
"Mooommmm...Daaadd....Mike adikku..kami pulang" teriak Feli yang sudah berada dikediaman McKenzie.
"Kau fikir apa yang sudah kau lakukan Miss McKenzie. Kau pergi tanpa permisi" Mommy nya Mika menyambutnya dengan amukan.
"Oh Mom, aku juga sangat merindukanmu" Feli berlari kedalam pelukan Mommy nya.
"Maafkan aku Mom. Kau boleh menghukum ku nanti tapi biarkan aku memelukmu dulu" Feli menghirup bau Mommy yang sama dengannya itu.
Mika membalas pelukan putrinya itu. Ia mengusap lembut rambut Feli
"Apa kau menikmati liburanmu?" tanya nya lembut. Ia memang tidak pernah bisa benar-benar marah kepada ketiga anaknya itu.
"Ya Mom, tapi Daddy meminta kami segera pulang. Masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi" Rungut Feli manja.
"Lain kali kita akan pergi berlibur bersama. Bersihkan badanmu dan istirahatlah" Mika melepaskan pelukannya.
"Baiklah Mom, aku sangat menyayangimu" Feli mengecup pipi Mommy nya sebelum berbalik menoleh kepada Darren yang sedari tadi hanya diam menatap Mommy dan kekasihnya itu melepas rindu yang baru 3 hari berpisah. Darren tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kekasihnya itu memang butuh istirahat. Tidur Feli tidak nyenyak selama di dalam pesawat tadi. Beberapa kali ia terbangun dari tidurnya karna memimpikan kejadian 5 tahun lalu. Kenangan itu terekam kembali setelah ia bertemu dengan Clarissa.
"Aku akan kekamar ku" pamit Feli seraya berjinjit mengecup pipi Darren. Darren kembali mengangguk dan mengusap rambut Feli sebelum gadis itu pergi.
Kini tinggal Darren dan Mika disana. Mika dan Darren saling menatap dalam diam. Berusaha mengartikan arti tatapan masing-masing.
"Kau tidak ingin memeluk Mommy" Mika yang pertama mengeluarkan suara. Ia merentangkan kedua tangannya agar Darren segera memeluknya. Darren tersenyum. Ia mendekat dan segera memeluk Mommy nya. Sama hal nya dengan yang dilakukan Feli, Darren juga menghirup dalam aroma lemon dari tubuh Mommy nya.
"Bagaimana pekerjaanmu?" Mika melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Darren agar duduk bersamanya.
"Semuanya berjalan lancar Mom" jawabnya
"Syukurlah. Kemampuanmu memang tidak perlu diragukan lagi" puji Mika tulus.
"Kau juga pasti lelah. Istirahatlah. Sepertinya kau butuh tenaga buat menghadapi Daddy mu nanti" kekeh Mika. Darren mengangguk dan juga terkekeh. Dari ucapan Mommy nya tidak diragukan lagi kalau kedua orang tuanya ini memang sudah mencium bau-bau asmara anatar dirinya dan Feli.
"Mom.."panggil Darren seraya turun dari kursinya. Jika Darren ingin jujur maka ia harus memulainya terlebih dahulu dari Mommy nya. Ia duduk dilantai dan menopangkan kepalanya dipangkuan Mommy nya. Mommy nya mengusap lembut rambut Darren. Hal yang selalu dilakukan nya buat menenangkan anak-anaknya.
"Apa Mommy kecewa kepadaku?" gumam Darren yang masih bisa didengar oleh Mommy nya. Mika hanya diam tidak menjawab. Ia tahu putranya itu hanya ingin didengarkan saat ini. Ia tetap menggerakkan tangannya mengusap rambut Darren.
"Maafkan aku" lirihnya. Mika menghembus nafasnya berat. Ia tahu kemana arah pembicaraan putranya ini. Ia sungguh tidak menyangka Darren akan membahasnya sekarang, terlebih dengannya. Ia tidak punya persiapan sama sekali. Ia mengira suaminya dan Darren yang akan membahasnya terlebih dahulu.
"Sejak kapan kau mengetahuinya?" Akhirnya Mika menyuarakan rasa penasarannya.
