Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
59. Tikus Liar


__ADS_3

"Apa yang dilkukan wanita tua itu?!"


"Dia tidak memberikanmu apa-apa dan malah memberikan semuanya kepada orang asing itu!" Bernard meyuarakan kekesalannya kepada Laura.


"Yang kau sebut wanita tua itu ibuku Bernard dan bukan dia tidak memberikan apa-apa padaku, pada kita. Delapan perushaan atas namaku begitu juga dengan saham Mommy. Itu sudah cukup Bernard"


"Hah...yang benar saja. Itu tidak adil. Kau adalah putrinya"


"Sudahlah aku tidak ingin membahas itu" Laura segera merebahkan kepalanya di tempat tidur dan segera menutup matanya yang artinya ia tidak ingin mbicarakan perihal warisan itu lebih lanjut. Satu perushaan saja sudah membuatnya pusing kepala bagaimana ia akan menangani yang tujuh lagi. Ia sadar suaminya bukanlah pebisnis yang handal.


"Tapi Laura..."


"Aku mengantuk!" Laura menyela. Bernard menggeram dan segera berbalik dan keluar dari kamar tidak lupa dengan membanting pintu. Laura hanya menghela nafas.


Begitu sampai di luar Bernard segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Dimana kau?"


"Datanglah ketempat biasa. Aku membutuhkanmu untuk menghiburku" ucapnya pada seseorang di seberang telepon.


"Baiklah sayang, aku akan segera datang" jawab seseorang tersebut.


Bernard mengakhiri panggilannya dan segera menuju parkiran. Bernard melajukan mobilnya meninggalkan mansion mewah itu. Ternyata dari jendela kamarnya Laura melihat kepergian suaminya lalu tersenyum getir tatkala melihat seorang wanita muda juga keluar menuju ke parkiran.


❤❤❤❤❤


"Apa kau sangat kesal?" tanya wanita itu dengan suara manja yang duduk di atas pangkuan Bernard.


"Apa kau masih perlu bertanya setelah apa yang kau dengar tadi" Bernard mulai menggerakkan tangannya di atas tubuh wanita itu.


"Wanita tua itu sungguh tidak adil"


"Ini juga salahmu. Andai saja kau tidak mengatakan keberadaan orang asing itu mungkin akan lebih memudahkan kita untuk menguasai kekayaan keluarga itu" Bernard setengah kesal.


"Sssttt...jangan kesal padaku. Aku juga perlu membalaskan dendamku, sayang! Kau ikuti saja aturanku" wanita itu segera mencium Bernard, membungkam mulutnya dari protes yang akan dikeluarkannya. Dan see, ia memang bungkam dan mulai menggila. Pria memang selalu lupa diri jika wanitanya sudah mulai nakal. Termasuk Bernard si pria tua!. Akhirnya merekapun bergulat di atas ranjang sepanjang malam. Menjelang pagi Bernard baru membali ke kediaman Maxston.


"Wah..Mr.Lincoln ini sudah menjelang pagi dan kau baru pulang dari kesenanganmu di luar sana" Suara Darren mengejutkan Bernard. Ia mengumpat dalam hati dan mengingatkan dirinya sendiri agar lebih berhati-hati mulai sekarang.


"Kesenangan apa maksudmu?" Bernard bertanya dengan ketus.


"Itu hanya kau yang tahu Mr.Lincoln. Apa lagi yang dilakukan seorang pria di luar sana sampai tengah malam begini jika tidak ingin bersenang-senang. Bukan begitu Mr.Lincoln." Darren tersrnyum mengejek.


"Apa kau sedang mencari masalah denganku anak muda?" Bernard menatapnya tajam. Darren tidak terpengaruh sama sekali ia malah tersenyum. Tentu saja senyumnya itu membuat Bernard semakin geram.


"Oh tentu saja tidak. Aku tidak sedang mencari masalah. Aku mencari hal lainnya" ucap Darren penuh misteri.


"Baiklah Mr.Linconl sebaiknya kau istirahat, wajahmu terlihat lelah. Mungkin dalam permainan tadi kau kalah!" kembali Darren tersenyum mengejek.


"Apa maksudmu!" desis Bernard.


"Permainan apa yang kau maksud!"


"Mungkin saja kau kalah dalam permainan berjudi tadi. Jadi wajahmu terlihat kusut begitu. Istirahatlah. Pria tua sepertimu butuh stamina yang kuat" sindir Darren seraya berjalan melewati Bernard yang sudah mengepalkan kedua tangannya.


