Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
53.Positif


__ADS_3

"Darren, apa kau kecewa?"


Darren mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan istrinya yang sekarang sedang berada di pelukannya setelah kegiatan olah raga malam mereka. Darren adalah pria yang sangat manis dan lembut. Ia bukan pria egois jika itu berhubungan dengan istri tercintanya. Jika kebanyakan pria akan langsung istirahat dan tidur begitu melepaskan hasrat mereka dengan istri mereka tapi tidak untuk Darren. Ia akan tetap memanjakan wanita itu. Bertanya tentang hari yang dilalui wanita itu dan mendengarkan semua keluh kesah istrinya mulai dari hal yang sepele sampai hal menggelikan sekalipun. Mulai dari karet rambut yang hilang atau putus atau bahkan jerawat yang timbul di wajah cantiknya. Semuanya akan Darren dengarkan dengan senang hati. Bahkan Darren yang pintar tidak akan keberatan bertanya pada google jika Feli mempertanyakan hal yang Darren tidak mengerti. Misalnya seperti Feli menanyakan kenapa matanya bisa perih setiap mengupas kulit bawang merah dan kenapa matanya tidak perih kalau yang di kupas adalah bawang putih. Kenapa telur ayam yang di ceplok dikatakan telur mata sapi. Kenapa bukan telur mata ayam atau mata panda sekalian. See, menggelikan bukan? Tapi bagi Darren itu tidak menggelikan. Baginya setiap moment bersama Feli-nya adalah hal yang sangat berharga dan berarti.


Feli mendongakkan kepalanya ketika tak kunjung mendengar jawaban atas pertanyaannya.


"Aku kira kau tidur?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Darren mengeratkan pelukannya mengecup kepala istrinya itu


"Sudah hampir satu tahun kita berusaha dan bekerja keras tapi peluru cairmu tidak menghasilkan benih kecebong juga didalam sini" Feli mengusap perutnya yang datar


Darren tersenyum mendengar penuturan istrinya itu


"Kenapa aku harus kecewa, hmm?"


"Aku tahu kau sangat menginginkan anak" jawab Feli pelan


"Aku bisa melihatnya setiap kau berbincang dengan anak kecil anak pemilik mini market yang biasa kita datangi"


Darren memang terlihat sangat bahagia setiap bermain dan bercanda dengan Noah, anak laki-laki pemilik mini market yang masih berumur 3 tahun itu. Tak jarang Darren bahkan membelikannya mainan robot-robotan atau mobil-mobilan. Bukan berarti Feli tidak menyukainya. Feli menyukai Noah sebanyak Darren menyukai anak laki-laki itu. Tapi tak ayal setiap melihat interaksi Darren dan Noah Feli merasa ia tidak berguna karena belum bisa memberikan keturunan bagi Darren. Pelengkap kebahagiaan mereka.


"Semua orang menyukai anak kecil, sayang. Terlebih Noah adalah bocah yang sangat menggemaskan".


"Singkirkan fikiran yang merasuki otak cantikmu itu. Bila waktunya tiba kita juga akan diberikan anak. Tapi seandainya kita tidak beruntung juga tidak masalah buatku. Jadi berhenti berkata kalau aku akan kecewa" Darren menenangkan Feli. Ia tidak ingin istrinya itu terbebani hanya masalah anak yang belum diberikan kepada mereka. Bukan berarti Darren tidak menginginkan anak. Ia sangat menginginkannya. Menginginkan keturunan Maxston yang akan meneruskan generasinya. Tapi dibanding semua itu Felilah yang terpenting untuknya. Ia bisa menahan dan menepis semua keinginannya asal Feli berada di sampingnya. Feli adalah hidupnya. Pusat semestanya. Apa pun akan ia lakukan agar bisa membuat wanita itu bahagia bersamanya. Oh betapa beruntungnya Feli mendapatkan pria seperti Darren. Tapi bagi Darren dirinyalah yang beruntung mendapatkan istri seperti Felicia Breyonna.


