Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
22. Kegilaan Darren


__ADS_3

Tok.tok.


Darren mengetuk pintu kamar Feli. Setelah membuat Daddy nya marah tadi yang berujung dengan ancaman Daddy nya yang akan menyoret namanya dari daftar kartu keluarga ia memilih mengikuti Feli daripada meminta maaf kepada Daddy nya.


Awalnya ia memang merasa bersalah karena sudah meminta orang kepercayaan Daddy nya menjual saham miliknya. Tapi begitu melihat cara Daddy nya yang sangat menikmati kemarahan Feli terhadap dirinya, rasa bersalah itu menguap begitu saja.


"Feli..." Panggil Darren seraya mendorong pintu kamar Feli. Ia masuk kedalam kamar Feli. Ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Berarti Feli sedang mandi. Darren memilih menunggunya sambil memikirkan cara untuk menenangkan kekasihnya itu. Ia tidak ingin bertengkar dengan Feli disaat mereka baru memulai hubungan mereka.


Feli keluar dari kamar mandi. Ia berjalan perlahan menuju ruang ganti nya. Ia sengaja mengabaikan Darren seolah Darren tidak terlihat.


Ia keluar dari ruang ganti sudah dengan mengenakan piyama tidurnya. Ia kembali melewati Darren begitu saja. Ia naik keatas ranjang nya dan merebahkan tubuhnya disana. Lalu mematikan lampu kamarnya.


Darren menghela nafasnya berat. Seperti nya Feli sungguh sangat kesal kepadanya. Ia beranjak dari tempatnya dan naik keatas ranjang Feli. Darren memeluk tubuh Feli yang memunggunginya.


"Sayang" panggilnya lembut


Sial kenapa ia harus memanggil ku seperti itu. Aku kan jadinya meleleh. batin Feli


"Feli sayang" Darren mengecup kepala Feli


Kalau dia bersikap manis begini aku bisa apa?


"Maaf" Darren mengeratkan pelukannya


Oh Tuhan kenapa suaranya harus mendayu seperti itu.


"Kenapa?" akhirnya Feli bersuara


"Feli sayang, biarkan aku melihat wajahmu. Jangan membelakangiku seperti ini" bujuk Darren lembut


Hei jantung sialan, berhenti berdebar. Kau mengenalnya hampir selama hidup mu, kenapa kau berdebar tidak karuan begini. Memalukan!


"Aku tidak ingin melihat wajahmu" ketusnya tapi tubuhnya malah melakukan hal sebaliknya. Ia memutar tubuhnya dan sekarang wajah mereka bertatapan.


Darren tersenyum, tingkah lucu Feli memang selalu menggemaskan. Ia lalu menyalakan lampu agar bisa melihat wajah Feli


"Katakan kenapa kau melakukannya?" manja Feli seraya mengangkat tangannya mengelus wajah Darren.


"Aku lebih menyukai wanita pengangguran" Darren tersenyum geli mendengar ucapannya sendiri.


"Aku hanya tidak ingin wajah cantik mu itu dipertontonkan dan dinikmati oleh penghuni bumi ini sayang" lanjutnya.


"Kau fikir aku percaya dengan ucapan konyol mu itu" Feli mendorong wajah Darren agar menjauh darinya. Ia kembali memutar tubuhnya membelakangi Darren.


"Kau mengatakan akan berhenti jika aku menjadi kekasihmu" gumam Darren.


"Ralat Tuan Maxston, aku mengatakan akan berhenti jika kau menikahiku" ketus Feli


"Itu sama saja Feli sayang, bukan kah akhirnya kita akan menikah" Darren berusaha membujuk. Didiamkan Feli adalah hal yang tidak diinginkannya.


"Jangan mencoba merayuku"

__ADS_1


"Kau bahkan menyuruhku menyembunyikan hubungan kita dihadapan Mommy dan Daddy"


"Percaya padaku. Secepatnya aku akan membicarakannya pada Mommy dan Daddy" Darren memutar tubuh Feli agar berhadapan dengannya.


"Apa aku sudah mengatakan bahwa Mike sudah mengetahui hubungan gelap kita?"


Darren terkekeh mendengar perkataan Feli menggambarkan hubungan mereka


"Mike memang sangat peka! Katakan padaku bagaimana ia bisa mengetahuinya?" Darren memainkan rambut Feli dengan jarinya.


"Ia penasaran kenapa kau memiliki mata indah ini. Iris mata yang membuatnya iri"


"Jangan katakan ia melakukan test DNA" Darren terkekeh.


"Ia memang melakukannya" jawab Feli


"Tidak diragukan lagi ia memang bersungguh-sungguh dengan keinginannya" ucap Darren seraya mengecup kening Feli.


"Katakan apa ia terlihat kecewa?" Darren memang tidak terlalu terkejut mengetahui Mike yang menyadari bahwa ia bukanlah kakak kandungnya dan Feli. Jika Mike saja bisa menyadarinya, Ia yakin Daddy dan Mommy juga sudah menyadarinya.


"Hmmm...dia sangat kecewa kenapa kau menjadi kekasihku. Katanya kau sangat menyedihkan" jawabnya jujur.


Darren terkekeh mendengar ucapan polos dan jujur wanita kesayangannya ini.


"Kau senang?" cibir Feli


"Apa aku begitu buruk hingga tidak pantas berada disampingmu"


"Tidak ada yang lebih pantas selain dirimu. Tapi sebaliknya aku yang merasa tidak pantas buatmu."


