iba saudara tertuanya itu. Darren


"Apa maksudmu?" Tanya Feli bingung


"Katakan aku siapa?" Mike perlu memastikan.


"Kau Daddyku" jawabnya asal.


"Oh astaga, sepertinya kepalanya memang bermasalah Dad, cepat kau panggilkan Dokter" Perintah Mike kepada Daddy nya yang langsung diangguki oleh Daddy nya.


"Sayang, apa kau sungguh melupakan Darren?" kembali Mika bertanya lembut.


"Oh Mom, aku tidak mungkin melupakannya. Dia adalah kakak tertua kami" jawab Feli menatap Mika, Darren dan Mike bergantian.


Darren terkekeh dengan wajah menyedihkan. Ia menarik napas panjang lalu mengacak rambutnya frustasi.


"Kenapa jadi seperti ini" gumamnya


"Ini tidak adil" suaranya kembali bergetar


"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Darren dingin dan ketus. Sungguh ia merasa seperti dipermainkan oleh takdir.


Feli mengerutkan dahinya bingung dengan perubahan wajah Darren


"Aku sudah pernah berjanji pada Daddy akan melimpahimu dengan cinta yang banyak. Tentu saja aku tidak menginginkanmu celaka" Feli menatap Darren


"Percayalah aku tidak membutuhkan cinta yang seperti itu Feli" lirihnya.


"Kau melukaiku. Aku sudah menyelamatkanmu tapi kau malah memarahiku" Suara Feli tercekat.


"Jika tahu begini lebih baik aku tidak bangun selamanya"


"Dan aku tidak akan keberatan menyusulmu" Ucap Darren datar tanpa beban.


"Berlebihan" Feli memalingkan wajahnya.


"Baiklah aku akan membuktikannya" Darren mengambil pisau buah yang terletak di atas meja.


"Apa yang kau lakukan Darren" pekik Mommy nya histeris begitu melihat Darren menekan pisau ke urat nadinya.


"Son, jangan bertindak konyol" Tegur Felix tidak suka. Oh ada apa dengan putranya ini. Kenapa dia kekanakan sekali.


"Oh..Tuhan kapan kekacauan ini akan berakhir" Mike berjalan mendekat ke arah Darren mencoba untuk mengambil pisau dari tangan Darren.


"Itu pisau sungguhan Darren" Ucap Mike seolah Darren tidak mengetahui bahwa itu memang pisau sungguhan.


Darren tidak peduli, ia menatap lekat wajah Feli yang sedang menatap pisau yang ada di tangan Darren.

__ADS_1


"Kau curang!!" isak Feli


"Kau selalu menakutiku" Feli semakin terisak.


Seketika itu Darren melepaskan pisau itu dari genggamannya. Ia tersenyum lalu menarik Feli ke dalam pelukannya.


"Terimakasih sayang..terimakasih..terimakasih sudah kembali padaku" Darren memeluk erat tubuh Feli.


"Apakah tanganmu sakit" tanya Feli dalam pelukan Darren.


Darren menggeleng


"Tidak. Pisaunya tidak tajam, itu hanya pisau buah" Darren terkekeh.


"Aku mencintaimu Maxston" Feli mengeratkan pelukannya.


"I love you more"


Mike mendengus kesal


"Baru terbangun dari ambang kematian, kau sudah bergurau" ucapnya kesal.


"Harusnya kau melihat betapa tidak warasnya kekasihmu itu, dengan begitu kau akan berfikir ulang untuk mempermainkannya" ucap Mike masih dengan kekesalan yang kentara.


Mommy dan Daddy nya terkekeh dan bernafas lega. Feli mereka sudah kembali.


"Mike jangan memarahi kekasihku" tegur Darren tanpa melepaskan pelukannya dari Feli.


Feli mengangkat sedikit kepalanya untuk menoleh menatap Mike lalu meleletkan lidahnya.


Mike menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana bisa ada manusia sepertinya, baru saja selamat dari ambang kematian sudah sangat menjengkelkan seperti itu. Untung dia kakak perempuanku dan sialnya aku sangat menyayanginya. Darren yang malang" gumamnya yang masih bisa di dengar oleh semuanya.


"Darren...." rengek Feli


"Mike...." tegur Darren kembali


"Mulai...Ya..Mulai..hari ini mulai putri rumah McKenzi memulai dramanya" Mike menatap kesal Feli.


"Selamat datang kembali kakak perempuanku yang menyebalkan" Mike tersenyum palsu


"Aku juga merindukanmu adikku yang menjengkelkan" Feli mengerling.


T.B.C.


Sudah bisa bernafas lega kan readers..Kalau begitu berikan komen dan like kalian sebanyak-banyak nya๐Ÿ‘๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜


Penulis tentunya akan sangat berterimakasih ๐Ÿ™๐Ÿ™โคdan lebih bersemangat๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช

__ADS_1


__ADS_2