
"Aku mencintaimu"
Feli terhenyak. Ia menatap lekat mata Hazel milik Darren. Mencari arti dari ucapannya disana. Karena sebelumnya Darren juga sering membalas setiap kali Feli mengatakan ia mencintai Darren. Tapi ini pertama kali Darren mengatakan cinta tanpa Feli mengatakannya terlebih dahulu. Hati Feli menghangat tapi tidak berani mengartikan arti ucapan Darren.
"Aku mencintaimu layaknya pria mencintai wanita. Aku mencintaimu seperti Daddy mencintai Mommy" Darren menegaskan. Tanpa bisa Feli tahan air matanya mengalir. Ia menangis haru. Cintanya berbalas.
"Aku Darren Maxston mencintaimu dengan sepenuh hati ku Felicia Breyonna McKenzie"
Feli segera menghamburkan dirinya kedalam pelukan Darren. Ia teramat sangat bahagia. Perasaan lega juga memenuhi relung hatinya. Ia tidak pernah merasakan selega ini sebelumnya. Ia memeluk erat tubuh kekar Darren. Darren membalasanya seraya mengusap lembut rambut Feli dan sesekali mengecup kepalanya.
Tidak jauh berbeda dari Feli, Darren juga merasakan kebahagiaan dan kelegaan dalam hatinya. Hanya saja masih ada sedikit kecemasan dalam dirinya. Ia masih berfikir bagaimana hubungan ini kedepannya. Bagaimana pendapat Mommy dan Daddy nya nantinya? Darren juga sungguh tidak menyangka ia tidak bisa mengontrol dirinya. Ia menyadari cinta itu seperti api. Apakah ia akan menghangatkanmu atau bahkan akan membakar seluruh rumahmu. Ia tidak akan pernah tahu. Tapi mengendalikan fikirannya setelah semalam mengetahui bahwa Feli juga mengetahui bahwa Darren bukan kakak nya adalah hal yang sulit. Pernyataan cintanya meluncur begitu saja dari mulutnya. Menyesalinya? Tentu saja tidak. Ia sudah menunggu selama 15 tahun. Bolehkah setidaknya ia serakah untuk kali ini saja. Membiarkan Feli juga mengetahui perasaannya. Mungkin terlihat sedikit egois tapi ia sungguh ingin menikmati kebersamaannya dengan Feli sebagai dua insan yang saling mencintai layaknya Adam dan Hawa.
"Katakan lagi" Suara Feli menyadarkannya dari fikirannya yang melayang
Darren tersenyum. Ia melepaskan pelukannya. Menangkup wajah Feli dengan kedua tangannya. Darren mendekatkan wajahnya. Mendaratkan bibirnya dikening Feli. Memcium dalam dahinya. Kemudian mencium kedua mata indah yang sangat disukainya itu. Menggesekkan hidung mancungnya dengan hidung Feli lalu mengecup ujung hidungnya. Bibirnya berpindah mencium kedua pipi Feli. Menggigit pelan dagu Feli lalu matanya menatap bibir Feli. Ia tersenyum. Wajah Feli merona. Feli menunggu apa Darren akan menciumnya kembali. Jantungnya berdebar kuat begitu Darren mengangkat sedikit wajahnya agar mendongak. Cup.Cup.Cup Darren hanya mengecupnya bertubi-tubi.
"Aku mencintaimu. Dan aku akan mengatakannya sebanyak yang kau mau" Darren mengelus wajahnya.
"Lalu sekarang apa hubungan kita Darren" cicitnya seraya menundukkan kepalanya. Ia malu tapi ia harus memastikan.
Darren terkekeh.
"Tentu saja kakak adik. Bukan kah begitu?"
Feli langsung mengangkat kepalanya. Wajahnya pias. Terlihat jelas kekecewaan di wajahnya begitu mendengar ucapan Darren.
Apa Darren sedang mempermainkan ku?
"Darren katakan apa aku sedang salah faham?" Salah mengartikan kelembutan yang kau berikan?" Feli menatap lekat mata itu. Ia sungguh tidak mengerti peran apa yang sekarang sedang dilakoni oleh Darren.
