
"Tadi itu menyakitkan, Darren" gumam Feli, begitu merasakan usapan lembut di kepalanya.
"Aku tahu, maafkan aku" jawab Darren lembut, masih dengan tangan yang mengusap rambut istrinya.
"Sekarang semuanya sudah berakhir, kita sudah bisa hidup dengan tenang dan kita akan kembali ke rumah Mom dan Dad, kau senang, sayang?"
Feli segera duduk dari posisinya begitu mendengar ucapan Darren.
"Kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?"
"Kita akan kembali ke New York?"
Darren mengangguk dengan wajah tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan nonna dan aunty Laura?"
"Kita akan sering berkunjung"
"Wuuaahh, aku bahagia sekali, Darren" Feli segera menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Darren, tapi detik berikutnya dia mendorong kasar tubuh suaminya itu.
"Kenapa tubuhmu bau sekali, Darren?" Feli menatapnya dengan tatapan jijik.
Darren melebarkan matanya, menatap istrinya tidak percaya dengan apa yang baru saja dilontarkan oleh istrinya itu. Dengan dahi berkerut ia mengendus dirinya sendiri. Tidak ada bau sama sekali. Berulang kali Darren mengendusnya, tetap saja yang tercium adalah bau parfum miliknya, dan parfum milik Feli yng tercium samar-samar di bajunya.
"Tidak ada bau sama sekali, sayang."
Feli kembali mendekat, dan mengendus leher Darren.
"Akhhh...bau Darren" teriak Feli, ia merasa mual seketika dan berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya hanya berupa cairan.
Darren segera menyusul ke kamar mandi.
"Kau baik-baik saja, sayang?" Darren memijit lembut tengkuk istrinya itu.
"Menjauhlah, aku tidak menyukai baumu, ini mungkin karena kau menyentuh wanita sialan tadi" Feli berkumur dan membasuh wajahnya.
"Bersihkan dirimu, baumu benar-benar mengerikan" Feli menutup hidungnya, dan berlalu meninggalkan kamar mandi, menyisakan Darren yang masih shock karena dikatakan bau dan menjijikkan. Ayolah, Darren adalah pria metroseksual, pria yang sangat memperhatikan penampilannya dan tentu saja ia juga sangat rajin merawat dan memperhatikan dirinya, lalu bagaimana bisa istrinya, mengatakan ia bua badan.
Darren segera membuka bajunya, seperti yang diperintahkan Feli, ia akan mandi sekalian memghilangkan jejak Emily dari tubuhnya.
20 menit waktu yang digunakan oleh Darren, untuk membersihkan dirinya. Ia pun keluar dan melihat istrinya tersebut masih menunggunya.
"Kau bisa menciumku, sekarang. Aku sudah mandi"
Feli tersenyum, dan berlari ke arahnya. Mengendus leher Darren, seperti chihuahua.
"Hmm, ya..aku suka"
"Katakan, kapan kita akan kembali?"
"Besok"
"Benarkah?" pekik Feli kegirangan.
"Kapan aku berani membohongimu, Feli"
"Karena kau sudah membuat suasana hatiku senang, aku akan melayanimu dengan baik malam ini, Maxston" Feli berjinjit dan memberikan kecupan di bibir Darren.
__ADS_1
"Dasar setan penggoda!" decak Darren, lalu menahan tengkuk Feli untuk memperdalam ciuman mereka.
Dan keesokan paginya kembali Feli membuat ulah. Darren yang sudah berpakaian rapi dan bersih kembali mendapat amukannya.
"Derren, kenapa bau menjijikkan itu kembali tercium di tubuhmu?! Apa kau belum mandi?"
Darren menghela napasnya sesaat,
"Aku sudah berpakaian rapi seperti ini, tentu saja aku sudah mandi sayang."
"Tapi kenapa bau sekali, sungguh aku tidak tahan menciumnya" Feli segera berlari ke dalam kamar mandi.
"Feli, kau baik-baik saja, sayang?" Darren mengetuk pintu kamar mandi, yang di kunci Feli dari dalam.
"Ya, aku baik-baik saja" Feli membuka pintu kamar mandi.
"Ya Tuhan, Darren, aku sungguh tidak kuat mencium aromamu" Feli masuk kembali ke dalam kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya.
"Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja, sebaiknya kita menunda keberangkatan kita untuk pulang ke rumah Mom dan Dad."
"hmm, aku juga merasa sangat pusing sekali, Darren."
Darren segera menggendong Feli, membawanya ke ranjang dan membaringkannya.
"Kau tunggu sebentar, aku akan mengambilkan sarapan untukmu, dan aku akan menghubungi Dokter."
"Tolong kau ganti pakaianmu, Darren. Baunya membuatku merasa mual."
