Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
75. Sandiwara


__ADS_3

Sudah tiga hari Darren tidak terlihat sejak kepergian nonna. Feli sudah mulai jengah melayani kelakuan Bernard dan Clarissa yang selalu mengganggu dan menyindirnya. Jika Feli meladeni semua ocehan dan cibiran dari mereka, kelakuan mereka semakin menjadi. Feli memilih untuk diam dan mengabaikannya saja dan ternyata cara itu juga tidak membuat mereka diam. Ada saja cibiran dan sindiran yang selalu ia dengar selama 3 hari ini.


Feli melihat cangkir di atas mejanya sudah kosong. Ia menghela napas berat.


"Semoga aku tidak bertemu dengan salah satu penyamun di bawah sana."


Langkah Feli terhenti begitu melihat sosok pria yang sangat dirindukannya itu sedang duduk di dapur sambil menikmati minumannya bersama Emily. Emily? Ya, Emily, Feli tidak salah melihat. Feli mendengus sesaat. Pandangan yang ada di depannya itu membuatnya terbakar api cemburu. Dengan sengaja menghentakkan kakinya, ia melangkah dengan kasar ke arah keduanya. Darren yang melihat kehadirannya sekuat tenaga menahan senyumnya melihat wajah cemberut istrinya itu.


"Kau menghilang selama tiga hari, tiba-tiba muncul dan malah duduk manis di sini bersama wanita lain, apa kau melupakan bahwa kau masih mempunyai istri?"


"Maafkan aku, Feli. Aku hanya ingin membantunya tadi, aku melihat dia sedikit mabuk, jadi aku menghampirinya."


"Ssstt...Em, kau tidak perlu menjelaskannya kepadanya, dia bukan orang penting lagi bagiku" Darren menatap Felil dengan tatapan geli meremehkan.


"Darren"


"Jangan menyebut namaku"


"Aku muak mendengarnya"


"Em, bisakah kau mengantarku ke kamarku. Aku merasa sangat pusing sekali" Darren menatap Emily dengan tatapan memohon yang membuat Feli hampir saja melepaskan sandal jepitnya dan ingin melemparnya ke arah Darren.


"Aku bisa mengantarmu" Feli mendekat, dan berusaha menarik tangan Darren untuk berdiri dari tempatnya


"Jangan menyentuhku" Darren mendorong tubuh Feli, tidak kuat tapi mampu membuat Feli terdorong.


"Aku meminta Emily, bukan kau" Darren segera berdiri dan meletakkan tangannya di bahu Emily. Emily tersentak, ia menoleh ke arah Feli yang menatapnya dengan datar.


"Jangan hiraukan dia, Em" Darren menarik tangan Emily, agar melingkar di pinggangnya. Emily yang terlihat tidak enak hati akhirnya dengan senang hati menuntun Darren menuju kamarnya.


Tubuh Feli, memanas menahan emosi. Dengan perasaan berkecamuk, ia mengekori keduanya. Dahi Feli berkerut, begitu jalan yang mereka lalui bukan menuju kamar milik mereka.


"Kemana kau akan membawanya, Em?"


"Dia mengatakan tidak ingin berada di dalam satu kamar denganmu, Feli" ucapnya tidak enak hati, tapi tidak dengan matanya. Mata itu seakan menertawakan kemirisan Feli. Wanita yang dulu sangat dilimpahi Darren dengan cinta yang sangat luar biasa, kini sanggup Darren abaikan begitu saja.


"Sudah kukatakan jangan hiraukan dia, Em" Derren menopangkan kepalanya di bahu, Emily. Mata Feli membola, melihat tingkah kecentilan suaminya itu.


Sepertinya pria ini cari mati


"Maaf, aku harus segera membawanya, Feli" Feli hanya diam tidak memberikan jawaban sama sekali. Ia menatap Darren dan Emily masuk ke dalam kamar yang dulu ditempati oleh nonna.


Dengan menghentakkan kakinya, Feli segera berbalik menuju ke kamarnya. Ia bersumpah dalam hatinya akan memberi pelajaran pada suami sialannya itu.


Sementara itu, Emily tersenyum penuh kemenangan dengan apa yang ia lihat tadi. Darren mengabaikan Feli. Hal yang tidak mungkin terjadi menurutnya dulu.

__ADS_1


Emily segera merebahkan tubuh Darren, di atas tempat tidur, dan tanpa di duganya, Darren memeluknya.


"Wah, kau sangat wangi sekali, Em"


"Aku baru tahu kau juga suka mengenakan parfum. Vanilla." Darren menebak wangi parfum yang Emily gunakan.


"Bisakah kau melepaskanku, aku tidak ingin ada yang salah faham melihat kondisi kita sekarang" Emily berusaha melepaskan dirinya.


"Apa kau takut?"


"Ayolah, Em, aku adalah pemilik rumah ini, siapa yang kau takuti?"


"Feli_"


"Bisakah kau tidak menyebut namanya jika kita sedang berdua."


"Apa maksudmu? ucapanmu terlalu ambigu"


"Aku menginginkanmu" bisik Darren dengan suara serak di telinga Emily, yang mampu membuat darah Emily berdesir hebat. Tubuhnya seketika memanas, seakan terkena sengatan aliran listrik.


