
Dua hari sejak pertemuan Feli dengan Noura, Feli lebih banyak mengurung dirinya didalam kamar. Ia bahkan menghindari Darren. Sungguh ketakutan menghantuinya. Ketakutan bahwa Daddy nya adalah seorang pembunuh. Ketakutan Darren akan membencinya dan menjauhinya.
Saat makan malam ia juga lebih banyak diam. Mike yang biasanya acuh juga dibuat bingung dengan perubahan Feli. Ia berbicara jika hanya ada yang bertanya.
Mike yang penasaran sekarang berdiri didepan pintu kamar Feli. Ia mengangkat tangannya, mengetuk pintu kamar Feli.
"Feli..ini aku Mike. Bolehkah aku masuk"
Tidak ada jawaban. Diam nya Feli dianggap Mike sebagai jawaban iya. Ia membuka pintu kamar Feli. Ya ternyata dugaan nya tidak salah. Kakak perempuannya itu ada masalah. Tapi apa masalahnya? Mike mendatanginya untuk mengetahui apa yang sedang dihadapi oleh kakaknya itu.
Ia berjalan perlahan mendekati Feli yang sedang melamun menghadap jendela kamarnya dengan memeluk kedua kakinya yang ditekuk.
"Hei.." Mike menyentuh bahu Feli. Feli tersentak
"Kau baik-baik saja" tanya Mike lembut. Feli menggeleng. Air matanya mengalir begitu saja. Mike bingung dan panik
"Katakan ada apa dengan mu. Jangan menangis seperti ini Kak" Mike menarik Feli kedalam pelukan nya. Feli meraung. Melepaskan kegundahannya selama beberapa hari ini.
"Aku takut Mike..aku harus bagaimana sekarang" racau Feli tidak jelas.
"Hei..tenangkan diri mu terlebih dahulu" Mike mengusap-usap punggung Feli dengan lembut
"Kau bertengkar dengan Darren" Mike berucap ketika melihat Feli mulai tenang.
"Lalu apa masalah mu? Apa yang kau takutkan?" Mike mengangkat wajah kakaknya. Feli menggelengkan kepalanya. Mike masih terlalu kecil bagi Feli. Tidak mungkin baginya untuk berbagi cerita dengan adiknya itu. Ia juga tidak ingin Mike merasakan ketakutan seperti yang dirasakan nya begitu mendengar masa lalu Daddy nya.
Feli yakin Daddy nya pasti punya alasan atas perbuatan yang dilakukannya. Tapi untuk menanyakan itu Feli tidak mempunyai keberanian. Ia takut setelah mendengar kenyataan nya ia akan membenci Daddy nya. Sungguh hal itu tidak ia inginkan. Sebesar apa pun cinta nya kepada Darren tetap saja cinta nya terhadap Daddy nya lebih besar. Daddy nya adalah cinta pertama nya. Kebanggaannya.
Pertama kali ia berjumpa dengan Daddy nya, ia sudah sangat menyukainya. Bahkan sebelum ia tahu bahwa Felix adalah Daddy nya. Mereka bertemu saat Feli berusia 4 tahun. Sungguh ia tidak siap untuk mendengar apa pun alasannya. Feli memutuskan untuk menyimpan nya sendiri. Ia berdoa semoga saja Darren tidak mengetahuinya. Oh Feli yang malang. Sungguh ia tidak tahu apa yang ia takut kan sekarang adalah ketakutan yang sia-sia karna kenyataanya Darren sudah mengetahuinya.
"Aku baik-baik saja sekarang Mike"
"Keluar lah" pintanya
"Aku ingin istirahat" ucapnya lagi.
Mike mengernyit. Ia ingin protes tapi Feli sudah naik keatas ranjang nya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Baiklah jika kau tidak ingin bercerita sekarang. Tapi ingatlah aku, Daddy, Mommy dan Darren akan selalu ada untuk mu" Mike membungkuk dan mencium kening kakaknya yang tertutupi selimut.
__ADS_1
¤¤¤¤¤¤
Cahaya matahari menembus celah-celah kecil kamar Feli membuatnya sedikit terganggu akan hal itu. Meminta kornea matanya bergerak agar ia membuka matanya dan terbangun dari tidurnya.
Feli mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk membiasakan matanya dengan cahaya yang menembus kamarnya. Ia menoleh kesamping tempat tidurnya. Masih rapi. Sudah dua hari juga Darren tidak menyusup masuk ke kamarnya. Ada rasa kehilangan tapi ada juga rasa lega dihati Feli. Ia lega karna Darren tidak mendatanginya dengan begitu ia tidak perlu mencari alasan untuk menghindar. Tapi ia juga kecewa kenapa Darren tidak mendatanginya. Apa Darren tidak melihat perubahan di dalam diri Feli.
