
Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya Darren segera keluar dari kamar mandi, begitu ia membuka pintu kamar mandi, tubuhnya langsung membatu, Feli sudah sadar dan sedang menatap ke arahnya dengan tatapan kosong. Hati Darren mencolos begitu melihat wajah datar tanpa ekspresi itu. Darren bertanya-tanya dalam hati apakah Feli sudah mengetahui prihal kegugurannya atau tidak. Sungguh raut wajah datar Feli tidak bisa ia tebak. Darren menoleh menatap Grandma dan Aunty-nya berharap mendapat jawaban dari mereka tapi baik Grandma dan Aunty-nya terlihat enggan untuk bersuara, mereka lebih memilih diam seribu bahasa.
Darren berjalan mendekat ke arah Feli, dengan tatapan yang masih beradu membuat jantung Darren berdegup semakin tidak karuan. Dari mana dan bagaimana ia akan menyampaikan kabar itu pada Feli. Darren terus memikirkan cara bagaimana ia akan menyampaikannya hingga ia sampai di hadapan Feli. Darren mengusap lembut rambut Feli begitu ia berdiri di hadapan Feli, menunduk mengecup sayang ubun-ubun sang istri. Seketika tubuh Feli bergetar hebat. Feli mengcengkram kuat baju Darren, memukul dada Darren dengan kekuatan yang tidak berdaya. Darren segera menarik Feli ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, berharap melalui pelukan yang diberikan oleh Darren mampu mengangkat semua kesedihan yang pasti akan dirasakan Feli.
"Sayang.."
"Bayiku"
"Dimana anakku?"
Nafas Darren tercekat seketika, sekarang bagaimana ia akan menjawab pertanyaan Feli.
"Sayang, bayi kita.."
"Apa aku kehilangannya" potong Feli segera.
"Apa kita kehilangan bayi kita, Darren" Feli mulai terisak dalam dekapan Darren.
"Bagaimana ini??"
"Aku bukan Mommy yang baik, Darren"
"Hei sayang..ssstt..tenanglah"
"Semua akan baik-baik saja" Darren tidak tahu harus mengatakan apa selain kata baik-baik saja yang bisa ia lontarkan dari mulutnya.
"Aku bahkan belum melihat wajahnya, Darren. Seperti apa anak kita, apa kau melihatnya?"
"Feli..." erang Darren tidak berdaya.
__ADS_1
"Aku benci mereka...mereka semua jahat!" tiba-tiba Feli mendorong tubuh Darren. Ia menggila.
"Feli..Feli...aku mohon" Darren mendekat ke arah Feli.
"Sayang..apa maksudmu? Siapa yang kau maksud dengan mereka?"
"Mereka tikus yang kau pelihara di rumahmu, mereka ingin membunuh bayiku, mereka sudah merencanakannya, aku benci mereka. Aku ingin bayiku kembali...kembalikan bayiku Darren.." Feli berteriak histeris, matanya basah oleh air mata. Wajahnya terlihat penuh amarah tapi juga terlihat rapuh tidak berdaya.
"Aku ingin anakku Darren, aku ingin anakku!!" Feli menatap nyalang ke arah Darren. Darren tidak tahu harus berbuat apa lagi. Permintaan Feli kali ini sungguh tidak bisa ia penuhi. Seperti yang dikatakan mommy mereka, kepergian bayi mereka sudah merupakan takdir yang Maha Kuasa, tidak akan ada yang mampu mengubahnya. Sehebat dan sekuat apa pun manusia itu tidak akan ada yang bisa melawan takdir yang sudah ditetapkan oleh sang Pencipta. Sabar dan ikhlas adalah satu-satunya pilihan bagi Feli, tapi dalam kondisi dan situasi yang dialami Feli kali ini, sabar dan ikhlas adalah dua hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kehilangan adalah sesuatu yang sangat teramat menyakitkan. Terlebih sesuatu yang hilang itu adalah sesuatu yang berharga dan kau jaga dengan baik. Hal itu yang dialami oleh Feli. Lama sudah ia menunggu untuk kehamilannya itu hingga akhirnya ia hamil, namun takdir berkata lain, kehamilannya hanya bertahan beberapa bulan, bayi yang ia tunggu kehadirannya harus direnggut paksa darinya dengan cara yang menurut Feli sangat menyakitkan. Bayinya yang tidak berdosa harus menjadi korban dari keserakahan beberapa manusia yang mereka tampung di dalam rumah mereka.
π¦π¦π¦
"Bagaimana sayang?"
