
"Bawa semua dokumen yang perlu ku tanda tangani. Aku akan memeriksanya" Perintah Darren kepada Lucas begitu ia sampai diruangannya.
"Aku akan segera membawakannya" Lucas segera keluar dari ruangan Darren. Tidak butuh waktu lama ia pun datang dengan beberapa dokumen ditangannya.
"Kau terlihat baik-baik saja untuk ukuran seseorang yang baru di depak dari daftar keluarga McKenzie" Kekeh Lucas melihat wajah Darren yang cukup bersemangat.
"Percayalah Luc, aku akan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam jika Mr. O'Neil McKenzie itu mencoret nama ku dari daftar kartu keluarga"
Lucas tergelak mendengar penuturan sahabatnya itu
"Melihat anggota tubuh mu yang masih lengkap sepertinya pembicaraan mu dengan Tuan McKenzie berjalan lancar"
"Ya dan tidak" Tanpa mengalihkan tatapannya dari dokumen yang diperiksanya.
"Maksudnya?" Lucas mengerutkan dahi nya
"Daddy sudah mengatakan apa yang ingin dikatakan nya, begitu pun aku. Aku juga mengtakan apa yang ingin ku katakan. Tapi tetap saja ia menolak saat aku meminta izin nya buat menikahi Feli" Darren menatap Lucas sekilas lalu kembali memfokuskan matanya pada berkas di meja nya.
"Memangnya orang tua mana yang langsung memberikan putrinya dengan permintaan mendadak seperti itu. Terlebih lagi yang melamarnya adalah orang brengsek yang sudah mereka anggap sebagai anak sendiri" cibir Lucas yang langsung mendapat tatapan tajam dari Darren.
"Dengarkan aku Brother, selama ini Mr. McKenzie menganggap mu sebagai anak yang suka menantangnya dan berlaku seenaknya. Mulai hari ini bersikap lah sebagai calon menantu yang baik dihadapannya"
Darren mulai tertarik mendengar ocehan Lucas. Ia menyingkirkan dokumen yang ada dihadapan nya. Ia perlu menyimak baik-baik apa yang akan dikatakan konsultan cinta dadakan itu. Darren menganggap apa yang dikatakan oleh sahabat nya itu ada benar nya juga. Selama ini ia sangat senang jika bisa membuat Daddy nya itu tidak berkutik. Dan memang sepertinya Daddy nya itu sedang balas dendam padanya. Sekarang Daddy nya memegang kekuasaan penuh. Jika sedikit salah langkah saja, Darren yakin Daddy nya itu tidak akan pernah mencoret nama nya dari daftar keluarga.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kemarilah" Lucas berjalan menuju sofa. Darren menurut dan mengekor. Mereka duduk berhadapan.
"Dengarkan baik-baik apa yang ingin ku katakan ini. Karna ini menyangkut masa depan mu"
"Tidak bisa kah kau langsung ke intinya saja. Tidak usah pakai kata pengantar atau pembuka segala" kesal Darren melihat wajah serius Lucas yang dibuat-buat. Lucas terkekeh
"Pertama-tama jangan terburu-buru untuk melamarnya" Lucas memulai
"Tujuan ku untuk menikahinya Luc" jawab Darren.
"Ya, tapi kau bisa menikahinya hanya bila Tuan dan Nyonya McKenzie memberikan restu mereka" Darren mengangguk mendengar apa yang dikatakan Lucas
"Mulai hari ini bersikap lah lebih baik dihadapan Tuan McKenzie terlebih dahulu. Ambil hatinya dan tunjukkan pada nya bahwa kau benar-benar mencintai putrinya dan akan membahagiaakannya"
"Tanpa harus ku tunjukkan Mommy, Daddy sudah mengetahuinya" Darren malai malas. Ia mulai menyesali kebodohannya yang mau mendengarkan saran sahabatnya itu yang bahkan tidak pernah berkencan sama sekali itu.
"Kau membuang-buang waktu ku Luc" Darren beranjak dari tempatnya. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang secepatnya.
Lucas terkekeh
"Setidaknya mulai hari ini jangan lagi membantah setiap perkataan Daddy mu. Bersikap lah lebih baik kepadanya"
Darren berhenti. Ia menatap Lucas seraya berfikir. Ia lalu menarik nafasnya dalam
"Sepertinya itu akan sulit" kekeh Darren yang membuat Lucas geleng-geleng kepala.
