
"Aku ingin Darren menikahi Clarissa secepatnya"
"Apa maksudmu, Aunty?" Feli berdiri dari kursinya menatap Laura dengan tajam.
"Kau tidak bisa berlaku seenaknya seperti itu. Dan kau, Darren," Feli mengalihkan tatapannya dari Laura, ke arah suaminya. Darren membalasnya dengan tatapan datar.
"Kenapa kau hanya diam? Apa kau sungguh ingin mengikuti apa yang diperintahkan oleh, aunty Laura?"
"Tidak" jawab Darren cepat dan tepat, membuat Laura dan Feli, melotot ke arahnya. Dalam skenario yang mereka rencanakan, harusnya Darren mengikutinya perintah Laura.
Sungguh rencana skenario yang mereka buat, hancur berantakan. Tidak ada yang sesuai dengan skrip yang sudah mereka rencanakan.
"Aku tidak akan menikah dengan Clarissa, tapi jika itu Emily, aku akan dengan senang hati menikahinya,"
"Em, maukah kau menikah denganku?"
Darren segera menyingkirkan kakinya menjauh dari jangkauan kaki Feli. Bisa-bisa istri cantiknya itu kembali menendangnya.
"Darren, apa yang kau lakukan?" Feli melotot kesal ke arah Darren, Darren tahu tatapan istrinya itu bukanlah akting. Feli benar-benar menatapnya dengan marah.
"Bagaimana Em, kau bersedia?" Darren mengabaikan kemarahan Feli, dan menatap Emily dengan penuh keyakinan.
Emily menata Bernard, yang juga sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
Jika aku menerimanya, tentu saja aku akan menikmati semua kekayaannya, aku tidak membutuhkan pria tua itu lagi. Tapi bagaimana jika dia membunuhku?
"Em?"
"Tidak bisa seperti itu, Darren" Clarissa tiba-tiba menimpali.
"Aunty Laura memintamu untuk menikah denganku_"
"Lalu jika dia memintanya, haruskah aku menurutinya. Ayolah Clarissa, aku tahu kau masih menyimpan perasaan padaku, tapi maafkan aku, aku menyukai Emily"
"Darren" lirih Feli.
Perkataan Darren yang menyatakan suka terhadap Emily, membuat kristal bening menggenang di pelupuk mata Feli.
Darren menoleh dan terhenyak begitu melihat mata Feli yang sepertinya sebentar lagi akan mengeluarkan tangisannya.
Ada apa dengan Feli? Aku hanya berakting sayang, kenapa kau harus menangis?
Darren mencoba berbicara lewat tatapan matanya. Feli, terlihat mengepalkan kedua tangannya, ia menengadah ke atas menahan air matanya agar tidak jatuh.
__ADS_1
Sekalipun dia berakting, kenapa rasanya menyakitkan.
Begitu melihat Feli yang sudah bisa mengendalikan dirinya, Darren kembali menatap Emily.
"Bagaimana, Em?"
"Lalu bagaimana dengan istrimu?" tanya Emily dengan menatap ragu ke arah Bernard dan Feli secara bergantian.
"Aku ingin menjadi satu-satunya" ucapnya mulai menunjukkan keserakahannya.
"Apa maksudmu?!" bentak Bernard dengan suara yang mampu mengagetkan semuanya.
Darren yang melihat para penyamun itu sepertinya mulai terpancing, mulai memikirkan ide gila yang ia yakini akan mendapatkan murka dari istri tercintanya itu.
Maafkan aku, sayang.
"Aku akan menceraikannya, karena tetap saja ia tidak akan bisa memberikan seorang keturanan bagi keluarga Maxston"
Senyum lebar menghiasi wajah Emily, berbanding terbalik dengan wajah Clarissa yang terlihat murka dan cemburu, jangan tanya Feli, air matanya mengalir seperti sungai yang mengalir deras. Perasaannya benar-benar hancur saat mendengar kata cerai dari mulut Darren.
Pantas saja Darren murka saat aku mengatakan kata itu, ternyata rasanya sangat menyakitkan.
Feli segera berlari meninggalkan ruangan itu. Sungguh ia tidak sanggup untuk melanjutkannya lebih jauh. Ia takut merusak rencana mereka. Ada dengan dirinya? kenapa ia sensitif sekali. Ia tahu Darren berpura-pura, tapi kenapa ia merasa sakit.
