Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
76. Menyingkirkan Para Tikus


__ADS_3

"Mungkin istri Bernard, wanita muda yang dimaksud daddy Felix adalah Emily" ucap Darren, menatap Laura yang terlihat tenang dan datar mendengar perkatan Darren, seakan yang sedang dibicarakan bukanlah suaminya.


"Autnty, kau baik-baik saja?" Feli, mengusap lengan Laura, sungguh Feli merasa sangat simpati terhadap nasib pernikahan Laura.


Laura menyunggingkan senyumnya,


"Aku baik-baik saja. Saat mendekatiku, aku tahu dia mempunyai maksud tertentu. Berita seperti ini tidak akan mengejutkanku. Tapi yang menjadi pertanyaanku, kalau memang benar Emily adalah istrinya, lalu Clarissa, siapa baginya? Aku melihat mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama"


"Mungkin dia hanya bersenang-senang dengan Clarissa" jawab Darren.


"Kenapa kau bisa menyimpulkan Emily adalah istrinya, saat aku mengalami keguguran, aku melihat wanita yang berada di pangkuan Bernard, mengenakan baju yang sama dengan apa yang dipakai oleh Clarissa hari itu"


"Wanita itu sengaja mengenakan pakaian yang sama untuk mengelabui kita, bukankah saat itu kau mengatakan mencium aroma parfum vanilla, sayang? Dan kemarin malam aku mencium aroma yang sama dari parfum yang digunakan oleh Emily."


"Lalu sekarang, bagaimana kita akan membongkar kedok mereka?" tanya Feli.


"Tentu saja menggunakan ketiganya, biarkan mereka yang membongkar kedok mereka sendiri"


"Caranya?" tanya Feli lagi.


"Caranya, biarkan suamimu yang bertindak, dan kau, tahanlah rasa cemburumu itu" Laura menimpali seraya menatap Feli dengan tatapan geli.


Feli mendesah kesal.


"Kenapa kau harus bertemu dengan pria tua menyebalkan itu, Aunty?"


"Dan kenapa kedua wanita mengesalkan itu tergila-gila padamu?" Feli mendelik ke arah Darren.

__ADS_1


"Bukan salahku, jika aku terlahir tampan dan mempesona, sayang" Darren mengerling nakal.


"Tapi Aunty, kenapa selama ini kau diam melihat perlakuan suamimu, bukankah seharusnya kau menceraikannya?" Feli sungguh penasaran.


"Bernard adalah pria yang serakah, ia tidak akan segan melakukan hal buruk, jika ketenangannya terusik, saat itu aku dan nonna belum mengetahui keberadaan Darren, dan tentu saja aku diam karena ingin melindungi diriku dan juga nonna. Begitu mengetahui keberadaan Darren, oh aku dan nonna tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya kami. Dan tentu saja aku juga bahagia melihat Darren mempunyai istri sepertimu" Laura mengusap lembut wajah Feli.


"Percayalah, pertama kali melihatmu, aku sudah menyukaimu"


"Pesonaku memang tidak bisa ditolak oleh Maxston, Aunty" Feli tersenyum lebar.


🐧🐧


Feli menuruni tangga, dan melihat semua sudah berkumpul di meja makan. Suasana terlihat sangat hening. Darren hanya melirik Feli sekilas lalu mengalihkan tatapannya, tidak ada tarikan kursi untuk Feli seperti biasanya.


"Ehm" Laura berdehem, begitu Feli sudah duduk.


Feli menoleh ke arah Darren, seakan meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Laura. Tentu saja itu juga hanya akting. Darren terlihat tidak acuh dan sengaja menyibukkan dirinya dengan makanan yang ada di hadapannya. Percayalah, jika ia melihat wajah tidak berdaya istrinya itu, ia yakin, ia akan bertindak bodoh dengan mengangkat istrinya itu ke dalam gendongannya dan menguncinya di dalam kamar seharian. Wajah Feli yang terlihat tidak berdaya, entah kenapa semakin membuat hasrat Darren menggila. Ayolah Darren, kau memang selalu menggila terhadap istrimu itu, bagaimana pun kondisi dan keadaannya.


"Apa kau mendengarkanku?" Laura mengulang pertanyaannya dengan suara sedikit meninggi, membuat Feli terkejut.


Ia menatap Laura, dengan tatapan kesal.


"Aku bertanya padamu, kenapa kau harus melihat suamimu, apa mulutmu tidak bisa menjawab pertanyaanku, hingga kau ingin meminta bantuan mulut suamimu untuk menjawabnya?"


Wuuahhhh, Aunty Laura benar-benar sangat menikmati permainan ini, ia sangat menjiwai perannya.


Feli melihat 3 para penyamun yang juga berada di meja yang sama dengan mereka, terlihat menyunggingkan senyum sinisnya ke arah Feli. Feli benar-benar terlihat seperti putri yang tertindas yang diabaikan oleh suami tercintanya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku hamil, jika keponakanmu akhir-akhir ini kurang bekerja keras, Aunty. Sepertinya perkututnya perlu di asah lagi"


Darren dan Laura, kompak tersedak dan menatap horor ke arah Feli. Feli memasang wajah polos tidak berdosa.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Feli menatap Darren, dengan tatapan mengejek.


"Bukankah semalam kau juga menghabiskan malammu yang panjang dengan Emily" kembali Feli mengucapkannya dengan wajah polos tanpa beban. Dan kali ini Emily yang tersedak. Ia langsung menoleh ke arah Bernard yang sudah menatapnya dengan berang.


"Aku tidak.." Emily tergagap.


"Sudahlah Em, kau tidak perlu menyangkal atau menjelaskannya. Biarkan saja dia dengan fikirannya sendiri" Darren menyela ucapan Emily.


Wajah Bernard terlihat marah menahan amarah, kedua tangannya terlihat mengepal. Dan percyalah, Feli, Darren dan Laura hampir saja tertawa melihat wajah Emily dan Bernard.


"Feli, aku tidak melakukan apa-apa dengan suamimu" Emily sengaja menyebut nama Feli, seolah penjelasan itu ditujukan pada Feli, tapi baik Feli, Darren dan Laura tahu, Emily sedang menjelaskannya kepada Bernard. Ia sedang berusaha menyelamatkan dirinya.


"Sudah kukatakan kau tidak perlu menjelaskannya, Em" Darren mengusap punggung tangan Emily, yang membuat Bernard dan Feli menatap tajam ke arah keduanya. Feli yang kesal melihat tindakan Darren, segera menendang kaki Darren, dan mengenai tulang keringnya. Darren menahan ringisannya.


"Ya Emily, kau tidak perlu menjelaskannya, karena itu akan mempermalukan dirimu, aku melihat bagaimana caramu menggoda Darren semalam, dan itu sangat memalukan" wajah Emily semakin memucat begitu mendengar perkataan Clarissa. Ucapan Clarissa seperti bensin di tengah api yang menyala.


"Sudah cukup! Hentikan omong kosong ini,"


"Dan kau, Feli" Laura menatap Feli, masih dengan tatapan dingin tak bersahabat.


"Jika memang kau belum hamil, maka biarkan Darren menikah dengan Clarissa secapatnya"


Mendengar ucapan Laura, semua mata terbelalak. Clarissa yang merasa seperti mendapat durian runtuh, menjerit kegirangan dalam hati. Darren, pria masa lalunya. Pria yang masih bersemanyam di hatinya, tentu saja ia tidak akan menolak tawaran menggiurkan itu.

__ADS_1


__ADS_2