
"Apa kau sedang bertengkar dengan suamimu?"
Feli menghentikan aktivitasnya begitu mendengar pertanyaan dari kekasih Mike itu. Feli menghela nafas sesaat, lalu tersenyum tipis.
Feli menganggukkan kepalanya.
"Ya, ini adalah pertengkaran pertama kami, apa begitu terlihat?"
"Hmm..aku bisa melihat suamimu sangat mencintaimu, lalu apa yang membuatmu dan suamimu harus bertengkar?"
"Aku takut dia berubah karena aku tidak akan bisa memberikan apa yang diinginkannya. Aku meminta ia menceraikanku."
"Aku bisa mengerti apa yang kau rasakan, aku mendengar cerita apa yang sedang kau alami saat ini dari Mike, aku turut berduka" Kekasih Mike menggenggam kedua tangan Feli. Ia mengusap punggung tangan Feli seraya tersenyum hangat.
"Bukankah cinta sejati itu memandang kelemahan lalu menjadikannya kelebihan untuk lebih saling mencintai. Percayalah, celahmu akan dianggap sempurna oleh hati yang memang ditakdirkan untukmu, dan kau tahu, aku melihat cinta yang begitu besar di mata suamimu, aku bisa melihat di matanya hanya ada kau."
"Pasti kau dibesarkan di dalam keluarga yang penuh cinta, pantas saja Mike menyukaimu, ternyata kau sangat bijak." Tangan Feli terulur mengusap lembut wajah gadis di hadapannya itu. Gadis itu tersenyum miris lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku bahkan tidak tahu seperti apa yang dikatakan dengan keluarga, aku tidak tahu dimana Mom dan Daddyku, aku adalah anak terbuang yang tidak dibutuhkan" gadis itu kembali memaksakan senyum di wajahnya.
"Mike satu-satunya orang yang menganggapku ada dan memperlakukan dengan sangat istimewa" matanya berbinar penuh cinta saat ia menyebut nama kekasihnya itu.
"Jadi aku mohon fikirkan kembali keinginanmu itu,"
"Kau belum mengatakan siapa namamu?"
"Miki memanggilku, Mini" jawabnya dengan wajah bersemu merah. Feli tergelak mendengar jawaban dan tingkah Mini, yang terlihat sangat menggemaskan itu.
"Miki, Mini" Feli tidak bisa menghentikan gelak tawanya membuat wajah Mini semakin merah menahan malu.
"Terima kasih, Mini, sudah membuat perasaanku lebih baik. Selamat datang di keluarga McKenzie" Feli segera merentangkan kedua tangannya memberi isyarat agar Mini, segera memeluknya. Tanpa menunggu lama, Mini segera menghambur ke dalam pelukan Feli.
"Jangan pernah mengatakan, kau tidak punya keluarga lagi. Mulai sekarang kami adalah keluargamu, jika Mike menyakitimu, katakan padaku, aku akan membalasnya" Mini mengangguk dalam pelukan Feli, ia sungguh terharu atas sambutan keluarga kekasihnya itu. Awalnya ia merasa minder dan merasa tidak percaya diri untuk bersanding dengan Mike, mengingat latar belakang mereka yang sangat bertolak belakang. Dari awal ia sudah mempersiapkan diri untuk mendapat penolakan dari keluarga kekasihnya itu, tapi siapa sangka, sambutan keluarga Mike sangat hangat, Mike benar-benar suatu anugerah baginya. Mike sungguh menunjukkan kepadanya apa itu bahagia.
__ADS_1
"Ehmm" Feli dan Mini kompak melepaskan pelukan mereka begitu mendengar deheman seseorang. Feli melihat, Darren sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
"Maafkan aku sudah mengganggu waktu kalian, tapi aku sangat kegerahan dan ingin berganti baju."
"Baiklah, kalau begitu, aku permisi dulu, kakak" Feli mengangguk seraya mempersembahkan senyum terbaiknya.
"Aku senang mendengar caramu, memanggilku."
Darren masuk ke dalam kamar mandi begitu Mini keluar dari kamar mereka. Ia segera membersihkan dirinya. Lima menit kemudian ia keluar dari dalam kamar mandi, ia tersenyum dalam hati begitu melihat Feli sudah mempersiapkan pakaian untuknya. Darren berjalan ke arahnya, mengambil bajunya dan mengenakannya tanpa mengeluarkan suara, tapi ia tahu Feli sedang memperhatikannya.
