Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
24. Rencana Kepergian Darren


__ADS_3

"Jadi kau kalah taruhan lagi?" Darren dan Mike sedang menuju tempat mobil Mike diperbaiki.


"Hmmm" jawab Mike.


"Jika tidak salah ini kali kesepuluh kau kalah dalam sebelas pertandingan tahun ini" ucap Darren lagi.


"Kau memang pengagum setiaku brother" Mike tersenyum sumringah seraya meninju lengan Darren . Katakan apa ada orang yang lebih konyol dari Mike bangga akan kekalahannya sendiri .


"Aku rasa cukup basa-basi nya Darren. Tidak kah kau ingin mengatakan sesuatu" Suara Mike terdengar serius. Darren tergelak. Ia memang mengakui kepekaan Mike. Mike memang sangat dewasa diusianya yang baru akan menginjak angka 16 tahun.


"Sejauh mana kau mengetahuinya?" Darren bertanya tanpa mengalihkan tatapannya.


"Aku hanya ingin mendengarnya dari mulutmu" jawab Mike


"Aku hanya seorang Darren Lionel Maxston. Pria yang tidak memiliki siapa pun. Karna Mommy dan Daddy kandung ku sudah tiada. Aku pria yang tidak memiliki apa pun tanpa bantuan nama McKenzie dibelakangku. Pria yang memiliki cinta yang sangat besar pada seorang gadis yang tidak lain adalah kakak perempuanmu, Feli. Dan aku bertekad untuk membahagiakannya"


Mike terkekeh geli mendengar kata demi kata yang terucap dari mulut Darren. Hal itu terdengar menjijikkan ditelinganya. Ia tidak menyangka sosok yang dikaguminya selain Daddy nya itu ternyata sudah diperbudak oleh cinta. Ia mengakui pesona Feli sebagai wanita memang sangat luar biasa. Tapi jika melihat sifat dan sikapnya yang kekanakan itu Mike bergidik ngeri. Bagaimana bisa Darren yang terlihat sempurna dimatanya itu sangat mencintai kakak perempuannya itu.


"Sungguh aku tidak ingin mengalami hal menggelikan seperti yang kau alami dan juga Daddy. Diperbudak cinta sungguh sangat memalukan!" cibir Mike.


"Tunggu sampai kau dewasa dan menemukan wanita yang pas Mike. Disitu kita akan melihat siapa yang lebih gila" tantang Darren.


"Kau tidak kecewa pada ku Mike?" tanya nya serius.


"Kenapa aku harus kecewa?" Mike balik bertanya.


"Tidak kah kau merasa dibohongi"


"Mommy, Daddy, dan kau pasti punya alasan"


"Aku bangga padamu Mike"


"Tapi aku tidak menyukai kata-kata mu yang mengatakan kau tidak memiliki siapa-siapa. Lalu kau anggap apa kami Darren" ucapnya bertepatan dengan mobil Darren yang berhenti tanda mereka sudah sampai ditujuan.


"Waktu tidak akan merubah kenyataan bahwa aku memang bukan keturunan McKenzie. Aku memang sudah menganggap Mommy dan Daddy seperti orang tuaku sendiri dan menganggapmu seperti saudara ku sendiri tapi tetap saja darah McKenzie tidak mengalir didalam tubuh ku Mike" Darren mencoba menjelaskan.


"Dan aku yakin kau sangat bersyukur akan hal itu. Dengan begitu tidak akan ada dosa yang menghantui mu jika mencintai Feli. Tidak adanya darah McKenzie membuatmu terbebas dari dosa nestapa itu" Mike berdecak. Darren mengangguk mantap membenarkan perkataan Mike.


"Kau tahu Darren nilai mu yang hampir sempurna dimataku kini hanya tinggal minus" ucap Mike datar.


"Kau menyakitiku brother" Darren terkekeh


"Aku mengira kau akan memiliki kekasih yang lebih berkelas seperti Stevy dan jejerannya. Aku sangat menyayangkan kenapa dari sekian banyak wanita kau lebih memilih kakak perempuanku itu"


"Wah...kau lebih menyakitiku dengan menjelekkan wanita ku tepat dihadapanku Dude. Aku bisa saja berubah fikiran dan memutar kembali mobil ini Mike" ancam Darren


Mike mendengus


"Maafkan aku. Tidak maksudku untuk menghina kekasih hati mu itu. Bisakah kita turun dan mengambil mobil ku" ucap Mike memohon tapi dalam hati merutuki kegilaan Darren.