"Jangan merayu ku dengan merendahkan dirimu. Aku berfikir apa yang dikatakan Mike benar. Kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau inginkan. Memangnya wanita mana yang bisa menolak pesonamu"


"Tapi mata dan hati ku hanya tertutuju pada satu wanita, yaitu dirimu. Aku tidak peduli dengan wanita diluar sana yang kuinginkan hanya dirimu. Mungkin terdengar seperti rayuan tapi percayalah Feli setiap hembusan nafasku hanya menyebut nama mu" Terdengar berlebihan tapi Feli bisa merasakan ketulusan dari ucapan pria yang dicintainya itu


"Memangnya apa yang kau lihat dariku?" tanya nya malu-malu tapi juga penasaran akan jawaban Darren


"Semua yang ada pada dirimu. Aku menyukainya" jawab Darren menatap lekat wajah Feli yang sudah merona.


"Kau sepertinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi dari ku Mr. Maxston. Kau sudah terjebak dalam perangkapku" ucap Feli haru


"Ya..dan percayalah aku tidak ingin terbebas dari perangkapmu"


"Kegilaanmu sudah sampe tahap akut"


"Dan kau alasan dari kegilaan ini Feli"


"Jadi berjanjilah kepadaku tidak akan pernah meninggalkanku. Tidak akan pernah menghilang dari hadapanku" ketakutan terdengar dalam suara Darren.


"Kau terdengar seperti psikopat cinta Darren, tapi percayah jantungku menggila mendengar kegilaanmu" Feli menarik tangan Darren agar bisa merasakan jantungnya yang berdetak kencang


"Kau merasakannya?" tanya Feli.

__ADS_1


"Darren kau merasakannya?" ulangnya lagi ketika tidak mendapatkan jawaban dari Darren.


"Hei Darren" panggil Feli menyentuh wajah Darren.


"Oh..ah..iya aku merasakannya" Darren tergagap.


"Kenapa wajahmu memerah?" Feli menyadari perubahan rona wajah Darren.


"Itu...tanganku Feli..tanganku menyentuh itu mu" Darren memokuskan pandangannya pada tangannya yang mendarat ditempat yang tidak seharusnya. Feli mengikuti arah tatapan Darren. Ia tersentak..ternyata tangan Darren yang ditariknya tadi mendarat di payudaranya.


"Jadi kau merona hanya karena tangan mu mendarat di salah satu asetku?" tanya Feli.


"Aa..aapa?" Darren tergugup. Ia terkejut melihat respon Feli yang terlihat biasa saja. Ia mengira tadi Feli akan menjerit histeris.


"Kenapa kau harus merona, bukankah sebelumnya kau sudah terbiasa dengan kekasih-kekasihmu sebelumnya?" sindir Feli seraya melepaskan tangan Darren dari dada nya.


"Tapi ini rasanya berbeda" jujur Darren. Feli mengernyit.


"Apa karna aku wanita yang kau cintai makanya terasa berbeda" ucapnya bodoh.


Darren tersenyum dalam hati karna apa yang dikatakan Feli memang benar adanya. Akan terasa berbeda jika kita menyentuh orang yang kita cintai dan mencintai kita.


"Hmmm...Yang sebelum-sebelumnya terasa lebih berisi" Darren tersenyum geli mendengar kemesumannya. Ia menghitung dalam hati menunggu reaksi Feli. Setelah menghitung sampai 100 Feli tak juga mengatakan apa pun. Ia hanya menatap dalam wajah Darren. Darren merasa keputusannya sepertinya salah sudah menggoda Feli dengan hal menggelikan itu.


"Sepertinya kau harus memastikan lagi apa darah Daddy sungguh tidak mengalir ditubuhmu. Sungguh kau sangat mewarisi kemesumannya Darren"


Darren terkekeh mendengar sindirin Feli terhadap dirinya. Ini salah Daddy nya yang sering mempertontonkan kemesumannya pada anak-anaknya sehingga mau tidak mau, suka tidak suka kemesuman Felix akhirnya meracuni pria-pria penghuni rumah ini.


"Matikan lampunya sebelum kau keluar pria tua mesum!" lanjut Feli datar tanpa ekspresi. Ia menarik selimutnya sampai menutupi seluruh tubuhnya.


Ya..aku salah perhitungan batin Darren.


Ia menghela nafas panjang.


"Selamat bermimpi indah sayang. Maafkan aku" Dengan berat hati Darren turun dari ranjang.


"Sayang, kau yakin kita tidak perlu tidur bersama?" Darren masih mencoba peruntungannya.


"Baiklah, aku pergi. Sepertinya hanya aku yang menginginkan tidur bersama" ucapnya ketika tak kunjung mendengar jawaban Feli. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


"Darren..." Feli menarik selimutnya sebatas dagu nya.


Darren berbalik dan tersenyum


"Baiklah aku tidak akan pergi sayang" Darren sudah akan naik keatas ranjang ketika ucapan Feli selanjutnya menghentikan niatnya.


"Matikan lampunya sebelum kau keluar" ucapnya sinis. Darren melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia merasa malu sendiri atas kepercayaan dirinya. Ia mengira Feli memanggilnya untuk menghentikannya.


Terkadang kepercayaan diri yang tinggi dapat menimbulkan rasa malu terhadap diri sendiri.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2