
Ting.. Ponsel Darren berbunyi. Tanda pesan masuk. Darren mengambil ponselnya. Senyum nya langsung mengembang diwajahnya.
My Boss👑
Jembatan Rialto!!!
"Jalan kan mobilnya menuju jembatan Rialto Luc" perintah Darren yang langsung dilaksankan oleh Lucas.
"Boss mu sudah sampai" Lucas terkekeh. Ia tahu bagaimana kegilaan sahabatnya itu pada mantan adiknya itu.
"Hmmm" gumam Darren
"Ia menyertakan tiga tanda seru dalam pesannya yang artinya aku harus segera kesana secepatnya. Jadi Lucas lajukan mobil mu secepatnya. Aku tidak ingin gadisku marah karena menunggu lama"
Lucas menekan pedal rem nya secara mendadak begitu mendengar ucapan Darren. Ia menatap Darren tidak percaya.
"Aku sungguh tidak percaya tiga kalimat seru mengandung arti sepanjang itu Dude"
"Kau membuang waktu ku satu menit Luc. Jalankan mobilnya" Hardik Darren.
"Oh Tuhan sungguh kau sudah diperbudak Feli" ledek Lucas
"She is my Boss" jawabnya acuh tidak tersinggung sama sekali. Baginya Feli adalah prioritas dihidupnya. Kebahagiaan Feli adalah tugasnya. Kenyamanan Feli adalah keharusan baginya. Dan ucapan Feli adalah perintah baginya.
Akhirnya Darren dan Lucas sampai dijembatan Rialto. Jembatan yang merupakan jembatan tertua yang ada di Venice. Rialto Bridge adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berada di Venice karena suasa disekitar jembatan ini sangat romantis.
Feli menyuruh Darren mendekat dan merentangkan kedua tangan nya. Darren terkekeh. Kekesalannya yang tadi bertemu dengan Noura menguap begitu saja begitu melihat wajah Feli. Hatinya damai dan tenang. Ia segera berlari mendekati Feli. Menarik Feli kedalam pelukannya. Menghirup aroma yang sangat disukainya itu.
"I miss you" Darren mengecup kepala Feli.
"Aku tahu. Aku datang menyelamatkanmu" Feli memeluk Darren dengan sangat erat. Ia mengendus dada bidang milik kekasihnya itu.
Darren tergelak mendengar jawaban Feli tersebut.
"Terimakasih" ucapnya kemudian seraya melepaskan pelukannya lalu membanjiri permukaan wajah Feli dengan ciuman bertubi-tubi darinya.
"Kau dalam masalah!! Kau membuat ratu rumah menangis, kau ingin dihukum Daddy?" Darren menyentil hidung Feli.
"Tidak masalah, kita urus itu nanti saja. Sekarang mari kita berkencan!" Feli bergelayut manja dilengan Darren. Selama resmi menjadi sepasang kekasih mereka memang tidak pernah benar-benar berkencan. Feli tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan pujaan hatinya itu.
"Ehemm" Lucas berdehem. Keberadaannya sedari tadi diabaikan.
"Hi Luc!" Sapa Feli begitu tersadar ada sekretaris Darren disana.
"Kami akan pergi berkencan, jadi kau juga pergilah! Nikmati hari mu selama disini" usir Feli halus. Lucas mendengus
"Kau mengusirku Feli?"
"Hmm...aku sudah mengatakan tadi kami akan BERKENCAN yang artinya kami ingin pergi berdua. Tidak ingin ada penggangu" Feli masih tersenyum manis tapi senyuman nya malah membuat Lucas semakin kesal.
"Darren" Lucas meminta persetujuan
"Lakukan seperti yang diminta Feli, Luc" Darren tersenyum, tangannya mengusap lembut rambut wanita kesayangannya itu.
"Ciihhh...benar-benar kau membuatku kehilangan kata-kata. Apa jadinya kalian jika aku mengadu kepada Tuan McKenzi?" ancam Lucas. Ia terkekeh membayangkan akan bagaimana reaksi Felix.