"Kau tahu bagaimana rasanya membuat Daddy kesal?" Darren bertanya kepada Lucas
"Aku mana tahu" Jawab Lucas malas
"Sama hal nya seperti mendapat ciuman dari Feli. Menenangkan dan memabukkan"
Sungguh Lucas ingin sekali menonjok wajah menjijikan sahabatnya itu. Jika ini diluar kantor ia pasti sudah melakukannya. Tapi sayang nya ini masih dikantor dan yang dihadapannya ini adalah Boss nya.
Lucas berdecak
"Diantara dokumen itu ada hasil laporan yang kau perintahkan untuk diselidiki" Lucas berdiri dan segera menuju meja Darren dan mengambil laporan yang dimaksudnya.
Darren kembali duduk di sofa begitu menerima berkas yang diberikan Lucas. Ia memeriksanya. Sesekali ia mengerutkan dahinya dan sesekali ia menyeringai.
"Sepertinya mereka sudah merencanakannya dengan baik untuk menyerang keluarga ku. Baiklah mari kita sambut mereka. Kita lihat sejauh mana yang bisa mereka lakukan" ucap Darren dengan sorot mata tajam. Lucas mengangguk.
¤¤¤¤¤¤¤¤
"Mooommm" teriak Feli dan langsung membuka kamar Mommy nya.
"Oh Daddy juga ada disini" Feli mengernyit pasalnya ini masih terlalu siang untuk dikatakan jam pulang kantor.
"Daddy tidak kekantor?" Tanya Feli penasaran. Mungkin saja Daddy dan Mommy nya bersungguh-sungguh ingin memproduksi satu anak lagi seperti yang dikatakan Daddy nya tadi pagi.
"Daddy baru saja pulang" jawab Felix
"Bagaimana dengan Darren?"
"Ini masih jam kantor Feli" jawab Felix jengah
__ADS_1
"Lalu Daddy"
"Daddy Boss nya"
"Cihh...Boss memang selalu bebas!!"
"Sudah..sudah.." Mommy nya Mika melerai. Terkadang Mika juga heran kenapa anak-anaknya suka sekali membantah suami tercintanya ini walau diakui nya suaminya itu memang terkadang suka menyebalkan.
"Katakan ada apa?" Tanya Mommy nya menatap Feli. Ia yakin putrinya itu ingin mengatakan sesuatu sehingga sampai memdatanginya ke kamar nya.
"Oh..ya..bagus Daddy juga ada disini" Feli menatap Mommy dan Daddy nya bergantian.
"Aku mencintai Darren" ucapnya lantang. Bahkan suaranya sampai menggema diruangan itu.
"Mommy juga mencintai Darren" jawab Mika datar
"Daddy juga" Felix bahkan sampai mengangkat satu tangannya.
"Aku mencintainya layaknya wanita dewasa mencintai pria dewasa. Seperti Mommy dan Daddy" jelas Feli dengan tegas.
Felix menarik tubuh istrinya agar mendekat.
"Kita harus pura-pura terkejut" bisiknya ditelinga istrinya.
"APA?" jawab mereka kompak dengan raut wajah terkejut yang dibuat-buat.
"Wajah kalian terlihat sangat menggelikan untuk ukuran orang yang dikatakan terkejut" Feli memutar bola matanya
"Jadi Mommy dan Daddy sudah mengetahuinya" Feli merengsek duduk diantara Mommy dan Daddy nya.
"Tumben sekali dia peka" ucap Felix
"Memang nya siapa yang tidak bisa melihat tatapan memuja mu yang kau tunjukkan setiap melihat Darren. Orang buta sekalipun tahu bahwa kau sangat tergila-gila kepada Darren" Mika mengusap lembut rambut putri nya itu.
"Jadi Mommy dan Daddy menyetujuinya" pekik nya girang
"Ya"
"Tidak!"
Jawab Mommy dan Daddy nya bersamaan. Feli dan Mika melotot tajam kearah Felix
"Maksud ku tidak semudah itu untuk memberikan putri kita kepadanya. Kita perlu melihat sebesar apa Darren mencintai Feli" jelas Felix
"Apa?" Pekik Mommy dan Daddy nya bersamaan. Kali ini mereka benar-benar terkejut mendengar kenyataan itu.
"Bagaimana ia bisa menahannya selama ini" Gumam Felix
"Wahh...dia memang mewarisi sifat ku. Mencintai hanya satu wanita" ucap nya bangga yang diangguki Feli. Maksudnya Feli mengangguk setuju bahwa Darren hanya mencintai satu wanita yaitu dirinya. Bukan karna setuju Darren mewarisi sifat Daddy nya.
"Jadi kapan Mommy dan Daddy akan menikahkan kami" tanya Feli antusias
"Oh..bisakah kita tidak usah membahas pernikahan dulu" ucap Felix jengah.
