Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
26. Terungkapnya Rahasia


__ADS_3

Feli berguling-guling diatas tempat tidurnya. Ini sudah satu minggu sejak kepergian Darren. Selama satu minggu itu juga Darren selalu berusaha menghubunginya tapi Feli selalu mengabaikannya. Pesan masuk yang dikirim Darren juga tidak ia balas. Tapi jauh didalam lubuk hatinya ia sangat merindukan kekasih hatinya itu setengah mampus.


Feli menghembuskan nafasnya. Pengangguran ditambah ditinggalkan siang kekasih hati sungguh ujian yang berat bagi Feli. Ponselnya berbunyi tanda notifikasi. Dengan cepat ia mengambil ponselnya. Ia yakin itu pesan dari Darren.


Mine❤


Kau sudah merindukanku?


Karena disini aku sudah sangat merindukanmu😘


"Ya aku sangat merindukanmu sialan" gumam Feli tanpa niat membalas pesan Darren. Ia ingin menghukum pria itu dengan cara mengabaikannya.


Feli membaca ulang semua pesan yang dikirim Darren padanya. Dan itu sedikit mengurangi rasa rindunya.


Mine❤


aku mencintaimu


Mine❤


Feli sayang,..


Mine❤


Aku bisa gila jika kau terus mengabaikanku


Ting!


Kembali ponsel Feli berbunyi.


Mine❤


Ingin rasanya aku memelukmu.


Feli bangkit dari tidurnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Baiklah Mr.Maxston, kekasih hatimu yang baik hati ini akan mengabulkan keinginanmu. Kau harus membayar mahal akan hal ini" Dengan segera Feli memesan tiket pesawat yang menuju ke Italy. Jika Daddy nya tidak mengijinkan nya, jalan satu-satunya adalah kabur.


¤¤¤¤¤¤¤


Darren, Allan dan Emily baru saja kembali melakukan peninjauan langsung dari lokasi pembangunan hotel yang merupakan kerja sama antar O'Neil McKenzie Group dan Willson Group.


Darren menyelesaikan pekerjaannya disini hanya dalam satu minggu yang seharusnya dijadwalkan dalam satu bulan ini. Ia sungguh bekerja keras karena sudah tidak tahan menahan rindu terhadap Feli. Ia bisa gila jika Feli terus mengabaikannya selama satu bulan.


Besok ia sudah bisa kembali pulang dan bertemu dengan kekasihnya itu. Sungguh ia sudah tidak sabar. Ia sengaja tidak mengabari keluarganya untuk memberikan kejutan pada Feli.


"Baiklah..aku masih ada rapat dengan salah satu klien ku disekitar sini. Kau dan Emily pulang lah terlebih dahulu" ucap Allan menyadarkan Darren dari lamunannya.


Darren dan Emily mengangguk.


"Bagaimana dengan makan siang sebelum kita kembali ?" ajak Emily.


"Baiklah" jawab Darren.


"Apa kau masih menyukai Gnocchi? tanya Emily mengingat dulu Darren sangat menyukai makanan itu.


"Aku sudah tidak pilih-pilih makanan Em" kekeh Darren.


"Baiklah, aku akan membawa mu kerestauran yang menyediakan masakan Gnocchi yang sangat enak. Kau harus mencobanya"


Gnocchi adalah salah satu makanan italia yang menjadi favorit banyak orang dan sering kali ada di berbagai restoran Italia yang ada di seluruh dunia. Sebenarnya gnocchi ini merupakan jenis pangsit yang terbuat dari tepung yang dibuat dengan berbagai rasa dan juga gaya. Ada gnocchi yang berisi daging dan ada juga gnocchi yang dibuat secara khusus untuk para vegetarian yang tentunya sama sekali tidak mengandung daging di dalamnya.


"Maafkan aku baru menanyakannya sekarang, bagaiman khabar Aunty Ashley?" tanya Emily begitu mereka duduk.


"Mom, sudah lama meninggal Em" suara Darren terdengar getir. Ada kesedihan didalamnya.


"Oh astaga..maafkan aku Darren. Aku sungguh tidak mengetahuinya. Aku memang selalu bertanya-tanya setiap pemberitaan mu Aunty tidak pernah terlihat dan bahkan namanya tidak pernah disebut" sesal Emily


Darren hanya tersenyum getir.


"Kau pasti sangat kesepian?"


