Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
69. McKenzie


__ADS_3

Darren dengan perasaan berkecamuk dan penuh amarah meninggalkan kamar, lalu mengendarai mobilnya seperti orang kesurupan. Darren melampiaskan kemarahannya dengan menguji adrenalinya di tengah jalan raya. Umpatan dan makian para pengendara laim tidak ia hiraukan, ia seakan tuli dengan keributan di sekitarnya yang tidak lain disebabkan olehnya.


Ia masih tidak habis fikir, bagaimana bisa Feli mengucapkan kata laknat semudah Darren melucuti pakaian Feli saat mereka berada di atas ranjang. Hatinya kembali memanas dan fikirannya kacau begitu mengingat kembali ucapan Feli. Tapi bayangan Feli yang selalu menangis di tengan malah kembali melintas di fikirannya.


"Argghhh..." teriak Darren segera memutar haluan kembali menuju ke hotel tempat ia dan Feli menginap.


"Bodoh Darren..bodoh.. Felimu hanya tidak tahu bagaimana untuk menyuarakan perasaannya." Darren memaki dirinya sendiri.


"Bagaimana mungkin Feli akan meninggalkanku, dia bahkan rela mengorbankan nyawanya demiku, Oh Tuhan apa yang sedang kufikirkan tadi, aku meninggikan suaraku bahkan aku membanting pintu di depannya" Darren mengacak rambutnya frustasi, membanting mobil setir dengan sebelah tangannya, bagaimana bisa ia lupa bahwa Feli beberapa kali mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya. Jika bagi Darren, Feli adalah alasan ia untuk hidup maka bagi Feli, Darren adalah kehidupannya. Feli mencintainya sebesar ia mencintai Feli. Tidak seharusnya ia terpancing emosi, bukankah cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikuti di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalan bergandengan bukan saling melepaskan. Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan. Dan hal itu yang seharusnya tidak dilupakan oleh Darren. Sekarang ia yakin istri tercintanya itu sedang menangis.


Lima belas menit kemudian akhirnya ia sampai di hotel. Ia segera berlari menuju kamar mereka. Darren bernafas lega begitu melihat Feli sedang mengemasi pakaiannya, tapi detik berikutnya dahinya berkerut begitu melihat pakaian-pakaian tersebut dimasukkan ke dalam koper. Ia melangkah perlahan mendekati Feli, berdiri di hadapan Feli tapi seakan Feli tidak melihatnya, Feli mengabaikannya dan terlihat sengaja menyibukkan diri dengan aktifitasnya.


"Kenapa kau mengemasi pakaian kita, sayang?" Darren melembutkan suaranya, sungguh ia tidak ingin membuat Feli takut.


"Aku ingin pulang!"


Darahnya kembali berdesir tatkala Feli mengatakan ingin pulang. Kata pulang terlalu ambigu di telinganya, Darren bertanya dalam hati Feli ingin pulang kemana. Apa arti pulang itu ia ingin kembali ke rumah Mommy dan Daddy-nya atau pulang ke rumah seharusnya ia berada, bersama Darren.


"Mommy dan Daddy sedang berada di Italy"


Seketika ia menghembuskan nafas lega, kehadiran mommy dan daddy-nya setidaknya akan dapat mengurangi kesedihan Feli. Dan ya ia juga butuh daddy-nya untuk di ajak bertengkar, entah kenapa bertengkar dengan Felix seakan memberikan imun baginya. Beradu argumen dengan Felix dapat memberikan kelegaan tersendiri di hatinya.


🧁🧁🧁


"Mom" Feli segera berlari ke dalam pelukan mommy-nya, memeluknya dengan eratnya seakan ingin membagi beban yang ia miliki. Mika_mommy nya juga membalas pelukannya tidak kalah erat seakan ingin menarik semua beban dan kesedihan yang dialami oleh putrinya. Ibu mana pun tidak ada yang ingin melihat anaknya bersedih, semua ibu hanya ingin kebahagiaan yang menyertai hidup anaknya. Mika menahan agar air matanya tidak sampai keluar karena ia juga melihat Feli sedang berusaha menahan tangisnya. Sepertinya Feli tidak ingin menunjukkan kesedihannya di hadapan kedua orang tuanya. Mika mengendurkan pelukannya lalu mencium hangat kening sang putri.


"Bagaimana khabarmu, sayang"

__ADS_1


"Aku masih bernafas, Mom" jawabnya datar dengan senyum paksa di wajahnya.


"Aku merindukan aromamu, Mom" kembali Feli memeluk mommy-nya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher mommy-nya.