Ya, Feli memang sudah menyadari kesalahannya, ia tahu perkataannya sudah menyakiti hati, Darren. Saat di Kanada, begitu Darren meninggalkannya, hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak sehingga sulit buatnya hanya untuk sekedar bernafas. Kepergian Darren, seakan membawa pergi setengah jiwanya, ia merasa hampa. Feli menyadari, apa yang dikatakan Darren, benar adanya, mereka tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Darren dan Feli, ibarat dua sisi mata uang, seperti Yin dan Yang, memiliki sifat dan karakter yang berbeda tapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dan ucapan Mini tadi semakin membuatnya menyadari kebodohannya, bukankah selama ini ia begitu banyak kekurangan, dan tak pernah sekalipun Darren, mengeluhkannya. Feli tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Darren, tapi untuk meminta maaf, ia mempunyai gengsi yang sangat tinggi.
"Ehm" Feli sengaja berdehem, Darren menoleh sesaat, hanya sesaat.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" suara Darren terdengar datar membuat Feli merasa gugup seketika.
Kenapa nadanya seperti itu? apa dia masih marah?
"Apa kau masih marah?" suara Feli terdengar seperti cicitan.
"Ya" jawab Darren singkat.
"Maaf"
"Untuk?"
"Maafkan aku yang sudah meragukanmu,"
Tangan Darren terangkat, mengusap lembut tangan Feli, ia kemudian berbalik, menarik tangan Feli agar memeluk pinggangnya, merapatkan tubuh mereka, lalu tangannya menangkup wajah Feli, menatapnya dengan lembut.
"Aku tidak akan luluh segampang ini lagi jika kau mengulangi ucapan laknat itu, Feli" Feli menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu, cium aku!" perintah, Darren. Dan dengan cepat Feli segera berjinjit dan mengecup bibir, Darren.
__ADS_1
"Itu kecupan, Feli. Bukan ciuman" protes Darren.
"Jika aku menciummu, aku yakin kita akan berakhir di atas ranjang"
"Dan aku memang menginginkan itu,"
"Yang lain sudah menunggu kita di bawah," Feli mengingatkan.
"Menunggu beberapa jam tidak akan membuat mereka mati kelaparan, sayang"
"Mereka Mom, dan daddyku, Darren"
"Yang kau sebut mom dan dad, itu juga mommy dan daddyku jika kau lupa, Feli. Ayolah Feli, aku janji aku akan menyelesaikannya dengan cepat, sayang" mohon Darren.
"Tidak ada istilah cepat bagimu, jika berurusan dengan ranjang!"
"Ya, sepertinya memang begitu, salahkan dirimu, yang sudah membuatku berpuasa berminggu-minggu."
"Darreeennnn!!" protes Feli yang tidak dihiraukan oleh Darren lagi. Ia sudah mengangkat Feli ke dalam gendongannya dan menyerangnya dengan ciuman yang selalu mampu memabukkan Feli, Feli pun melingkarkan tangannya di belakang leher Darren, dan membalas ciuman, Darren. Akhirnya, baik Darren maupun Feli, menyerah pada hasrat keduanya. Mengabaikan orang-orang yang menunggu mereka di bawah sana, Feli dan Darren, sudah terhanyut dalam kenikmatan cinta sesungguhnya. Lagi dan lagi, mereka mengulanginya, seakan menggantikan minggu-minggu yang mereka lewati tanpa bercinta.
Sementara di waktu yang sama di ruangan yang berbeda, keluarga Maxston dan McKenzie terlihat masih menunggu kahadiran Feli dan Darren. Felix bahkan berulang kali melihat jam yang melingkar di tangannya. Faktor usia yang sudah tidak muda lagi, membuatnya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kerena sesungguhnya perutnya sudah menjerit minta di isi.
"Mom, Dad, Grandma" panggilan Mike, membuat semua menoleh ke arahnya.
"Sepertinya kita tidak usah menunggu Darren dan Feli lagi. Aku yakin keduanya sedang melakukan aktivitas menyenangkan di atas sana, untuk menyelesaikan masalah mereka tanpa masalah."
"Ya, olahraga gelud di atas ranjang memang selalu menjadi obat paling mujarab untuk meredam emosi dan amarah" Felix menimpali ucapan Mike, putra bungsunya.
"Ya, Dad, erangan dan desahan akan membuat otak Feli kembali normal, Dad. Percayalah, ia akan mengurungkan niatnya itu." Ucapan Mike mendapat cubitan di pinggang dari kekasihnya, Mini.
π¦ π¦
Buat semuanya, jangan lupa mampir ke cerita bungsu McKenzie, Mike ONeil McKenzie. Klik profil penulis, judulnya Only You. Dukungan sekecil apa pun sangat berarti buat penulis, terima kasihππππ
__ADS_1