
"Feli....Feli...aku mohon sayang, bertahanlah" Darren terus menggenggam tangan Feli yang sudah berada di atas brankar pasien. Beberapa perawat terlihat sedang mendorong brankar tersebut.
"Lucas, periksa semua CCTV, kenapa Feli bisa berada di tangga darurat" perintah Darren tanpa mengalihkan pandangannya dari Feli.
"Kami akan segera menangani pasien, silahkan kalian tunggu di sini" ucap sang Dokter yang baru saja datang dan langsung masuk ke dalam ruangan dimana Feli sudah berada.
"Kau baik-baik saja?" tanya Laura seraya mendekat ke arah Darren. Darren menggeleng cepat.
"Aku tidak akan baik-baik saja sebelum aku memastikan istriku baik-baik saja"
"Tenanglah, Dokter sedang mengusahakan yang terbaik" Laura mengusap lengan Darren memberi dukungan.
"Apa Feli dan bayiku akan baik-baik saja, Aunty?"
"Kita berdoa semoga istri dan bayimu baik-baik saja"
"Kenapa Dokternya lama sekali?" Darren mondar mandir tidak menentu. Tidak berapa lama terdengar suara pintu terbuka. Darren dan Laura segera mendekat. Darren membatu begitu melihat sang Dokter dan sesuatu yang ada di kedua tangannya.
"Aa...aaa..apa itu bayiku?" suara Darren bergetar hebat.
"Maafkan kami Mr. Maxston" ucap sang Dokter penuh sesal.
"Istri Anda mengalami keguguran. Benturan yang dialaminya cukup keras. Dan ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan mengenai kesehatan istri Anda, silahkan kau temui aku di ruanganku. Dan aku turut berduka atas kehilangan bayi kalian" Dokter menyerahkan bayi yang masih seukuran wortel yang panjangnya kira-kira 27 cm tersebut.
Tangan Darren bergetar hebat menerima bayinya yang sudah tidak bernyawa lagi. Darren menatap bayi kecilnya itu, alis dan kelopak matanya sudah mulai terbentuk. Seketika Darren meluruh ke lantai. Mendekap bayi mungil sebesar wortel itu ke dadanya.
"Maafkan Daddy, sayang. Maafkan Daddy" tangis Darren pecah. Firasatnya beberapa jam lalu berubah menjadi nyata. Ia kehilangan bayinya dengan cara yang tidak pernah ia duga sama sekali.
πππ
Darren duduk di sisi ranjang sambil menggenggam erat tangan Feli, memandangi wajah Feli yang tidak sadarkan diri. Melihat Feli kembali terbaring tak sadarkan diri mengingatkan Darren akan kejadian beberapa tahun lalu. Feli terbaring koma dan hampir saja meninggalkannya. Oh mengingat itu membuat perasaan Darren semakin kacau.
__ADS_1
Ini sudah beberapa jam sejak Feli dilarikan ke rumah sakit setelah insiden ia jatuh berguling dari atas tangga, tapi Feli masih terlihat enggan untuk membuka matanya.
Tapi bagaimana jika Feli sudah sadar? Apa yang harus kukatakan padanya dan bagaimana aku harus menghadapinya?
"Darren"
Darren mendengar seseorang memanggil namanya tapi ia tidak berniat untuk menoleh atau pun menjawab panggilan seseorang itu. Fokusnya hanya Feli, ia hanya ingin Feli secepatnya sadar, jika tidak ia bisa gila.
"Darren" kembali nonna memanggilnya. Mengusap bahunya dengan lembut.
"Sebaiknya kau mengganti pakaianmu dulu, aku tidak ingin Feli histeris begitu melihatmu berlumuran darah."
Darren menghela nafasnya kasar, melihat bajunya yang memang penuh dengan darah Feli. Nafasnya kembali tercekat, dadanya sesak begitu melihat darah yang masih menempel di pakaian dan bahkan kedua tangannya. Feli kehilangan bayinya. Bayi mereka. Bayi yang sangat dinantikan oleh mereka berdua.
"Akhhh.." Darren mengerang frustasi. Matanya sudah berlinang akan air mata.
"Apa yang harus kukatakan padanya Grandma?"
"Feli pasti kuat, kau juga bersabarlah. Jangan menunjukkan wajah sedihmu kepada Feli, kau harus mampu menjadi penguatnya, Darren."
"Tidak Grandma, tidak. Feli pasti akan menggila. Kehadiranku tidak akan memberi pengaruh apa pun. Aku mengenal betul bagaimana dirinya. Ia sudah sangat menantikan kehadiran bayi kami."
"Sebaiknya kau bersihkan dirimu dulu. Jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi."