Feli beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sepuluh menit ia habis kan waktu dikamar mandi. Ia melirik jam dindingnya. Feli menghela nafas. Darren pasti belum berangkat bekerja, batinnya. Ia segera keluar dari kamarnya menuju meja makan. Ia melihat keluarganya sudah lengkap
"Selamat pagi semua" Tidak ada teriakan semangat atau pun histeris. Hanya sapaan datar tak bernada. Ia mencium semua keluarganya seadanya. Tidak ada gurauan seperti biasanya. Semua nya merasa bingung tapi tidak tahu bagaimana menyuarakannya.
Feli duduk begitu Darren menarikkan kursi untuknya.
"Kau baik-baik saja" Darren menatap lekat wajah Feli.
Feli tersenyum tipis lalu mengangguk. Darren mengernyit lalu menatap Mommy dan Daddy nya bergantian seolah meminta penjelasan. Mommy dan Daddy nya juga menatapnya dengan tatapan yang sama seolah bertanya apa yang terjadi dengan mu dan Feli. Tentu saja Darren tidak tahu jawaban nya karena ia merasa tidak mempunyai masalah dengan Feli. Darren merasakan beberapa hari ini Feli memang seperti memghindarinya tapi ia tidak sempat menanyakannya karena ia sibuk mengawasi orang yang sedang berusaha merusak kebahagiaan keluarganya.
Suasana breakfast keluarga McKenzie lewati dengan tenang dan hening. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnnya.
"Sungguh aku tidak menyukai suasana ini" Mike memecahkan keheningan. Padahal sebelumnya disaat Feli mengacau dan Darren membuat Daddy nya kesal ia hanya tenang dalam diam menikmati sarapan nya seolah tidak terpengaruh dan tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"Aku selesai"
"Ada apa dengannya?" Mika menatap punggung Feli yang mulai menghilang.
"Kau bertengkar dengan nya?" Felix menatap Darren yang sedang menatap kearah tangga melihat Feli yang sudah tidak terlihat.
Darren menggeleng. Sungguh ia juga bingung ada apa dengan kekasihnya itu.
"Aku akan keatas" Darren beranjak tanpa menunggu jawaban Mommy dan Daddy nya.
Darren mengetuk pintu kamar Feli. Tak butuh waktu lama Feli membuka pintu kamarnya. Darren tersenyum hangat tapi Feli hanya menatapnya datar
"Sayang" Darren mengelus wajah Feli. Feli hanyan diam.
"Kau yakin baik-baik saja" tanya Darren khawatir.
"Aku baik-baik saja Darren. Aku bukan anak keci lagi. Aku bisa menjaga diri ku" ucap nya ketus. Darren tersentak. Untuk pertama kalinya Feli bersikap dingin padanya. Ia yakin terjadi sesuatu.
"Pergilah"
__ADS_1
"Kau bisa terlambat" usir Feli
Darren kembali tersentak tapi ia mengangguk.
"Baiklah, aku pergi" Darren mengecup kening Feli sebelum pergi. Darren memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Feli. Feli segera menutup pintunya. Sungguh ia merasakan nyeri dihati nya saat ia bersikap dingin kepada Darren.
Feli segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rachel. Deringan kedua Rachel mengangkat teleponnya.
"Aku akan kembali bekerja" ucapnya to the point
"Darren sudah mengizinkan?" Tanya Rachel dari seberang telepon.
"Aku tidak butuh izin siapa pun asal aku tidak melanggar janji yang mereka berikan" jawab Feli lalu memutuskan panggilannya sepihak.
Feli melemparkan ponselnya begitu saja. Ia menarik nafas dalam menghilangkan sesak di dadanya. Ponsel Feli kembali berdering. Darren meneleponnya. Feli yakin Rachel sudah menghubungi Darren.
"Ada apa?" Feli mengangkat panggilannya
"Sedang apa?" Darren berbasa-basi
"Rachel menghubungimu?" Feli mengabaikan pertanyaan Darren.
"Kau sudah makan?" Darren bertanya.
"Aku akan memutuskan panggilannya" ancam Feli
"Maafkan aku" lirih Darren. Feli terdiam. Darren tidak ada salah. Dirinya lah yang salah. Dan sudah seharusnya ia yang meminta maaf.
"Katakan jika aku salah"
"Tapi jangan bersikap seperti ini pada ku Feli" Darren memohon
"Aku akan kembali bekerja" ucap Feli berat
"Maksud ku, aku akan kembali pada pekerjaan ku" Feli mendengar Darren menghela nafas nya berat. Ia yakin Darren sudah mengacak rambutnya frustasi.
"Aku akan segera pulang. Kita akan membahasnya dirumah" setelah mengatakan itu Darren memutuskan panggilannya.
"Apa sebenarnya kesalahanku ?" gumam Darren kepada dirinya sendiri. Otak nya sudah lelah berputar memikirkan kira-kira apa kesalahannya sehingga Feli mendadak berubah begitu.
__ADS_1
T.B.C