
"Bisakah kau menemaniku ke kamar dan membantuku mengemasi pakaianku, sebagai imbalannya aku akan menceritakan tentang keburukan pria menyebalkan itu sebelum kau menyesal nantinya."
"Feliiii..." kembali Mike mengerang tidak suka.
"Kenapa?" Feli melotot tajam ke arah Mike,
"Aku hanya ingin menyelamatkannya dari pria keturunan McKenzie yang terkenal mesum!"
"Jangan menyamakanku dengan daddy dan juga Darren," protes Mike tidak terima dikatakan mesum, Darren dan Daddy-nya kompak tertawa.
"Darah McKenzie mengalir di tubuhmu jika kau lupa, Mike"
"Tetapa saja aku berbeda dari mereka, aku bahkan belum pernah berciuman dengannya" ucapan Mike membuat semua mata terbelalak kecuali gadis itu, ia hanya menunduk dengan wajah yang bersemu merah.
"Kau fikir aku akan percaya?!"
"Kau bisa menanyakannya langsung, jika kau penasaran" Feli menoleh untuk mencari kebenaran pada gadis itu dan melihat gadis itu menundukkan kepalanya membuat Feli berdecak kagum, ie kembali menoleh menatap adiknya. Feli berjinjit seraya menepuk bahu, Mike.
"Aku bangga padamu adikku, setidaknya aku tahu kau tidak mesum seperti Daddy dan juga pria di sana" Feli melirik sekilas ke arah Darren yang menatapnya dengan lembut.
"Aku salut pada kekuatan imanmu."
"Justru karena aku meragukan imanku, Feli. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku jika aku menciumnya, aku hanya mengecup kepalanya saja sudah membuat hasratku menggila"
"McKenzie tetaplah McKenzie, sekali mesum tetap mesum!" Feli menginjak kesal kaki adiknya itu. Salahnya terlalu cepat menilai bungsu McKenzie itu. Feli mengabaikan ringisan Mike dan gelak tawa dua pria di belakangnya.
"Katakan manis, kepala yang mana yang sering dikecup oleh pria mesum itu sehingga membuat hasratnya menggila?" Feli mengangkat dagu gadis itu agar menatapanya. Gadis itu terlihat bingung dengan pertanyaan Feli. Ia terdiam sesaat mencerna dan mengulang pertanyaan Feli dalam otaknya, tapi tetap saja tidak mengerti arti dari pertanyaan itu.
"Maaf sebelumnya kakak, memangnya kepala ada berapa?" tanyanya polos yang membuat Darren dan Felix semakin tergelak. Feli dan Mommy-nya kompak menatap tajam ke arah keduanya.
"Lupakan kalau begitu," Feli bernafas lega karena mendengar pertanyaan gadis itu, itu artinya kepala yang dimaksud Mike adalah kepala sesungguhnya, bukan kepala-kepala lainnya.
"Sayang, sebaiknya kau istirahat, aku akan mengantarmu ke kamar" Darren mendekat ke arah Feli. Feli melihatnya dengan tatapan datar, dan mommy, daddy-nya juga Mike baru menyadari ketegangan diantara keduanya. Felix dan Mika menatap Darren dan Feli secara bergantian, meminta penjelasan.
__ADS_1
"Tetap di tempatmu, aku akan ke kamar bersamanya" Feli menarik tangan gadis yang merupakan kekasih Mike untuk ikut bersamanya.
"Bagaimana khabarmu, dude?" Mike berjalan, lalu merangkul Darren.
"Seperti yang kau lihat" Darren membalas rangkulan Mike.
"Ya, aku melihat kekacauan di wajahmu" Mike tertawa geli.
"Kau terlihat seperti pria yang tidak mendapat jatah harian" lanjutnya lagi.
Darren mendengus kesal.
"Kau membuat suasana hatiku semakin kacau, Mike. Bukan hanya tidak mendapatkan jatah harian tapi kini kelangsungan hidupku sedang terancam begitu juga dengan benih-benih kecobong di dalam tubuhku sepertinya tidak akan berarti lagi karena tidak mendapatkan sarang untuk berkembang biak" seketika tawa Mike, Felix dan Mika meledak mendengar ucapan gila Darren yang diucapkan dengan lempeng tanpa beban.
"Apa Feli meminta cerai denganmu?"