"Kita hanya perlu berusaha lebih giat lagi" Darren menyemangati. Menyemangati dirinya dan juga Feli. Jika seandainya memang mereka tidak diberikan keturunan bukan berarti itu salah Feli, bisa saja kesalahannya ada padanya. Jadi ia tidak ingin Feli menyalahkan dirinya sendiri.


"Bukankah kau sangat menyukai prosesnya?" goda Darren mencairkan suasana.


"Kau yang lebih menyukainya?" Feli memukul dada telanjang Darren dengan wajah bersemu merah.


"Ya.ya.ya..aku memang yang ebih menyukainya" Darren mengalah.


"Apa kau akan meninggalkanku jika aku tidak bisa memberikannya?" Kembali Feli bertanya dengan hati-hati. Sungguh ketakutan terbesar Feli adalah Darren meninggalkannya hanya karena ia tidak mampu memberikan seorang anak bagi Darren. Anak yang akan meneruskan generasi Maxston kedepannya.


"Percayalah sayang, pertanyaanmu menyakitiku. Apa kau meragukanku?"


Feli bungkam. Ingin rasanya ia menggelengkan kepalanya dan berteriak bahwa ia tidak pernah meragukan Darren sedikit pun, tapi tetap saja ia takut terluka hanya karena rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi. Jadi ia perlu untuk memastikan. Bukan kah salah satu tujuan pernikahan itu adalah untuk memperoleh keturunan. Jadi ia tidak ingin berfikiran naif bahwa yang dibutuhkan Darren hanya dirinya.


"Heii...dengar kan aku sayang" Darren meminta Feli agar duduk dan menatapnya. Darren menyelipkan rambut Feli dibelakang telinga wanita itu. Mengusap lembut rambut istrinya.


"Tidak akan ada alasan yang bisa membuatku meninggalkanmu. Kau adalah pusat kehidupanku. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sedangkan alasan dan tujuanku hidup adalah kau" ucap Darren tulus tanpa niat untuk membual.


"Aku takut" Feli membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Kau hany perlu percaya kepadaku" Darren mengeratkan pelukannya mengusap punggung istrinya memberikan ketenangan.


"Katakan kau ingin hadiah apa untuk besok" Feli bertanya masih dalam pelukan suaminya


"Hadiah?" Darren bingung tidak mengerti


"Ck...kau melupakannya lagi. Besok adalah ulang tahunmu" Feli mengingatkan.


"Ouhh..astaga...aku sangat tidak suka itu. 30 tahun" Darren mengerang.


"Kau tetap mempesona"


"Katakan apa yang kau inginkan?"


"Aku tidak membutuhkannya, karena aku sudah mendapatkan hadiahku. Kau" Darren menggesekkan hidung mereka.


"Baiklah aku akan memasakkan makanan kesukaan mu besok"


"Tidak!"


"Kau tidak menyukai masakanku?" Feli melotot tajam kearah suaminya.


Ya. Darren membatin

__ADS_1


"Bukan seperti itu sayang, aku menyukainya. sangat menyukainya" Darren menekan kalimatnya.


"Tapi aku tidak menyukai jarimu yang terluka hanya karena memasak buatku. Terakhir lima jarimu harus diplester karena memasakkan sop ayam buatku" Darren beralasan. Tapi itu memang kenyataannya. Setiap Feli mengambil alih dapur jarinya pasti akan teriris. Kemampuan memasak Feli benar-benar sangat buruk. Kau akan berakhir dikamar mandi jika memakan masakan buatannya. Seperti yang dikatakan Darren terakhir kali Feli memasak sop ayam buat Darren dan sampai sekarang Darren tidak melupakan kejadian itu.


"Kau yang memasaknya?" Darren memastikan. Ia berharap Feli menggelengkan kepalanya tapi melihat tampilannya harusnya Darren tidak perlu bertanya lagi. Wortel dan kentang yang hanya dipotong dua. Kunyit dan bawang putih yang mengambang dan tentu saja masih utuh. Dan Darren tidak tahu tujuan benda mengambang itu apa.