"Ya ampun Lucas, percayalah aku akan sangat berterima kasih kepadamu. Sekarang kau bisa ambil fhoto ku bersama Darren saat aku menciumnya begini" Feli berjinjit dan mengecup bibir Darren. Darren dan Lucas tertegun
"Dan segera kirimkan kepada Daddy" lanjutnya tanpa peduli dengan wajah kedua pria dewasa yang ada dihadapannya itu
"Jika kau berhasil aku akan meminta Darren menaikkan gaji mu dan menambahkan bonus tahunan mu" Wajah Feli berbinar-binar. Lucas geleng-geleng kepala tidak percaya bagaimana bisa wanita itu tidak takut sama sekali. Ia malah mendukung Lucas untuk mengadukannya kepada Daddy mereka.
"Sepertinya aku memang harus pergi" Lucas mengalah
"Kau tidak jadi mengambil fhoto nya?"
Lucas mengabaikan Feli. Ia berlalu meninggalkan Darren dan Feli.
__ADS_1
"Baiklah, katakan kemana kita akan berkencan?" Darren memeluknya dari belakang.
"Aku ingin naik gondola, Darren" ucapnya antusias.
Darren terkekeh
"Apa kau juga ingin melakukan ciuman disana" goda Darren.
Feli mengangguk
"Tentu saja. Aku ingin cinta kita abadi dan diberkahi"
"Itu hanya mitos sayang" Darren menggigit telinga Feli gemas
"Baik mitos atau apa pun itu aku tidak peduli! kita harus melakukannya. Aku ingin selamanya bersama mu. Aku tidak ingin ada yang menghalangi hubungan kita Darren"
Hati Darren menghangat mendengar ungkapan perasaan Feli yang terdengar tulus dan jujur itu. Ia memang tidak pernah meragukan perasaan Feli kepadanya tapi ia juga tidak menyangka cinta Feli kepada nya sebesar ini. Sebesar ia mencintai Feli.
"Baiklah jika itu keinginan mu. Mari kita melakukannya. Mari kita berciuman sepanjang mengarungi sungai dengan gondola"
Menurut mitos yang dipercaya masyarakat setempat, pasangan yang mengarungi sungai di Venesia dengan gondola kemudian berciuman di bawah Jembatan Desah saat matahari terbenam, tepat ketika lonceng di St. Mark Campanile berdentang cintanya akan abadi dan diberkahi.
Tak bisa dipastikan dari mana asalnya legenda tersebut. Kemungkinan besar karena di masa lalu jembatan ini menjadi lokasi favorit para pasangan untuk memadu kasih. Karena itulah kemudian dipercaya bisa membawa berkah bagi mereka yang sedang menjalin asmara.
"Ayo" Darren mengulurkan tangannya untuk membatu Feli untuk naik keatas gondola.
Setelah Darren dan Feli duduk diatas gondola, Sang gondolier nya pun mendayung gondola dan sesekali bercerita seputar sejarah tempat itu.
"Lalu dimana biasa nya para pasangan akan berciuaman?" tanya Feli terang-terangan tanpa tahu malu.
Gondolier itu pun terkekeh
"Para pasangan biasanya berciuaman dibawah jembatan Desah saat matahari terbenam tepat ketika lonceng berbunyi" jelasnya.
"Kau tidak ingin menciumku?" Feli menatap Darren.
"Kita bisa mengulanginya beberapa kali sampai matahari terbenam" ucapnya enteng yang membuat Darren tergelak.
"Sepertinya kau sangat menyukai ciumanku" goda Darren
"Ya itu memang tidak bisa dipungkiri" Feli tidak mengelak sama sekali dan itu semakin membuat Darren tergelak
"Aku bisa lepas kendali sayang" ucapnya lembut. Sedari tadi ia memang sudah menahan dirinya untuk tidak mencium Feli.
