
"Mom.." Feli membuka pintu kamar
Mika menoleh menatap Feli. Ia baru selesai mandi.
"Ada apa sayang. Kemarilah" Mika menepuk ranjang agar Feli segera masuk dan duduk disampingnya.
"Mom aku ingin mengatakan sesuatu"
"Iya sayang katakanlah. Mommy akan mendengarkanmu" Mika mengelus rambut putrinya. Ia juga penasaran apa yang membuat putrinya ini mengurung dirinya didalam kamar selama dua hari. Apa mungkin putrinya jatuh cinta? Mika terkekeh membayangkan kemungkinan itu. Ia ingat dulu waktu suaminya Felix menciumnya secara paksa ia juga mengurung diri didalam kamar selama dua hari dan tidak masuk kekantor.
"Mom,, akhir-akhir ini aku merasakan hal aneh dalam diriku. Jantungku berdetak tidak normal setiap membayangkan seseorang bahkan wajah ku memanas dan yang lebih anehnya Mom jika aku bersentuhan dengan nya tubuh ku serasa terkena aliran listrik. Aku bahkan mau tersenyum sendiri bila mengingatnya Mom" ucapnya dengan polosnya.
"Apa mungkin aku mempunyai kelainan didalam sini mom" Feli menunjuk dadanya. Mika terkekeh. Ternyata dugaannya tidak salah. Putrinya sedang jatuh cinta.Lalu pertanyaannya siapa yang sudah membuat putrinya ini jatuh cinta. Apa Darren mengetahuinya?
"Ternyata putri Mommy sudah dewasa. Tidak ada yang salah dengan dirimu sayang. Itu hal yang normal dialami oleh seseorang jika sedang jatuh cinta. Kau sedang jatuh cinta sayang. Katakan sayang siapa pria itu?" jelas Mika dengan senyum mengembang diwajahnya. Feli terdiam. Butuh waktu buatnya untuk mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Mommy nya itu.
"APA?"
"AKU SEDANG JATUH CINTA"
"OH ASTGA..JADI KAKAK..." Feli langsung menutup mulutnya begitu melihat Mommy nya yang mengernyit bingung begitu ia menyebut kakaknya. Feli merutuki kebodohannya.
"Ada apa dengan kakakmu?" Mika menatapnya penuh selidik
Feli menggeleng
"Tidak apa-apa Mom.Baiklah Mom aku pergi dulu. Terimakasih Mommy sudah memberitahuku. Mommy aku sangat bahagia." Feli memeluk Mommy nya erat lalu memutar-mutarkan tubuh mereka. Mika sampai pusing dibuatnya.
" I love you Mom" Feli mengecup pipi Mommy nya lalu pergi berlari keluar dari kamar Mommy nya.
Darren yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka segera beranjak dari pintu kamar Mommy nya. Ia segera bersembunyi sebelum Feli menyadari kedatangannya. Ia segera menuju kediaman orang tuanya begitu jam kantornya telah selesai. Ia hampir gila dibuat Feli. Dua hari Feli tidak memberikannya kabar. Ia bermksud ingin menemui Feli tapi tidak menemukan Feli didalam kamarnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Mommy nya dan ia sungguh dibuat terkejut mendengar pengakuan Feli. Ia merasa bahwa dirinya lah pria yang dimaksud Feli. Ingin rasanya ia masuk dan mengatakan hal yang sama. Tapi ia mengurungkan niatnya karna pasti akan membuat semua orang terkejut. Ia perlu memastikannya terlebih dahulu pada Feli.
Ia melihat Feli sudah masuk kedalam kamarnya. Ia berdiri dihadapan pintu kamar Feli. Ia mendengar suara teriakan Feli dari dalam. Ia menarik nafasnya dalam lalu mengetuk pintu kamar Feli
"Feli kau baik-baik saja?"
Tidak butuh waktu lama Feli membuka pintunya. Senyum lebar menghiasi wajah cantik Feli. Dan sialnya Darren selalu jatuh cinta setiap melihat senyum indah Feli.
