
"Oh astaga apa yang terjadi denganmu. Apa kau berniat menghancurkan karirmu?" Rachel menangkup wajah Feli yang sudah mabuk.
"Mommy Mika dan Daddy Felix bisa murka jika tahu hal ini"
"Hei anak nakal bangunlah" Rachel menepuk-nepuk wajah Feli.
Rachel sedang bersantai menikmati drama korea dikamarnya ketika ponselnya berdering dengan nomor yang tidak dikenal. Ia mengangkat panggilan itu dan betapa terkejutnya ia begitu mengetahui sipenelepon ternyata seorang bartender yang mengatakan Feli sedang mabuk.
"Kau memberikan apa padanya?" hardik Rachel kepada bartender yang diyakini Rachel adalah orang yang meneleponnya.
"Ia mengatakan ingin mabuk. Jadi aku memberikannya satu gelas tequilla." Jawabnya acuh yang membuat mata Rachel membulat sempurna. Selama ini Feli tidak pernah meminum minuman memabukkan itu atau sejenisnya. Sedikit tequilla tentu saja bisa membuatnya mabuk.
"Oh..Rachel..kau sudah datang" Feli menangkup wajah Rachel.
"Kau ingin menghacurkan karirmu"Desis Rachel
"Bagaimana bisa kau datang sendiri kesini?"
"Aku tidak ingin merepotkanmu"
"Ciihhh...kau bahkan lebih merepotkanku dengan begini" apa yang harus dikatakannya kepada Mommy Mika dan Daddy Felix nanti. Dan kenapa juga Feli bisa kesini.
"Aku hanya ingin bersenang-senang sedikit" gumamnya masih dengan mata tertutup
"Bukannya bersenang-senang kau malah menimbulkan masalah Feli"
"Ada apa dengan mu?"
"Sahabatmu itu sangat menyebalkan. Ia berciuman dengan Stevy dihadapanku" Feli menangis.
"Disini sakit sekali" Feli menunjuk dadanya.
Rachel mengumpat dalam hati. Ternyata Darren biang masalahnya. Memangnya siapa lagi yang bisa membuat masalah kepada Feli.
"Rachel kau ingin ku beritahu satu rahasia?" Feli menopang wajahnya dengan satu tangannya
Rachel mengernyit. Feli benar-benar kacau jika mabuk karna ini memang pertama kalinya ia mabuk. Tubuhnya tidak bisa mentolerir alkhol. Mascara, lipstik, eyeliner, sudah tidak jelas bentuknya. Bahkan bulu matanya sudah copot sebelah.
"Apa?" jawab Rachel tanpa minat. Ia sedang sibuk memikirkan alasan apa yang akan diberikannya kepada Mommy Mika dan Daddy Felix.
"Kau tahu aku sangat mencintai Darren"
"Hmm" gumamnya asal
"Mencintai layaknya seorang wanita terhadap pria"
"hmm" kembali Rachel hanya bergumam
"Tapi Darren tidak pernah membalas perasaanku. Itu sangat menyakitkan"
"Hmm" respon Rachel.
Kau hanya belum tahu saja ia sudah mencintaimu selama 15 tahun batin Rachel.
"Rachel..apa menurutmu jika Darren tahu kami bukan saudara sedarah ia akan menerima cintaku" Feli meletakkan kepala nya dimeja
"Hmmm...APA?" pekik Rachel terkejut.
Feli yang mendengar pekikan Rachel terlonjak kaget. Ia spontan duduk menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Kau mengagetkan ku Rachel" sungutnya
Rachel cepat-cepat merogoh ponselnya dari dalam tasnya. Ia harus merekam ini. Mengabadikan apa yang dikatakan Feli barusan. Akhh...Darren pasti berterimakasih padanya.
"Ulangi apa yang kau katakan tadi Feli" Rachel mengguncang tubuh Feli.
"Aku pusing sekali Rachel"
"Kau mabuk. Tentu saja kau merasa pusing. Katakan lagi apa yang kau katakan tadi Feli. Aku mohon"
"Aku mencintai Darren"
"Ya..sesudah itu?" desak Rachel takut Feli keburu pingsan.
"Darren tidak membalas perasaanku. Apa ia akan menerimaku jika ia tahu ia bukan anak kandung Daddy"
Rachel tersenyum sumringah. Ada untungnya ternyata Feli mabuk. Tapi sejak kapan Feli tahu? Baru saja Rachel ingin bertanya tapi ia mengurungkan niatnya melihat Feli yang sudah mulai kepanasan dan mulai tidak nyaman dengan keadaannya sendiri.