"Dari awal aku sudah mengetahuinya Mom. Dihari aku meminta mu pergi menjauh dari Daddy, hari itu Mommy Ashley mengatakannya" lirihnya dengan suara bergetar. Ada rasa sedih dan rasa bersalah dalam suaranya. Mika bisa merasakannya. Ia cukup terkejut atas apa yang dikatakan Darren. Ia tahu Darren nya yang pintar pasti sudah mengetahuinya sejak lama bahwa Felix bukan Daddy biologisnya tapi ia sungguh tidak menyangka ternyata dari awal putranya itu sudah mengetahuinya.
"Maafkan aku" kembali Darren meminta maaf. Kenangan saat ia meminta Mika menjauh dari hidup Daddy nya sungguh membuat perasaan bersalah mendominasi hatinya. Ia seperti orang jahat yang tega memisahkan seorang Daddy dengan putrinya yang baru lahir dan juga memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Selama ini pasti Darren merasa tersiksa. Menahan diri untuk menanyakan siapa Daddy kandungnya. Mika merasakan nyeri dihatinya betapa tidak peka nya ia terhadap putra yang sudah dibesarkannya itu. Anak mana yang tidak penasaran dan ingin mengetahui siapa sesungguhnya keluarganya. Mika yakin Darren menahannya sampai sekarang hanya untuk menjaga perasaan mereka. Lalu jika Darren bertanya tentang Daddy nya apa yang harus kulakukan? Ketakutan menyerang Mika begitu pertanyaan itu terlintas difikirannya.
"Mom.." panggil Darren. Mika tersentak dan membuyarkan fikirannya.
"Kau baik-baik saja" Darren mengernyit melihat kecemasan diwajah Mommy nya.
"Oh..ya..Mommy baik-baik saja dan sayang kau tidak perlu minta maaf seperti itu karena apa yang terjadi bukan lah salah mu" Mika mengelus wajah Darren. Darren tersenyum lega, mengangkat tangannya menyentuh tangan Mommy nya yang ada diwajahnya. Darren menggenggam tangan itu dan menciumnya.
"Percayalah Mom aku sungguh beruntung dibesarkan dan dirawat oleh mu" ucapnya jujur
Apa kau akan mengatakan hal yang sama jika kau tahu cerita sebenarnya Darren, Batin Mika.
"Kau tidak marah pada Mommy?" Darren menggeleng
"Kau tidak merasa dibihongi?" kembali Mika bertanya dan kembali Darren menggeleng.
"Seperti yang ku katakan tadi, aku merasa sangat beruntung dan bersyukur dirawat oleh mu Mom dan ucapan terimakasihku tidak akan cukup mewakili nya" Darren menggenggam kedua tangan Mommy nya dan menciumnya. Mika terharu mendengar pernyataan Darren. Air mata mengalir diwajahnya.
"Kami juga beruntung dan bangga mempunyai anak seperti mu sayang. Kau selalu membuat Mommy dan Daddy bangga" Mik tersenyum sambil menangis.
"Jangan menangis Mom, nanti Daddy bisa membunuhku" canda Darren mengusap air mata diwajah Mommy nya.
"Mommy akan menceraikannya jika Daddy mu berani menyentuhmu" Mika terkekeh.
"Harusnya aku merekam kalimat mu itu Mom"
"Mommy bisa mengulanginya dan kau bisa merekamnya"
"Wah sepertinya kau lebih mencintaiku dibanding suami tampan mu itu Mom"
Darren dan Mika kompak tertawa.
"Apakah masih ada yang ingin kau katakan?" Mika menghentikan tawanya. Ia tahu pembicaraan mereka tidak hanya sampai disitu. Dan ia sudah menyiapkan hatinya untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh Darren
Darren terkekeh lalu mengangguk
__ADS_1
"Aku tidak yakin apa kau akan menyukai apa yang akan ku katakan ini"
"Katakan lah" perintah Mika dengan lembut
Darren menarik nafas lalu menghembuskannya. Ia menengadahkan kepalanya menatap lekat wajah Mommy nya. Wajah Mommy yang menatapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang yang sebentar lagi akan menatapnya dengan penuh kekecewaan.Untuk sesaat Darren ragu, ia belum siap untuk melihat tatapan kecewa Mommy nya padanya.
"Katakan lah Mommy akan mendengarkannya" ulang Mika dengan lembut. Mika tersenyum hangat. Darren tersenyum getir membayangkan mungkin sebentar lagi ia tidak akan pernah melihat senyum hangat itu lagi.