"Hai..Darren" Suara Feli mendayu. Darren merasakan sengatan listrik diseluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya Feli menyebut namanya. Tidak perlu ditanyakan lagi pria yang dimaksud Feli memang dirinya dari cara Feli menatapnya Darren sudah bisa menebaknya. Feli sangat mudah ia baca.
"Haii.." jawab Darren
"Aku mengkhawatirkanmu. Kau tidak menghubungiku selama dua hari ini"
"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya" Feli menautkan jari jemarinya. Ia gugup.
"Kau baik-baik saja?" Darren menyentuh wajah Feli. Feli tersentak. Ia mundur beberapa langkah.
"Aa..aku baik-baik saja" gugupnya
Darren mengernyit.
"Apa kau tidak ingin ku sentuh?" Darren terluka saat Feli menghindar begitu tangannya menyentuh wajahnya
"Oh tidak..tidak sama sekali Darren" Feli melambai-lambaikan kedua tangannya. Ia segera mengangkat tangan Darren dan meletakkan nya diwajahnya
"Kau boleh menyentuhnya. Tadi aku hanya terkejut saja" ucapnya jujur. Darren tersenyum geli.
__ADS_1
"Kau sudah tidak marah padaku?"
"Aku tidak pernah marah padamu" jawab Feli
"Benarkah?"
"Hmmm..." Feli tidak berani menatap wajah Darren. Jika ia menatapnya matanya hanya fokus pada bibir seksi Darren yang mencium nya beberapa hari lalu.
Ternyata jatuh cinta sangat mengerikan. batin Feli.
"Darren" panggil Feli masih menundukkan kepalanya.
"Hmmm" gumam Darren
"Kau tidak keberatan aku memanggilmu seperti itu?"
"Aku menyukainya"
Feli refleks mengangkat kepalanya
"Kau sudah makan?" Darren mengalihkan pembicaraan
Feli menggeleng
"Ayo kita makan bersama" Darren menarik tangan Feli. Mereka menuruni tangga menuju meja makan. Disana sudah ada Daddy dan Mommy nya.
"Kau disini?" tanya Felix heran begitu melihat Darren.
"Seperti yang kau lihat Dad.." ucapnya seraya menarik kursi untuk Feli.
"Jika tadi ingin kesini. Kenapa tidak bersama saja"
"Kau sudah tidak mogok makan?" Goda Felix menatap putrinya yang sudah dua hari mengurung diri dikamar.
"Aku tidak pernah mogok makan"
"Lalu kau mogok apa?" Felix masih tetap menggoda putrinya
"Mogok melihat wajah menyebalkan mu Dad"
Felix terkekeh. Jika putrinya sudah berani meledeknya, itu artinya putrinya sekarang baik-baik saja.
"Makanlah" ucap Darren seraya mengelus sayang rambut Feli
"Terimakasih Darren" senyum manis masih melekat diwajah Feli yang sedang jatuh cinta. Mika dan Felix mengernyit mendengar Feli yang menyebut nama Darren tanpa embel-embel kakak.
"Feli dimana kesopananmu?" Tegur Mika tidak suka
"Tidak apa-apa Mom, aku tidak keberatan. Jiika Feli senang aku juga bahagia" Darren yang menjawab.
"Kau terlalu memanjakan adikmu son" ucap Felix.
"Aku tidak mungkin memanjakanmu Dad. Sudah ada Mommy yang memanjakanmu" Jawab Darren yang membuat Daddy nya mendengus.
Setelah selesai makan, Mommy dan Daddy segera beranjak dari tempatnya. Daddy nya mengatakan ada berkas yang harus diperiksanya.
"Sepertinya aku juga harus pulang Feli. Kau juga istirahatlah. Dan angkat teleponmu jika aku menghubungimu"
__ADS_1
Feli mengangguk
"Baiklah, aku akan mengantarmu kekamarmu" Darren membantu Feli beranjak dari kursinya.
"Masuklah" Perintah Darren begitu ada didepan kamar Feli.
