Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
73. Pilihan Feli


__ADS_3

Empat bulan berlalu sejak Feli mengalami keguguran. Sampai detik ini, Feli juga tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilannya. Setiap malam dan setiap ada kesempatan, ia dan Darren selalu berusaha untuk mencetak keturunan Maxston.


Tok.Tok


Terdengar suara ketukan dari luar kamar, mengurungkan niat Darren dan Feli yang akan beristirahat.


"Aunty?"


Darren mengernyit begitu melihat Laura yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Ini adalah pertama kali Laura mendatangi kamar mereka.


"Apa aku bisa masuk?"


Darren mengangguk seraya memundurkan tubuhnya, memberi ruang kepada Laura untuk bisa masuk. Laura pun masuk dan berniat untuk menutup kembali pintu kamarnya, tapi Laura menghentikannya.


"Biarkan saja terbuka"


"Jadi katakan apa rencana kalian berdua selanjutnya? Apa kalian akan melakukan surogasi (menyewa rahim pengganti) atau kau bersedia Darren menikah lagi?" Laura bertanya to the poin dan menatap langsung ke arah Feli. Feli terkejut mendengar pertanyaan menohok yang dilayangkan kepadanya, tepatnya bukan pertanyaan tapi pilihan. Ya, Laura bertanya kepadanya dengan memberinya dua pilihan. Pilihan yang tidak mungkin baginya untuk memilih.


"Aunty!" tegur Darren setengah membentak.


"Biar bagaimana pun, Maxston tetap membutuhkan seorang penerus, dan suamimu satu-satunya yang mampu memberikan keturunan bagi generasi Maxston_"


"Aunty, kau menyakiti istriku" Darren menyela ucapan Laura, dengan wajah kesal ia menatap Laura.


"Aku tidak bermaksud menyakitinya, tapi itu adalah kenyataannya. Kau harus memberikan keturunan bagi keluarga ini, dan istrimu tidak mampu memberikannya, jadi pilihannya adalah kau harus menikah lagi atau tidak, kalian harus menyewa rahim pengganti"


Feli hanya terdiam tidak berniat sama sekali untuk membalas semua perkataan Laura.


"Aunty, jangan membuatku marah" ancam Darren, berharap ancamannya bisa membuat Laura diam.


"Feli, sayang, aku harap kau tidak mengambil hati apa yang dikatakan oleh Aunty, Laura"


"Tapi tetap saja, kalian berdua harus membuat keputusan, Darren!"


"Aunty, aku minta keluarlah dari kamarku"


"Nonna juga akan mengatakan hal yang sama esok hari"


"Aku minta keluarlah!" Darren setengah membentak.

__ADS_1


Laura pun akhirnya pergi meninggalkan kamar Darren dan Feli. Darren segera mendekat ke arah Feli, menggenggam tangan Feli dengan lembut seraya mengusap punggung tangannya.


"Jangan dengarkan, aunty"


"Yang dikatakannya benar, Darren"


"Feli...." erang Darren tidak suka.


"Hanya kau satu-satunya yang mampu memberikan penerus bagi keluarga ini. Dan kau, tentu saja tahu betapa pentingnya seorang penerus bagi keluarga pebisnis seperti kita"


"Kita akan berusaha memberikannya sebanyak yang mereka mau"


"Aku belum tentu mampu memberikan satu penerus bagimu dan keluargamu, Darren"


"Jadi kau ingin melihatku bersama wanita lain?" emosi Darren mulai terpancing. Feli hanya diam, menatap kosong ke arah Darren. Dalam hati ia menjerit tidak, sungguh ia tidak akan sanggup melihat Darren bersama wanita lain. Melihat Darren tersenyum saja pada wanita lain bisa membuatnya menggila, apalagi membayangkan Darren menyentuh wanita lain.


"Ayolah, Feli kita baru saja menyelesaikan permasalahan ini beberapa waktu lalu, jangan katakan kita harus mengulanginya lagi"


"Aku ingin tidur" Feli memilih mengabaikan ucapan Darren, ia segera menutup matanya dan memunggungi Darren.


Darren menghela napasnya. Sepertinya hari-hari terberatnya belum selesai. Darren harus mempunyai stok kesabaran ekstra untuk menghadapi para wanita di rumah ini. Ia segera turun dari tempat tidur untuk menutup pintu kamarnya. Dahinya mengernyit begitu melihat sekilas bayangan di dekat pintu kamarnya.