Baru dua langkah Darren kembali menghentikan langkahnya.


"Dan Mr.Linconl aku perlu mengingatkanmu karena mungkin saja kau lupa. Ini adalah rumahku dan aku punya aturan di sini. Bersikaplah layaknya tamu!" ucapnya sombong lalu segera pergi.

__ADS_1


"Brengsek!! Awas kau Darren. Kita lihat saja siapa yang akan keluar dari rumah ini" desisnya begitu Darren sudah tidak terlihat lagi.


❤❤❤❤❤


"Kenapa kau lama sekali? Apa kau ingin membuat tenggorokanku kering?!" rungut Feli begitu ia melihat suaminya masuk ke dalam kamar mereka.


Darren tergelak


"Maafkan aku sayang" Darren segera memberikan air minum yang dibawanya pada Feli.


"Suamimu perlu memberi peringatan kepada tikus-tikus liar dibawah sana" ucapnya datar.


"Siapa?" tanya Feli begitu selesai minum.


"Bernard" jawab Darren.


"Apa dia orang jahat, salah satu penyamun dalam istana ini" tanya Feli penasaran. Karena ia perlu berhati-hati.


"Semua bisa jadi penyamun dalam istana ini sayang, aku akan menjagamu tapi tetap saja kau harus lebih berhati-hati kepada siapa pun itu"


"Bagaimana dengan nonna apa aku juga harus berhati-hati terhadapnya"


"Aku mengatakan siapapun itu sayang. Jadi termasuk grandma. Oke" Feli menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Baiklah, ayo kita tidur lagi" Darren membaringkan tubuh Feli dan menyelimutinya.


"Kau tidak ingin mencicipiku lagi" Feli sengaja menggoda.


"Tentu saja aku ingin. Tapi kau akan lelah sayang jika terus melayaniku. Istirahatlah" Darren mengecup keningnya.


keesokan paginya Darren sudah mengenakan pakaiannya untuk bersiap ke kantor. Memulai pekerjaannya hari ini yang mungkin akan menghabiskan tenaga waktu dan fikirannya untuk mempelajari semuanya dari awal.


"Aku merasa tidak nyaman meninggalkanmu sendiri di sini" lanjutnya lagi.


"Aku akan baik-baik saja Darren"


"Jangan terlalu mengkhawatirkanku"


"Bagaimana tidak khawatir di sini terlalu tidak aman buatmu. Oh Tuhan apakah Daddy sedang mengutukku dari New York sana. Aku merasa tidak nyaman sama sekali. Aku tidak percaya aku sangat merindukannya. Setidaknya berdebat dengannya bisa membuat moodku kembali membaik" Darren tersenyum simpul. Baru beberapa hari ia sudah merindukan keluarganya. Bagaimana dengan istrinya. Feli juga pasti sangat merindukan mereka.


"Selesai" ucap Feli menyadarkan Darren dari lamunan sesaatnya.


"Aku akan segera menghubungimu jika terjadi apa-apa?"


"Ada Clarissa di sini jika kau lupa sayang. Kau yakin tidak akan terpengaruh dengannya?" Wajah Darren menunjukkan betapa ia sangat mengkhawatirkan istrinya itu.


"Aku baik-baik saja"


"Kau ikut saja denganku!"


"Aku akan mengambilkan pakaianmu" Darren berjalan menuju walk in closet.


"Jika aku ikut denganmu percayalah kau tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaanmu hanya karena mengurusiku dan sayang kau tahu aku sangat tidak menyukai hal-hal yang berbau dokumen itu. Aku pasti akan merasa bosan"


Darren menghela nafasnya, apa yang dikatakan Feli memang benar adanya. Jika ada Feli dihadapannya ia tidak akan berurusan dengan dokumen melainkan dengan Feli, melakukan hal menyenangkan. Dan percayalah Darren bisa seharian mencicipi istrinya itu tanpa rasa capek atau letih sedikitpun. Ia akan berhenti jika sudah melihat istrinya itu kewalahan mengimbangi permainannya. Feli yang malang.


"Darren..kau tahu aku tidak menyukai ada wanita di dekatmu.."

__ADS_1


"Aku sudah meminta Lucas untuk datang kemari. Mungkin dia akan langsung datang kekantor" Darren menyela ucapan Feli karena ia tahu apa yang akan dikatakan wanitanya itu.


