
"Sepertinya, ini saatnya kita melayangkan aksi"
"Aku mendengar wanita tua itu menuntut keturunan bagi keduanya"
Bernard mengangguk menyetujui ucapan sang kekasih.
"Ya, ini memang waktu yang tepat untuk melempar bom kepada keluarga ini"
"Sebentar lagi kita akan menghancurkan semuanya, sayang."
"Aku sudah tidak sabar."
"Pertama-tama, mari kita melenyapkan wanita tua itu. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya yang bisa membuatnya terlelap untuk selamanya."
🐣🐣
"Grandma" Darren duduk di hadapan nonna seraya menggenggam tangannya. Sementara Feli hanya memilih untuk berdiri saja.
"Aku dan Feli memutuskan untuk tidak melakukan penyewaan rahim dan aku juga tidak akan menikah dengan wanita mana pun. Bagiku, Feli sudah cukup, Grandma. Aku dan Feli akan berusaha memberikan cucu sebanyak yang kau inginkan..."
"Aku hanya menginginkan satu, tapi dia bahkan tidak mampu memberikannya sampai sekarang. Katakan berapa lama aku harus menunggu? Apa aku harus mati dulu" Nonna menatap Feli dengan kesal. Tatapan lembut yang dulu selalu ia dapatkan tidak ia temukan lagi. Nonna mulai berubah sejak kepulangan keluarganya.
"Jika kami bisa memilih dan menentukannya, tentu saja kami ingin memeberikanmu sekarang juga, tapi kami tidak mempunyai kekuasaan akan itu, Grandma"
"Apa kau yang sudah meracuni otaknya?!" Laura juga menatapnya dengan penuh kebencian. Sedangkan Bernard, yang duduk di sampingnya tampak menyunggingkan senyum sinisnya.
"Kau tahu Feli, aku menerimamu waktu itu karena mengetahui kehamilanmu. Apa kau fikir setelah apa yang Daddy-mu lakukan terhadap putraku, kami bisa menerima McKenzie dalam keluarga ini?"
"Dan sialnya, kembali kau membunuh keturunan Maxston"
"Grandma, bukankah ucapanmu itu terlalu berlebihan?!" Darren menatapnya tidak suka. Ia menoleh ke arah istrinya, dan benar saja, mata itu menyiratkan kesedihan.
Tubuh Feli bergetar begitu mendengar ucapan sang nonna. Ia tidak menyangka perhatian yang ia dapat selama ini ternyata hanya palsu. Feli menggigit bibirnya kuat, ingin rasanya ia menangis, tapi melihat tatapan sinis dan mencemooh yang dilayangkan oleh Bernard membuatnya harus menahan sekuat tenaga, agar kristal bening itu tidak jatuh membasahi wajahnya.
"Apa itu artinya, jika anakku lahir, kau tetap akan membuangku?!" suara Feli bergetar hebat.
"Kau cepat tanggap juga" Laura menimpali.
"Apa kau fikir kami sudi mempunyai hubungan dengan seorang pembunuh?!"
"Kami bukan pembunuh"
"Pembelaanmu tidak akan merubah kenyataannya"
"Bisakah kalian berhenti menyudutkannya" desis Darren.
"Apa kau masih punya malu, Feli? Daddy-mu sudah membunuh Daddy dari suamimu, bagaimana bisa kau masih di sampingnya, ditambah lagi kau bukanlah wanita yang sempurna. Apa kau yakin Darren, akan mencintaimu selamanya?!"
"Sepertinya kau sedang mengajak berperang, Laura Linconl" mengabaikan kesopanannya Darren menatapnya dengan dingin.
__ADS_1
"Perasaanku bukanlah sesuatu yang harus kau ukur, Laura"
"Tidak akan ada alasan apa pun yang bisa mengubah perasaanku pada Feli, tidak ada!"
"Oh ya, mari kita lihat sehebat apa perasaan yang kalian miliki itu" Bernard menimpali untuk pertama kalinya.
"Aku harap ucapan yang baru saja kau lontarkan tidak menjadi cambuk bagimu, Darren. Terkadang rasa percaya diri yang tinggi bisa membuatmu malu."
"Apa aku memintamu untuk berbicara, Linconl?!"
"Apa aku harus meminta izinmu untuk berbicara, Maxston?"
"Berhentilah memperdebatkan hal yang tidak perlu, kalian membuatku jengah, bawa makananku ke atas" perintah nonna seray beranjak dari tempatnya. Feli segera menuju ke dapur berniat mengambilkan makanan untuk nonna. Ia akan mengantar makanan untuk nonna dan mencoba membujuknya.
