
Saat ini Darren sedang menatap lekat wajah kekasihnya itu yang sedang mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh diwajah Darren. Beberapa saat yang lalu Mommy, Daddy nya beserta Mike telah pulang kembali ke rumahnya.
"Ckkk..." Feli berdecak
"Kita sudah hidup bersama hampir 20 tahun Darren, kau masih saja memandang ku dengan tatapan memuja seperti itu" Feli menghentikan tangannya sebentar dari kegiatannya mencukur sebelum melanjutkan. Ia takut melukai wajah tampan Darren
"Aku tidak akan pernah bosan memandangi wajahmu" Ucap Darren serius
"Kenapa kau cantik sekali" puji nya penuh kekaguman
"Aku yakin kau adalah bidadari yang terdampar ke bumi" Darren melanjutkan kekagumannya.
Feli terkekeh mendengar rayuan kekasihnya itu
"Ya, aku memang bidadari hatimu" Ucap Feli merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Kenapa wajah mu jadi mengecil seperti ini? Dan kapan terakhir kali kau bercukur? Kau sangat kacau sekali" Feli menggeleng-gelengkan kepalanya.
Darren menghentikan tangan Feli diwajahnya dan menggenggamnya
"Melihat kau terbaring disini memangnya kau fikir aku masih bisa makan dengan tenang, huh? Bahkan indera perasa ku seolah mati. Lidah ku tidak bisa membedakan rasa manis, asam, asin, pedas, gurih, nikmat dan sebagainya. Yang aku tahu hanya pahit" Darren membawa tangan Feli ke bibirnya. Mengecup punggung tangan kekasihnya itu. Lalu ia menatap wajah kekasihnya itu dengan lembut
"Dan untuk pertanyaan mu yang kedua, aku terakhir kali bercukur mungkin sehari sebelum kecelakaan itu" Rahangnya mengeras setiap mengingat kecelakaan itu. Ia masih sangat menyesalkan kematian Noura dalam kecelakaan itu.
"Akh...aku baru ingat. Aku ingin menanyakan ini dari tadi. Waktu aku mendorong mu apa kau baik-baik saja?"
Darren tersenyum getir mendengar pertanyaan Feli. Bagaimana bisa Feli masih mempertanyakan keadaan nya saat diri nya sendiri sudah diambang kematian.
"Berkat dirimu tubuhku baik-baik saja"
"Syukur lah kalau begitu"
Mendengar ucapan Feli, Darren menghela dafas dalam
"Mungkin tubuhku memang baik-baik saja tapi tidak dengan jiwa ku Feli. Jiwa ku ikut melayang begitu melihat tubuh kecil mu ini dihantam mobil sialan itu" Suara Darren tercekat. Rahangnya mengeras menahan amarahnya.
"Sayang, berjanjilah kepadaku bahwa kau tidak akan pernah melakukan hal yang membahayakan diri mu lagi" Darren meminta dan menatap Feli dengan lembut
Sungguh Darren tidak menyukai melihat Feli membahayakan dirinya sendiri terlebih untuk menyelamatkannya. Ia sungguh tidak sangggup melihat kekasihnya itu terbaring lemah. Feli terlalu banyak berkorban padanya. Bukan kah seharusnya yang berkorban adalah pria bukan wanita.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi kedepannya Darren, jika aku melihat mu dalam bahaya aku mungkin tidak akan bisa tinggal diam" ucapnya jujur
"Sayang.." Darren tidak suka mendengar jawaban Feli
"Kau tahu aku mencintaimu, aku tidak mungkin diam saja"
"Aku tahu itu. Tapi aku jauh mencintaimu. Cinta yang kau punya mungkin tidak sebanding dengan cinta yang ku punya untuk mu, sayang"
"Tidak! Cintaku lebih besar dari cinta mu Darren" Sungut Feli tidak terima
Darren terkekeh seraya menangkup wajah Feli lalu menggesek-gesekkan hidung mereka
"Baiklah..baiklah...cinta mu lebih besar Nona McKenzie" Darren memilih mengalah karena tidak akan ada habis nya berdebat dengan kekasihnya itu, karena pada kesimpulan akhirnya Feli yang akan menang
"Tapi kau sungguh membuat ku hampir gila Feli" Darren menyatukan kening mereka
"Sungguh aku tidak berdaya melihat kondisi mu itu sayang"
"Aku berjanji tidak akan meninggalkan mu dan tidak akan membuat mu ketakutan lagi" Feli mengangkat tangannya menyentuh wajah kekasihnya itu.
"Can I kiss?"