"Cobalah. Aku memasaknya sesuai yang aku lihat di tv. Dan berikan penilaianmu" ucapnya polos. Darren meneguk ludahnya susah payah. Tanpa sengaja ia melihat lima jari kiri istrinya itu dibalut dengan plester. Darren kemudian menatap wajah Feli yang terlihat sangat antusias menunggu reaksi Darren


"Baiklah aku akan menghabiskannya" Darren tersenyum hangat. Ia mulai menyendokkan satu sendok kuah sop ke dalam mulutnya. Darren tertegun sejenak. Beberapa kali ia terlihat meringis dan dan menelan susah payah, tapi pada akhirnya sop itu ia habiskan tanpa sisa. Feli tersenyum sumringah melihat mangkok kosong di hadapan Darren.


"Bagaimana?" Tanya Feli antusias.


"Apa ini sakit?" Darren menggenggam jari Feli yang penuh dengan plester. Feli menggeleng. Tadi nya sakit sekarang tidak. Derren mengernyit


"Melihatmu menghabiskannya sakitnya tidak terasa lagi"


Darren tersenyum lalu mengecup jari penuh plester itu.


"Katakan bagaimana rasanya?" Feli mendesak.


"Enak" jawabnya singkat


"Baiklah aku akan mandi dulu" Darren berlalu menuju kamar mereka.


Feli menatap mangkok kosong bekas Darren tadi


"Apa masakannya sungguh enak?" Feli bergumam lalu mengambil sendok Darren mencicipi kuah yang tersisa. Feli terbelalak dan segera menyemburkan kuah dari dalam mulutnya. Ia segera minum dan langsung berlari menuju kamar mereka


"Sayang" Feli mengetuk pintu kamar mandi


"Sayang..apa perutmu baik-baik saja"


Darren tersenyum


"Apa kau sudah mencoba masakanmu, sayang" Darren menyahut dari dalam.


"Kenapa kau menghabiskannya. Rasanya sangat mengerikan" ucap Feli penuh sesal


"Tapi rasanya sangat mengerikan Darren "


Darren terkekeh. Ia membuka pintu kamar mandi dan melihat wajah bersalah Feli. Ia tersenyum geli


"Sekali lagi sebelum menuangkan garam ke dalam masakanmu pastikan dulu yang kau tuangkan itu garam atau gula".


"Dan aku sungguh penasaran sayang, berapa banyak gula yang kau tuangkan kedalam sop masakanmu?"


"10 sendok makan" cicitnya. Darren mengangguk.


"Pantas saja rasanya manis seperti dirimu"


"Dan aku beruntung kau tidak menuangkan garam sebanyak itu karena bisa saja lidah ku mati rasa" kekehnya geli.


πŸ¦€πŸ¦€πŸ¦€πŸ¦€


Feli menggeliat meregangkan otot-ototnya. Setelah mengumpul nyawanya sepenuhnya, ia segera bangkit dari tidurnya. Ia menoleh menatap Darren yang masih tertidur pulas.


"Selamat ulang tahun sayang" Feli mengecup pipi Darren.


"Aku akan memasak buatmu" ucapnya pelan takut suaranya membangunkan Darren. Sekalipun Darren semalam melarang nya untuk memasak tetap saja ia ingin memasak buat suaminya di hari bersejarah suaminya itu.


Feli memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelahnya Feli berjalan menuju dapur mengeluarkan semua bahan yang diperlukannya. Ia dan Darren memang sepakat tidak mempekerjakan maid di rumah mereka dengan alasan tidak ingin terganggu dengan keberadaan para maid saat mereka ingin bercinta dimana pun yang mereka inginkan di dalam rumah mereka.


Feli merasakan mual saat ia mengupas bawang merah dan anehnya matanya tidak merasakan perih


"Oh..ini membuatku mual" Feli segera berlari kedalam kamar mandi dan benar saja ia langsung memuntahkan isi perutnya yang masih kosong.