"Baiklah Feli mari kita pulang. Dan jemput cintamu itu" Rachel memapah Feli keluar dari bar. Rachel melajukan mobilnya menuju ke apartment milik Darren.
Begitu sampai didepan apartment milik Darren, Rachel membunyikan belnya. Tak butuh waktu lama Darren datang dan membukakan pintu. Matanya membulat sempurna melihat kondisi Feli yang kacau. Ia mengibaskan tangannya mengusir bau alkhol yang tercium dari tubuh Feli.
"Apa yang terjadi dengannya?" Darren menatap penuh selidik kearah Rachel.
"Tanyakan saja pada dirimu. Kau bertengkar dengannya" tuduh Rachel
"Oh. Rachel aku memdengar suara si brengsek itu. Aku sangat membencinya" Feli mendongak dan matanya menyipit menatap sosok tinggi yang juga sedang menatapnya itu.
"Aku rasa aku terlalu mabuk Rachel. Aku bahkan seperti melihat wajah tampannya yang menyebalkan itu" Darren mendengus mendengar Feli yang mengejek dan memujinya dalam waktu bersamaan.
"Kenapa ia bisa mabuk begini. Dan apa gunanya dirimu kenapa kau membiarkannya mabuk. Kau ingin ratu murka?" Darren mengambil alih Feli dari Rachel yang memapahnya.
"Baiklah aku pergi. Selamat bersenang-senang" Rachel tersenyum penuh arti lalu pergi begitu saja meninggalkan Darren yang masih bingung tidak mengerti kenapa Rachel memberikan ponselnya. Darren mengidikkan bahunya lalu membawa Feli kedalam kamarnya. Ia meletakkan Feli diatas ranjangnya dengan penuh hati-hati. Ia lalu keluar kamarnya untuk menghubungi Mommy nya bahwa Feli menginap di apartmentnya.
Setelah selesai menghubungi Mommy nya, Darren kembali kedalam kamarnya. Betapa terkejutnya ia melihat Feli sedang menanggalkan pakaiannya. Darren terpaku. Wah..ingatkan ia agar tidak membiarkan Feli mabuk lagi. Bisa kacau jika kebetulan ia bersama pria lain.
Darren mendekati Feli yang kini hanya mengenakan pakain dalamnya saja. Ia menarik selimut menutupi tubuh Feli. Ia menunduk mengecup dalam kening Feli.
"Apa kau mabuk karena marah padaku?" gumamnya pelan takut suara membangunkan Feli
"Hmmm...aku membencimu Darren"
Darren terkekeh melihat Feli yang sedang mengigau.
"Maafkan aku..Aku janji tidak akan membuatmu marah lagi" kembali Darren mengecup kening Feli mengusap lembut wajah Feli. Ia beranjak dari tempatnya. Menjauh dari Feli.
Darren mengambil ponsel Rachel yang ia letakkan tadi diatas nakas. Ia membawanya lalu duduk diatas sofa. Ia mengotak atik ponsel Rachel mencari apa yang ingin Rachel dengarkan padanya.
Ia menekan tombol play begitu yakin itu adalah rekaman terbaru yang ada diponsel Rachel.
Apa Darren akan menerimaku jika ia tahu bahwa ia bukan anak kandung Daddy
Darren tersentak. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mendongak menatap Feli yang sedang tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Ia mengulangi rekaman itu berkali-kali untuk meyakinkan bahwa pendengarannya tidak salah. Setelah yakin bahwa pendengarannya tidak salah ia tersenyum hangat. Ia berjalan mendekat kearah Feli. Ia berjongkok. Mengelus wajah mulus Feli.
"Hei anak nakal, sejak kapan kau mengetahuinya, hmm?" gumam Darren menatap teduh wajah Feli yang sedang tertidur
"Kau pasti menderita selama ini"
"Baiklah mari kita selesaikan ini besok" Darren berdiri lalu menaik keatas ranjang menarik Feli kedalam pelukannya. Tak butuh waktu lama Darren pun tertidur dengan pulasnya.
__ADS_1
Feli merasakan pusing dikepalanya ketika ia sadar dan membuka matanya. Ia mengerjap berkali-kali untuk membiasakan cahaya masuk kedalam matanya. Ia belum sadar sepenuhnya. Ia mencium bau yang sangat familiar tapi ia yakin ini bukan hotel atau pun kamarnya.