Beruntung sekali kau Feli, batin Mike


Mike membuka pintu mobil Darren dan turun


"Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada wanita yang setiap hari dilihatnya itu. Apa ia tidak merasa bosan sama sekali" gumam Mike seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kau mengtakan sesuatu Mike?" tanya Darren


"Aku hanya mengatakan namanya keluarga bukan hanya karna darah yang sama mengalir didalam tubuh kita Darren"


"Ya keluarga juga bisa terbentuk dengan aku menjadi kakak iparmu" jawab Darren lempeng yang membuat Mike ingin sekali meninju wajah menjijikkan Darren. Kenapa bisa ia mengagumi pria tampan dihadapannya ini.


"Untuk menjadi menjadi kakak ipar ku sepertinya kau butuh izin dari Mommy dan Daddy terlebih dahulu. Dan aku yakin Darren Daddy sangat sulit untuk dihadapi jika itu menyangkut Feli" Mike menakut-nakuti.


"I know" gumam Darren.


¤¤¤¤¤¤¤¤


Darren dan Mike kembali kekediaman keluarganya. Raut bahagia terlihat jelas diwajah Mike. Akhirnya ia bisa mengendarai mobil kesayangannya itu lagi dan tidak tanggung-tangung Darren bahkan memberikan satu black card nya pada Mike. Tentu saja tanpa ragu dan tanpa niat melakukan penolakan dan basa basi Mike menerima nya dengan suka cita.


"Tidak kah sebaiknya kau pindah lagi kemari son. Dengan begitu hati ku tidak bertanya-tanya kenapa kau jadi semakin sering mengunjungi kami" sarkas Felix begitu melihat wajah kedua putranya itu.


"Aku akan mempertimbangkannya Dad" jawab Darren enteng. Lalu duduk berdeberangan dengan Mommy dan Daddy nya. Sedangkan Mike memilih untuk langsung menuju kamarnya.


"Aku mendengar kau akan berangkat ke Italy" Felix menyilangkan kedua kakinya seraya menatap putranya itu.


"Ya Dad, 2 hari lagi aku akan berangkat" jawabnya seraya melirik Mommy nya.


"Kenapa kau tidak mengatakannya?" Mommy nya protes


"Aku juga baru mendapat kabar dari Allan tadi siang Mom" jawabnya jujur


"Apa Mommy perlu menemani mu" tawar Mika


Darren terkekeh. Sungguh ia sangat tersanjung atas perhatian yang diberikan Mommy nya padanya.


"Untuk kali ini Daddy akan berbaik hati" Jawab Felix yang membuat Darren semakin tersanjung. Sungguh tidak diragukan lagi bagaimana kasih sayang kedua orang tua ini terhadap dirinya. Jika begini masih adakah alasan baginya untuk membenci Daddy nya. Dengan cepat Darren akan menjawab tidak!! Ia bisa merasakan ketulusan yang diberikan oleh keluarga ini.


"Oh Dad., aku sungguh terharu dengan kemurahan hati mu. Terimakasih. Tapi lebih baik aku pergi sendiri saja. Aku tidak ingin disaat aku dan Mommy menikmati keindahan dari negara spaghetti itu Daddy menelepon dan meraung meminta Mommy kembali" ledek Darren.


Semenjak menikahi, Felix memang tidak pernah meninggalkan istrinya itu. Jika ia ada perjalanan bisnis keluar kota ia lebih memilih membawa istrinya itu ikut serta bersamanya. Sudah bukan rahasia lagi bagaimana Felix sangat mencintai istrinya itu. Felix juga tidak akan malu mengumbar kemesraan didepan khalayak ramai. Ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Mika adalah hidupnya.


Darren sangat bangga dan iri secara bersamaan kepada kedua orang tuanya itu. Jangankan mengumumkan kepada dunia bahwa Feli adalah wanitanya, dihadapan orang tuanya saja ia belum lulus. Masih butuh waktu buatnya untuk berbicara kepada Mommy dan Daddy nya itu.


"Bagus kalau begitu. Itu artinya kau tahu diri" Desis Felix kesal. Ia sudah berbaik hati meminjamkan istrinya karena mengkhawatirkannya tapi putra sialannya itu malah meledek dirinya yang tidak bisa jauh dari istri tercintanya itu.


Darren hanya terkekeh tidak menanggapi ucapan dingin Daddy nya.


