Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
9.Felicia Jatuh Cinta


__ADS_3

Setelah menginap dua hari diapartment miliknya, Darren akhirnya mengantar Feli pulang. Tidak terlihat lagi bekas memar diwajahnya. Tapi selama dua hari menginap diapartmentnya Feli jadi banyak diam. Feli terlihat seperti menghindarinya.


Apa Feli membencinya akibat kejadian yang menimpa Feli atau malu atas apa yang mereka lakukan. Darren tidak tahu. Ia juga bertanya-tanya dalam hati nya.


Begitu Darren memarkirkan mobilnya di mansion milik keluarganya ia tidak langsung keluar. Ia terdiam ditempatnya. Begitu juga dengan Feli. Darren berdehem untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi di dalam mobil itu.


"Feli kau ingat apa yang kakak kata kan?" Darren menatap lembut kearah Feli. Feli mengangguk.


"Tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang terjadi" gumamnya pelan yang masih bisa di dengar oleh Darren. Darren tersenyum mengangguk lalu mengelus rambut Feli.


"Baiklah ayo kita turun" ajaknya. Feli mengangguk.


"Mom..Dad...Mike.." panggil Darren.


Tak berapa lama Mommy, Daddy nya pun datang.


"Ouh..kalian sudah datang. Kau tahu honey ternyata tidak mendengar teriakan mu dua hari membuat rumah ini terasa hampa" goda Felix seraya menarik Feli kedalam pelukannya. Feli membalas pelukannya dengan sangat erat. Felix mengernyit begitu merasakan pelukan putrinya itu, lalu ia menatap Darren penuh selidik. Darren hanya menatapnya datar tanpa ekspersi.


"Apa semua baik-baik saja sayang?" Felix mengelus rambut putrinya itu. Feli mengangguk dalam pelukannnya.


"Aku hanya terlalu merindukanmu Dad" cicitnya. Felix terkekeh.


"Ya..Daddy juga merindukanmu honey" Felix melepaskan pelukannya lalu mencium kening putrinya itu.


Feli menoleh menatap Mommy nya lalu menghambur kedalam pelukan Mommy nya.


"Mommy aku merindukanmu. Sangat merindukanmu" Feli menangis


"Ouhh..Ternyata gadis nakal ini bisa menangis juga. Sepertinya kau memang sangat merindukan kami" goda Mika seraya menepuk-nepuk punggung putrinya itu. Mereka pun masuk kedalam. Feli segera menaik keatas menuju kekamarnya.


"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Felix menatap Darren penuh selidik begitu mereka duduk diruang keluarga. Mika sedang kedapur mengambil minuman untuk suami dan putranya.


"Tidak ada apa-apa Dad. Feli hanya bertengkar dengan salah satu teman sekolahnya" Bohong Darren dengan wajah meyakinkan.


"Benarkah?" Tanya Felix tidak percaya. Darren mengangguk mantap.


"Baiklah Dad, sepertinya aku juga harus pulang" Darren beranjak dari kursinya berusaha menghindar untuk menciptakan lebih banyak kebohongan karena untuk meyakinkan Daddy nya itu sangat butuh usaha.


"Kenapa tidak menginap saja?"


"Masih banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan Dad" Darren beralasan.


"Kau Boss nya" jawab Felix telak


"No Dad. Kau Bossnya dan aku wakilnya" Darren meluruskan mana tahu Daddy nya pikun.


Felix terkekeh


"Kau sangat pintar menjawab ku Son, dan kau tahu aku tidak ingin perusahaan ku bangkrut"


"Maka dari itu aku harus bekerja lebih giat untuk menghasilkan pundi-pundi kekayaan untuk perusahaanmu Dad" jawabnya lagi dan membuat Felix tertawa lagi


"Kau sudah mau pulang?" Mika datang dengan membawa minuman ditangannya.


"Ya Mom, aku masih banyak pekerjaan. Daddy tidak memberikan keringanan sekalipun aku putranya Mom" Kembali Felix terkekeh mendengar ucapan putra nya itu yang menusuknya jelas dihadapannya.


Mika mendelik kesal


"Kau membuat putramu bekerja terlalu keras" desis Mika. Felix tertawa


"Aku hanya tidak ingin perusahaanku bangkrut sayang" Felix membela diri


"Tapi tidak harus mengorbankan putramu" hardik Mika


"Aku tidak mengorbankannya aku hanya mengajarkannya tanggungjawab sebelum ia memegang alih perusahaan secara penuh" ucap Felix yang benar adanya.

__ADS_1


Mika mendengus


"Terserah kepadamu saja. Kau selalu pandai berkata-kata" ucap Mika ketus.


"Baiklah, sepertinya aku harus pergi. Aku tidak ingin melihat pertengkaran kalian yang ujung-ujungnya berakhir diatas ranjang" Darren mengambil satu gelas minuman yang dibawa Mommy nya tadi lalu meminumnya sedikit. Ia lalu mencium pipi Mommy nya.