Darren mengangguk, dan segera melepas bajunya. Menggantinya dengan yang baru.
Lima menit kemudian, Darren datang dengan membawa segelas susu dan beberapa muffin.
"Kau yakin?" tanya Darren dengan dahi berkerut, pasalnya, selama ini Feli sangat tidak menyukai makanan bertekstur lembek tersebut.
"Aku juga tidak mau susu itu, aku mau smoothie, Darren."
"Baiklah, aku akan menggantinya"
Laura mengerutkan dahinya, begitu melihat Darren membawa kembali bakinya yang masih penuh.
"Feli tidak mau makan?"
"Feli ingin makan bubur dan juga smoothie, Aunty?"
"Baiklah, aku akan membuatkannya" Laura segera beranjak dari tempatnya menuju ke dapur, dan Darren mengekorinya.
"Bukankah biasanya istrimu sangat tidak menyukai bubur?" Laura, memang sering memperhatikan Feli selalu menghindari makanan tersebut setiap mereka sarapan, Feli lebih memilih memakan selembar roti tawar daripada memakan makanan lembek menggelikan itu.
"Ya, aku juga heran kenapa tiba-tiba dia menginginkannya, Aunty"
"Apa mungkin istrimu sedang hamil?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Laura.
"Hamil?" ulang Darren, tampak berfikir sesaat.
"Dia juga, merasa mual sejak kemarin malam, apakah mungkin dia memang hamil, Aunty?" Darren tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Wajahnya berbinar, membayangkan hal itu. Sempurna sudah kebahagiaannya jika memang istri cantiknya itu hamil.
"Aku akan panggilkan Dokter buat memastikan" Laura tersenyum melihat wajah bahagia keponakannya itu.
__ADS_1
"Aku sudah menghubunginya tadi, mungkin sebentar lagi Dokternya akan datang."
Lima belas menit kemudian, Dokter tersebut pun datang. Laura dan Darren, segera membawanya ke kamar untuk memeriksa Feli.
Dokter tersebut tersenyum begitu selesai memeriksa Feli.
"Bagaimana Dokter? apa menantu saya sedang hamil?"
"Ha..hamil?" Feli melebarkan matanya, menatap Laura dan Darren secara bergantian.
Dokter tersebut tersenyum, dan senyum dokter tersebut seakan sudah menjawab pertanyaan dari Laura. Laura dan Darren, saling melempar senyum.
"Selamat" Laura segera memeluk Darren.
"Wuuaahh sepertinya kalian, memang sudah mengiranya" ucap sang Dokter.
"Tapi untuk lebih pastinya, silakan mengunjungi rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut," pungkas Doktet tersebut.
Feli terhenyak, ia bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar ia tidak menjerit kegirangan.
"Darren"
Darren mengangguk dan tersenyum, ia berjalan mendekati istrinya.
"Selamat, sayang. Kau akan menjadi seorang Mom."
Feli mengangguk,
"Selamat juga buatmu, Darren. Kau juga akan menjadi seorang Daddy." Feli segera menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Darren.
"Aku bahagia sekali Darren. Kerja kerasmu tidak sia-sia, usaha yang kau lakukan setiap malam itu akhirnya membuahkn hasil, Darren"
Darren terkikik mendengar ucapan konyol istrinya tersebut, dengan lembut ia mengusap kepala, Feli.
"Ini juga berkat kesabaranmu yang meladeni setiap kerja kerasku itu, sayang."
"Ehhm." Feli dan Darren kompak menoleh ke arah sang Dokter, yang sepertinya sengaja berdehem.
"Selamat buat kalian berdua, Tuan dan nyonya Maxston, tapi saya harus menyampaikan ini, berhubung usia kandungnya masih sangat muda dan istri Anda, pernah mengalami keguguran sebelumnya, jadi saya sarankan untuk mengurangi aktivitas malam kalian, karena usia kandungannya masih rentan."
"Ouh, itu sangat menyiksa sekali" protes Feli.
Dokter tersebut tergelak dengan wajah memerah.
"Hanya mengurangi Nyonya, bukan berarti tidak bisa dan lakukanlah secara lembut"
"Aku tidak yakin suamiku bisa bersikap lembut, Dokter. Dia sangat buas dan ganas jika sudah berurusan dengan ranjang, dan_"
"Feliiiiii" erang Darren frustasi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Buat para readers semuanya, yang sudah mengikuti karya saya dari awal sampai akhir, saya ucapkan banyak terima kasih. Sungguh komen, like dan dukungan kalian adalah penguat dan penyemangat bagi penulis yang masih rengginang seperti saya. Karya ini tidak akan ada apa-apanya tanpa dukungan dari kalian semua. Sekali lagi saya ucapkn terima kasih yang sebanyak-banyaknya🙏😘😘🥰