"Aku tidak menyuruhmu menahannya. Kau bisa melakukan apa pun padaku" Feli mengerling nakal
"Jangan memulainya Feli. Nanti kau menyesalinya"
"Kenapa aku harus menyesal, pada akhirnya kau tetap milikku dan aku milikmu. Baiklah jika kau tidak ingin menciumku. Biarkan kakak ini yang menciummu" Feli mengisyaratkan tangannya agar Darren mendekat kearahnya. Darren menurut. Ia mencodongkan tubuhnya mendekat.
"Aku harap kau sudah ada kemajuan. Tahu bedanya mencium dan menggigit" goda Darren. Feli memukul lengan Darren sebelum melingkarkan tangannya dibelakang leher Darren.
Darren menunggu. Jarak antara mereka sangat tipis. Bahkan ujung hidung mereka sudah saling bersentuhan tapi Feli tak kunjung juga menciumnya.
"Feli.." Suara Darren terdengar serak. Feli gugup. Ia menggigit bibir bawahnya. Darren segera menarik leher Feli mencium bibir Feli. Melepaskan kerinduannya selama satu minggu ini. Feli membuka mulutnya memberi akses kepada Darren untuk bergrilya di dalam mulutnya. Mereka berciuaman sepanjang mengarungi sungai. Ciuman yang tadi nya lembut berubah menjadi lebih liar dan saling menunntut. Darren tersenyum. Gadisnya ada peningkatan. Sudah tidak menggigit lagi.
Mereka saling melepaskan ciuman. Nafas mereka tersenggal-senggal
"Kau cepat belajar" Darren mengusap bibir Feli dengan ibu jarinya
"Kau rajin mengajarinya, bagaimana aku tidak cepat belajar" Wajah Feli bersemu merah.
"Baiklah mari kita mengulanginya sampai matahari terbenam dan lonceng itu berbunyi" putus Feli
"Sir, kami menyewa gondolanya seharian" ucapnya pada gondolier yang langsung dianggukinya sambil terkekeh.
Anak muda memang selalu semangat dan bergairah. Batinnya.
__ADS_1
Akhirnya setelah mengulangi beberapa kali naik gondola dan berciuman ratusan kali sampai matahari terbenam tetap saja mereka tidak mendapatkan yang namanya ciuaman cinta abadi, karena disaat ciuaman mereka yang kesekian ratus. mereka hampir kehabisan nafas. Mereka saling melepaskan ciuman dan bertepatan dengan lonceng St. Mark Campanile berbunyi. Feli sangat kesal karena tidak mendapatkan yang diinginkannya kecuali bibir yang membengkak.
Lain halnya dengan Darren, dari awal ia memang tidak mempercayai hal yang berbau mitos seperti itu, jadi ia cukup senang karena bisa menikmati bibir manis gadisnya itu sampai puas dan tentu saja ia mendapatkan kepuasan batin yang tidak terhingga.
"Sayang, jangan menekuk wajah mu seperti itu. Ambil hikmah nya saja" Darren terkikik geli mendengar kalimatnya. Memangnya apa hikmah yang bisa diambil dari perbuatan senonoh mereka.
"Bibirku kebas" rungut Feli
Darren mengangguk. Cup. Ia mengecup sekilas bibir bengkak Feli.
"Aku tidak akan menciumnya beberapa hari ini. Aku akan membiarkannya beristirahat" Darren menarik Feli kedalam pelukannya.
"Maafkan aku" ucapnya. Feli mengernyit lalu mendongak
"Kenapa meminta maaf?"
"Tidak kah aku terlalu brutal dan kasar?" sesal Darren. Ia menyadari betapa rakusnya tadi ia mencium Feli yang masih amatiran itu. Ia tidak pernah begitu sebelumnya dengan para wanitanya. Bibir Feli terlalu manis membuat nafsunya tidak terkendalikan. Ia seperti orang jahat yang memanfaatkan Feli yang sangat menginginkan ciuman cinta abadi. Tidak bisa dipungkirinya semua hal tentang Feli sudah seperti candu baginya.
Feli menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Darren.
"Aku menyukainya dan tentu saja aku juga sangat menikmatinya. Jadi jangan tunjukan wajah bersalah mu itu" Feli mengusap wajah Darren. Darren tersenyum hangat.