"Aku mencintai putri mu. Felicia Breyonna McKenzie" ucapnya lugas dengan satu tarikan nafas
"Sangat mencintainya" tegasnya kembali.
Darren menatap lekat wajah Mommy nya yang Darren sendiri tidak tahu ekspresi apa yang sedang ditunjukkan Mommy nya. Mommy nya terlihat santai untuk orang yang terkejut dan terlihat tenang untuk orang yang kecewa.
"Mom..mungkin aku terlihat tidak tahu diri. Tidak tahu balas budi. Aku seperti pengkhianat yang menusuk kalian dari belakang. Tapi percayalah aku sungguh sangat mencintai putrimu" ucap Darren ketika melihat Mommy nya yang masih bungkam.
"Aku sungguh meminta maaf telah mengecewakanmu Mom tapi aku tidak akan meminta maaf karena telah mencintai putrimu. Perasaan kami tidak salah. Jadi aku mohon berikan restu mu pada kami" Darren memelas. Ia menundukkan kepalanya dilutut Mika. Mika masih bungkam tapi tangannya terulur mengusap rambut pria yang sedang terduduk dibawahnya itu.
"Aku mungkin terlihat serakah, tapi tekad ku sudah bulat. Aku akan memperjuangkannya apa pun keputusan yang Mommy dan Daddy berikan nantinya. Aku akan berusaha menjadi pria yang layak baginya sekalipun tanpa nama McKenzie dibelakang ku"
"Apa maksudmu?" akhirnya Mika bersuara
"Bukankah untuk bisa menjadi pria yang layak disamping Feli, aku harus menanggalkan nama McKenzie dari nama ku"
"Darren tidak harus seperti itu. Dengarkan Mommy sayang. Perasaan mu memang tidak salah tapi..."
"Jadi benar dari awal Mommy dan Daddy memang tidak menginginkan aku dan Feli mempunyai hubungan selain hubungan saudara" Darren menyela ucapan Mommy nya. Ia terlihat kecewa
"Tanpa sengaja aku mendengarnya Mom. Perbincangan mu bersama Daddy" lanjutnya. Mika terdiam. Ia sungguh dibuat terkejut. Sebenarnya sejauh mana anaknya ini mengetahuinya.
"Darren...."
Darren dan Mommy kompak menoleh kesumber suara. Daddy nya Felix sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Darren berdiri dari tempatnya mendekati Daddy nya.
"Dad..,"
"Ikuti aku!" ucap Felix datar
Dengan patuh Darren mengikuti Daddy nya. Pertempuran sesengguhnya baru dimulai. Darren menghela nafas dalam. Perbincangan dengan Mommy nya belum mendapatkan titik terang dan sekarang ia harus bertempur melawan Daddy nya tanpa bantuan siapa pun. Ia salah perhitungan. Ia mengira tadi ia bisa membujuk Mommy nya agar mendukungnya tapi sialnya pembicaraan dengan Mommy nya pun tidak berjalan dengan mulus.
Felix membawanya keruang kerjanya. Ia duduk disofa, menyilangkan kaki nya dan melipatkan kedua tangannya di dada.
"Sayang" panggil Mika. Felix mengernyit. Ia tidak menyadari kehadiran istrinya diruangan itu
"Sayang, aku harus berbicara dengan Darren" ucapnya menatap istrinya yang berjalan mendekat kearahnya.
"Berdua" ucapnya lagi ketika Mika mendaratkan bokongnya dikursi yang sama dengan Felix.
"Dia juga putra ku" jawab Mika
"Ya, dia memang putra mu tapi aku ingin berbicara dengannya sebagai sesama pria sayang" jelas Felix.
"Aku tidak akan mengganggu" tetap pada keteguhannya.
"Mikayla" Ucap Felix penuh tekanan
"Felix" Mika melotot tajam. Felix ciut.
"Kenapa kau diam saja" hardiknya pada Darren yang sedari tadi diam dengan tenangnya ditempatnya.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyanya konyol
"Minta Mommy mu keluar" ucap Felix malas
"Kenapa aku harus memintanya. Aku tidak keberatan jika Mommy disini" ucapnya enteng.