"Ya..Mommy juga tidak sabar ingin memiliki cucu" jawab Mika tak kalah antusias mengabaikan protes suaminya.
"Katakan Mom, kau ingin memiliki cucu berapa banyak. Aku dan Darren akan menyicilnya mulai sekarang" ucapnya enteng yang membuat Mommy dan Daddy nya sukses melebarkan bola matanya hingga pupil nya hampir saja keluar.
"Me-nyi-cil?" ulang Felix penuh tekanan. Feli mengangguk. Felix memarik nafas dalam. Ia perlu pasokan oksigen yang banyak.
"Apa artinya..kau dan Darren..Kau dan Darren sudah melakukannya" Mika tergagap.
Feli tidak menjawab. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan ekspresi wajahnya menunjukkan sesuatu yang lain
"Demi Tuhan Feli jangan menunjukkan wajah malu-malu mu seperti itu. Kau bisa membuat Mommy dan Daddy jantungan" ucap Felix dengan suara tertahan. Sungguh wajah Feli yang terlihat malu-malu itu sangat menakutkan buat Felix dan Mika.
"Aku pulang" terdengar suara Darren.
"Oh...kekasih ku sudah pulang" Feli segera beranjak untuk menyambut Darren, mengabaikan wajah terkejut Mommy dan Daddy nya tadi.
"Aku harap jantung ku kuat untuk menghadapi ini" gumam Felix yang diangguki oleh istrinya Mika.
"Ya kita harus belajar terbiasa dengan keadaan ini sayang" jawab Mika.
¤¤¤¤¤¤
"Kau sudah pulang" Feli berlari menyambut Darren. Ia segera mengambil alih tas dari genggaman Darrren. Darren tersenyum simpul melihat tingkah Feli.
"Kau sedang belajar menjadi istri yang baik?" Darren menariknya kedalam pelukannya. Feli mengangguk dalam pelukannya.
"Mommy dan Daddy sudah setuju?" ucapnya. Darren melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Kau mengatakannya pada Mommy dan Daddy?" Darren menatap Feli
Feli mengangguk
"Hmm...tapi tetap saja Daddy belum mengizinkan kita untuk menikah secepatnya"
Darren tergelak. Ia tahu Daddy nya itu tidak akan semudah itu memberikan izinnya.
"Bersihkan dirimu dan segeralah turun. Aku mempunyai ide agar Daddy segera menikah kan kita" Feli mendorong tubuh Darren.
Darren segera turun setelah membersihkan dirinya. Ia melihat keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Ia berjalan perlahan dan mendaratkan bokongnya disamping Feli. Darren menyentil hidung Feli yang disambut Feli dengan senyuman manis.
Felix berdecak. Sungguh sangat sulit buatnya belajar terbiasa melihat tingkah menggelikan mantan putranya itu dengan putri kesayangannya.
"Menjijikkan" gumamnya yang ternyata di dengar oleh putrinya. Feli menatap Daddy nya tajam.
"Mom...Dad..aku hamil" ucapnya datar tanpa melepaskan tatapan kesalnya pada Daddy nya.
"APA" pekik Mommy, Daddy dan Darren terkejut. Satu-satunya yang tidak terkejut adalah adiknya Mike. Ia hanya mengangkat kepalanya sekilas untuk menatap Feli lalu ia menggelengkan kepalanya. Sungguh Feli belum pernah melihat wajah adiknya itu terkejut. Entah hal apa yang bisa membuat adiknya itu terkejut. Sikapnya yang terlalu tenang itu sangat menjengkelkan bagi Feli.
"Kenapa bisa hamil? Kapan kita melakukannya?" Darren menarik tubuh Feli agar berhadapan dengannya. Feli mengedipkan matanya yang langsung difahami oleh Darren bahwa Feli sedang berakting. Tapi tetap saja ia tidak setuju dengan ide gila kekasihnya itu. Jika ia tahu ide yang dimaksud Feli tadi adalah ini, sunngguh ia akan melarang nya. Ia tidak akan sanggup melihat tatapan kecewa Mommy nya pada mereka.
"Beraninya kau menanyakan hal seperti itu brengsek!" Felix emosi dan berdiri dari tempatnya. Ia mengusap wajahnya kasar lalu berkacak pinggang menatap Darren dan Feli bergantian.
"Tenanglah. Kita bisa membicarakan nya baik-baik" Mika berdiri dan menuntun suaminya agar kembali duduk
"Bagaimana bisa tenang. Kau mendengar baru saja putri kita mengatakan bahwa dirinya hamil dan kekasih brengseknya itu malah bertanya kapan mereka melakukannya" Felix menatap tajam kearah Darren. Bahkan tanpa ia sadari ia sudah mengakui Darren sebagai kekasih putrinya.