"Apa kau sudah memberi tahu Feli?" tanya Mika lembut. Darren menghela nafas berat. Ia belum mendapat maaf dari Feli atas kesalahan kemarin dan sekarang ia sudah akan membuat masalah baru lagi dengan kepergiaannya yang mendadak.


"Sepertinya aku harus menemuinya dulu Mom" Darren beranjak dari tempatnya dan menuju kamar pujaan hati nya itu.


Begitu sampai di depan pintu kamar Feli, Darren langsung masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Begitu ia menutup pintu kamar Feli bertepatan dengan Feli yang keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya yang hanya mampu menutupi setengah pahanya. Sisa-sia air masih menetes dari ujung rambut Feli.


Darren berdecak kagum dalam hati. Ia belum pernah melihat wanita secantik dan seseksi gadisnya ini. Dengan susah payah ia menelan salivanya.


"Terpesona?" Feli mengejek tatapan memuja yang terlihat jelas diwajah Darren.


Darren dengan bodohnya mengangguk menanggapi pertanyaan Feli yang terkesan mengejek itu.


"Naluri lelaki" ucapnya enteng

__ADS_1


"Cihhh..." Feli melewati Darren dan sengaja mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah Darren. Lemon. Wangi yang sangat disukai Darren. Sama dengan wangi tubuh Mommy nya Mika.


"Bukan kah kau mengatakan punya ku kecil" sindir Feli


"Tapi percayalah walaupun aku tidak pernah melihatnya, aku lebih menyukai milikmu dari sekian banyak gunung kembar yang sudah ku lihat" Darren masih dengan tatapan kagumnya mengikuti langkah Feli.


"Darren..." Geram Feli mendengar kalimat vulgar Darren. Sungguh ia tidak menyangka Darren memiliki sisi ini.


"Maaf..mulutku ini memang suka kelepasan jika melihat sesuatu yang indah" Darren beralasan konyol


Otak Darren sudah menari kemana-mana membayangkan tubuh mulus Feli dibalik kain putih pendek itu.


Oh Darren sadarlah. Kendalikan dirimu. Jika otakmu terus berfantasi liar begitu apa kabar dengan junior mu yang dibawah, batin Darren.


Ia sudah merasakan sesak dibawah sana, dibalik celanan yang dikenakannya.


Darren menghela nafas lega begitu melihat Feli masuk kedalam ruang ganti. Ia tidak yakin ia bisa mengendalikan akal sehatnya jika melihat tubuh Feli yang dibalut handuk itu lebih lama.


Feli keluar dari ruang gantinya sudah dengan mengenakan pakaiannya. Feli duduk didepan meja riasnya. Sebelah tangannya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Darren berjalan mendekatinya, mengambil alih handuk dari tangan Feli. Ia mengeringkan rambut Feli dan sesekali mencium aromanya. Ia mengambil Hair dryer lalu kembali mengeringkan rambut Mika. Mengusapnya dengan perlahan. Feli menikmati perlakuan manis Darren dari kaca dihadapannya.


"Jangan pernah memperlihatkan rambut basah mu kepada siapa pun" ucap Darren masih fokus dengan rambut Feli.


"Kenapa?"


"Kau terlihat 10 kali lebih menggoda dengan rambut basah mu" jawabnya yang mampu membuat wajah Feli merona.


"Kau datang untuk membujuk ku dan meminta maaf?" tanya Feli seraya mendongakkan kepalanya.


"Hmm" Darren menunduk dan menggesekkan ujung hidung mereka.


"Baiklah..karena kau sudah bersikap manis aku memaafkan mu" Feli menarik leher Darren dan mengecup bibir Darren singkat.


"Kau mulia nakal" goda Darren


"Tapi kau menyukainya" Jawab Feli.


"Sangat menyukainya" tegas Darren yang membuat ia dan Feli terkekeh.


Darren meletakkan hair dryer di atas meja lalu berjongkok dengan menggenggam kedua tangan Feli.


"Sepertinya kau melakukan kesalahan lagi" tebak Feli melihat raut wajah Darren yang tiba-tiba berubah serius.


"Maafkan aku" ucapnya


"Jangan mengatakan maaf sebelum kau mengatakan apa kesalahan mu" jawab Feli


"Dua hari lagi aku akan berangkat ke Itali sayang" ucapnya penuh hati-hati.


"Aku menarik kembali ucapan ku yang mengatakan sudah memaafkan mu. Keluar Darren!!" Feli berdiri menghempaskan tangan Darren dari genggamannya.


Darren menghela nafas berat. Untuk kedua kalinya ia diusir Feli dari kamarnya.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2