"Aku melihat Feli dulu sebelum aku pergi" ujarnya seraya beranjak menuju kekamar Feli. Darren berdiri didepan pintu kamar Feli. Ia sejenak bimbang, apakah ia harus masuk atau tidak. Setelah apa yang terjadi ia meragukan dirinya sendiri apa ia mampu mengendalikan dirinya dihadapan Feli. Setelah berperang cukup lama dengan dirinya sendiri akhirnya Darren memutuskan masuk kedalam kamar Feli. Darren memegang handle pintu dan mendorongnya. Ia mengernyit. Pintu kamar Feli terkunci. Ini pertama kalinya terjadi. Selama ini Feli tidak pernah mengunci pintu kamarnya.


"Apa Feli benar-benar marah kepadaku?" guman Darren. Rasa takut menghinggapi dirinya.


"Tidak. Feli tidak boleh membenciku"gumamnya lagi. Akhirnya Darren memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Feli.


"Feli..apa kau mendengarku?"


"Oooo..yy..yaaaa.." Terdengar sahutan Feli. Walau tidak melihat wajahnya Darren tahu Feli sedang gugup.


"Aku akan pulang. Apa kau tidak ingin melihat kakak?"


"Maafkan aku. Aku akan menghubungimu nanti"


"Aku akan menunggu panggilanmu Feli"


"Hmm"


"Feli kau tidak marah atau pun membenciku kan?" akhirnya Darren mengeluarkan pertanyaan yang mengganggu fikirannya itu. Bisa gila dia jika Feli membencinya. Dibenci Feli adalah hal yang tidak pernah diinginkannya.


"Tidak. Aku tidak membencimu percayalah" Daren tersenyum. Suara Feli terdengar sangat dekat. Ia yakin sekarang Feli sedang berdiri tepat dibelakang pintu.


"Aku senang mendengarnya. Kalau begitu aku pergi. Jangan lupa segera hubungi aku. Aku menunggunya" Darren pun beranjak dari depan kamar Feli tanpa menunggu jawaban Feli.


Setelah yakin Darren pergi Feli membuka pintu. Ia melihat punggung Darren yang sedang berpelukan dengan Mommy nya. Ia segera masuk kedalam kamarnya dan menyembunyikan tubuhnya kedalam selimut. Ia berguling-guling diatas tempat tidur.


"Ada apa denganku. Kenapa aku harus menghindarinya. Dan sepertinya aku harus meminta Mommy membawa ku kedokter untuk memeriksakan jantungku. Sepertinya ada yang tidak beres didalam sini" Feli menyentuh dadanya.


Didalam kamar padahal Feli hanya melamun dan sesekali tersenyum. Ia tidak sekolah dua hari karena selama dua hari itu juga ia tidak bisa tidur. Selama dua hari itu bayangan Darren yang sedang menciumnya menari-nari difikirannya. Ini sungguh menyikasanya sekaligus menggelitiki hatinya. Feli melihat pantulan dirinya di cermin. Rona merah terlihat diwajahnya.


"Ouh mengingatnya saja sudah membuatku merona"ucapnya.


Ponselnya tiba-tiba berdering, Feli melihat siapa yang menghubunginya. Mine❤. Kembali jantungnya menggila.


"Bagaimana ini, apa yang harus ku katakan" pekik Feli dengan suara tertahan. Ia mondar mandir di dalam kamarnya dengan ponsel didalam genggamannya.


"Ia pasti akan menanyakan kenapa aku belum menghubunginya selama dua hari ini"


Ponselnya berhenti berdering. Feli bernafas lega. Ia belum siap berbicara dengan Darren. Ia takut jantungnya meledak keluar.


Ting


Mine❤


Apa kau sengaja menghindariku?


Aku mohon jangan membuatku gila Feli


Jantungnya berpacu dengan cepat begitu membaca pesan yang dikirim oleh Darren.


"Membaca pesannya saja membuat jantungku ketar ketir. Bagaimana jika mendengar suaranya dan melihat wajahnya" gumam Feli.


"Sepertinya aku harus menemui Mommy. Ada yang tidak beres dengan diriku" Feli berjalan mendekat kearah pintunya. Ia keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Mommy nya. Ia tidak menemukan Mommy nya dibawah akhirnya ia memutuskan mencari Mommy nya kedalam kamar milik orang tuanya.


"Mom.." Feli membuka pintu kamar


Mika menoleh menatap Feli. Ia baru selesai mandi.


"Ada apa sayang. Kemarilah" Mika menepuk ranjang agar Feli segera masuk dan duduk disampingnya.