Apa ada yang menguping pembicaraan kami.


Keesokannya harinya, Darren terbangun dan tidak menemukan Feli di sampingnya. Darren segera turun dari ranjang dan mencari Feli ke kamar mandi. Kosong. Ia tidak menemukan Feli di sana. Darren segera turun untuk mencari keberadaan istrinya itu, Darren bernapas lega begitu melihat Feli sedang bersama Grandmanya dan juga Laura.


"Sayang" Darren mengusap lembut kepala Feli. Feli mendongak dan hanya menatap Darren sekilas.


"Duduklah" perintah Nonna.


Dengan patuh, Darren segera duduk di samping Feli. Dahinya berkerut begitu melihat beberapa lembar foto wanita berserakan di atas meja.


"Ada apa ini?" desisnya tidak suka.


"Kau bisa memilih salah satu wanita di foto ini untuk mengandung bayimu" jawab Laura.


"Aunty!"


"Kau tidak mempunyai pilihan Darren, kecuali kau mau menikah dengan wanita lain, dan tentu saja jika Feli_"

__ADS_1


"Aku tidak akan menikah dengan siapa pun itu dan aku hanya ingin anak yang lahir dari rahim Feli" Darren beranjak dari kursinya.


"Kalau begitu ceraikan Feli!"


Darren tersentak, ia menoleh cepat ke arah orang yang baru saja mengucapkan kata yang membuatnya darahnya mendidih. Kenapa para wanita di rumah ini begitu mudahnya mengucapkan kata cerai.


"Grandma apa yang kau katakan?"


"Jika kalian tidak mau menyewa rahim pengganti, sebaiknya kalian berdua bercerai"


"Apakah seorang penerus begitu pentingnya bagi kalian? Apa perasaanku dan pernikahan tidak penting bagi kalian?"


"Grandma kau benar-benar membuatku, kecewa"


Darren segera menarik tangan Feli, membawanya pergi meninggalkan Grandmanya dan juga Laura di sana. Begitu ia dan Feli sampai di kamarnya, ia segara menarik Feli ke dalam pelukannya.


"Jangan hanya diam, kau boleh menangis jika kau merasa sakit, dan kau juga harusnya memberontak" ucapnya lembut.


"Mari kita melakukan surogasi"


"Feli..."


"Kita hanya menyewa rahimnya, bukan sel telurnya, Darren, jadi bayi itu tetap anak kita"


"Tapi tetap saja itu sangat beresiko, sayang"


"Kita tidak bisa menjamin, wanita yang menyewakan rahimnya itu tidak mempunyai perasaan pada bayi yang dikandungnya, dan kita juga tidak bisa memaksa ia tidak mempunyai perasaan pada bayi tersebut. Kau sudah pernah mengalaminya saat kehamilanmu, Feli. Dan terlebih dari itu semua, aku harus memperhatikannya karena yang dikandungnya adalah anak kita, dan apa kau bisa menjamin, kau tidak cemburu?"


"Jadi kau memilih menikah?!" Feli segera mendorong tubuh Darren. Ucapan Darren, memang ada benarnya. Feli tidak akan mungkin sanggup melihat Darren memberi perhatian kepada wanita lain, tapi melihat Darren menikah dengan wanita lain adalah hal yang tidak mungkin untuk Feli. Ia tidak akan rela berbagi dengan wanita lain. Darren hanya miliknya.


"Aku memilih kita berusaha"


"Apa kau yakin usaha kita akan membuahi hasil? Ini sudah empat bulan, Darren"


"Aku tidak tahu sayang, tapi aku yakin, Tuhan pasti melihat usaha dan kesabaran kita. Bahkan kehamilan pertamamu, kita harus menunggu satu tahun, Feli"


"Tapi sepertinya keluargamu yang tidak sabar untuk menunggu!"


"Aku akan berbicara pada mereka, aku akan meyakinkan mereka, bahwa kita mampu memberikan keturunan bagi keluarga ini. Jika mereka tidak bisa menunggu, lebih baik kita pergi dari sini, aku tidak membutuhkan keluarga yang tidak bisa menghargai perasaan dan pernikahanku."

__ADS_1


"Tidak, kita tidak boleh pergi dari sini sampai semuanya selesai"


"Feli, apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?"


__ADS_2