Sementara Darren, sekuat tenaga menahan kakinya agar tidak berlari menyusul istrinya itu. Ia ingin keadaan ini cepat berlalu, agar ia dan Feli bisa hidup dengan tenang.
"Kau akan menyesal Darren, Emily adalah wanita iblis,"
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Kau bahkan berselingkuh dengan Bernard di belakang, aunty Laura" tuding Emily dengan wajah sinis.
Wajah Clarissa memerah menahan amarah bercampur malu. Laura menatapnya dengan datar, tidak terlihat emosi apa pun di dalamnya. Bernard semakin berang, ia melangkah berjalan mendekati Emily, ia lalu menarik tangannya dengan kasar agar bertatap muka dengannya.
"Apa kau ingin mati?"
"Lepaskan aku?"
"Apa kau fikir aku akan mengizinkanmu menikah dengannya dengan begitu mudah."
"Darren" Emily meminta bantuan kepada Darren. Ia merasa dirinya sudah menjadi milik Darren.
"Lepaskan calon istriku, Lincoln!" Darren menarik Emily ke sampingnya, menatap Lincoln dengan tatapan tajam, pun sebaliknya Bernard, menatapnya dengan sengit.
__ADS_1
Detik berikutnya Bernard tertawa membuat Laura, Darren dan yang lainnya mengernyit bingung.
"Calon istri?!" Bernard kembali menarik tangan Emily.
"Wanita yang kau sebut calon istrimu ini adalah istriku, Masxton. Dan wanita ini jugalah yang merencanakan untuk menghabisi kandungan istrimu"
"Sialan kau br*ngsek!" Emily mendorong tubuh Bernard dengan kasar.
"Lalu bagaimana denganmu, kau bahkan sudah membunuh wanita tua itu"
"Kau yang memberinya racun, jika kau lupa wanita rubah!"
"Kau yang memintaku untuk membunuhnya"
Darren dan Laura kompak mendengus, ternyata musuh yang mereka hadapi bukanlah orang yang sulit di hadapi. Keserakahan membuat mereka lupa diri, hingga akhirnya mereka membuka kedok mereka sendiri.
Darren mengambil ponsel dari sakunya, ia segera menghubungi seseorang yang sudah menunggu di luar.
"Lucas, kau boleh membawa para polisi itu masuk ke dalam, pertunjukkannya sudah selesai." Darren segera memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Lucas.
Emily dan Bernard terdiam dari aksi adu mulut mereka begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Darren. Tidak beberapa lama, Lucas masuk dengan membawa beberapa polisi yang langsung memborgol tangan ketiganya.
"Apa-apaan in!!" bentak Bernard, tidak terima.
"Apa kau sedang mempermainkanku?" teriak Emily di depan wajah Darren. Darren mengangkat tangannya dan melayangkan sebuah tamparan di wajah mulus Emily, membuat semuanya terhenyak. Tamparan yang dilayangkan Darren bukan main-main. Wajah itu seketika membiru dan sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah.
"Itu balasan untuk air mata yang sudah dikeluarkan istriku."
"Kau fikir aku akan tertarik dengan wanita menjijikkan sepertimu?! Berhentilah bermimpi!" Darren membersihkan tangannya dengan sapu tangan miliknya dan melemparnya ke wajah Emily. Darren kemudian melangkah mendekati Bernard. Menyunggingkan senyum sinisnya.
"Usiamu sudah cukup tua untuk bermain kotor, Lincoln" Bernard melayangkan tinju di perut Bernard. Sama seperti yang dilakukannya terhadap Emily, Darren membogemnya dengan kekuatan penuh. Bernard meringis kesakitan, wajahnya menahan amarah dan menatap Darren dengan tajam.
"Membusuklah di penjara!"
"Silahkan berikan hukuman yang seberat-beratnya untuk ketiga tikus kotor ini" Darren memberikan rekaman dari kejadian tadi kepada polisi yang akan menangani kasus mereka.
Darren dan Laura bernapas lega, begitu ketiganya sudah di bawa oleh pihak berwajib.
"Kau baik-baik saja, Aunty?" Darren merangkul bahu Laura. Laura tersenyum lebar seraya menganggukkan kepalanya.
"Tidak pernah sebaik ini, aku sungguh merasa lega" Laura mengusap lengan keponakannya itu.
"Tapi sepertinya kau yang tidak baik-baik saja, kau perlu membujuk istri cantikmu itu."
__ADS_1
Darren kembali mendesah. Ya, sepertinya kali ini Feli akan mendiamkannya kembali.