"Salah faham?" Darren menaikkan alisnya
"Dimana dari tindakanku yang membuat mu salah faham Feli?" Darren mengecup bahu mulus Feli. Ia masih belum mengenakan bajunya. Feli menahan nafasnya.
"Darren kau bertindak seperti seorang kekasih"
Darren mengulum senyumnya.
"Apa kau sungguh ingin menjadikan ku sebagai kekasih?"
Feli mengangguk dengan bodohnya.
"Kelihatannya kau memang sangat mencintaiku?"
Feli kembali mengangguk dengan polosnya. Ia tidak sadar Darren sedang menggodanya.
__ADS_1
"Kau tidak takut Mommy dan Daddy mencoret nama mu dari daftar keluarga?"
Feli menggeleng
"Wah sepertinya kau memang sangat memujaku Feli. Katakan sejak kapan kau memandangku sebagai seorang pria?" Tanpa Feli menjawab sebenarnya Darren sudah mengetahuinya. Ia hanya ingin menggoda Feli saja.
"Aku tidak tahu. Tapi aku mulai sering memikirkan mu sejak kau mencium bibirku untuk pertama kalinya" Feli menundukkan kepalanya. Wajah nya masih saja merona setiap ia mengingat kejadian 5 tahun lalu. Saat pertama kali Darren menyentuhnya.
Kata-kata Darren yang mengatakan Feli hanya perlu mengingat sentuhan nya mampu mensugesti fikiran dan hatinya. Karna sampai sekarang ia memang masih mengingat jelas sentuhan Darren ditubuhnya. Bahkan ia tidak ingin orang lain menyentuhnya.
"Sayang sekali Feli. Kau tahu aku mempunyai wanita special dalam hidupku. 15 tahun aku mengaguminya" Wajah Darren terlihat serius tapi dalam hati ia sedang tertawa. Menertawakan raut wajah Feli yang berubah-ubah.
Feli tiba-tiba beranjak dari tempatnya. Ia menarik selimut agar menutupi tubuhnya. Jika saja bisa ia ingin menghilang ditelan bumi. Ia sungguh malu sekarang. Darren sunggu sedang mempermainkannya. Ia tidak tahu apa tujuan Darren. Tapi saat ini ia sangat ingin sekali menenggelamkan Darren.
"Maaf Darren, sepertinya aku memang sudah salah faham padamu. Sebaiknya aku pulang. Untuk sementara jangan hubungi aku, dan jangan muncul dihadapanku" Ucap Feli pelan. Ia lalu berbalik tapi detik berikutnya tangannya ditarik. Ia kembali terduduk diatas ranjang dan membelakangi Darren.
Darren memeluknya dari belakang. Ia menopangkan dagunya di bahu Feli.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi, hmm..?"
"Darren kau mempermainkanku. Darren aku sungguh tidak menyangka kau mempunyai sisi brengsek seperti ini. Darren kau melukai harga diriku. Darren kau boleh menolakku tapi setidaknya jangan permainkan perasaanku" Air matanya mengalir. Ia tidak tahan lagi. Rasa kecewa bercampur malu menguasai hatinya.
"Katakan sejak kapan kau mengetahuinya?" Darren mengecup telinga Feli. Feli sungguh tidak tahan lagi. Darren sungguh sudah keterlaluan.
"Mengetahui apa Darren?" Feli berdiri menghempaskan tangan Darren dari tubuhnya. Wajahnya penuh amarah. Ia menatap tajam Darren. Darren terkekeh. Ia menyoroti tubuh Feli yang hanya mengenakan bra dan celana dalam. Mungkin Feli terlalu emosi sehingga lupa menahan selimut yang menutupi tubuhnya tadi.
"Ciihhh...sekalipun aku telanjang dihadapanmu bukan kah kau tidak akan tergoda?" Feli melipat tangannya didada. Ia tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang terekspos.
"Siapa bilang?" ucap Darren lembut. Ia berdiri mengambil kemejanya yang terletak didekat ranjang. Ia mengenakannya pada Feli.
