
"Bagaimana hasilnya?" tanya nonna begitu melihat Darren dan Feli yang baru saja datang.
"Apa semuanya baik-baik saja?"
"Tapi melihat wajah bahagia kalian berdua, aku yakin semuanya baik-baik saja" lanjut nonna dengan senyum bahagia di wajahnya. Tidak ia pungkiri keberadaan Feli dan Darren di dekatnya memberi warna baru dalam hidupnya. Darren yang lembut dan penuh kasih sayang mampu mengobati kerinduannya terhadap putranya, daddy biologis Darren. Ditambah dengan kehadiran Feli yang selalu ceria membuat ia lebih bersemangat dan merasa 10 tahun lebih muda dari usianya.
"Ya nonna, cicitmu dan juga aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, hanya saja Dokter tadi mengatakan hal yang mungkin saja untuk aku patuhi" erang Feli dengan wajah yang terlihat frustasi membuat nonna mengernyit bingung.
"Feli, sayang.." Darren yang merasakan Feli akan melanjutkan tindakan bodohnya dengan kepolosan yang hakiki segera memberi kepada istri tercintanya itu.
"Apa yang dikatakan Dokter, sehingga sulit bagimu untuk menurutinya, sayang?" tanya nonna penasaran.
"Dokter memintaku dan juga Darren mengurangi aktivitas malam kami" ucap Feli lempeng, Darren hanya bisa meringis ketika ia tak mampu mencegah mulut manis istrinya itu untuk tetap diam.
Nonna yang mendengarnya terdiam sesaat sebelum akhirnya tergelak, berbeda dengan Laura yang juga berada di sana yang hanya diam dari tadi, akhirnya tersedak dan menatap tidak percaya kepada Feli.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Feli seraya mendekat dan menepuk-nepuk punggung Laura.
"Bukankah kau terlalu bergairah?" sindir Laura seraya menjauhkan tangan Feli dari punggungnya.
"Ya, aku memang selalu dibuat bergairah oleh keponakan tampanmu itu" Feli membenarkan tanpa merasa tersindir sama sekali, Laura memutar bola matanya jengah seraya beranjak dari tempatnya.
"Noona, kenapa putrimu tidak menyukaiku?" Feli menatap Noona dengan wajah memelas seperti anak kecil yang membuat nonna tergelak begitu juga Darren. Darren membelai rambutnya lembut.
"Aunty bukannya tidak menyukaimu, sayang, hanya saja dia belum terbiasa dengan kehadiran kita" hibur Darren.
"Yang dikatakan Darren benar, dia hanya belum terbiasa denganmu dan coba katakan Feli, kau lucu begini siapa yang tidak menyukainya" Nonna membenarkan ucapan Darren.
"Baiklah jika seperti itu, aku akan berusaha mengambil hatinya agar ia segera menyukaiku" senyum Feli mengembang.
"Bawa Feli istirahat Darren, sepertinya ia sudah lelah" perintah nonna yang langsung diangguki Darren.
"Apa kau ingin kugendong atau berjalan sendiri, honey?"
__ADS_1
"Kau juga pasti lelah, aku berjalan sendiri saja dan asal kau tahu sayang, istrimu ini sudah tidak seringan dulu lagi" Feli mengusap perutnya yang sudah tidak rata lagi.
Daren mengangkat sebelah alisnya lalu tanpa Feli duga ia langsung mengangkat Feli ke dalam gendongannya. Feli terpekik kaget tapi tetap melingkarkan kedua tanggan di belakang leher Darren.
"Kau lihat sayang, aku masih mampu menggendongmu bahkan jika bobotmu bertambah berkali lipat sekali pun jadi aku mohon jangan pedulikan berat badanmu yang semakin seksi ini, karena kesehatanmu dan bayi kita yang paling penting" Darren mengerling.
"Oh Darren, kau manis sekali" satu kecupan mendarat di wajah Darren.
"Ckck..aku mengharapkan lebih, honey"
"Darren, Grandma meminta agar kau membawa istrimu istirahat, bukan menggoda atau merayunya dan ingat apa yang dikatakan oleh Doktet tadi. Kurangi hasrat dan kegiatan olah raga menyengkan itu" Feli dan Darren tergelak mendengar teguran sang nonna.