"Oh, Mike tebakanmu selalu tepat sasaran." erang Darren tidak berdaya.
Kembali Mike dan juga Felix tertawa puas, seakan tidak peduli dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Darren. Darren menatap kesal ke arah Mike dan juga Felix. Melihat mereka tertawa seakan menabur garam dalam luka Darren yang masih menganga.
"Mom, aku merindukanmu" Darren menundukkan kepalanya di bahu mommy-nya. Tangan Mika terangkat mengusap punggung dan dan rambut putranya itu.
"Semua pasti baik-baik saja, Darren. Percayalah, Feli tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya." Mika berusaha menenangkan putranya itu. Tapi ia yakin dengan apa yang dikatakannya, Darren dan Feli tidak akan pernah bisa dipisahkan. Ia tahu sebesar apa putrinya itu mencintai Darren, begitupun Darren sebaliknya.
"Ya, aku berharap seperti itu, Mom"
"Tapi melihat raut wajahnya tadi, sepertinya Feli serius dengan ucapannya, jadi son, besabarlah karena Daddy-mu ini tidak akan sungkan untuk membawanya pulang bersama kami" Felix menepuk-nepuk pundak Darren. Darren berdecak lalu mengangkat kepalanya dari bahu Mommy-nya dan berbalik untuk melihat wajah bahagia daddy-nya yang sepertinya sangat menikamati penderitaan yang dialami oleh Darren.
"Bukankah kau terlihat seperti sedang menabur garam di atas lukaku, Dad?" ucapnya kesal, Felix menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Bagaimana bisa kau terlihat sangat bahagia disaat rumah tangga putra dan putrimu sedang berada di ujung tanduk!"
"Wuaahh, apa Daddy terlihat sekejam itu, son?"
__ADS_1
Darren berdecak lalu memalingkan wajahnya.
"Percayalah, aku juga merindukan teriakan putri cantikku itu, jadi mendengar perceraianmu tentu saja merupakan khabar baik bagi Daddy, Daddy akan membawanya pulang" kembali Felix menepuk pundak Darren seolah memberi semangat.
"Baiklah, Dad, kau bisa membawa Feli pulang bersamamu, setidaknya aku juga bisa bersama mommy di sini, biarkan mommy yang merawatku," Felix seketika menghentikan tawanya begitu mendengar ucapan Darren. Tidur tanpa Mika di sampingnya sama saja neraka baginya. Felix menoleh menoleh dan mendekat ke arah istrinya.
"Jangan katakan kau setuju dengan ucapan konyol, putramu itu, sayang"
"Tentu saja aku setuju, kau perlu dihukum. Beraninya kau menertawakan nasib pernikahan putraku."
"Putramu itu tidak berhasil membahagiakan putriku."
"Dan kau coba jelaskan padaku, kenapa putriku sampai meminta cerai padamu?"
"Apa kau melakukan kekerasan, seperti membentaknya atau hal lainnya yang menyakiti hati putri cantikku itu."
"Aku tidak pernah melakukan hal seperti yang kau tuduhkan, Dad."
Felix mendengus seakan tidak percaya. Darren menghela nafas berat.
"Ya, aku memang meninggikan suaraku, tapi itu setelah dia mengucapkan kata laknat itu" aku Darren jujur.
"Wuah, kalau begitu tindakan putriku itu sudah benar, beraninya kau meninggikan suaramu!"
"Dad, coba katakan padaku, apa yang akan kau lakukan jika mommy meminta cerai padamu, disaat kau sendiri tidak tahu apa kesalahanmu?"
"Tentu saja Daddy akan marah dan menggila!" jawab Felix tanpa berfikir.
"Itulah yang kulakukan, Dad" erang Darren.
"Tidakkah kau merindukanku, Dad? Dari tadi kau belum memelukku?" Darren segera merangkul Daddy-nya. Daddy yang selalu menjadi panutannya. Berdebat dengan daddy-nya memang selalu mengesalkan tapi juga mampu memberikan ketenangan sendiri.
"Dad juga merindukanmu, son" Felix membalas rangkulan Darren.
__ADS_1
"Percayalah, wanita bodoh itu tidak akan bisa hidup tanpamu" Felix memberikan semangat kepada putranya itu.
"Dad, aku tidak menyukai kau mengatakan wanitaku bodoh" protes Darren segera melepaskan pelukannya. Felix tergelak.