Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
19. Darren Maxston


__ADS_3

"Darren..mengingat mimpi yang kau katakan semalam, apa artinya kau berniat menikahiku?"


Darren menghentikan langkahnya begitu mendengar pertanyaan Feli, otomatis Feli juga megghentikan langkahnya. Darren dan Feli memang sedang jogging di sekitar komplek perumahan mereka. Hal yang biasa mereka lakukan jika Darren menginap di mansion keluarganya.


Darren mengambil handuk yang melingkar dilehernya. Menyeka keringat yang mengalir di dahi Feli.


"Aku ini sudah tidak muda lagi. Aku menjalin hubungan bukan untuk main-main Feli. Dan sudah ku katakan mimpiku adalah mewujudkan mimpimu. Jadi percayalah padaku" Darren tersenyum hangat yang dibalas Feli dengan senyum manis dibibirnya.


"Aku senang mendengarnya" Feli melanjutkan larinya yang diiukuti oleh Darren


"Lalu katakan kepadaku, apa alasan kita harus menyembunyikan dari Mommy dan Daddy? Aku yakin jika kita jujur mereka tidak akan menghalangi kita. Mommy dan Daddy sangat menyayangimu tidak mungkin mereka tidak merestui kita" Feli menghentikan larinya begiti melihat bangku kosong. Ia mendaratkan bokongnya disana. Darren membuka kan tutup boto minumannya lalu menyodorkannya pada Feli. Feli mengambil lalu menegaknya sedikit.


"Aku tidak pernah sedikitpun meragukan kasih sayang Mommy dan Daddy, tapi jika kita mengatakannya sekarang itu terlalu mendadak Feli. Biarkan aku yang mengurusnya" Darren duduk disamping Feli.


"Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu Darren?" Feli menyipitkan matanya. Hal yang biasa ia lakukan jika sedang menyelidiki seseorang.


Darren terkekeh lalu mengacak rambut Feli.


"Tidak ada yang bisa kusembunyikan dari mu"


"Saat Mommy Ashley mengatakan Daddy bukan Daddy kandungmu kau pasti sangat terkejut. Apa itu menyakitkan Darren?"


"Aku tidak terkejut sama sekali karena dari awal aku sudah bisa menebaknya. Tapi tetap saja terasa menyakitkan saat Mommy mengatakannya" Suara Darren tercekat. Bagaimana ia tidak terluka saat itu ia masih sangat kecil, dan ia sangat merindukan sosok Daddy nya. Felix datang dan Darren sangat bahagia. Tapi kebahagiaannya itu tidak bertahan lama karena kenyataannya Felix bukan lah Daddy nya. Dulu ia sangat menyesalkan kenapa bukan Felix yang menjadi Daddy kandungnya. Tapi percayalah sekarang ia sangat bersyukur akan hal itu. Mungkin takdir memang menginginkan mereka sebagai menantu dan ayah mertua.


"Bagaimana kau bisa menebaknya?" tanya Feli penasaran.


"Aku bisa menebaknya hanya dengan melihat manik mata Daddy. Manik mata Daddy sama seperti mu. Coklat. Sedangkan manik mata Mommy Ashley bewarna abu-abu. Tapi karena aku terlalu bahagia mempunyai seorang Daddy aku tidak terlalu memperdulikannya" aku nya jujur.


"Jadi maksudmu kau mewarisi mata indahmu itu dari Daddy biologismu?"


Darren mengangguk


"Kau mengenalnya?"


Darren menggeleng


"Tapi aku pernah melihat fhotonya. Dia sangat tampan" Suara Darren bergetar.


"Jika Uncle tidak tampan bagaimana mungkin bisa menghasilkan pria tampan sepertimu. Dan aku sungguh sangat beruntung pria tampan itu adalah milik ku sekarang" Feli membenamkan kepalanya didada Darren.


"Lalu dimana Uncle sekarang?"


Tubuh Darren menegang begitu mendengar pertanyaan Feli. Kenapa pagi ini Feli banyak sekali bertanya. Feli merasakan tubuh Darren yang tiba-tiba membatu. Ia mendongak lalu melepaskan pelukannya. Feli mengernyit begitu melihat raut wajah Darren. Raut wajah yang tidak pernah Feli lihat selama ini. Ada kecemasan, Kesedihan dan terluka diwajah itu.


"Darren.."gumam Feli seraya menyentuh lengan Darren. Darren tersentak lalu menatap Feli. Tatapannya kosong.


"Kau baik-baik saja" Ucap Feli pelan


"Daddy sudah meninggal" Darren menjawab pertanyaan Feli yang menanyakan keberadaan Daddy nya.


"Astaga..maafkan aku. Aku sungguh tidak mengetahuinya" Feli merasa menyesal.


Darren tersenyum hangat.

__ADS_1


"Baiklah..ayo kita pulang" Darren beranjak dari tempatnya. Ia membantu Feli berdiri. Ia harus mengakhiri perbincangan ini sebelum Feli bertanya terlalu dalam.


"Darren..izinkan aku bertanya satu kali lagi?" Feli menahan tangan Darren. Darren menoleh menaikkan kedua alisnya.


