Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
8.Firasat Darren


__ADS_3

Darren sedang mengikuti rapat bersama Daddy nya Felix. Darren terlihat tidak nyaman duduk dikursinya. Ia sesekali melirik jam ditangannya. Daddy nya Felix menyadari kegelisahannya itu. Ia mendekatkan tubuhnyaย  ke arah Darren


"Apa semua baik-baik saja son?"


"Aku tidak tahu Dad, tiba-tiba perasaanku tidak enak begini. Bolehkah aku tidak mengikuti rapat ini. Aku akan menjemput Feli kesekolah" ucapnya


Daddy nya mengangguk. Ia menyadari ikatan antara putranya Darren dengan Feli memang sangat erat.


"Baiklah, segera hubungi Daddy jika terjadi apa-apa" Felix menepuk bahu Darren. Darren mengangguk dan segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan terburu-buru. Ia diliputi rasa takut yang ia sendiri tidak tahu kenapa rasa takut itu tiba-tiba menyerang dirinya. Ketakutannya semakin menjadi tatkala Feli tak kunjung mengangkat teleponnya.


Ia mengendarai mobilnya seperti orang gila menuju sekolah Feli.


Feli baru saja keluar dari ruang kelasnya. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi sopir yang biasa menjemputnya. Ia tersenyum melihat layar ponselnya. Ada beberapa panggilan dari Darren. Ia memang tidak mendengarnya karena ponselnya sengaja ia silence.


"Hai Feli" Feli menghentikan tangannya yang ingin menghubungi Darren. Ia mendongak dan menemukan Clarissa yang berdiri dihadapannya dengan senyum palsu diwajahnya.


Apa Darren menghubungiku ingin mengatakan kalau Clarissa yang datang menjemputku. Batinnya


"Kenapa kau ada disini. Apa Kakak ku yang memintamu untuk menjemputku?"


Clarissa sedikit tersentak mendengar pertanyaan Feli. Ia berfikir ini suatu keberuntungan. Keadaan seperti berpihak kepadanya. Ia lalu tersenyum manis.


"Ya, Darren memintaku" Bohong Clarissa.


"Baiklah. Kebetulan aku juga ingin berbicara kepadamu. Katakan dimana mobilmu?" Feli tidak menaruh rasa curiga sedikitpun. Clarissa menuntun Feli menuju kemobilnya.


"Aku tidak ingin berbasa basi Clarisaa. Aku ingin kau meninggalkan Kakak ku" ucap Feli begitu mereka sampai di dalam mobil. Clarissa menjalankan mobilnya.


"Kenapa kau mengatakan seperti itu" Clarissa terlihat tenang tapi senyum licik tercetak diwajahnya.


"Aku melihatmu berciuman dengan pria lain ditaman kota. Kau mengkhianati kakak ku." geram Feli mengingat Clarissa yang berselingkuh dibelakang Darren


"Jadi kau meihatnya juga. Atau jangan-jangan kau yang meminta Darren mengakhiri hubungan kami Feli"


Feli mengernyit bingung. Ia memang tidak mengetahui prihal Darren yang mengakhiri hubungannya dengan Clarissa.


"Jadi Darren sudah memutuskanmu?" Feli memastikan


"Jangan berakting sok bodoh begitu Feli. Aku tahu pasti kau yang memintanya kan" sinis Clarissa.


"Baguslah jika Kakak ku memutuskanmu. Kau memang tidak pantas buatnya" Feli mengabaikan sindiran Clarissa.


Clarissa tertawa.


Kenapa ia tertawa seperti orang gila begitu.


Clarissa menghentikan mobilnya Lalu menatap Feli seraya tersenyum sinis. Feli melihat sekelilingnya. Ia tidak tahu dan tidak menyadari kemana Clarissa membawanya. Dihadapannya hanya ada gudang kosong yang mungkin sudah lama tidak terpakai. Dari jarak yang mereka tempuh sepertinya tidak jauh dari sekolahnya.


"Turun" Clarissa menarik paksa Feli agar segera turun dari mobilnya.


"Kau membawa ku kemana?" hardik Feli.


"Kita akan bersenang-senang Feli" Clarissa tersenyum setan.


"Tidak! Aku mau pulang!"


"Tidak ada bantahan Feli sayang, kau tidak ada hak mengeluarkan suara mu disini" Clarissa memanggil seseorang untuk menyeret Feli. Feli ketakutan melihat dua orang pria yang sedang berjalan mendekat kearah mereka. Feli mulai panik


"Clarissa kau tidak bisa macam-macam denganku. Jika kakak ku tahu dia akan menghabisimu" Feli mengancam Clarissa dengan menyebut nama kakaknya untuk menakuti Clarissa.


"Bawa dia masuk kedalam dan lakukan seperti yang ku perintahkan" perintah Clarissa yang langsung diangguki oleh kedua pria itu.