"Dan sayang kau tahu aku juga tidak menyukai ataupun menginginkan ada wanita lain didekatku" Feli tersenyum manis begitu juga dengan Darren.


"Aku sangat mencintaimu Darren" Feli menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Darren yang langsung disambutnya dengan membalas pelukan Feli dan mengecup kepala Feli.


"Dan kau tahu aku lebih mencintaimu sayang"


Feli menggeleng


"Tidak! Aku lebih mencintaimu Darren" rengek Feli. Darren terkekeh.


"Ya..ya..ya..kau memang lebih mencintaiku. Terima kasih sayang. Terima kasih sudah mencintai pria yang tidak sempurna ini" Darren mengurai pelukannya lalu mengecup lembut kening istrinya itu.


Feli tersenyum lalu berjinjit untuk mengecup bibir suaminya itu.


"Di mataku kau jauh lebih sempurna"


"Sepertinya aku tidak ingin ke kantor. Kita tidur saja seharian. Sepertinya anakku mengharapkan kunjungan pagi dari Daddy-nya" Darren mengerling nakal.


"Dan kau tahu sayang aku juga menginginkanmu" Feli menggigit bibirnya.


"Oh my Feli" Darren mengerang lalu menyerang Feli dengan ciumannya yang langsung disambut oleh Feli. Dan seperti yang mereka berdua inginkan kegiatan menyenangkan itupun terjadi.


"Maafkan kami. Kami kesiangan" ucap Darren datar begitu ia dan Feli turun ke bawah dan melihat seluruh keluarga sedang menunggu mereka.


"Tidak apa-apa sayang"


"Duduklah" ucap nonna seraya menunjuk kursi yang ada di ujung meja. Kursi yang biasa ditempatinya sebagai penguasa rumah.


Sebelum Darren duduk ia terlebih dahulu menarikkan kursi untuk Feli.


"Harusnya kalian tidak perlu menunggu. Kalian bisa melakukan sarapan tanpa aku dan istriku" ucapnya lagi.


"Bagiamana kami bisa melakukannya. Kau adalah tuan rumahnya" sindir Bernard. Darren tergelak mendengar sindiran yang ditujukan padanya itu.


"Wah Mr. Linconl aku sangat menyukai cara berfikirmu itu. Kesadaran diri itu memang penting. Dan untuk semuanya seperti yang dikatakan Mr. Linconl sekarang aku adalah pemilik mansion ini jadi bersikap dan bertingkahlah selayaknya tamu" Darren menatap satu persatu orang yang ada di sana.


"Dan maaf sebelumnya Clarissa, kau bukanlah anggota keluarga di sini, kau adalah orang lain tidakkah seharusnya kau menunjukkan iktikad baikmu. Kau sudah makan tidur gratis di sini. Setidaknya kau bisa mencontoh Emily" Darren menunjuk Emily yang sedang menata sarapan di meja dengan beberapa para maid. Clarissa melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kau ingin aku jadi maid?" tanya nya tidak percaya. Darren mengidikkan bahunya acuh.


"Dan khusus untukmu jangan pernah mendekat kepada istriku" Tatapnya tajam kearah Clarissa.


"Dan aturanku hanya satu, kepada semuanya jangan pernah menyentuh istriku apapun alasannya dan jangan pernah menyakitinya termasuk dengan lisan kalian sendiri" ucapnya tegas.


"Karena aku tidak akan segan-segan pada kalian semua. Percayalah aku sangat mengerikan jika sudah marah" Darrren tertawa saat mengucapkan kalimat itu.


"Bukan begitu Clarissa?" ia kembali menatap Clarissa. Clarissa hanya bungkam.


"Ini berlaku juga untukmu aunty?" Darren beralih menatap Laura. Laura hanya mendengus tidak menjawab sama sekali.


"Dan untuk masalah sarapan seperti ini, kalian tidak perlu menungguku ataupun istriku hanya untuk sarapan. Aku tidak sekejam itu membiarkan semua orang menunggu dalam keadaan lapar" ia terkekeh.


"Grandma apa kau keberatan dengan apa yang ku katakan tadi?" Tatapan Darren melembut begitu menatap wanita tua itu.


Nonna tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Lakukan seperti yang kau inginkan. Kau pemiliknya."


T.B.C


__ADS_2