Darren menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Mommy dan Daddy yang merawat dan membesarkanku sampai sekarang sangat menyayangiku. Mereka adalah orang yang sangat baik"


"Ya, aku banyak mendengar tentang keluarga McKenzie. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Tuan dan Nyonya McKenzie adalah orang yang sangat penyayang. Mereka juga sangat harmonis" puji Emily


"Ya, aku sangat beruntung dan bersyukur dibesarkan dalam keluarga itu" senyum hangat dan tulus terlihat diwajah Darren. Sungguh ucapan terimakasih tidak cukup untuk mengungkapkan rasa syukurnya terhadap Mommy dan Daddy nya. Ia tidak bisa membayangkan jadi apa dirinya tanpa kebaikan dari kedua orang tuanya.


"Sepertinya kau sangat menyayangi mereka" Emily melihat sorot mata Darren yang melembut setiap membicarakan keluarga yang membesarkannya itu.


"Sangat.." Darren menganggukkan kepalanya.


"Mereka sangat beruntung mendapatkan putra seperti mu yang sangat menyayangi mereka"


"Tidak Emily" timpal Darren cepat


"Tapi aku lah yang beruntung" lanjutnya.


"Oh maafkan aku" Emily meringis begitu meihat raut wajah Darren yang tiba-tiba berubah begitu mendengar kalimat Emily.


"Oh astaga..betapa kecilnya dunia ini. Aku sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu putra sahabatku disini" terdengar suara wanita yang membuat Darren dan Emily kompak menoleh kearah sumber suara.


Noura tersenyum seraya mendekati meja mereka. Darren terkejut bukan karena melihat Noura, melainkan wanita yang sedang bersamanya itu. Clarissa.


"Dar..Dar..Darren.." suara Clarissa bergetar.


Darren menatapnya dengan tajam. Ingatan akan kejadian 5 tahun lalu seolah berputar dihadapannya.


"Darren...ini sungguh dirimu?" Clarisa tanpa tahu malu mendekati Darren dan duduk disampingnya. Ia menatap lekat wajah pria itu. Pria yang sangat dicintainya itu.


"Darren...aku sangat merindukanmu" Clarissa menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Darren.


"Menyingkir dari ku sialan!" Darren mendorong tubuh Clarissa hingga hampir saja terjatuh jika saja Noura tidak menahannya dari belakang.


"Oh kau sangat kasar sekali. Apa kah ini didikan wanita jalang itu" sinis Noura.


"Perhatikan ucapan mu Aunty. Jangan sekali-sekali menghina Mommy ku. Jika tidak aku tidak akan segan padamu dan lupa kalau kau adalah orang tua" Rahang Darren mengeras menahan emosi mendengar Mommy nya disebut dengan kata laknat itu.


"Darren..kau mengenal Aunty Noura dan Clarissa?" Terlihat wajah bingung Emily. Darren mengernyit mendengar pertanyaan Emily.


"Kau juga mengenal mereka?" kembali Darren bertanya.


"Lalu bagaimana dengan wanita perusak itu?" Darren mengarahkan matanya dengan sinis menunjuk Noura.


"Aunty, Mommy Clarissa" dan sungguh itu sukses membuat Darren hampir terkena serangan jantung. Bagaimana bisa seperti ini? pertanyaan itu menari-nari dibenaknya.


"Hei..anak muda perhatikan ucapanmu"


"Kau menyebut ku wanita perusak, lalu bagaimana dengan si Jalang itu yang sudah merebut Felix dari Mommy mu Ashley?" Noura menyerang balik Darren.


"Sepertinya aku harus pergi Emily" Darren tidak menanggapi ucapan Noura. Ia sangat malas berhadapan dengan wanita yang tidak pernah ada sadarnya itu.


"Ciihh..sopan sekali kau anak muda"


"Sepertinya kau sangat menyayangi dan menghormati orangtua angkat mu itu" Senyum mengejek terlihat diwajah licik Noura.


"Apa kau akan memandang mereka dengan pandangan yang sama jika saja kau tahu mereka tidak sebaik yang kau fikir" Noura masih memancing.


Darren yang hendak melangkahkan kakinya mengurungkan niatnya. Ia menatap Noura. Noura tersenyum karena ia merasa pancingannya menuai hasil.


"Bagaimana bisa ada manusia sepertimu"


"Orang semakin tua semakin bijak"


"Dan kau yang sudah bau tanah seperti ini masih saja dengan kelicikannya. Harusnya kau lebih banyak menghabiskan waktumu ditempat ibadah. Bukan mencari kegiatan yang merusak kebahagian orang lain dan memancing emosi orang lain. Karena itu sudah menjadi tugas Iblis. Atau kau memang iblis yang berwujud manusia Aunty Noura" Darren tersenyum mengejek.