Feli meronta dan berteriak ketika salah satu dari dua pria itu menyeret paksa tangan Feli. Feli menangis ketakutan.


Kakak tolong aku..Daddy...jeritnya dalam hati.


Diwaktu yang sama Darren sudah sampai didepan sekolah dan melihat sopir yang biasa menjemput Feli parkir didepan.


"Dimana Feli?" tanya begitu berdiri dihadapan sopir itu.


"Aku tidak tahu tuan. Nona juga tidak mengangkat teleponnya"

__ADS_1


Darren kembali panik. Ia menghubungi ponsel Feli dan tidak ada jawaban. Darren berjalan masuk kedalam area sekolah dan melihat satpam disana. Ia mendekatinya dan bertanya. Rahang Darren mengeras begitu mendengar bahwa ada seorang wanita yang menjemput Feli. Darren memperlihatkan fhoto Clarissa yang langsung diangguki oleh satpam tersebut. Darren mengepalkan tinjunya.


"Berani sekali wanita itu" gumamnya lalu pergi berjalan kearah mobilnya.


"Kau boleh pulang. Jangan katakan apa pun kepada Mommy dan Daddy. Aku akan mencari Feli" Sopir itu mengangguk lalu masuk kedalam mobil meninggalkan Darren yang terlihat sangat emosi.


Darren memasuki mobilnya dan melaju tak tentu arah. Panik, takut dan marah bercampur jadi satu. Ia tidak bisa membayangkan saat ini pasti Feli sedang ketakutan. Darren beberapa kali meninju setir mobilnya melampiaskan kemarahannya.


"Oh astaga bodoh sekali, harusnya dari tadi aku melacak ponsel Feli" Darren segera menepikan mobilnya dan mengambil ponselnya untuk melacak keberadaan Feli. Setelah melihat titik merah dilayar ponselnya Darren kembali melajukan mobilnya. Seperti dugaannya tempatnya memang tidak terlalu jauh dari sekolah Feli.


Darren melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia menghentikan mobilnya begitu melihat tanda merah diponselnya juga berhenti. Ia melihat sekelilingnya. Tempat yang lumayan sunyi. Darren segera turun dari mobilnya dan berjalan mendekat kearah gudang kosong yang ada dihadapannya.


"Aakkkhhhhhh...." Darren berlari mempercepat langkahnya begitu mendengar suara teriakan Feli.


Tubuh Darren menegang. Matanya menyala tajam. Tinjunya terkepal dikedua tangannya begitu melihat Feli yang terlentang diatas tempat tidur dengan kedua kaki dan tangannya diikat. Feli menangis histeris tatkala kedua pria itu sedang berusaha melucuti seragam sekolahnya. Clarissa yang duduk menonton hal itu tertawa puas.


"Jauhkan tangan kotor kalian dari tubuhnya, brengsek!" teriak Darren. Ia berlari mendekati kedua pria itu lalu menghajarnya tanpa ampun.


"Beraninya kalian menyentuhnya. Apa kalian sudah bosan hidup!" Darren gelap mata. Kedua pria itu ketakutan. Kedua pria itu meminta bantuan kearah Clarissa. Mereka tidak menyangka orang yang berurusan dengan mereka adalah seorang Darren McKenzie. Mereka gelap mata dengan uang yang ditawarkan oleh Clarissa ditambah lagi kecantikan yang dimiliki oleh Feli. Tapi jika saja mereka tahu itu berhubungan dengan seorang McKenzie tentu saja mereka akan menolak. Berurusan dengan Darren McKenzie sama saja cari mati. Clarissa mengetahui itu. Ia hanya bermodal nekad karena sakit hati atas prilaku Darren memutuskannya secara sepihak.


Clarissa yang terkejut, tidak menyangka akan kedatangan Darren segera beranjak dari kursinya. Darren yang menyadarinya segera melepaskan kepalannya terhadap salah satu pria itu. Ia mengejar Clarissa lalu menjambak rambutnya.


"Beraninya kau sialan. Siapa yang memberimu izin untuk menyakitinya, hah..."Darren mendorong tubuh Clarissa kasar hingga kepalanya membentur sudut kursi yang didudukinya tadi.


"Darren..Darren maafkan aku" Clarissa ketakutan begitu melihat wajah mengerikan Darren.


"Maaf katamu" Darren memaksa Clarissa berdiri dan mencekal kedua tangan Clarissa kebelakang. Darren membuka dasinya dan mengikat tangan Clarissa dengan dasinya itu.


"Kakak" lirih Feli. Darren berbalik dan mengatupkan giginya rapat melihat kondisi adiknya itu. Sudut bibirnya berdarah. Wajahnya memerah seperti bekas tamparan. Darren segera melepaskan tali ikatan Feli. Feli segera memeluk tubuh Darren. Tubuh Feli bergetar ketakutan.