"Apa kau tidak merindukan Daddymu ini, sayang" terdengar suara Felix dari belakang punggungnya. Feli segera melepaskan pelukannya dan berbalik untuk melihat daddy-nya. Felix tersenyum hangat tatkala mata mereka beradu. Feli segera menghambur ke dalam pelukan dadd-nya, membenamkan wajahnya di dada bidang milik daddy-nya yang selalu memberikan kenyamanan dan kehangatan baginya.


"Tentu saja aku merindukanmu, aku bahkan tidak bisa menggambarkan sebesar aku merindukanmu, Dad"


"Daddy juga merindukan teriakanmu, honey"


"Tapi aku sudah tidak pernah berteriak lagi, Dad, aku takut teriakanku membuat nonna jantungan" rengeknya.


"Tapi aku yakin di atas ranjang kau pasti masih berteriak, meneriakkan nama Darren."


Feli segera melepaskan pelukannya, memutar tubuhnya untuk melihat wajah yang selalu mengeluarkan celetukan diluar dugaan itu.


"Yes, i'm" Mike segera merentangkan kedua tangannya agar Feli segera memeluknya. Dengan senyum mengembang di wajahnya, Feli segera melangkah ke arah Mike dan langsung memeluk adik kesayangannya itu.


"Aku tidak menyangka aku sangat merindukanmu" Mike mengecup sayang puncak kepala sang kakak.


"Menangislah jika kau ingin menangis, jangan menahannya karena kau terlihat akan semakin menyedihkan" Mike mengangkat tangannya mengusap lembut rambut kakak perempuannya itu. Feli mengangguk dalam pelukannya dan seketika menangis. Feli tidak menyangka adik menyebalkannya itu bisa bersikap bijak seperti itu.


"Jangan mengeluarkan air hidungmu di sana, wanitaku tidak akan menyukainya."


Feli menghentikan tangisnya begitu mendengar ucapan adiknya. Ia mendongak, menatap Mike dengan kesal.


"Kau fikir aku akan percaya, tidak akan ada wanita yang menyukai pria menyebalkan sepertimu.

__ADS_1


"Ehm.." terdengar deheman dari seseorang yang berada di samping Mike. Karena tubuh Mike yang lumayan tinggi sehingga menyembunyikan tubuh mungil yang berada di dekatnya. Mike menggeser sedikit tubuhnya agar Feli dapat melihatnya. Feli mengernyit begitu melihat seorang gadis yang sangat manis, mengenakan kaca mata berbingkai dengan rambut dikuncir kuda sedang tersenyum malu-malu ke arahnya. Ini pertama kalinya Feli melihat gadis tersebut. Ia menoleh ke arah Mike lalu ke arah sang gadis secara bergantian.


"Wanitaku" Mike merangkul gadis yang diklaimnya sebagai miliknya itu agar merapat dengannya.


"Astaga, aku sungguh tidak percaya ini" pekik Feli kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seakan melupakan kesedihannya, Feli menarik gadis itu dari rangkulan Mike. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu, menatapnya penuh dengan kagum membuat sang gadis jadi salah tingkah. Kedua tangan Feli terulur menangkup wajah gadis tersebut.


"Wuuahhh, apa kau sungguh kekasih dari pria menyebalkan ini?" tunjuk Feli ke arah Mike. Sang gadis hanya tersenyum lalu menundukkan kepalanya.


"Astaga..kau manis dan cantik begini kenapa kau harus menjadi kekasihnya"


"Kau melukaiku, Feli"


"Hah, kau lihat itu, dia bahkan tidak punya sopan santun, sayang. Dia menyebut namaku padahal aku jauh lebih tua darinya."


"Dulu kau yang memintanya, Feli, kau tidak ingin dipanggil kakak karena tidak ingin terlihat tua, lalu sekarang kenapa kau menyalahkanku?" protes Mike tidak ingin citranya rusak di hadapan kekasihnya.


"Gadis yang malang" gumam Feli dengan wajah menyesal.


"Feli..." erang Mike tidak suka.


"Aku khawatir dia akan bernasib sama dengan mommy" Feli mengabaikan erangan Mike.


"Memangnya bagaimana nasib mommy-mu, sayang. Bukankah daddy-mu ini sangat membahagiakan mommy-mu" Felix menimpali.


"Ya Dad, kau memang sangat membahagiakannya tapi kau juga selalu mengurung mommy di dalam kamar. Entah apa yang kalian lakukan seharian di dalam kamar."


"Tentu saja berbuat mesum" celetukan Mike membuat Darren tergelak. Dari tadi ia hanya diam menyaksikan McKenzie itu melepaskan kerinduan masing-masing. Ia merasa lega Felinya mulai terlihat melupakan kesedihannya. Dan semoga saja Feli juga melupakan niatnya untuk bercerai.

__ADS_1


__ADS_2