"Siapa nama belakang keluargamu?"Tanya Feli pelan. Ia takut Darren tersinggung tapi ia juga penasaran.


"Maxston. Kenalkan aku Darren Maxston" Dengan senyum hangat Darren mengulurkan tangannya.


Feli menyambutnya dengan antusias


"Senang berkenalan dengan mu Tuan Maxston. Dan aku sangat menyukai nama belakangmu".


"Good Morniiiiinnnggg...."teriak Feli begitu ia dan Darren sampai dirumah.


"Selamat pagi adik kecil" Feli mencium Pipi Mike yang sedang menikmati sarapannya.


"Menjauh dari ku. Kau bau keringat" Mike mendorong tubuh Feli dengan jijik


"Ciihhh... Darren saja sangat menyukai bau ku" cibir Feli mendaratkan bokongnya disamping Mike.


"Jangan samakan aku dengannya" jawab Mike tanpa menatap wajahnya.


"Itu tandanya kau tidak normal"


"Ralat...itu artinya Darren yang abnormal" Mike menatap Darren. Darren acuh tidak mempedulikan keributan kedua adiknya itu.


"Kau mau kemana?" tanya Feli begitu melihat Darren tidak ikut duduk


"Aku mau mandi dulu" jawabnya sebelum berlalu.


"Ini akhir pekan tentu saja mereka masih dikamar" Jawab Mike datar


"Apa yang mereka lakukan dikamar sampai jam segini?" Feli meneguk susu Mike yang tinggal setengah


"Jika kau penasaran kita bisa melihatnya" Mike mengunyah makanannya.


"Terimakasih. Aku tidak ingin mengotori mata suci ku dengan melihat tubuh Daddy yang telanjang"


Mike terkekeh.


"Feli,,, berikan aku uang!"


Feli melotot


"Mike..bisakah kau perbaiki kalimatmu" sindir Feli


"Lagian apa uang yang diberikan Daddy kurang?"


"Aku kalah taruhan"


"Lagi Mike?" tanya Feli tidak percaya. Adik lelakinya ini memang suka sekali balap liar. Dan itu bukan rahasia lagi dimana ia lebih sering kalah dibandingkan memenangkan pertandingan.


Mike mengidikkan bahu nya acuh

__ADS_1


"Berikan atau aku akan melaporkan mu pada Daddy bahwa kau tidur dikamar Darren" Ancam Mike


Feli mendengus kesal.


"Laporkan saja! Dengan begitu Daddy mungkin akan menikahkan kami" tantang Feli


"Kau sudah gila! Sadarlah, Darren kakak mu Feli" Mike mencoba menyadarkan kegilaan Feli


"Dia bukan kakak ku"jawab Feli enteng


"Jadi maksudmu Darren kekasihmu?" Mike menatap Feli. Feli diam tak bergeming


"Ciihhh sudah kuduga" ucap Mike kemudian


"Kau tidak terkejut?" Feli shock melihat respon Mike yang terkesan biasa saja.


"Melihat kegilaanmu tentu saja aku tidak akan terkejut lagi. Apa artinya Darren juga mengetahui bahwa ia bukan anak kandung Daddy"


"Kau juga mengetahuinya?" pekik Feli tidak percaya.


Mike mengangguk.


"Baru beberapa bulan yang lalu aku mengetahuinya. Aku penasaran kenapa ia memiliki mata indah yang berbeda dengan kita yang membuat aku iri. Aku melakukan tes DNA" jawabnya enteng


"Wuaahhh...kau sungguh berniat untuk menjadi Dokter" ucap Feli takjub.


"Tapi apa rumah sakit memperbolehkannya?


"Tentu saja dengan nama McKenzie dibelakang ku semuanya jadi mudah. Dan kebetulan salah satu orang tua temanku bekerja disana" jelas Mike


Feli manggut-manggut


"Bagaimana, apa kau senang memiliki kakak ipar mapan, tampan dan seksi seperti Darren?" Feli berbinar. Mike memang selalu diluar dugaan. Pemikiran nya sangat dewasa. Ia mungkin mewarisi sikap tenang dari Mommy nya.


"Daripada senang, aku lebih kasihan pada Darren. Seperti yang kau bilang ia mapan dan tampan. Sedangkan kau? Bercerminlah!" Mike menatap Feli dengan tatapan mengejek


"Aku ini model Mike!"


"Kau hanya beruntung!"


"Adik sialan!"


"Aku juga menyayangimu..cepat berikan aku uang" Mike menyodorkan satu tangannya.


"Ciihhh...tidak ada uang disini" Feli memukul telapak tangan Mike.


"Katakan Mike apa Daddy dan Mommy akan merestui hubungan kami"


"Tentu saja tidak!"


"Hubungan kalian hubungan TERLARANG!!" Mike menekan kalimatnya diakhir


"Mommy akan jantungan dan Daddy akan mendeportasi Darren ke kutub utara. Percayalah!"

__ADS_1


"Kau menyebalkan" Feli mendorong wajah Mike lalu beranjak pergi meninggalkan Mike yang terkekeh.


T.B.C


__ADS_2