Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
57. Maxston


__ADS_3

"Selamat datang sayang. Selamat datang buat kalian berdua" Grandma Sharon menyambut dengan antusias kedatangan Darren dan Feli di kediamannya.


"Aku senang kau memutuskan untuk tinggal bersama wanita tua ini" ucapnya penuh haru seraya memeluk Darren.


"Itu memang sudah seharusnya Grandma, kau keluargaku" Darren membalas pelukan wanita tua itu.


Grandma Sharon mengangguk.


"Ya, dan maafkan aku yang baru menemukanmu" ucapnya penuh sesal.


Darren menggeleng


"Bukan salahmu" ucapnya.


Grandma Sharon mengangguk lalu kemudian beralih menatap Feli.


"Bagaimana keadaanmu sayang? apa cicitku baik-baik saja di dalam sini. Apa dia merepotkanmu?" Grandma Sharon mengelus perut Feli yang masih datar.


Feli tersenyum.


"Aku baik Grandma"


"Bagaimana denganmu?"


"Seperti yang kau lihat aku semakin menua" Grandma merentangkan kedua tangannya memberi isyarat agar Feli memeluknya. Feli tersrnyum dan mengangguk.


"Tapi percayalah kau tetap terlihat cantik di usiamu ini grandma" puji Feli tulus. Grandma terkekeh mendengar pujian Feli tersebut. Di usianya yang memang tidak muda lagi memang masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya di masa muda dulu. Sekarang terjawab sudah dari mana Darren mewarisi wajah tampan nan menawan dan mata indah itu. Bola mata yang mampu membuat para wanita tenggelam dalam keindahannya.Dan keindahan itu adalah milik Feli. Hanya Felicia.


"Masuklah, semuanya sudah menungguh di dalam" Ajak grandma Sharon seraya menuntun Feli dan Darren masuk ke dalam istananya.


Feli mengeratkan genggamannya begitu mereka berada di sebuah ruang keluarga yang sangat besar. Darren menoleh begitu merasakan genggaman tangan Feli di tangannya semakin kuat.


"Sayang kau tidak apa-apa?" Darren mengerutkan dahinya begitu melihat wajah Feli yang tegang. Ia mengikuti arah pandang Feli. Clarissa. Ya Clarissa ada di sana duduk bersama Laura dan Bernard. Dan mereka terlihat sangat dekat. Darren mengerutkan dahinya berfikir sebenarnya apa yang terjadi. Ini tidak mungkin suatu kebetulan..


"Clarissa" panggilnya dengan tangan yang mengusap punggung Feli untuk menenangkan istrinya itu.


"Aku di sini. Aku bersamamu" Darren menatap Feli dengan lembut. Feli tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Hai Darren..Feli..."


"Ini sudah lama terakhir kita bertemu pada saat kecelakaan naas itu. Aku bersyukur kalian baik-baik saja" Clarissa berdiri dari tempatnya. Ia berjalan perlahan mendekati Darren dan Feli.


"Selamat datang" Clarissa merentangkan tangannya berniat memeluk Darren. Darren segera menghindar, mundur beberapa langkah dan merentangkan satu tangannya memberi jarak pada Clarissa. Ia tahu istrinya tidak menyukai wanita lain menyentuh dirinya. Terlebih itu adalah Clarissa. Terakhir kali Feli melihatnya berpelukan dengan Clarissa yang mengakibatkan kecelakaan naas itu terjadi. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Feli dan kewarasan Darren.


"Berhenti di tempatmu Clarissa dan jangan coba menyentuhku. Istriku tidak menyukainya dan tentu saja aku juga tidak nyaman" ucapnya jujur. Clarissa tergelak tidak tersinggung sama sekali.


"Baiklah. Mafkan aku" ucapnya.


"Apa aku boleh memelukmu?" Clarissa bertanya pada Feli. Feli hanya diam menatap wajah wanita itu. Membaca peran apa sesungguhnya yang sedang dilakoni wanita di hadapannya ini. Entah kenapa ia tidak bisa mempercayai wanita ini.


"Maafkan aku. Aku tidak terbiasa berpelukan dengan orang yang tidak ku sukai. Itu sunggguh tidak nyaman" jawabnya jujur yng membuat Clarissa menganga.

__ADS_1


"Kau masih membenciku?"


"Aku hanya berhati-hati"


"Kenapa dia membencimu Cla? Apa kau berbuat kesalahan padanya?" tanya grandma yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka.


"Tidak grandma, ini hanya kesalah fahaman dan aku sudah meminta maaf. Tapi sepertinya Feli belum bisa memaafkanku" Clarissa meringis.


"Itu bukan kesalah fahaman Clarissa!"


"Kau menculikku dan hampir..." Feli segera menghentikan ucapannya ketika melihat wajah grandma yang tersentak mendengar ucapannya.


"Oh maafkan aku grandma, kau harus melihat hal memalukan ini di hari pertama kami datang" ucapnya penuh sesal seraya mengatupkan kedua tangannya.


Grandma tersenyum.


"Tidak sayang. Tidak apa-apa. Tapi aku tidak ingin kalian ribut. Kita di sini adalah keluarga dan Clarissa adalah orang yang memberikanku informasi keberadaan Darren. Selama ini bahkan kami tidak mengetahui kehadirannya hingga Clarissa tanpa sengaja melihat fhoto Sean ada di rumah ini" jelas Grandma.