Darren tersenyum iblis melihat kearah Clarissa yang menangis ketakutan. Lalu Darren menatap tajam kearah kedua pria yang masih terkapar itu.


"Jika kalian ingin hidup, lakukan kepadanya seperti apa yang diperintahkannya. Aku akan membayar kalian tiga kali lipat" Kedua pria itu mengangguk antara senang dan juga ketakutan


"Darren kau tidak bisa melakukan itu kepada ku Darren. Darren setidaknya berbelas kasih lah kepdaku. Setidaknya aku pernah menjadi kekasihmu Darren. Darren maafkan aku. Aku salah Darren " Clarissa panik dan ketakutan


"Tidak akan ada ampunan bagi orang yang berani menyentuh milikku" Darren berlalu membawa Feli yang ketakutan didalam gendongannya.


Feli ketiduran sepanjang perjalanan, mungkin akibat shock yang dialaminya. Darren membawanya pulang keapartementnya. Ia tidak ingin Mommy dan Daddy nya juga shock melihat kondisi Feli. Bisa-bisa Mommy nya menangis berminggu-minggu. Dan Daddy nya Felix tidak akan kesulitan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan begitu ia mengetahui apa yang terjadi Darren yakin Daddy nya akan membuat hancur seluruh keluarga lebih tepatnya semua keturunan dari orang yang berani menyakiti putri kesayangannya itu. Dan Darren tidak ingin hal itu terjadi. Cukup memberikan hukuman kepada orang yang bersalah saja.


Darren mengangkat tubuh Felix kedalam gendongannya dan membawanya masuk kedalam kamarnya. Ia meletakkan tubuh Feli dengan sangat hati-hati. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Daddy nya dan menjelaskan bahwa Feli akan menginap beberapa hari di apartemennya.


Darren menatap lekat wajah Feli yang masih tertidur itu. Ia mengusap wajah itu dengan lembut. Amarah masih terlihat diwajahnya begitu melihat memar diwajah Feli.


"Maafkan aku sayang" Darren membungkuk ingin mencium kening Feli bertepatan dengan Feli yang membuka matanya. Feli terbelalak. Ia mendorong tubuh Darren.Ia segera duduk dari tidurnya


"Jangan menyentuhku. Menjauh dari ku" Feli histeris dan membenamkan wajahnya diatas lututnya.


"Aku mohon, menjauhlah dariku"


Darren menggeram kesal


Para b*ajingan itu membuat mental Feli terguncang.


"Feli..ini kakak" Darren mendekat dan mengusap kepala Feli. Begitu mendengar suara Darren Feli mendongak dan melihat Darren yang sedang menatapnya sayu.


"Kakak... aku takut" Feli segera memeluk erat tubuh Darren


"Kenapa kakak lama sekali datangnya"


"Maafkan kakak sayang" Darren mengumpat dirinya dalam hati karena kebodohannya yang tidak segera melacak keberadaan Feli melalui ponselnya.


"Tenanglah. Sekarang kau baik-baik saja. Kau aman sayang" Darren mengusap punggung Feli. Feli menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak..aku tidak baik-baik saja. Mereka menciumiku. Mereka menggerayangi tubuhku" suara Feli bergetar.


Darren tersentak mendengar penuturan Feli. Tangannya mengepal kuat.


"Clarissa jahat. Ia tertawa melihatku. Ia berselingkuh. Ia mengkhianati mu kakak. Tinggalkan dia" Feli masih menangis.


"Iya sayang. Kakak akan meninggalkannya. Kakak akan memberinya pelajaran. Kau tenanglah"

__ADS_1


"Kakak..aku sudah kotor" kembali suara Feli bergetar.


"Tidak sayang. Mereka tidak menyentuhmu"


Feli mendorong tiba-tiba mendorong tubuh Darren


"Mereka menyentuh tubuhku dengan tangan mereka. Mereka juga menciumku secara paksa!" Feli merasa jijik terhadap dirinya sendiri.


Apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin Feli mengalami trauma gara-gara kejadian ini. Oh Tuhan... Mom, Dad maafkan aku. Persetan dengan semuanya. Darren berperang dengan dirinya sendiri.


Darren segera menarik Feli lagi kedalam pelukannya berusaha menenangkannya.


"Feli, lihat kakak" Darren melepaskan pelukannya. Menangkup wajah Feli dan menahannya agar menatap matanya.


