
Darren dan keluarganya menghabiskan makan malam tanpa Feli. Feli beralasan sedang tidak enak badan.
Feli yang meringkuk di dalam kamar nya sedang sibuk dengan fikirannya. Mau sampai kapan ia terus begini. Sungguh Feli dibuat dilema.
Ting
Ponsenya berbunyi tanda pesan masuk. Feli mengambil ponselnya. Ia mengerutkan dahi nya. Nomor tidak diketahui
08xxxx
Temui aku jam 2 siang besok!! di Cafe Xx
jika tidak aku akan menemui kekasihmu dan membuka kebusukan keluargamu.
Feli menggigit bibirnya. Ia merasakan kegugupan. Ia yakin Noura yang mengirimi nya pesan itu. Ditengah kegugupannya pintu kamarnya terbuka. Ia menoleh. Darren berdiri disana dengan nampan berisi makanan. Melihat wajah Darren seketika hatinya menghangat. Kegugupannya menguap begitu saja.
"Kau melewatkan makan malam mu" Darren berjalan perlahan. Ia duduk dihadapan Feli. Meletakkan nampan dipangkuannya lalu menyentuh kening Feli dengan punggung tangannya untuk mengukur suhu tubuh Feli.
"Katakan Aaaa.." ucap Darren. Feli menurut. Darren menyuapkan makanannya. Ia menyuapi Feli dalam hening. Tidak ada percakapan sama sekali sampai makanannya habis.
"Kau tidak boleh sakit Feli" Darren membersihkan bibir Feli dengan ibu jari nya.
"Katakan apa yang sedang mengganggu fikiranmu" Satu tangannya menggenggam tangan Feli dan satu nya lagi mengusap-usap wajah cantik Feli.
Feli menggelengkan kepalanya lalu segera memeluk Darren. Darren tersenyum. Ia membalas pelukan gadisnya itu. Mengusap punggung dan rambutnya dengan lembut. Menenangkan Feli adalah keahliannya.
"Darren" lirih Feli
"Iya sayang"
"Aku mencintaimu"
"Dan kau tahu aku lebih mencintaimu"
"Benarkah"
"Kau bisa merasakannya" Darren mengecup kepalanya.
"Bisakah kau berjanji satu hal kepadaku" pinta Feli
"Apa pun itu. Asal jangan meminta ku untuk meninggalkanmu"
Seketika air mata Feli tumpah, Feli menggelengkan kepalanya didalam pelukan Darren
"Jangan pernah pergi sekalipun aku meminta mu pergi" Ucapnya terisak.
"Hei sayang..kau menangis" Darren melepaskan pelukannya. Mengangkat wajah Feli. Darren merasakan sesak di dadanya melihat air mata diwajah Feli. Ia bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat gadisnya itu menangis.
"Aku tidak menyukai yang seperti ini Feli" Darren mendekatkan wajahnya mencium mata Feli yang basah oleh air mata.
"Asin" gumamnya yang masih bisa didengar Feli. Feli terkekeh
"Siapa yang menyuruhmu menjilat air mata ku" rengek Feli.
"Aku haus" jawabnya enteng yang membuat Feli memukul dada Darren.
"Sudah tenang?" tanya Darren. Feli tersenyum lalu mengangguk. Darren bernafas lega.
"Lalu katakan apa yang sedang mengganggu fikiranmu?" Darren mengangkat tangan Feli lalu ia letakkan di wajahnya.
"Jangan sekarang" jawab Feli pelan. Darren mengangguk.
"Lalu apa alasan kau ingin kembali pada pekerjaanmu?" Darren mengecup tangan Feli
"Aku bosan"
"Tidak bisakah aku melarang?"
Feli menggeleng
"Baiklah. Lakukan seperti yang kau inginkan" Feli menatap Darren tidak percaya.
"Kau menyetujuinya?" Feli memastikan.
__ADS_1
"Kau mengatakan aku tidak bisa melarang"
"Tidak ada pilihan selain mengikuti kemauanmu" ucapnya lembut
"Jangan bersedih lagi" lanjutnya kemudian. Feli mengangguk.
"Terimakasih Darren..aku sungguh sangat menyayangimu" Feli membanjiri Darren dengan ciuaman bertubi-tubi.
"Ayo kita istirahat. Besok kau akan memulai hari mu yang sibuk" Darren membaringkan tubuh Feli diatas ranjang lalu menyelimutinya.
"Kau akan tidur disini?" tanya Feli ragu-ragu
"Kau tidak menginginkannya?" Darren menjawabnya dengan pertanyaan.
"Aku merindukannya" jawabnya jujur. Darren tersenyum
"Aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari ini karena tidak bisa memelukmu. Kau tahu memelukmu lebih nyaman daripada memelukku gulingku" Darren naik keatas ranjang dan menarik Feli agar mendekat dengannya.