"Kau menginginkan sesuatu?" tanya Emily, begitu melihat Feli.
"Aku ingin mengambil makanan buat nonna"
"Aku sudah membuatnya" Emily menyerahkan nampan berisi makanan.
"Aku jarang melihatmu, akhir-akhir ini, Em?"
"Kau yang jarang turun ke bawah, kau dan Darren selalu berkurung di dalam kamar, bagaiamana bisa kau melihatku?"
"Ya, yang kau katakan benar Em, mungkin aku tidak melihatmu tapi aku yakin kau selalu melihatku, bukan?" Feli tersenyum tipis lalu mengambil nampan dari tangan tangan Emily. Emily menatap kepergian Feli. Senyum iblis tercetak di wajahnya.
"Kau akan berakhir, Feli"
"Mom...." teriakan Laura membangunkan Feli dan Darren dari tidurnya. Mereka segera bergegas menuju sumber suara.
Darren dan Feli terhenyak begitu melihat tubuh nonna sudah terbujur kaku. Laura menangisinya seraya mengguncang tubuhnya.
"Apa yang terjadi dengan, Grandma?" Darren mendekat. Laura segera berdiri dan menghampiri, Feli.
Plak
Satu tamparan keras mendarat sukses di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan, Aunty?" bentak Darren seraya mendorong tubuh Laura menjauh dari Feli.
"Apa matamu buta, Darren?"
"Apa kau tidak melihat tubuh mommy-ku sudah tidak bernyawa lagi dan istri sialanmu itulah pembunuhnya. Dia sudah meracuninya" Laura berjalan mendekat dan hendak menjambak rambut Feli, Darren menengahinya dengan melindungi tubuh Feli.
"Aku tidak melakukannya, Darren" lirihnya.
"Tidak akan ada pembunuh yang mengaku, sialan!"
"Emily mengatakan kau yang membawa makanan untuknya"
__ADS_1
"Tapi bukan aku.."
"DIAMLAH!!!" bentak Darren membuat semuanya terdiam.
"Grandma?" panggil Darren seraya mengguncang tubuh wanita tua itu, memastikan apa Grandmanya sudah benar-benar tiada.
Tidak ada jawaban atau pun reaksi tubuh yang ditunjukkan.
"Kenapa kau melakukannya, Feli?"
Dan seperti petir membela bumi, Feli merasakan pijakannya runtuh mendengar pertanyaan, lebih tepatnya tuduhan yang keluar dari mulut Darren.
"Dar..Darren..." gugupnya.
"Kenapa kau tega?!"
"Aku tidak_"
"Sekarang kau benar-benar menunjukkan bahwa McKenzie memang seorang pembunuh" Darren menatapnya dengan tatapan menghunus penuh kebencian.
Napas Feli tercekat seketika, dadanya sesak, bahkan hanya untuk menghirup udara ia lupa bagaimana caranya. Ia tidak menyangka pria yang mengatakan cukup dirinya saja mampu menuduhnya dengan begitu mudahnya.
Ini pasti mimpi buruk
Feli menggigit lidahnya, dan dia bisa merasakan sakit dan rasa asin dari darah yang dikeluarkan oleh lidahnya.
Bukan mimpi
Kristal bening itu pun, mengalir di wajahnya.
"Darren" Feli melangkahkan kakinya sekuat tenaga, mendekat ke arah Darren.
"Tetap di tempatmu dan jangan mendekat!"
"Apa kau meragukanku, Darren?"
"Berhentilah bersandiwara, Feli!"
"Kau menyakitiku"
"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu di pemakaman, begitu juga dengan kalian semua!" Darren mengusir semua orang yang ada di sana. Dengan perasaan hancur Feli meninggalkan kamar nonna. Sakit. Itulah yang dirasakannya. Ia tidak menyangka, Darren yang selama ini begitu sangat mencintainya, tega menuduhnya dan meragukannya. Apa ia yang terlalu meninggikan cinta Darren selama ini atau memang cinta Darren yang memang tidak begitu kuat pondasinya padanya.
"Bolehkah aku tertawa?"
Feli, menatap nyalang pria paruh baya yang terlihat sedang mengejeknya.
"Tidak akan ada alasan apa pun yang mampu membuatku berpaling dari, Feli" Bernard mengulang ucapan Darren beberapa waktu lalu.
"Sombong juga ada batasannya, bukan?"
__ADS_1
"Perbanyaklah berdoa, Uncle, umurmu juga sudah tidak muda lagi. Bisa saja sewaktu-waktu kau juga menyusul" Feli melenggang pergi.