"Baiklah Grandma, kau juga istirahatlah. Kami akan menemuimu pas jam makan malam nanti" pamit Darren lalu melangkah pergi.
"Sepertinya aku harus membiasakan untuk berpuasa."
"Kau tidak harus berpuasa Darren" Feli tersenyum penuh arti. Darren mengernyit bingung.
"Jangan menggodaku, honey. Kau tahu aku lemah akan pesonamu" erangnya. Melihat senyuman dan tatapan nakal Feli saja sudah membuat hasrat berpacu.
"Mencium aromamu saja sudah membuatku menggila. Tapi aku harus menahannya demi anak kita. Dan sayang, aku tetap akan memuaskanmu" bisik Feli di telinga Darren dengan suara yang sengaja dibuat menggoda.
"Feliiii...jangan menyiksaku, aku mohon" kembali Darren hanya mengerang tak berdaya. Jika saja ia menuruti hasrat setannya mungki ia sudah beraksi di tempat mereka berdiri sekarang.
"Aku tidak akan menyiksamu, sayang. Aku masih punya ini untuk menyenangkanmu" Feli mengerling nakal sambil mengankat sebelah tangannya di hadapan Darren, seketika Darren melotot lalu detik berikutnya tertawa.
"Ooohhh...kau sudah mulai nakal dan sialnya aku menyukainya" Darren mempercepat langkahnya. Felinya memang selalu di luar dugaan dan Feli memang selalu mengerti dirinya.
ππππ
Di tempat dan waktu yang sama tapi di ruangan yang berbeda terlihat seorang wanita cantik sedang duduk di atas pangkuan seorang pria. Pria itu adalah Bernard Lincoln.
"Kapan kita akan mengakhiri semua ini?" sang wanita memainkan jari jemarinya di atas dada pria tua itu.
__ADS_1
"Kita bahkan belum memulainya" tak kalah dengan sang wanita, Bernard juga membelai lembut wajah sang wanita. Menatapnya dengan tatapan mendamba.
"Lalu katakan, kapan kau akan memulainya?" rengek wanita tersebut dengan manja.
"Bersabarlah, sebentar lagi kita akan menghancurkan keluarga ini dan menikmati semua kekayaannya."
"Bagaimana aku bisa bersabar, kau terlihat sangat menikmati permainanmu dengan dua wanita yang membuatku sangat muak."
" Ckkckk..apa kau sedang cemburu?"
"Tentu saja, aku tidak ingin kau merasa nyaman dengan kehadiran dan sentuhan mereka."
"Aku hanya bersenang-senang, sayang"
"Baiklah..baiklah..besok aku akan memulai aksiku. Kau tunggu dan lihatlah hasilnya." ucap Bernard sambil tersenyum sinis.
"Aku akan membuat mereka kehilangan keturunan Maxston."
"Darren akan lengah melihat kondisi instrinya yang terpuruk dan kita juga harus memanfaatkan keadaan itu."
"Oh..Feli yang malang" sang wanita juga ikut tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan istrimu dan wanita tua itu?"
"Wanita tua itu hanya tinggal kau beri racun dia akan mati dengan sendirinya, dan masalah Laura aku hanya tinggal membuangnya."
"Kenapa kau tidak menghabisinya juga? Apa kau mulai tertarik dengannya?" ucap wanita itu dengan raut wajah tidak suka.
" Ayolah sayang, aku masih membutuhkannya sebelum semua perusahaannya beralih padaku"
"Tapi apa rencana kita akan berjalan mulus, Darren bukanlah lawan yang mudah untuk ditangani."
Bernard mendengus, seketika moodnya rusak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kekasihnya itu. Dan sialnya apa yang dikatakan kekasihnya itu adalah benar adanya. Darren adalah lawan yang sangat tangguh. Dia terlihat santai dan tenang tapi tindakannya pasti selalu di luar dugaan. Tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang difikirkan dan sedang direncanakan oleh Darren. Tapi di samping itu semua, Darren juga tidak bisa menjaga istrinya 24 jam dan poin itu yang akan dimanfaatkan oleh Bernard.
__ADS_1
T.B.C