"Apanya yang belum terjadi, Grandma? Bukankah tadi kau juga mendengar apa yang dikatakan Dokter. Dokter itu mengatakan bahwa Feli.."
"Arggghhhh...ini benar-benar membuatku gila" Darren segera beranjak dari tempatnya menuju ke kamar mandi. Ia segera melayangkan tinjunya ke dinding untuk meluapkan amarahnya. Ketakutan dan amarahnya bercampur jadi satu. Sungguh ia menyesal telah membawa Feli untuk tinggal bersama keluarganya. Ia yakin sesuatu telah terjadi hingga menyebabkan Feli jatuh dari tangga. Hal yang paling ia takutkan bagaimana ia akan menyampaikan pada Feli bahwa Feli sudah kehilangan bayinya dan tidak cukup hanya sampai di situ, bahkan Dokter mengatakan ia akan sulit untuk mengandung lagi karena rahimnya yang bermasalah akibat benturan yang terjadi. Oh itu akan menjadi mimpi buruk bagi setiap seorang wanita. Dan Darren sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh Feli, sungguh Darren tidak siap untuk menghadapi itu. Limpahan cinta, kasih dan sayang yang diberikan Darren tidak akan mampu mengobati luka yang akan Feli alami nanti. Ayolah, kelahiran seorang bayi dari rahimmu menunjukkan kesempurnaan dirimu sebagai seorang wanita. Walaupun itu hanya pendapat sebagian orang awam tapi Darren yakin Feli termasuk dalam golongan itu.
Darren mengambil ponselnya, menekan salah satu nomer dalam kontaknya. Seorang wanita yang sangat ia butuhkan saat ini. Seorang yang selalu mampu menenangkannya dalam setiap gundahnya. Wanita yang memberikannya kehangatan dan kasih sayang yang berlimpah. Dan ia yakin wanita ini juga pasti akan sangat terluka begitu mendengar khabar yang akan ia sampaikan. Darren meringis begitu menyadari betapa banyak orang yang akan terluka akan berita ini.
"Honey" terdengar sahutan dari seberang telepon.
__ADS_1
"Mom" suara Darren tercekat.
"Ya, honey"
"Mom"
"Kau baik-baik saja?" terdengar nada khawatir dalam suara mommy-nya, Mika.
Darren hanya menggelengkan kepalanya
"Darren, kau masih di sana?" kembali terdengar suara Mika, karena ia memang tidak bisa melihat gelengan kepala Darren.
"Apa semuanya baik-baik saja?"
"Tidak Mom, semua sedang tidak baik-baik saja" suara Darren terdengar serak.
"Apa yang terjadi pada Feli?" tanya mommy-nya langsung karena ia tahu hanya Feli yang bisa membuat seorang Darren rapuh.
"Feli kehilangan bayinya, Mom, kami kehilangan bayi kami. Feli mengalami keguguran" kembali Darren merasakan sesak di dadanya begitu mengucapkan kenyataan pahit itu.
Hening, tidak ada sahutan dari mommy-nya. Ia tahu mommy-nya pasti terkejut mendengar berita yang baru ia sampaikan.
"Apa yang harus kulakukan, Mom?" dan akhirnya air mata yang ia tahan jatuh sudah membasahi wajahnya.
"Bagiku ini cukup menyakitkan Mom, lalu bagaimana dengan Feli? Ia sudah menunggu lama untuk bisa mengandung, tapi ia harus kehilangan bayinya disaat ia bahkan belum melihat wajahnya seperti apa. Dan kau tahu Mom, Dokter itu bahkan mengatakan hal gila yang membuat aku hampir ingin membunuhnya."
"Apa Dokter itu mengatakan Feli akan sulit mengandung?" tebak mommy-nya dengan suara bergetar.
"Mom, apa yang harus kulakukan?"
"Darren, dengarkan Mommy. Tenangkan dirimu dan jangan tunjukkan wajah sedih dan ketakutanmu di hadapan Feli. Tunjukkan padanya bahwa semuanya baik-baik saja. Hanya kau yang mampu menguatkannya Darren, dan sebaiknya apa yang dikatakan Dokter untuk saat ini jangan kau beri tahu padanya. Mommy yakin ia pasti mengerti dan bisa menerima semua yang terjadi. Mungkin butuh waktu, tapi Mommy minta kau sabar menghadapinya Darren, karena disaat seperti ini perasaannya akan lebih sensitif. Ini adalah ujian untukmu dan juga Feli, Mommy berdoa semoga kalian berdua mampu menghadapinya. Mommy turut berduka atas kehilangan bayimu, Mommy tahu kau juga sangat terpukul akan musibah ini, tapi itu sudah kehendak yang Maha Kuasa, tidak akan ada yang mampu bisa mengubahnya. Bersabarlah, sayang."
__ADS_1