"Dar..Darren" suara Emily tercekat. Mendengar suara serak Darren, mampu membuat hasratnya menggila. Pesona Darren memang sangat sulit untuk diabaikan begitu saja. Dengan sigap ia segera melingkarkan tangannya di belakang leher Darren, dan berusaha mencium Darren.


"Em..aku tidak suka yang terburu-buru" Darren meletakkan tangannya di mulut Emily. Dan sebelah tangannya berusaha menekan angka 1 di ponselnya, nomer orang terpenting dalam hidupnya. Darren menggeram dalam hati karrna panggilannya diabaikan begitu saja.


"Darren, aku.." Emily, melepaskan tangan Darren dari mulutnya, dan kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Darren, dan siap untuk menyerang Darren. Darren segera menahan kedua bahu Emily.


"Kau mengatakan, kau menginginkanku"


"Ya,"


"Apa lagi yang kau tunggu" kembali Emily berusaha menciumnya, dan kembali Darren menghindar.


"Emily, apa yang kau lakukan?!"


Darren bernapas lega begitu mendengar suara seseorang, walau pun seseorang itu bukanlah orang yang ia harapkan, tapi setidaknya bisa menyelamatkan kehormatannya untuk malam ini.


Clarissa segera menarik Emily, ke belakang, sehingga rangkulannya terlepas.


" Apa kau sedang berusaha merayu, Darren" tuduh Clarissa dengan geram. Emily hanya terdiam. Ia malu, sisi liarnya tertangkap basah oleh orang lain.


"Tidak, aku.." Emily tergagap.


"Apa kau ingin mengatakan bahwa Darren yang menggodamu?"


"Dasar ******!" Clarissa mengangkat sebelah tangannya, berniat untuk melayangkan tampran di wajah mulus Emily, tapi dengan sigap Emily segera menahan tangan Clarissa.

__ADS_1


"Apa kau sedang menantangku?" Clarissa menatap tajam ke arahnya.


Darren yang sedang menyaksikan keributan antara kedua sepupu itu memutar bola matanya merasa jengah. Ia segera beranjak dari kamarnya, meninggalkan kedua sepupu itu.


Darren memasuki kamar miliknya bersama Feli, dan tergelak begitu melihat seluruh tubuh Feli tertutupi oleh selimut tebal. Darren memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum memberi pelajaran kepada istrinya itu.


15 menit waktu yang dihabiskan Darren untuk membersihkan dirinya. Ia segera naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Feli. Darren merapatkan tubuhnya dengan tubuh Feli, memeluk erat perut rata istrinya itu.


"Jangan menyentuhku, pria mesum"


Darren tergelak, bukannya melepaskan pelukannya, Darren malah menyelusupkan tangannya masuk ke dalam baju Feli, hingga tangannya menyentuh kulit mulus istrinya itu.


"Aku sudah mensucikan diri, sayang" bisiknya di telinga Feli.


"Jangan memunggungiku, Feli" Darren menyampirkan rambut Feli, dan mengecup tengkuk Feli.


Haiis, dasar setan penggoda!


"Menjauh dariku" Feli masih enggan untuk berbalik.


"Kenapa kau mengabaikan panggilanku?"


"Kenapa? Bukannya kau sangat menikmati serangan singa betina lapar itu?!" Feli akhirnya memutar tubuhnya menghadap, Darren.


"Apa kau ingin suamimu ini menderita rabies, karena dia si singa betina lapar itu hampir saja mencium suamimu ini"


"Bukannya kau sangat menikmati sentuhannya, kau bahkan menolakku untuk mengantarmu ke kamar, bahkan setelah 3 hari lamanya kita tidak bertatap muka, kau lebih memilih untuk menemuinya dibanding aku, apa kau ingin mati Darren Maxston?!"


"Bukannya ini keinginanmu dan juga Aunty Laura, memintaku untuk menggoda para tikus wanita itu, percayalah sayang, kehormatanku dipertaruhkan di sini. Aku tidak bisa membayangkan bibirnya menyentuh bibirku. Ini benar-benar gila."


"Dan ternyata kau juga sangat ahli dalam berakting, hatiku bahkan terasa sakit saat kau berpura-pura meragukanku, tatapanmu membuat dadaku sesak, Darren"


"Oh, sayang, maafkan aku. Tapi ini demi kebaikan kita semua, aku mohon bersabarlah. Bukankah kau yang mengusulkan ide gila ini"


Feli menganggukkan kepalanya,


"Bagaiman keadaan nonna?"


"Tentu saja baik-baik saja, ada Mini yang merawatnya."


"Mini, tinggal bersama Mom dan Daddy?"


"Tidak, dia hanya sering berkunjung" jawab Darren.


"Apa kau merindukanku?"

__ADS_1


"Tentu saja," Feli segera menarik leher Darren dan mengecupnya.


"Kau yang memulai, sayang" Darren menahan tengkuk Feli dan memperdalam ciumannya. Bukan hanya hanya sekedar ciuman, tapi lebih dari itu. Usaha untuk memproduksi Maxston-Maxston kecil pun dimulai. Lagi dan lagi, hingga Feli terlelap.


__ADS_2