"Aku rasa aku masuk angin lagi" gumamnya seraya membasuh wajahnya.


"Oh..kenapa perutku sakit sekali..apa aku akan datang bulan.." Feli memegangi perutnya yang terasa melilit

__ADS_1


"Datang bulan? oh astaga aku belum kedatangan tamu bulananku bulan lalu dan ini" Feli segera berlari keluar dari kamar mandi menuju ke kamarnya dan Darren. Ia segera melihat tanggal dan benar saja ini sudah lewat 1 minggu dari jadwal bulanannya. Feli segera membuka laci lemarinya dan mengambil sesuatu yang akan menjawab pertanyaannya.


Feli memasuki kamar mandi. Menampung air seni nya disebuah wadah dan mencelupkan benda yang dibawanya tadi ke dalam wadah berisi air seninya. Feli menunggu dengan harap-harap cemas.


*semoga


semoga


semoga*. Feli membatin


Feli tersenyum lebar begitu melihat dua garis merah. Hasil test packnya positif pemirsa. Akhirnya Feli hamil saudara-saudara.


Feli berteriak tanpa mengeluarkan suara. Ia melompat-lompat kegirangan di tempatnya.


"Oh baby maafkan,Mommy" ucapnya begitu menyadari tindakan bodohannya.


"Baiklah sayang, mari kita bangunkan Daddymu. Berikan dia kejutan terindah" Feli mengusap sayang perutnya yang masih datar. Ia segera menempelkan hasil test packnya di kaca besar yang berada di dalam kamar mandi mereka agar Darren bisa melihatnya.


Feli keluar dari dalam kamar mandi dan segera naik keatas tempat tidur.


"Happy birthday honey" bisik Feli ditelinga Darren. Darren menggeliat geli merasakan nafas Feli di leher dan telinganya. Ia membuka matanya dan tersenyum begitu melihat wajah segar istrinya itu


"Terimakasih sayang" Darren mengecup bibir Feli


"Morning kiss"


"Wake up baby" Feli menarik tangan Darren. Sungguh ia tidak sabar melihat reaksi Darren melihat kejutan yang ia siapkan.


"Dan ambil hadiahmu"


"Ok..ok..ok Mrs.Maxston. Aku akan bangun"


"Kuharap kau tidak melukai semua jarimu hanya untuk memberikankanku kejutan" Darren duduk dan segera menarik kedua tangan Feli untuk memeriksa kelengkapan semua jari jemari istri tercintanya itu.


"Good! Semuanya utuh" Darren mengecup punggung tangan Feli. Ia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Feli menghitung dalam hati


satu


dua


ti....


Pintu kamar mandi terbuka dengan sangat kuat karna dibuka dengan sangat semangat


"Baby..." Suara Darren tercekat.


"Sayang..positif" Darren mengangkat test pack dalam genggamannya. Feli mengangguk dan tersenyum


"Sayang..ini milik siapa?" Sungguh pertanyaan bodoh. Feli melebarkan matanya menatap suaminya tidak percaya.


"Memangnya kau fikir milik siapa?"


"Apa menurutmu aku akan menempelkan punya Mommy di situ?" Feli berjalan mendekat ke arah Darren dan merampas test pack miliknya dengan kesal.


"Jadi itu milikmu?" Pekik Darren dengan suara tertahan.


"Hmmm"


"Oouuhhh...hormon ibu hamil" teriak Darren seraya mengangkat tubuh Feli dan melayang-layangkannya di udara. Feli terpekik lalu ikut tertawa bersama suaminya.


"Terimakasih sayang"


"Terima kasih"


"Aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Feli" Darren menurunkan Feli dan menghadiahinya dengan ciuman bertubi-tubi diwajahnya.


"Aku ingin mengunjungi anak kita" Sebelum Feli protes Darren segera mengangkat tubuh Feli kembali ke dalam gendongannya dan membawanya ke atas ranjang.

__ADS_1


T.B.C.


__ADS_2