"Katakan lah apa yang ingin Daddy katakan" Darren menatap Daddy nya yang masih membujuk Mommy nya keluar. Darren semakin penasaran apa yang akan dibicarakan Daddy nya ini sehingga tidak menginginkan Mommy nya ada disini.
"Bukankah harusnya Daddy yang mengatakan kalimat itu" kesal Felix. Darren mengidikkan bahunya acuh.
"Memang nya apa yang ingin Daddy dengar dari mulutku" Darren masih dengan sikap menyebalknnya.
"Sayang, aku mohon keluar lah. Aku tidak ingin kau disini bukan berarti aku tidak ingin kau mengetahui apa yang akan kami bicarakan. Tapi mungkin aku akan melakukan hal yang membuatmu tidak suka tapi tetap harus kulakukan. Jadi keluar lah. Aku tidak ingin melihat wajah mu bersedih" pinta Felix lembut seraya mengusap rambut istrinya.
Akhirnya Mika mengalah. Ia pergi dari ruangan itu. Hari yang ditakutkan nya akhirnya datang juga. Ya, Mika yakin suaminya akan mengatakan semuanya. Mengatakan siapa Daddy biologis Darren.
Darren dan Daddy nya masih saling diam ditempat. Berfikir bagaimana cara memulai pembicaraan serius antara mereka yang jarang terjadi. Bahkan bisa dikatakan tidak pernah.
"Baiklah aku yang akan berbicara pertama kali" Suara Darren memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Tidak biarkan Daddy yang berbicara terlebih dahulu" Felix menatap Darren. Darren mengangguk.
"Aku bukan Daddy biologismu" Mata Felix tidak berkedip menatap wajah Darren. Ia ingin membaca ekspresi wajah Darren. Tidak ada wajah terkejut sesuai prediksinya Darren sudah mengetahuinya. Jika tidak mengetahuinya mana mungkin Darren berani menjalin hubungan dengan dengan putrinya Feli
" I know" jawabnya singkat, datar dan tenang.
Felix mengangguk. Ia menarik nafas berat. Berarti tidak perlu berbasi-basi lagi. Ia tidak tahu sejauh mana Darren sudah mengetahuinya jadi ia memutuskan akan mengatakan inti nya saja. Ia kembali menarik nafasnya lalu menghembuskan. Ia melakukannya berulang kali hingga akhirnya ia beranjak dari tempat nya lalu berjalan menghampiri Darren. Darren mengernyit hingga akhirnya ia terkejut tatkala Daddy nya berlutut dihadapannya.
"Dad...apa yang kau lakukan" Pekik Darren. Darren beranjak dari kursinya dan ikut berlutut. Sekarang ia tahu kenapa Daddy nya meminta Mommy nya keluar. Ya Mommy nya tidak akan menyukai hal seperti ini. Saat dimana suami tercintanya merendahkan dirinya sendiri.
"Maafkan Daddy" Felix mengangkat kepalanya.
"Daddy yang sudah.." suara Felix tercekat. Ia mengangkat kedua tangannya yang sedang gemetar.
"Dad..hentikan!"
"Ayo berdirilah" Darren mambantu Felix agar beranjak dari tempatnya. Sungguh ia juga sangat tidak menyukai saat melihat Daddy nya merendahkan diri seperti ini. Ia merasa tidak berguna. Ingin rasanya ia meninju dirinya sendiri yang telah membiarkan Daddy nya berlutut dan merendahkan dirinya. Terlebih dihadapannya.
Felix menggeleng. Ia melepaskan tangan Darren dari tubuhnya.
"Dengarkan Daddy sampai selesai. Dan biarkan seperti ini" ucap Felix dingin
"Darren Daddy yang sudah membunuh Daddy mu" akhirnya kalimat itu keluar. Kenyataan yang selalu menghantuinya. Kenyataan yang selalu membuatnya merasa bersalah terhadap Darren.
"Tangan ini yang sudah menembaknya"
"Maafkan Daddy"
"Kau boleh menghukum Daddy"
"Tapi jangan menghukum Mommy mu begitu juga dengan saudara-saudara mu"
"Daddy memang pengecut karna menyembunyikan hal ini dari mu"
"Tapi percayalah Daddy sungguh takut membayangkan kau membenci Daddy walau sebenarnya kau berhak untuk membenciku" suaranya bergetar. Ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Darren. Ia takut melihat kebencian dimata anaknya itu.
