Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
68. Ceraikan Aku!


__ADS_3

Sudah satu minggu Darren dan Feli berlibur di Kanada. Darren sengaja membawa Feli untuk menjauh sementara dari para penyamun di rumahnya, sebelum nantinya ia akan membuat perhitungan dengan para penyamun tersebut.


Ia sengaja menolak kedatangan Mommy dan Daddy-nya untuk bisa berduaan menghabiskan waktu dengan Feli. Segala cara dan upaya ia lakukan untuk bisa kembali melihat senyum manis di wajah Feli. Tapi jangankan senyuman, Feli bahkan terlihat enggan walau hanya sekedar untuk membuka suaranya.


Satu minggu tidak memberikan perubahan pada Feli. Ia tetap pada kebungkamannya. Hanya wajah muram dan tatapan kosong yang ia perlihatkan. Feli seakan tidak ada gairah untuk hidup lagi. Matanya sembab oleh air mata, membuat Darren yang melihatnya merasa terpukul. Sungguh ia tidak tahu harus bagaimana lagi.


Darren melihat Feli sedang berdiri di depan jendela, menatap indahnya danau Loise, dan memang hanya itu yang ia lakukan selama satu minggu berada di sana. Ajakan Darren yang memintanya untuk menemaninya menikmati keindahan danau itu tidak pernah ia gubris sama sekali. Jika ia sudah lelah berdiri maka ia akan lebih memilih untuk tidur, bahkan hanya untuk makan, Darren harus mengingatkannya dan menyuapinya. Feli benar-benar terlihat seperti mayat hidup.


Darren berjalan mendekat ke arahnya. Meletakkan kedua tangannya di pundak Feli dan memijitnya dengan lembut.


"Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini, sayang."


"Tidak cukupkah aku bagimu sebagai alasan untukmu tetap kuat dan sabar, karena percayalah itulah yang kulakukan saat ini. Aku juga merasa sangat kehilangan akan bayi kita. Aku marah kepada diriku yang tidak bisa menjagamu dan juga bayi kita. Tapi apa dengan menyalahkan keadaan, mampu mengembalikan anak kita? Jawabanya tidak, sayang. Semuanya sudah terjadi. Yang pergi biarkanlah pergi, ikhlaskanlah. Kita masih bisa berusaha untuk mendapatkan penggantinya kembali."


Feli memutar tubuhnya, menatap Darren dengan tatapan yang sarat akan luka.


"Mau sampai kapan kau menutupinya?" tanyanya dengan suara pelan.


Darren mengernyit bingung, ia tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Feli.


"Mau sampai kapan kau akan menutupi kenyataan kalau tidak akan pernah ada pengganti lagi. Mau sampai kapan kau menyembunyikan kenyataan kalau aku tidak akan bisa lagi mengandung" tangis Feli pecah seketika. Ya, ia mendengar saat Darren dan Grandmanya membicarakan hal itu. Feli benar-benar terjatuh dalam lembah terdalam yang disebut dengan kehancuran. Ia tidak akan pernah menjadi seorang ibu, ia tidak pernah menjadi wanita yang sempurna, dan ia benar-benar gagal menjadi seorang istri bagi Darren. Darren adalah satu-satunya penerus yang diharapkan mampu memberikan keturunan bagi genersi Maxston. Lalu sekarang bagaimana ia bisa memenuhi itu semua.


"Feli.." erang Darren penuh sesal. Ia tidak menyangka Feli akan mengetahuinya secepat ini. Pantaslah Feli bertahan dalam kebungkamannya, ia rapuh tidak berdaya. Ia merasa sudah tidak mempunyai arti lagi.


"Mau sampai kapan kau akan menyembunyikannya, Darren?"


"Feli, kita masih bisa berusaha sayang"

__ADS_1


"Apa kau sedang membodohiku sekarang?" hardik Feli.


"Dokter sialan itu mengatakan kemungkinannya sangat kecil."


"Setidaknya kita masih bisa berharap pada kemungkinan itu Feli, sekecil apa pun kemungkinan itu bukankah seharusnya kita bersyukur dan mencobanya, Feli"


"Lalu setelah aku berharap pada kemungkinan itu, apakah lantas aku diberikan bayi lagi"


"Setidaknya kita masih punya harapan."


"Harapan yang nantinya akan menghancurkanku lagi" sinis Feli.


"Lalu aku harus bagaimana Feli?"