__ADS_1


"Mom aku ingin mengatakan sesuatu"


"Iya sayang katakanlah. Mommy akan mendengarkanmu" Mika mengelus rambut putrinya. Ia juga penasaran apa yang membuat putrinya ini mengurung dirinya didalam kamar selama dua hari. Apa mungkin putrinya jatuh cinta? Mika terkekeh membayangkan kemungkinan itu. Ia ingat dulu waktu suaminya Felix menciumnya secara paksa ia juga mengurung diri didalam kamar selama dua hari dan tidak masuk kekantor.


"Mom,, akhir-akhir ini aku merasakan hal aneh dalam diriku. Jantungku berdetak tidak normal setiap membayangkan seseorang bahkan wajah ku memanas dan yang lebih anehnya Mom jika aku bersentuhan dengan nya tubuh ku serasa terkena aliran listrik. Aku bahkan mau tersenyum sendiri bila mengingatnya Mom" ucapnya dengan polosnya.


"Apa mungkin aku mempunyai kelainan didalam sini mom" Feli menunjuk dadanya. Mika terkekeh. Ternyata dugaannya tidak salah. Putrinya sedang jatuh cinta.Lalu pertanyaannya siapa yang sudah membuat putrinya ini jatuh cinta. Apa Darren mengetahuinya?


"Ternyata putri Mommy sudah dewasa. Tidak ada yang salah dengan dirimu sayang. Itu hal yang normal dialami oleh seseorang jika sedang jatuh cinta. Kau sedang jatuh cinta sayang. Katakan sayang siapa pria itu?" jelas Mika dengan senyum mengembang diwajahnya. Feli terdiam. Butuh waktu buatnya untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Mommy nya itu.


"APA?"


"AKU SEDANG JATUH CINTA"


"OH ASTGA..JADI KAKAK..." Feli langsung menutup mulutnya begitu melihat Mommy nya yang mengernyit bingung begitu ia menyebut kakaknya. Feli merutuki kebodohannya.


"Ada apa dengan kakakmu?" Mika menatapnya penuh selidik


Feli menggeleng


"Tidak apa-apa Mom.Baiklah Mom aku pergi dulu. Terimakasih Mommy sudah memberitahuku. Mommy aku sangat bahagia." Feli memeluk Mommy nya erat lalu memutar-mutarkan tubuh mereka. Mika sampai pusing dibuatnya.


" I love you Mom" Feli mengecup pipi Mommy nya lalu pergi berlari keluar dari kamar Mommy nya.


Ia masuk kedalam kamarnya lalu menghempaskan dirinya diatas tempat tidur.


"Ternyata begini rasanya jatuh cinta" Feli menghentak-hentakkan kakinya diatas ranjang. Senyum cerah ceria mengembang diwajahnya. Ia mengambil ponselnya dan membuka album fhotonya.


"Hei Darren..Mommy bilang aku sedang jatuh cinta. Dan ternyata kaulah orangnya" Feli mencium layar ponselnya.


"Aaakkhhhh...." teriak Feli kegirangan.


"Tapi bagaimana aku harus mengutarakan perasaanku. Darren mengira kami saudara seAyah dan aku sudah janji kepada Daddy akan merahasiakannya selamanya. Haruskah aku mengalami cinta bertepuk sebelah tangan disaat aku menemukan cinta pertamaku? Tapi apa mungkin Darren mengetahuinya? Kenapa ia menciumku kemarin. Tidak mungkin Darren mengetahuinya. Yang tahu hanya aku, Daddy dan Mommy"


"Aakkhhhh..." Teriaknya Feli lagi. Frustasi memikirkan nasib percintaan yang baru saja dialaminya diusianya ke 18 tahun.


"Feli apa kau baik-baik saja?" Darren mengetuk pintu kamar Feli. Feli terhenyak.


Darren datang! Apa yang harus kulakukan


Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat.


Baiklah, daripada melihat Darren tersakiti mengetahui kenyataan bahwa ia bukan anak kandung Daddy, lebih baik perasaan ini kupendam sendiri, Feli memutuskan dalam hati.


Feli menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Ia melakukannya berulang kali. Setelah merasa cukup ia berjalan kearah pintu lalu membukanya. Darren berdiri menjulang tinggi dihadapannya masih mengenakan pakaian kerjanya. Bisa dipastikan ia datang kesini langsung dari kantornya.


"Hai..Darren" Guman Feli pelan tapi masih bisa didengar oleh Darren. Darren mengernyit mendengar Feli untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa embel-embel kakak didepannya.


Tapi percayalah ia sangat menyukai cara Feli menyebut namanya. Darren menahan senyumnya. Darahnya berdesir mendengar Feli menyebut namanya.


*Kenapa segala sesuatu yang kau lakukan terasa sangat menggoda Feli dan sialnya aku menyukainya.


T.B.C*


sekarang terjawab ya kenapa Feli tidak memanggil kakak lagi pada Darren😊☺


DARREN MCKENZIE





NB. Foto diambil dari pinterest.

__ADS_1


__ADS_2