Ia merasakan beban diatas perutnya. Ia terpekik begitu melihat tangan melingkar diperutnya. Ia mulai panik tatkala ia mengingat terakhir kali ia berada di sebuah club dan meneguk satu gelas minuman yang dia sendiri tidak tahu namanya apa. Ia semakin panik tatkala melihat pakaiannya berserakan dilantai. Apa seseorang sudah berhasil mengambil keperawananku? Keperawanan yang sudah kujaga hanya untuk Darren? Pertanyaan itu yang ada dibenaknya.
Ia mengedarkan pandangannya mengelilingi sudut ruangan. Ia mengernyit. Ia kenal betul ini ruangan siapa. Ia membalikkan tubuhnya dan benar saja wajah tampan Darren terpampang nyata dihadapannya. Feli melihat kedalam selimutnya. Hanya pakaian dalam yang menempel ditubuhnya. Hampir saja ia menjerit histeris kegirangan membayangkan ia sudah melakukannya dengan Darren.
"Singkirkan fikiran kotormu itu Feli" Darren menarik tubuh Feli agar lebih merapat ketubuhnya.
"Tidak ada yang terjadi seperti yang kau inginkan" suara serak Darren sungguh menggelitiki akal sehat Feli. Darren mengecup bahu telanjang Feli. Dan itu sukses membuat seluruh tubuh Feli memanas.
"Kau sudah bangun" cicit Feli malu dengan fikirannya tadi.
"Hmmm.." mata Darren masih tertutup
"Kenapa aku ada disini?"
"Rachel mengantarmu?"
"Lalu kenapa aku telanjang?"
"Kau tidak telanjang. Kau masih mengenakan bra dan celana dalam mu"
"Maksudku, kenapa baju ku ada dilantai?"
"Kau melepasnya"
"Kau yakin aku yang melepasnya?"
"Kau berharap aku yang melepasnya" Darren membuka matanya. Matanya bertemu dengan manik coklat Feli. Feli terdiam. Ia menggigit bibirnya. Tiba-tiba ia merasa gugup. Ia merasa tatapan Darren kepadanya berbeda dari biasanya.
"Kau sedang menggodaku?" Darren menurunkan tatapannya ke bibir Feli. Ia mendekat wajahnya lalu mengecup bibir Feli. Feli tersentak. Tidak menyangka Darren akan mengecup bibirnya. Jantungnya menggila. Ia merasakan ribuan kupu-kupu keluar dari perutnya. Ia melayang hanya dengan kecupan singkat yang diberikan oleh Darren.
Apa aku masih mabuk. batinnya..
Darren menarik leher Feli agar mendekat kearahnya. Ia lalu melumat bibir Feli. Kembali Feli dibuat jantungan oleh Darren. Ini bukan hanya kecupan tapi ciuman. Feli mencubit lengannya. Ia meringis.
Ini nyata. Darren sungguh menciumku. jeritnya dalam hati.
Darren melepaskan ciumannya. Mereka berdua butuh oksigen. Darren mengusap bibir Feli dengan ibu jarinya lalu tersenyum hangat menatap wajah terkejut Feli.
"Aku mencubit lenganku. Aku merasakan kesakitan tapi tetap saja sulit buatku percaya ini nyata Darren" gumamnya pelan. Darren spontan tertawa mendengar penuturan Feli yang terdengar polos itu.
"Kau ingin aku mencium mu lagi untuk meyakinkan mu bahwa ini nyata?" goda Darren dengan senyum nakal di wajahnya.
Feli mengangguk dan itu membuat Darren tergelak.
"Sepertinya kau sangat menyukai ciumanku sayang" Darren kembali mendaratkan ciumannya di bibir Feli. Feli menutup matanya. Meresapi ciuman yang diberikan Darren. Feli tidak ahli dalam berciuman karna memang ia tidak pernah berciuman. Darren adalah pria pertamanya. Feli memberanikan diri membuka mulutnya. Darren tersenyum ditengah ciumannya.
"Apa kau sudah percaya ini nyata?" tanya nya lembut begitu ciuman mereka terlepas. Feli menganggukkan kepalanya lalu memeluk Darren untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Aku mencintaimu"
Feli tersentak. Ia melepaskan pelukannya menatap lekat mata Darren mencari arti dari ucapannya.
"Aku mencintaimu seperti pria mencintai wanita" ulang Darren. Feli menangis haru.
"Aku sungguh mencintaimu Felicia Breyonna"
T.B.C
__ADS_1