"Kau menyamakan ku dengan guling" protes Feli.
"Goodnight love" Darren mengecup kening Feli mengacuhkan protesnya.
"Menyebalkan" gerutu Feli.
Tidak butuh waktu lama Feli pun tertidur dalam dekapan Darren. Suara nafas Feli terdengar teratur. Darren segera menggeser tubuh Feli dengan perlahan. Ia pun turun dari ranjang dan mencari ponsel Feli. Ia segera memeriksa ponsel Feli begitu ponsel Feli ada di genggamannya.
"Ternyata wanita ular itu sudah menjalankan aksinya"
Darren menarik nafas dalam lalu ia menatap wajah terlelap Feli
"Ternyata ini yang mengganggu fikiranmu. Ketakutanmu itu sia-sia sayang. Karna tidak ada satu alasan pun yang bisa membuatku meninggalkanmu" Darren mengecup kening Feli lalu kembali naik keranjang. Besok ia akan menemui wanita ular itu sebelum wanita itu menemui Feli.
¤¤¤¤¤¤
Paginya Feli terbangun tanpa ada Darren disisinya. Ia melirik jam nya. Mungkin Darren sudah bersiap-siap ingin pergi bekerja. Feli segera turun dari ranjangnya dan langsung menuju kamar mandi. Membasuh wajah dan menyikat giginya. Ia lalu turun kebawah untuk menyapa keluarganya seperti biasanya.
Feli mengernyit ketika tidak menemukan Darren disana. Ia menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari keberadaan sang kekasih hati.
"Sepertinya itu panggilan wanita" bisik Mike ditelinga Feli begitu Feli duduk. Feli melotot tajam kearah Mike seolah mengatakan kubunuh kau
"Aku mendengarnya" Tidak mempedulikan tatapan membunuh Feli.
"Posisi mu sudah tidak aman Feli" Mike semakin gencar memprovokasi Feli.
"Mike...jangan menggoda kakak mu" tegur Felix. Feli menoleh menatap Daddy nya lekat. Melihat tatapan Feli yang sangat intens padanya Felix jadi salah tingkah.
"Dad.." panggil Feli masih dengan menatap Daddy nya lekat
" Ya honey"
"Kau tahu aku sangat menyayangimu"
Mika menghentikan langkahnya yang ingin mengambil sesuatu didapur. Ia memilih duduk kembali didekat suaminya. Ada apa dengan pernyataan sayang dipagi hari.
Felix menatap istrinya seolah merasakan kebingungan yang sama dengan istrinya.
"Tentu saja little girl. Dan kau tahu Daddy juga sangat mencintaimu"
"Dad..adakah alasan khusus kau membesarkan Darren?"
Felix dan Mika saling menatap. Felix menelan saliva nya susah payah. Ketakutan menyerangnya. Mungkin kah Feli nya sudah mengetahuinya. Tapi tidak mungkin Darren memberi tahu nya. Lalu ada apa dengan pertanyan itu? Felix berperang dalam hatinya.
"Tidak ada alasan Feli. Daddy sungguh menyayangi nya begitu juga dengan Mommy mu" ucapan Felix diangguki oleh Mika
"Seperti yang kau lihat, terkadang Darren memang menyebalkan tapi tetap saja ia sangat mudah untuk disayangi" jelas Felix sambil terkekeh.
"Dad..apakah menurutmu rahasia harus disembunyikan"
Pertanyaan Feli sungguh membuat Mika dan Felix bingung. Ingin rasanya ia menanyakan apa Feli sudah mengetahui masa lalu nya. Tapi bagaimana jika Feli belum mengetahuinya, bukan kah itu akan membuat anak-anaknya bingung dan bertanya masa lalu seperti apa yang dimaksudnya. Felix menarik nafas dalam.
"Namanya rahasia tentu saja harus disimpan sayang" mendengar jawaban Daddy nya ada rasa kecewa dihatinya.
"Tapi jika rahasia itu justru membebani mu dan menghantuimu sebaiknya tidak perlu menyimpannya" lanjut Felix yang membuat senyum terukir diwajah Feli
__ADS_1
"Terkadang kita takut untuk mengungkapkan rahasia itu bukan karena kita pengecut hanya saja kita tidak siap untuk dibenci"
"Bukankah itu juga pengecut Dad?" Mike menimpali
"Tidak son, tapi serakah" Felix menatap Mike dan Feli bergantian.
"Pengecut bila kau memberikan harapan kepada seseoang tanpa berniat untuk membalasnya. Sedangkan serakah kau ingin bahkan menuntut menerima lebih dari apa yang sudah kau berikan. Kau menutupi kesalahan dengan cinta dan kasih sayang mu dengan harapan ia akan membalas hal yang sama. Dengan begitu tidak akan ada alasan baginya untuk membencimu"
"Daddy harap anak-anak Daddy tidak seperti itu" Felix tersenyum getir.