"Mulai sekarang kau tidak boleh mengingat kedua pria itu yang telah menyentuhmu. Kakak akan membersihkannya. Menghilangkan jejaknya. Kau hanya boleh mengingat ini. Mengingat sentuhan kakak"


Belum sempat Feli memberikan responnya Darren sudah menyatukan bibir mereka. Feli tersentak kaget tapi ia tidak mendorong tubuh Darren juga. Ia terpaku. Darren menciumnya dengan penuh kelembutan. Berbeda dengan perasaan jijik yang dirasakannya tadi, kali ini Feli merasakan tubuhnya seperti tersetrum aliran listrik. Darahnya berdesir. Jantungnya berdetak cepat. Feli akhirnya menutup kedua matanya menikmati ciuman Darren dibibirnya. Feli bisa merasakan rasa mint dari ciuman Darren.


Darren melepaskan ciumannya. Ia tahu ini pertama kali buat Feli. Ia tidak ingin Feli kehabisan nafas.


"Katakan sayang, dimana lagi mereka menyentuhmu. Aku akan membersihkannya" Darren menatap sendu wajah Feli yang sudah seperti kepiting rebus itu. Feli menunjuk leher dan bagian tubuhnya yang disentuh oleh kedua pria tadi. Darren mencium setiap bagian yang ditunjuk oleh Feli.


Setelah membersihkan jejak kedua pria itu dengan ciumannya, Darren kembali mencium dalam kening Feli dan mengusap sayang kepalanya lalu ia pun beranjak dari tempatnya berjalan kearah lemari pakaiannya. Ia mengambil salah satu piyamanya untuk dikenakan oleh Feli.


"Ganti seragammu" Darren memberikan piyamanya kepada Feli. Feli mengangguk tapi tidak berani menatap wajah Darren. Darren tersenyum simpul.


"Apa kau ingin kakak yang menggantikannya" godanya yang membuat Feli mendongak lalu menggeleng cepat. Darrren terkekeh lalu mengacak rambut Feli. Feli beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam ruang ganti Darren


Aku butuh air dingin. Sepertinya aku harus mandi jika tidak aku bisa benar-benar gila. batin Darren.


Darren berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Darren menghabiskan waktu selama 45 menit didalam kamar mandi. Ia butuh melepaskan sesuatu. Ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek selutut dan melihat Feli sedang duduk diatas ranjangnya. Feli segera menundukkan kepalanya begitu Darren sudah ada di dekatnya.


Kenapa mendadak gerah begini. Dan ada apa dengan jantungku. Jantungku bekerja lebih giat dari biasanya. Dan ada apa dengan wajahku kenapa memanas begini,


"Apa kau lapar?" Darren duduk disamping Feli. Feli mengangguk.


"Baiklah, ayo kita makan" Darren berdiri dari tempatnya.


"Hmm..tidak bisakah kau mengenakan pakaian mu terlebih dahulu" cicit Feli masih menunduk. Darren terkekeh lalu berjalan kearah lemari pakaiannya dan mengambil asal kaos untuk dikenakannya.


"Ayo" Darren memberikan tangannya yang disambut oleh Feli. Kembali Feli merasakan seperti tersengat aliran listrik diseluruh tubuhnya begitu tangannya bersentuhan dengan tangan Darren.


Darren dan Feli makan dalam diam hingga makanan Feli habis tak bersisa.


"Apa kau ingin menghabiskan makananku juga?" tawar Darren. Feli hanya mengangguk. Darren mendorong piring miliknya kehadapan Feli. Feli memang kebiasaan menghabiskan makanan Darren.


"Feli.." panggil Darren lagi.


"Hmm" gumam Feli masih menunduk


"Kau tidak ingin menatapku" tanya Darren, Feli menggeleng


"Kau marah padaku?" Feli kembali menggeleng


"Kalau begitu tatap aku" pinta Darren lembut. Feli mengangkat kepalanya perlahan. Mata hazelnut gelap milik Darren beradu dengan mata coklat milik Feli. Jantung Feli menggila.


Sejak kapan mata hazel milik Darren terlihat begitu indah? tanya Feli dalam hatinya.


Darren berdehem. Feli tersentak dari lamunannya yang mengagumi mata indah kakaknya Darren


"Feli, bolehkah aku bertanya ?" Feli mengangguk. Ia jadi irit suara setelah kejadian Darren menciumnya.


"Apa kau membenci apa yang sudah ku lakukan tadi?" Feli menggeleng. Darren tersenyum.


"Bolehkah aku meminta sesuatu?" Feli mengangguk


"Apa yang terjadi hari ini jangan pernah mengatakannya pada siapa pun. Baik Mommy atau pun Daddy" Feli mengangguk


"Termasuk ciuman itu Feli" lanjut Darren yang membuat semburat merah diwajah Feli.


T.B.C

__ADS_1


Sampai part ini sudah mengerti dong, kenapa sekarang Darren selalu menuruti keinginan Feli setiap Feli meminta ia memutuskan kekasihnya.๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿค”๐Ÿ˜๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2