Feli menahan senyumannya
Tentu saja, aku sangat merindukan ciumanmu. Dan aku bertanya-tanya kenapa kau tidak melakukannya sedari tadi. Dan sekarang kenapa juga kau harus bertanya. Tidak kah kau bisa langsung mencium ku saja, jerit Feli dalam hati
"Katakan sudah berapa lama aku tidur?"
Darren mengernyit karna bukan itu jawaban yang diharapkannya
"Hampir 2 bulan" Darren tetap menjawab
"Berarti hampir 2 bulan juga aku belum menyikat gigi ku Darren" cicitnya seraya menggigit bibir bawahnya.
Darren tergelak mendengar penuturan kekasihnya itu.
"I miss your lips" Darren menyatukan bibir mereka. Memagut dalam bibir Feli. Seperti menemukan oase di tengah gurun pasir, Darren melepaskan dahaga nya melalui ciuman Feli.
Feli menepuk-nepuk dada Darren, Mengerti arti tepukan Feli, Darren dengan berat hati melepaskan ciumannya. Kekasihnya itu sudah hampir kehabisan nafasnya.
"Maafkan aku" Darren terkekeh. Feli menggelengkan kepalanya
"Aku juga merindukannya" aku nya jujur
Darren mengusap bibir Feli dengan ibu jarinya. Wah...ia saja dibuat terkejut akibat ulah yang dibuatnya sendiri. Bibir Feli benar-benar membengkak. Darren kembali mendekatkan wajah mereka. Cup.Cup.Cup.
"My vitamin kiss" ucapnya yang membuat wajah Feli merona
¤¤¤¤¤¤¤
__ADS_1
"Kau mau membawaku kemana?" Tanya Feli begitu mereka ada di dalam sebuah jet pribadi. Feli tidak tahu bagaimana bisa Darren mendapatkan jet pribadi tersebut. Walaupun ia yakin Darren mampu membelinya tapi ia tahu Darren tidak akan melakukannya.
Darren benar-benar sudah tidak waras, bagaimana bisa ia membawa kabur seorang pasien dengan menggendongnya ke atap rumah sakit. Dan betapa terkejut nya Feli melihat sebuah jet pribadi sudah setia menunggui mereka
"Rahasia" Darren terkekeh
"Aku ini masih pasien jika kau lupa Darren"
"Tidak masalah, kau bersama ku" ucap Darren penuh percaya diri
"Apa maksudnya?" Feli mengernyit
"Aku adalah obat mu. Aku adalah obat paling mujarab diantar sekian banyak obat. Kau akan cepat sembuh jika bersama ku"
Feli melebarkan matanya tidak percay atas kepercayaan diri kekasihnya itu
Feli berdecak
"Percaya diri sekali kau Maxston. Dan sialnya yang kau katakan memang benar. Aku hanya membutuhkanmu" Feli membenamkan wajah ke dalam pelukan Darren menghirup aroma tubuh kekasihnya itu
"Lalu katakan kita akan kemana?" Feli mendongak kan kepalanya
"Venice" Darren mengerling
"Oh..benarkah?" Wajah Feli sumringah. Darren mengangguk
"Kau bahagia?" tanya nya.
"Sangat"
"Kita harus mengulangi ciuman legenda itu Darren"
"Seperti yang kau inginkan, Babe"
"Oh Darren aku sangat mencintaimu"
Akhirnya keinginan Feli untuk berciuman sepanjang sungai jembatan Desah saat matahari terbenam bertepatan dengan lonceng berbunyi tercapai juga.
Saat ini mereka sedang makan malam romantis disebuah hotel bintang lima disuguhi dengan pemandangan yang indah di kota Venice dan musik romantis
"Kau menyukai nya?" Tanya Darren lembut
"Aku tidak tahu kau seromantis ini" Feli mengedarkan pandangannya
"Dan melihat hanya ada kita berdua disini aku yakin kau menyewa hotel ini" Feli menatap Darren. Darren tersenyum seraya mengangguk
"Dan aku mempunyai sesuatu buatmu" Darren beranjak dari kursinya
Feli mendengus begitu Darren berjalan kearah panggung dan duduk di depan sebuah piano.