"Bagaimana dengan mu Dad?" tanya Feli yang membuat Felix kembali tersenyum miris
"Aku pernah melakukan keduanya" Felix menarik nafas dalam. Terdengar nada kecewa dalam suaranya. Mika mengusap lengan suaminya. Ia tahu perasaan suamimya.
"Jadilah pemberani" Felix menatap Feli
"Aku harap kau juga seperti itu Dad" gumam Feli. Felix mengerutkan dahinya.
"Dad, kau tahu aku sangat mencintai Darren" ucapnya. Felix mengangguk
"Tapi jika disuruh memilih antara dirimu dan Darren. Aku akan tetap memilihmu. Karena aku lebih mencintaimu"
Felix tersenyum haru
"Tapi aku lebih mencintai kalian sayang. Tidak akan kubiarkan kau dan Darren dalam posisi memilih" ucapnya tegas.
"Kau mengetahui sesuatu?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Felix
"Memangnya apa yang harus ku ketahui Dad? tapi yang membuat ku penasaran kenapa kau memilih merawat Darren, sudah ada aku dan Mike. Kau tidak kekurangan anak sama sekali. Apakah itu semacam tanggung jawab atau balas budi? Kau bahkan tidak melarang ku menjalin hubungan dengannya"
"Felicia..." tegur Mika setengah membentak
Felix terkekeh lalu menggeleng
"Kau curang sayang. Daddy yang pertama kali bertanya. Harusnya kau menjawab bukan membombardir Daddy dengan pertanyaan mu"
"Feli.." panggil Felix..Feli mendongak
"Jika pada akhirnya kau dan Darren berjodoh. Itu adalah takdir sayang. Jadi Daddy harap ini terakhir kau mempertanyakan alasan kenapa Daddy merawat Darren. Percayalah sayang itu melukai Daddy dan Mommy. Kau seolah meragukan ketulusan kami. Pertanyaan mu itu Daddy sungguh tidak punya jawaban nya. Sama hal nya jika Daddy bertanya apa alasanmu memilih Darren. Mungkin jawaban mu karna kau mencintainya. Lalu apa alasanmu mencintainya? Daddy yakin kau tidak akan mempunyai jawaban dan alasan untuk itu. Karena perasaan mu digerakkan oleh hati mu bukan fikiranmu. Segala sesuatu yang digerakkan oleh hati kau tidak akan mempunyai alasan logis untuk itu sayang" ucap Felix panjang lebar sebelum beranjak dari kursinya. Ia mengecup kening istrinya lalu berjalan mendekati Feli. Ia memegang kedua bahu putrinya itu. Lalu membungkuk mencium dahi putrinya itu.
"Darren dan Daddy mungkin mempunyai cerita yang tidak kau dan Mike ketahui. Tapi percayalah Daddy dan Darren bisa menyelesaikannya. Darren tidak akan meninggalkan mu hanya karena kesalahan Daddy"
"Dad.." Feli terkejut. Felix tersenyum hangat
"Daddy sudah terlambat. Ayo Mike" Felix menatap Mike yang sedari tadi lebih banyak menyimak. Mike beranjak dari kursinya seraya berjalan menghampiri Mommy nya lalu menciumnya.
"Mommy mu yang akan menjelaskannya" Kembali Felix mengecup dahi putrinya lalu pergi bersama Mike.
"Jadi alasanmu lebih banyak diam beberapa hari ini karna sudah mengetahui masa lalu Daddy mu" Mika duduk disamping Feli. Feli mengangguk
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?
"Tanpa sengaja aku bertemu dengan Aunty Noura Mom"
Mika menarik nafas dalam. Bagaimana bisa wanita itu tidak ada sadarnya. Begitu fikiran Mika
"Seharusnya kau bertanya sayang, bukan malah mengurung dirimu berhari-hari. Kau membuat semuanya khawatir"
"Maafkan aku. Aku ketakutan Mom. Ketakutan akan membenci Daddy dan ketakutan akan dibenci Darren" aku nya jujur.
"Dan ketakutan mu itu sia-sia sayang" Ucapan Mommy nya diangguki oleh Mika. Ia menyesali perbuatannya yang sempat mendiamkan Darren.
"Jadi Darren sungguh sudah mengetahuinya Mom?" Feli perlu memastikan.
"Dia sudah lama mengetahuinya. Sebelum Daddy jujur padanya, Darren sudah mengetahuinya. Mommy sungguh tidak menyangka ia mampu menahan semuanya. Dia sungguh sangat bijak" Mika tersenyum bangga.
"Dia kekasih ku mom" Feli mengumumkan seolah Mommy nya tidak tahu
"Jangan terlalu memujanya" Feli menggembungkan pipinya yang membuat Mommy nya tertawa
"Aku bisa cemburu" lanjut Feli
T.B.C
__ADS_1