Feli mengangguk
"Selamat malam Darren" Feli berjinjit lalu mencium pipi Darren. Darren mengangguk lalu mengecup kening Feli.
"Aku pergi. Aku akan pamit pada Mommy dan Daddy dulu" ucapnya.
Darren berjalan perlahan menuju kamar Mommy dan Daddy nya. Kamar orang tuanya memang berada dilantai yang sama dengan kamar mereka.
Darren melihat pintu kamar Mommy dan Daddy nya tidak tertutup dengan rapat. Ia sudah mengangkat tangannya ingin mengetuk pintu kamar orang tuanya. Tangannya terhenti diudara begitu mendengar pembicaraan Mommy dan Daddy nya
"Tadi Feli mendatangiku. Dan mengatakan ia sedang jatuh cinta pada seseorang" terdengar suara Mommy nya Mika
"Benarkah..wah sepertinya putriku sudah mulai dewasa" timpal Felix
"Aku sedikit khawatir Felix"
"Kenapa. Bukan kah itu artinya pertumbuhan putri kita normal sayang"
"Aku khawatir Feli jatuh cinta pada Darren. Putra kita" Mika menyuarakan kegelisahannya. Mika merasakan sesuatu yang aneh begitu ia mendengar putrinya menyebut nama kakaknya. Mika seorang ibu ia bisa tahu dan merasakan tatapan yang diberikan oleh Feli kepada Darren adalah tatapan kagum
Felix terdiam begitu mendengar ucapan istrinya. Ia tidak memikirkan sampai kesana.
"Itu tidak boleh terjadi"
"Jika hal itu terjadi, keluarga kita akan hancur sayang"
"Aku tidak ingin anak-anak kita mengetahui rahasia itu. Rahasia yang sudah kita tutup rapat-rapat"
Darren yang berada didepan pintu mengernyit bingung.
Rahasia apa maksud Daddy, apa rahasia bahwa aku bukan anak kandungnya?"
"Aku tidak siap untuk dibenci oleh mereka" Lanjutnya lagi
Kenapa aku harus membencinya? Justru aku harusnya berterimakasih padanya karena Daddy dan Mommy sudah merawat dan membesarkanku dengan baik
"Kau benar sayang, mudah-mudahan itu hanya perasaan ku saja. Aku juga tidak ingin kebahagiaan keluarga kita hancur. Feli dan Darren tidak seharusnya memiliki perasaan satu sama lain"
Darren tertegun ditempatnya. Artinya Mommy dan Daddy nya tidak menginginkan ia dan Feli keluar dari zona persaudaraan. Tapi yang menjadi pertanyaannya rahasia apa yang sedang orang tuanya sembunyikan.
Apa ini ada kaitannya dengan apa yang Mommy katakan sebelum meninggal. Batin Darren.
Darren pun segera pergi meninggalkan kamar Mommy, Daddy nya. Ia harus menemui seseorang yang ia yakini mengetahui semuanya.
"Tapi jika pada akhirnya Feli dan Darren memang saling mencintai kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin itu memang sudah jalannya. Aku tidak ingin mengorbankan kebahagiaan anak-anak ku hanya gara-gara keegoisanku, kesalahanku dan ketakutanku akan dibenci oleh mereka. Kebahagiaan mereka lah yang terpenting" ucap Felix begitu Darren pergi tanpa sepengetahuan mereka.
"Ya kau benar sayang. Kita tidak bisa memaksakan hati seseorang. Jika difikir-fikir Darren adalah pria yang pantas untuk mendampingi putri kita. Tidak ada yang lebih mengerti putri kita dibanding Darren. Apa pun yang terjadi kedepannya, kita harus siap menerimanya sayang. Dan perlu kau ingat kejadian dulu bukan salah mu sepenuhnya walaupun tetap saja kita berutang maaf pada Darren" Mika mengusap lengan suaminya menenangkan.
"Ya..Tiba waktunya aku akan berbicara pada Darren" Felix menarik Mika kedalam pelukannya.
**T.B.C
__ADS_1
jika ada yang bingung, ini alurnya mundur lagi ya ππ**