"Apa sekarang ia ingin bernyanyi untuk ku" gumam Feli pada diri sendiri
"Sayang, dengarkan ini baik-baik dan setelahnya aku akan menuntut jawaban mu sayang" Darren mulai menekan tuts piano yang ada dihadapannya. Jantung Feli berdegup kencang. Firasat nya mengatakan ini akan membuatnya terkejut
"Ehmm" Darren berdehem sebelum mulai bernyanyi
"Sayang kau dengar suara ku yang bergetar ini? Percayalah sayang aku sangat gugup diatas sini jadi jika suara ku tidak enak didengar aku tetap menantikan sambutanmu yang luar biasa sayang" Darren terkekeh sedangkan Feli sudah tidak bisa lagi mengkondisikan jantung nya yang berdebar. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Darren tapi air matanya tanpa permisi sudah jatuh begitu saja
Another day without your smile
Satu hari lagi tanpa senyummu
Another day just passes by
Satu hari lagi berlalu begitu saja
But now I know how much it means
Tapi kini kutahu betapa berartinya
For you to stay right here with me
Saat kau tinggal di sini bersamaku
The time we spent apart
Waktu yang kita jalani dengan terpisah
will make our love grow stronger
Akan membuat cinta kita bertambah kuat
But it hurts so bad I can't take it any longer
Tapi sungguh sakit rasanya hingga aku tak tahan lagi
I wanna grow old with you
Aku ingin tua bersamamu
__ADS_1
I wanna die lying in your arms
Aku ingin mati dalam dekapmu
I wanna grow old with you
Aku ingin tua bersamamu
I wanna be looking in your eyes
Aku ingin menatap matamu
I wanna be there for you, sharing everything you do
Aku ingin ada untukmu, berbagi apa saja yang kau lakukan
I wanna grow old with you
Aku ingin tua bersamamu
A thousand miles between us now
Ribuan mil jarak di antara kita
It causes me to wonder how
Ini membuatku bertanya bagaimana bisa
Our love tonight remains so strong
Cinta kita malam ini tetap begitu kuat
It makes our risk right all along
Jarak ini juga bahayakan hubungan kita
Things can come and go
Hal-hal bisa datang dan pergi
I know but
Aku tahu tapi
Baby I believe
Kasih, aku percaya
Something's burning strong between us
Ada yang membara begitu kuat di antara kita
Makes it clear to me
Membuatnya jelas bagiku
Begitu Darren selesai menyanyikan lagu Wanna Grow Old With You | Westlife, air mata semakin membanjiri wajah Feli. Ia sungguh terharu. Ia tidak menyangka akan mendapat lamaran dari Darren.
"Sayang, bagaimana suaraku?" Tanya Darren dengan nada geli. Feli hanya mengacungkan jempolnya dari tempatnya sebagai jawaban. Karna untuk meneriakkan jawabannya Feli sungguh sudah tidak sanggup. Kata-kata tidak lah cukup untuk mengungkapkan rasa bahagianya. Ingin rasanya ia berlari kedalam pelukan Darren tapi kaki nya seperti tertahan ditempatnya.
"Sayang, selama-lamanya tidak lah cukup lama bagiku, rasanya aku telah cukup lama bersama mu. Tapi masih ada satu hal yang harus dilakukan" Darren berjalan mendekati Feli dan begitu sampai dihadapan Feli Darren berlutut
"Marry me" Darren menatap lekat wajah kekasihnya itu seraya mengeluarkan sebuah cincin dari kantongnya. Percayalah sekalipun ia tahu Feli sangat mencintainya tapi jantung nya tetap berdebar menunggu jawaban Feli.
"Sayang, dengan cincin ini aku berjanji akan selalu mencintai mu, selalu mencintaimu, Jadi sayang tolong percayalah padaku dan say you will dan sayang percayalah kaki ku sudah kesemutan dibawah sini"
Feli terkekeh dalam tangis haru nya. Ia menganggukkan kepalanya.
"Ya Darren..Ya aku bersedia..Mari kita menikah secepatnya dan membuat anak sebanyak-banyak nya" Feli menjatuhkan dirinya kedalam pelukannya yang langsung disambut oleh Darren
"Terimakasih sayang" Darren mengecup kepala Feli
"Mari kita pulang dan memberitahu kabar gembira ini pada Mom dan Dad" Darren mengurai pelukannya dan mengusap air mata diwajah Feli
"Kenapa kau harus menangis?" tanya nya
"Aku bahagia"
"Dan dimana cincinku" Feli menyodorkan tangannya agar Darren segera memasangkan cincinnya
Darren terkekeh dan segera memasangkan cincin dijari manis Feli.
Wanita memang selalu suka perhiasan, batinnya.
"Sekarang kau boleh menciumku, karena kita sudah resmi bertunangan Maxston" Feli menarik wajah Darren dan menciumnya. Darren tersenyum ditengah ciumannya
Tunggu saja bagianmu sayang, aku akan memakan mu sampai habis sampai tidak bisa berjalan berminggu-minggu, Darren membatin
T.B.C.
__ADS_1
Tinggal beberapa part lagi bukan cinta terlarang akan end ya dear...✌😉❤