"Indah bukan?" Darren memeluk tubuh istrinya itu dari belakang, menopangkan dagunya di bahu sang istri. Feli hanya menganggukkan kepalanya pelan. Darren menghela nafasnya. Kembali hanya anggukan yang ia terima.
"Bukankah dulu kau sangat menginginkannya, sayang" kembali Darren berbicara. Saat ini mereka sedang berada di Kanada. Tempat bulan madu mereka dulu. Dan Darren masih mengingat jelas bahwa Feli pernah mengatakan sangat menyukai pemandangan danau Louise dan mengutarakan niatnya yang ingin tinggal di sini.
Feli menggelengkan kepalanya lalu melepaskan pelukan Darren dari tubuhnya. Ia berjalan menuju ke arah ranjang. Feli naik ke atas ranjang lalu menidurkan dirinya. Menutup matanya dengan sebelah tangannya.
Darren menatap istrinya yang berubah menjadi sangat pendiam. Sekarang yang di hadapannya bukanlah Feli yang dulu. Yang selalu ceria, riang gembira. Dan teriakannya adalah ciri khas seorang Feli yang kini sudah tidak pernah lagi didengar oleh Darren.
Feli menjadi pendiam adalah hal terakhir yang diinginkan oleh Darren. Sungguh kebungkaman Feli membuat ia tersiksa. Bahkan tidak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam hidupnya kalau istri yang sangat dicintainya itu akan berubah menjadi pendiam seperti ini.
"Sayang..temani aku jalan-jalan" pinta Darren.
"Langitnya sangat indah, sayang" Darren mengelus lembut rambut Feli. Ia tahu istrinya itu belum tidur sekalipun Feli menutup rapat matanya. Feli bungkam tidak menjawab. Darren untuk kesekian kalinya kembali menghela nafasnya.
"Katakan padaku Feli, katakan padaku apa yang harus kulakukan"
__ADS_1
"Katakan sayang, aku harus bagaimana agar kau kembali seperti dulu lagi"
"Diammu sangat menyiksaku, Feli"
Feli menyingkirkan tangannya dari wajahnya, perlahan mata indah itu terbuka. Ia menatap lekat mata hazel milik Darren. Mata yang sangat dikaguminya itu. Mata yang sangat dimimpikannya akan dimiliki oleh anak-anaknya. Kembali hati Feli tersayat-tersayat begitu mengingat hal itu.
"Apa kau akan mengabulkannya"
Darren mengangguk mantap. Apa pun itu pasti akan ia usahakan. Akan ia kabulkan asalkan Feli-nya kembali lagi.
"Kembalikan anakku" suara Feli terdengar sangat menyakitkan bagi Darren. Suara Feli terdengar seperti rintihan yang sangat memilukan.
Darren menghela nafasnya kasar. Ia mengacak rambutnya frustasi. Mengusap wajahnya dengan kesal. Ya perubahan sikap Feli yang berubah menjadi pendiam seperti ini dikarenakan Feli yang mengalami keguguguran 3 minggu lalu dan sejak itu Feli jadi irit berbicara.
"Jika aku bisa, Feli!! Jika aku bisa aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya sejak dulu" suara Darren terdengar sangat frustasi
"Tapi aku tidak bisa, sayang"
"Aku tidak mempunyai kekuatan untuk itu"
Feli menangis begitu mendengar perkataan Darren. Menangis tanpa mengeluarkan suara. Dan itu mampu membuat hati Darren teriris. Bukan kah menangis dalam diam terdengar sangat memilukan dibanding dengan tangisan yang meraung.
Darren mengepalkan kedua tangannya. Menahan emosinya. Sungguh ia sangat ingin membunuh orang yang telah merusak kebahagiannya denga Feli. Orang yang mengakibatkan Feli mengalami keguguran. Tapi saat ini kesembuhan mental Feli adalah yang paling penting. Tapi ia berjanji akan membuat orang itu lebih menderita lagi.
"Aku ingin anakku. Kembalikan anakku" Feli menatap Darren dengan tatapan memohon. Darren segera menarik Feli ke dalam pelukannya. Ia hanya bisa memeluk Feli. Memeluknya denga erat. Berharap pelukannya mampu memberikan kekuatan buat Feli.
Apa yang harus kulakukan, Tuhan? tidak cukupkah hanya mengambil bayi kami, setidaknya berikan ia kekuatan Tuhan, jangan biarkan ia rapuh dan terlelap dalam kesedihan ini.
T.B.C
__ADS_1