"Aku ini pria normal Feli. Selama 15 tahun aku menahannya. Apa menurutmu aku masih bisa mengendalikan sisi iblis didalam diriku ini jika melihat tubuh mu ini. Selama 15 tahun aku menginginkan mu. Selama 15 tahun aku menyimpan perasaanku padamu. Kau lah wanita itu Feli. Selama 15 tahun ini aku mengagumi mu"
"Jangan mempermainkan ku lagi Darren" rengek Feli. Air matanya sudah mengalir deras lagi. Ia tidak ingin melayang terlalu tinggi yang kemudian terhempas begitu saja.
"Heii..lihat aku..apa aku terlihat seperti sedang menggodamu?"
"Kau memang selalu terlihat seperti ini Darren"
"Apa aku pernah menatap wanita seperti aku menatapmu?"
Feli berfikir sejenak. Ya tatapan hangat Darren hanya untuknya. Sekalipun ia memiliki kekasih Darren tidak pernah menatapnya seperti ia menatap Feli. Tatapan Darren terhadap Mommy juga berbeda dengan tatapan Darren padanya. Ya kenapa ia baru menyadarinya sekarang.
"Darren"
"Hmm.."
__ADS_1
"Darren kau tidak sedang mempermainkan ku kan. Jadi aku sungguh wanita yang Rachel maksud?" Feli memastikan.
Darren mengangguk.
"Jika kau tidak percaya kau bisa menanyakannya langsung"
"Aku akan menelponnya?"
"Ponselnya ada padaku" Darren menunjuk dengan matanya kearah meja dimana ponsel Rachel terletak.
"Kenapa ponselnya ada padamu?" Feli bingung
Darren berjalan mengambil ponsel Rachel lalu memutar rekaman suara Feli. Feli terhenyak begitu mendengar suaranya sendiri.
"Darren" Feli panik
"Katakan sejak kapan kau mengetahuinya juga?" Darren memeluknya dari belakang
"Juga? Artinya kau juga mengetahuinya?" Feli memutar tubuhnya. Wajah mereka sekarang berhadapan
Darren mengangguk
"Aku mengetahuinya dihari kelahiranmu. Mommy Ashley yang mengatakannya" Darren menarik Feli kedalam pelukannyam Ia mengeratkan pelukannya ketika ia menyebut nama Mommy kandungnya. Feli merasakan ada kesedihan didalam suaranya. Ia pasti sangat merindukan Mommy nya.
"Oh Darren kau pasti sangat menderita" Feli juga mengeratkan pelukannya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya pada ku?"
"Jika saja aku mengetahui bahwa kau juga mengetahuinya aku tidak akan menahan sampai 15 tahun Feli" Darren melepaskan pelukannya.
"Sejak kapan kau mengetahuinya?"
"Sehari sejak aku bertemu dengan Daddy" jawab Feli.
"Jadi dari awal kau sudah mengetahui aku bukan kakakmu?" Darren memastikan
Feli mengangguk
"Kenapa kau tidak memberitahu ku?" Kembali Darren melemparkan pertanyaan yang sama.
"Aku sudah berjanji kepada Daddy tidak mengatakan kepada siapa pun. Dan tentu saja aku tidak ingin kau terluka mengetahui kenyataan itu. Aku lebih memilih tersiksa selama 5 tahun ini. Tapi ternyata kau lebih tersiksa dari ku. Aku masih tidak percaya kau menyukai ku selama 15 tahun ini. Darren biarkan aku memastikannya agar aku tidak salah faham. Apa sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih?" Feli mengelus rahang kokoh Darren. Darren mengmbil tangan Feli lalu mengecup punggung tangannya.
"Bukan menyukai Feli. Tapi selama 15 tahun itu aku sudah mencintaimu. Dan selama 15 itu juga aku sudah menganggapmu sebagai milikku. Bahkan selama 15 tahun ini kau menjadi objek fantasi liarku. Aku melepaskan keperjakaanku dengan tanganku sambil membayangkan wajahmu" Darren tersenyum nakal. Tapi apa yang dikatakannya memang benar adanya.
Feli mendorong tubuh Darren kuat agar menjauh darinya. Sekalipun Darren dan Felix tidak ada hubungan darah, tapi kemesuman Felix tetap saja menurun kepadanya
__ADS_1
"Kau mesum sekali Darren...Kau sama saja sama Daddy!!"
T.B.C