"Bukan kah sudah ku katakan kau bisa melakukan apa pun padaku" Feli mengerling nakal. Darren terkekeh. Ia tidak bodoh sehingga tidak tahu apa yang dimaksud oleh Feli.
"Kau terlihat seperti meminta agar aku menidurimu?" gida Darren.
"Bukan kah sepasang kekasih memang melakukannya" Tangan Feli sudah beraksi. Menggambar abstrak di dada Darren.
"Kau masih kecil sayang" Darren menghentikan tangan Feli. Ia menggenggam tangan Feli agar tidak beraksi lagi. Bukan kah Darren pernah mengatakan semua yang dilakukan Feli terasa menggoda baginya. Termasuk jari Feli yang menggambar di atas dadanya.
"Apa aku tidak cukup menarik bagimu?" wajah Feli terlihat kecewa. Darren menolaknya. Feli tahu selama ini Darren juga sering melakukannya dengan kekasih- kekasihnya sebelumnya. Kenapa disaat ia menawarkan diri Darren menolaknya. Dan alasan apa itu. Masih kecil. Hello Darren 23 tahun bukan masuk kategori kecil lagi tetapi sudah dewasa dan sudah layak menikah dan mampu memproduksi anak.
"Bukan seperti itu Feli. Semua yang ada dirimu sangat menarik sayang. Percayalah, aku bahkan sering berperang dengan nafsu ku sendiri agar tidak langsung menerkammu. Tapi sunggguh aku tidak ingin menyentuhmu sebelum mendapat restu dari Mommy dan Daddy" Darren menangkup wajah Feli. Menatapnya dalam.
"Kapan kau akan mengatakan nya pada Momny dan Daddy?" tuntutnya
"Segera"
"Segara itu kapan Darren" Desak Feli tidak sabar. Ia menghempaskan tangan Darren dari wajahnya. Sungguh ia tidak mengerti apa yang sedang ditunggu oleh Darren.
Padahal Feli yakin jika Darren jujur Mommy, Daddy nya tidak akan keberatan. Dan jika Darren tidak sanggup mengatakannya ia bersedia mengatakannya pada Mommy dan Daddy nya tapi lagi dan lagi Darren menolak idenya itu.
"Darren..."
Darren dan Feli kompak menoleh kesumber suara. Emily. Feli mengernyit tidak suka. Emily berjalan mendekat lalu langsung menubrukkan dirinya kedalam pelukannya. Darren terkejut. Ia langsung menatap Feli yang juga sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Emily..Maafkan aku, kau bisa membuatku dalam masalah" Darren mendorong tubuh Emily. Emily mengerutkan dahinya tidak faham apa maksud ucapan Darren. Darren segera menarik Feli dan merangkulnya.
"Kau memelukku dihadapan kekasihku. Dia bisa salah faham" jelas Darren. Emily tercengang. Wajahnya memerah karena malu.
"Oh..maafkan aku. Aku tidak mengetahuinya" sesal Emily seraya menatap Darren dan Feli bergantian.
"Lain kali berhati-hatilah Nona. Tidak semua pria merasa nyaman dengan pelukan wanita cantik sekalipun" sinis Feli
"Bukan begitu sayang?" Feli mendongak menatap Darren. Darren menganggukkan kepalanya cepat. Wajahnya berbinar-binar mendengar kata sayang untuk pertama kalinya dari mulut Feli.
"Siapa wanita ini sayang?" Feli masih menatap sinis Emily. Wajahnya sungguh tidak bersahabat. Emily meringis.
"Oh dia Emily. Sekretaris Allan sayang" jelas Darren.
"Emily Johanson, sahabat kecil Lion, maksudku Darren" ucap Emily mengoreksi. Feli tersentak. Ia kembali menatap Darren seolah meminta penjelasan. Darren hanya tersenyum tipis.
"Felicia McKenzie. KEKASIH DARREN!" Feli sengaja menekan kalimatnya diakhir. Darren memperhatikan kedua wanita itu yang saling beradu tatap.
*Aku dalam masalah, ucapnya dalam hati.
**T.B.C***
__ADS_1