"Dad, aku sungguh tidak pernah menyentuh Feli" Darren membela dirinya
"Tidak pernah kau katakan. Biar ku ingatkan Darren Lionel McKenzie"
"Maxston" Ralat Darren.
"Darren Lionel Maxston" Masih sempat-sempatnya Darren mengkoreksi yang membuat Felix semakin geram
"Katakan dimana letak kau tidak menyentuhnya disaat kejadian tadi pagi membuktikan dimana lipstik Feli meninggalkan jejak nya di wajah sialanmu itu" umpat Felix yang hampir membuat Mika tergelak mengingat kejadian tadi pagi. Darren meringis. Feli yang tidak mengetahui nya melebarkan matanya karna terkejut. Ia menoleh menatap Darren
"Kita terlalu bergairah tadi pagi" bisik nya ditelinga Feli. Wajah Feli merona.
"Masih sempat-sempatnya kalian berbisik-bisik dikeadaan genting seperti ini. Demi Tuhan Mika, aku sungguh tidak percaya kita yang sudah membesarkan dua anak kurang ajar ini" Felix menunjuk kearah Darren dan Feli.
"Dad...tenanglah. Aku dan Feli sungguh tidak pernah melakukannya" Darren menenangkan Daddy nya.
"Feli katakan pada Daddy bahwa kau sedang bergurau sayang" pinta Darren lembut.
"Aku sungguh hamil Darren" Feli berakting pura-pura merasa mual dan ingin memuntahkan sesuatu yang membuat Felix semakin kalap.
"Feliii..." tegur Darren
"Oh Tuhan, aku sungguh tidak menyangka telah membesarkan manusia brengsek seperti mu"
"Felix, perhatikan ucapan mu. Kau bisa menyakiti Darren" tegur Mika tidak suka mendengar kalimat yang dilontarkan suami nya itu pada anak nya.
"Dad, Mom percayalah kami sungguh tidak pernah melakukannya. Aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya" Felix menatap tajam kearahnya
"Ok..Ok.. Aku memang pernah menyentuhnya. Beberapa kali kami memang berciuman. Hanya berciuman. Itu juga masih terhitung jari Dad" ucap Darren kesal melihat tatapan menyelidik Daddy nya. Sungguh sekarang ia telah melakukan hal bodoh, menjelaskan seberapa sering ia mencium kekasihnya dihadapan orang tuanya yang merangkap menjadi calon mertuanya.
Felix masih menatapnya tidak puas dan masih tidak percaya dengan jawaban Darren. Darren menarik nafas dalam
"Baiklah, aku mengakuinya. Aku pernah menyentuh itu nya satu kali tanpa sengaja" tutur Darren dengan wajah menahan malu.
Mommy dan Daddy nya melebarkan matanya
"Itunya apa maksud mu anak sialan. Katakan dengan jelas" Hardik Felix semakin gusar.
"Ok..aku mengakui aku yang sudah mengirim pesan masuk berkonten dewasa itu kepada Feli"
Dan kalimatnya itu sukses membuat sandal jepit Mommy nya mendarat diwajahnya. Seketika semuanya menjadi hening. Ratu murka.
"Katakan dengan jujur apa yang sudah kalian berdua lakukan dibelakang kami" Mika menatap horor pada kedua ananknya dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Mom kami hanya berciuman beberapa kali" ringis Darren.
"Dan soal tangan nakal ku yang mendarat di salah satu aset Feli. Percayalah itu unsur ketidak sengajaan Mom" jelas Darren
Mika menatap Feli meminta penjelasan. Feli mendengus.
"Yes Mom. Aku dan Darren belum pernah melakukannya. Beberapa kali aku memintanya tapi dia menolak ku" Kejujuran Feli sungguh membuat Felix naik darah.
"Sayang, katakan pada ku bahwa persediaan buah untuk menurunkan darah tinggi masih mencukupi di rumah kita"
__ADS_1
Ucapan Felix hampir saja membuat Darren dan Mike tergelak. Sementara Mommy mereka menatap iba kepada suaminya. Ia mengerti apa yang dirasakan suaminya karna ia juga merasakannya. Bagaimana bisa putrinya murahan seperti itu. Mencintai sampai menggila seperti itu. Untung saja pria yang dicintainya adalah Darren. Darren yang dibesarkannya dengan didikannya yang ia yakini tidak akan mengecewakannya dengan melanggar aturan yang diterapkannya. Mika tidak bisa membayangkan jika pria yang dicintai Feli adalah pria lain. Bisa saja pria lain itu sudah memanfaatkan kepolosan dan kebodohan putrinya itu.
T.b.c