"Dan tentu saja aku sangat berterima kasih padanya"


"Fhoto?" Darren tergelak tapi tatapannya seolah mengintimidasi Clarissa.


Hanya dengan sebuah fhoto ia langsung bisa menebak. Darren membatin.


"Bagaiaman kau bisa mengenalnya Grandma?" tanya Darren penasaran.


"Tanpa sengaja dia dan sepupunya menolongku" jelas Grandma.


"Sepupu?" tanya Darren lagi. Dia sudah bisa menebak siapa sepupu yang grandmanya maksud.


"Emily"


"Dia juga wanita yang manis. Mungkin sekarang dia sedang berada di taman" jelasnya lagi.


"Dan kenapa dia harus tinggal di sini?" Feli bergumam.


"Dan kenapa dia tidak boleh tinggal di sini? Apa dia harus meminta izinmu dulu agar bisa tinggal di sini?" Ucap Laura sinis.


"Laura!" Tegur grandma tidak suka.


"Jangan menakutinya" lanjutnya lagi.


Laura berdecak.


"Siapa yang menakuti siapa Mom. Seharusnya kita lebih waspada terhadap kehadiran wanita ini. Bisa saja ia sudah merencanakan sesuatu seperti yang di lakukan Daddy nya terhadap Sean. Pembunuh!" Laura menatapnya nyalang. Feli menggigit bibirnya. Ia merasa gugup. Ini baru awal bagaimana ke depannya. Feli membatin.


"Perhatikan ucapanmu Aunty"


"Kau bukan hanya menyakiti hati istriku tapi juga menyakitiku. Dan ku tegaskan padamu, Daddy tidak pernah membunuh Daddy Sean. Tidak pernah!" ucapnya penuh tekanan.


"Tentu saja kau membelanya. Mungkin keluarga itu sudah meracuni otakmu dengan melemparkan putri mereka padamu. Menjijikkan!"

__ADS_1


"Laura!!!" bentak Grandma.


"Sudah ku katakan perhatikan ucapanmu. Jangan mengusik istriku atau aku tidak akan segan-segan padamu" Darren menatapnya tajam. Suaranya terdengar tenang tapi sarat akan ancaman.


"Dan kau anak muda jangan menakuti orang tua seperti itu" Bernard menepuk pundak Darren. Darren melirik tangan yang berada di pundaknya dan segera melepaskannya.


"Aku bukan menakuti tapi memberi peringatan Mr. Linconl"


"Panggil aku Uncle" Ia masih terkekeh.


"Grandma, sambutan keluargamu sungguh sangat luar biasa sehingga membuat istriku tidak nyaman. Aku mulai meragukan keputusanku" ucapnya menatap sinis 3 orang di hadapannya. Bernard, Laura, Clarissa.


"Aku mewakili mereka. Maafkan mereka" ucap grandma penuh sesal.


"Sayang maukah kau memaafkan aunty mu. Dia tidak benar-benar membencimu. Percayalah" grandma Sharon menggenggam tangan Feli.


"Tetaplah di sini menani wanita tua yang umurnya tidak seberapa lagi" suaranya tercekat. Ada kesedihan di dalamnya. Feli menatap Darren. Tidak tahu harus bagaimana. Darren menghela nafas.


"Baiklah grandma kami akan tinggal. Katakan pada penghuni rumah ini jangan berani mengusik istri ku seujung rambut sekalipun" ucapnya tegas.


"Lancang sekali kau anak muda. Kau baru datang tapi sudah main perintah seperti itu" desis Bernard tidak suka.


"Dia pewaris Maxston Bernard" jawab Grandma Sharon telak yang membuat Bernard bungkam dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Baiklah sayang. Kau pasti capek" Grandma Sharon membelai rambut Feli.


"Bawalah istrimu istirahat. Aku akan meminta Emily membawakan makanan untuknya" Ucapan Grandma Sharon langsung di angguki oleh Darren. Felinya memang butuh istirahat.


❤❤❤❤❤❤


"Apa kau baik-baik saja" Darren meletakkan kaki Feli di pangkuannya. Memijitnya dengan lembut.


"Aku baik-baik saja" Feli tersenyum lalu kemudian memejamkan matanya menikmati pijitan tangan Darren di kakinya.


"Jika kau tidak nyaman, katakan. Aku akan membawamu pergi karena aku sendiri mulai menyesali kelupusanku" ucapnya jujur. Kenyamanan Feli adalah harga mutlak bagi Darren. Ia tidak ingin istrinya tersakiti oleh apapun dan siapapun.


"Aku baik- baik saja. Percayalah" Feli membuka matanya. Menatap Darren penuh keyakinan.


"Ada kau di sampingku" Feli tersenyum.


"Grandma membutuhkanmu" ucapnya lagi dan kembali memejamkan matanya dengan meletakkan satu tangan diatasnya.


"Tapi aku membutuhkanmu" Darren bergumam. Ia tahu Feli merasa terusik. Dan fikirannya terbebani. Darren bisa merasakannya.


"Aku di sini Darren. Bersamamu. Tidak akan kemana-mana" jawab Feli.


"Aku mencintaimu"


"Me too" jawab Feli dan kemudian terlelap dalam tidurnya.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2