"Tolong kau lihat aku, aku di sini bersamamu, akan selalu bersamamu. Lalu apa lagi yang kau butuhkan. Tidak cukupkah hanya diriku saja bagimu Feli, karena percayalah yang kubutuhkan hanya kau Feli, bagiku anak hanyalah bonus buat kita. Tentu saja aku akan sangat bersyukur jika kita diberikan anak, tapi jika takdir berkata lain aku hanya bisa pasrah, karena bagiku hadirmu sudah merupakan sebuah anugerah."


"Apa sekarang kau sedang melucu, Maxston!" sinis Feli.


"Lalu apa kau fikir aku peduli dengan semua itu?!" emosi Darren mulai terpancing. Ayolah ia juga sudah lelah dengan bungkamnya Feli selama beberapa minggu ini.


"Aku sudah mengatakan, hanya dirimu cukup bagiku. Tidak bisakah kau mempercayainya" kembali suaranya melembut. Sungguh tidak pernah ada di benaknya untuk membentak istrinya itu. Dan tadi adalah pertama kali ia meninggikan suaranya pada Feli, satu minggu ini cukup menguras tenaga dan emosinya. Feli yang menangis setiap malam pasca keguguran membuat ia harus terjaga dalam beberapa minggu ini.


"Aku tidak butuh apa pun dan siapa pun itu selama kau ada di sampingku, Feli."


"Ayolah Darren, manusia itu sangat serakah dan para pria adalah makhluk yang sangat egois. Kau mengatakan cukup hanya aku bagimu, tapi kau lupa Darren, aku tahu sebesar apa keinginanmu untuk mempunyai seorang anak, lalu sekarang kau memintaku untuk percaya padamu? tidak Darren,,tidak."


Darren terdiam sesaat, menatap wajah istrinya yang sedang penuh amarah itu. Ia tahu keadan Feli membuatnya lebih sensitif, tapi tetap saja ucapan Feli membuatnya terluka. Apa Felix tidak mengenal dirinya. Apa ia sebegitu buruknya di mata Feli. Bukankah selama ini Feli bisa merasakan sebesar apa cinta yang diberikan oleh Darren kepadanya, lalu kenapa Feli berkata seperti itu seakan meragukan kesetiaan Darren.

__ADS_1


"Kau melukaiku, sayang"


"Kau mengenalku, hampir seluruh hidupmu kau habiskan bersamaku. Kita tumbuh bersama, apa lagi yang kau ragukan. Atau selama ini kau memang tidak cukup mengenalku, Feli."


"Manusia pasti berubah, Darren"


"Jika ada yang berubah diantara kita berdua, itu bukan aku, Feli, tapi dirimu."


"Ya, tapi keadaan yang memaksaku, Darren"


"Maka dari itu, ceraikan aku!"


Duaaarrr...seperti petir di siang bolong, kalimat itu mampu membuat tubuh Darren tegang seketika. Dadanya naik turun menunjukkan bahwa nafasnya sedang memburu. Kalimat laknat itu tidak pernah Darren bayangkan akan semudah itu keluar dari mulut sang istri. Ia menatap Feli, menelisik wajah itu untuk mencari tahu apakah ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, tapi yang bisa Darren lihat hanyalah wajah dingin tanpa ekspresi.


Darren menarik nafas dalam, berusaha memasukkan pasokan oksigen sebanyak mungkin ke dalam rongga hidungnya, dengan harapan mampu menetralisir perasaannya yang sepertinya sudah mulai bergejolak. Ingin rasanya Darren berteriak dan mengumpat, untung kewarasan masih menyertainya, ia tidak ingin membuat wanita yang di hadapannya itu ketakutan akan kemurkaannya.


"Apa yang baru saja kau katakan, Feli" tanya Darren dengan suara dingin.


"Aku ingin kita bercerai!!" Feli mengulangi kalimat laknat itu dengan lantang dan lugas. Seketika rahang Darren mengeras, ia menatap Feli dengan tajam.


"Kau benar-benar membuatku marah" ucapnya dingin lalu pergi meninggalkan Feli, tidak lupa dengan membanting pintu sekuat tenaganya yang membuat Feli terlonjak kaget.


T.B.C


Yuhuuuuu....aku datang dengan cerita McKenzie yang baru. Bungsu McKenzie, Mike Oneil Mckenzie..masih adakah yang mengingatnya?? Jika berkenan silahkan mampir ya guys🙏🙏🙏


Klik profilku dan liat judulnya 'Only You'.

__ADS_1


Sebelumnya terima kasih atas dukungan semuanya. Salam sayang Author remahan rengginang😘🥰



__ADS_2