Darren terdiam. Ia terduduk dilantai. Memang ia sudah mengetahui kenyataan itu tapi mendengarnya langsung dari mulut Daddy nya membuat ia tak kuasa menahan air matanya. Ada perasaan sakit dihatinya mendengar kenyataan itu untuk kedua kalinya tapi perasaan lega lebih mendominasi.
"Dad...Berdirilah. Aku tidak menyukai kau yang seperti ini" suara Darren terdengar serak. Felix mendongak. Ia melihat mata Darren yang memerah. Darren kemudian tersenyum padanya. Ia mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Mungkin ia salah melihat. Atau mungkin Darren tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakannya.
"Darren, kau mendengar apa yang ku katakan tadi" Felix memastikan
"Aku tahu. Berdirilah!" Darren membantu Daddy nya. Kali ini Felix tidak menolak. Ia sungguh dibuat bingung oleh Darren. Ia baru saja mengatakan bahwa ia seorang pembunuh. Pembunuh dari Daddy nya dan apa itu? Darren malah tersenyum padanya.
"Terimakasih sudah mengatakannya"
Adakah hal yang lebih konyol dari ini. Darren mengatakan terimakasih saat aku mengatakan telah membunuh Daddy nya. Ucapnya Felix dalam hati
"Terimakasih sudah melepaskan beban berat dalam hati mu. Selama ini kau pasti sangat tersiksa setiap melihatku" Darren menatap Felix iba. Seperti yang dikatakan Roland, Darren adalah gambaran Sean. Bukan kah artinya setiap melihat dirinya Daddy nya juga pasti melihat sahabatnya Sean didalam dirinya. Bukan kah itu sangat menyiksa.
"Terimakasih sudah mengakuinya dengan berani Dad. Kau memang Daddy yang sangat ku banggakan. Kau tetap merawat dan membesarkan ku sekalipun kau tersiksa dengan rasa bersalahmu setiap melihatku. Kau tetap menyayangiku, dan mempertahankan aku. Jadi aku mohon berhentilah merasa bersalah kepadaku. Daddy tidak ada salah kepadaku dan aku tidak ada alasan untuk membencimu. Sungguh aku juga ingin membencimu, setidaknya membalaskan sedikit dendam Daddy Sean kepada mu. Tapi tetap saja hati ku menolaknya. Masalah yang terjadi antara Daddy dan Daddy Sean biarlah itu menjadi urusan kalian para orang tua. Dan itu terjadi sebelum aku ada didunia ini. Jadi aku tidak ada hak untuk menghakimi atau pun mengguruimu Dad" ucap Darren bijak. Felix terhenyak ia sungguh tidak menyangka Darren akan menyikapinya setenang ini. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk dibenci oleh putra sulungnya itu tapi ternyata itu hanya fikirannya saja.
Felix segera menarik Darren kedalam pelukannya.
"Terimaksih son. Terimakasih. Sungguh aku tidak pernah merasakan perasaan selega ini" Felix menepuk-nepuk punggung Darren. Air mata haru tak kuasa ia tahan.
"Daddy akan membiarkan mu" ucap Felix yang membuat Darren melepaskan pelukannya dan mengerutkan dahi menatap Daddy nya.
"Membiarkan apa?" tanya nya.
"Memukul Daddy setidaknya sekali melampiaskan dendam Daddy mu" ucapnya serius
Darren terkekeh
"Dad, aku tidak keberatan sama sekali. Dengan senang hati aku akan melakukannya. Tapi perlu kuingatkan Dad, kau sudah tua dan tangan ku ini sangat kuat karena rajin berolah raga. Dan aku juga menguasai beberapa ilmu bela diri. Satu tinju ku bisa membawa mu kerumah sakit Dad..."
"Daddy tidak keberatan" ucap Felix cepat. Ia merasa tidak adil dimaafkan semudah itu oleh putranya.
"Dad jika kau merasa tidak adil kau bisa melakukan hal lainnya" Darren seperti bisa membaca fikiran Daddy nya, senyum nya mengembang seperti mendapat ide.
"Jangan mengatakan hal yang bisa membuatku marah Darren" Felix juga seperti menyadari arti senyuman Darren.
"Izinkan aku menikahi putrimu" Darren mengabaikan ancaman Felix
Bugh....
Felix meninju wajah Darren.
T.B.C
__ADS_1