"Sialan kau brengsek"


"Beraninya kau menghinaku"


"Apa kau tahu iblis yang berwujud manusia itu sesungguhnya adalah orang yang kau anggap Daddy selama ini. Tidak kah kau tahu Felix O'Neil McKenzie yang sangat kau hormati dan kau banggakan itu sesungguhnya adalah orang yang membunuh Daddy kandung mu Sean Lionel Maxston" ucap Noura berapi-api. Sungguh anak dari Ashley ini sudah membuatnya sangat jengkel.


Noura tersentak melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Darren. Ia terlihat tenang. Tidak ada raut terkejut, kecewa, marah atau emosi diwajah nya.


"Kau tidak terkejut?" dengan bodohnya Noura bertanya.

__ADS_1


"Kau memang selalu terlihat menyedihkan Aunty" Darren berdecak malas


"Apakah cuma itu senjatamu untuk menghancurkan keluargaku?" Darren menaikkan alisnya.


"Bangunlah dari mimpi mu Aunty. Kau tidak akan bisa menghancurkan kebahagiaan keluargaku" Darren tersenyum sinis seraya berjalan meninggalkan Noura yang terkejut mendapati reaksi Darren.


Darren tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya.


"Bertaubat mungkin tidak akan memperpanjang umurmu, tapi setidaknya bisa mengurangi beban dosa mu yang sangat besar itu" Darren berbalik setelah mengucapkan kalimat itu.


Noura menggeram. Amarah nya sudah memuncak. Ia menghempaskan benda yang ada dimeja itu sehingga berhamburan kelantai.


"Aunty kendalikan dirimu" Emily mencoba menenangkannya.


"Kau bisa membuat Clarissa terkejut" ucapnya.


Noura menatap Clarissa yang masih menatap punggung Darren sampai tidak terlihat


"Bagaimana kalian bisa mengenalnya?" gumam Clarissa yang masih bisa didengar Noura dan Emily.


¤¤¤¤¤¤


Darren menghempaskan bokongnya di bangku penumpang. Ia melonggarkan ikatan dasinya. Dadanya terasa sesak.


"Apa anda baik-baik saja sir?" tanya Lucas begitu melihat wajah tuannya.


"Cari tahu semua tentang Emily dan Clarissa. Dan bagaimana bisa wanita iblis itu bisa menjadi ibunya" Darren memberikan perintah. mengabaikan pertanyaan Lucas.


Aku membutuhkanmu untuk menenangkan ku Feli, ucapnya dalam hati.


Darren merogoh ponselnya. Ia akan mencoba menghubungi Feli. Ia berharap ia beruntung kali ini. Mudah-mudah Feli mau menjawab panggilannya. Mendengar suara wanita itu mungkin bisa sedikit menenangkannya.


Darren mengernyit. Sepertinya keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Ponsel Feli tidak aktif.


"Kenapa wanita itu tahan sekali bila mendiamkan seseorang" Darren menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anda mengatakan sesuatu sir?" Tanya Lucas


"Ckk...berhenti bersikap formal Luc" kesal Darren. Ya Lucas adalah sekretaris yang merupakan sahabatnya juga. Ia, Alllan dan Lucas adalah sahabat yang kuliah di universitas yang sama.


"Apalah Feli masih mengabaikanmu? Lucas terkekeh.


"Hmm" gumam Darren, bertepatan dengan ponselnya yang berdering.


"Apa kau sangat merindukanku Dad?" ucap Darren malas begitu menerima panggilan Daddy nya.


"Percayalah...saat ini aku sangat kesal padamu" ucapnya lagi


"Feli menghilang"


"Aa..apa?" Darren langsung menegakkan tubuhnya.


"Sepertinya ia menyusulmu"


Darren menghela nafas lega.


"Baiklah aku akan mencarinya"


"Katakan pada Mommy, Feli pasti baik-baik saja" Darren tersenyum. Ia mendengar suara tangis sesegukan Mommy nya.


"Darren" Panggil Daddy nya.


Darren tersentak. Menyebut nama nya adalah hal yang jarang dilakukan Daddy nya.


"Pulang lah segera. Ada yang perlu Daddy bicarakan"


Darren menangkap ucapan serius Daddy nya. Dan sepertinya ia tahu apa yang akan dibicarakan Daddy nya.


"Aku akan segera pulang begitu menemukan Feli Dad" jawabnya.


"Sepertinya Daddy sudah mengetahuinya" gumam Darren


"Selamat berjuang kawan" Lucas terkekeh.

__ADS_1


T.b.c


__ADS_2