
Tok.Tok.
Tedengar suara ketukan pintu dari luar. Darren segera beranjak untuk membukakan pintu. Emily berdiri di hadapannya dengan membawa nampan berisi makanan sehat.
"Hai..." Emily sedikit gugup.
"Masuk!" Darren mengacuhkan sapaan Emily padanya.
Dengan langkah kikuk Emily masuk ke dalam kamar.
"Nyonya Sharon memintaku untuk membawakan makanan ini untuk Feli. Aku dengar Feli hamil"
"Apa tujuanmu dengan Clarissa" Emily bisa merasakan Darren sedang menatapnya dengan tajam sekalianpun ia membelakangi Darren.
Emily meletakkan nampannya di atas meja lalu berbalik menatap Darren.
"Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
"Ini tidak mungkin suatu kebetulan. Kau dan Clarissa bisa tinggal di sini" tuduh Darren ti the point.
"Aku tidak ada maksud apa-apa Darren..."
"Kau fikir aku akan percaya setelah apa yang kau lakukan?!" sinis Darren menyela ucapan Emily.
"Darren.." panggilan Feli menghentikan Darren dari kegiatannya mengintrogasi Emily. Darren segera menoleh menatap Feli. Wajahnya yang dingin tidak terlihat lagi. Wajah dingin itu seketika berubah menjadi lembut setiap ia menatap Feli. Ia berjalan mendekat ke arah Feli. Duduk di pinggir ranjang mengusap lembut rambut istrinya itu.
"Kau sudah bangun?" Feli mengangguk sebagai jawaban.
"Apa kau lapar?" tanyanya lagi.
"Hmmm" Feli bergumam dengan wajah manja yang sangat menggemaskan membuat Darren terkekeh.
"Baiklah, aku ambilkan makanannya" Ia berdiri dan mengambil nampan yang di bawakan Emily tadi.
"Keluarlah!" perintahnya tanpa menatap wajah Emily. Emily mengangguk walau Darren tidak melihatnya.
"Emily.." panggil Feli begitu menyadari kehadiran Emily. Emily tersenyum kikuk.
"Hai Feli.."
"Hai.." jawab Feli sumringah seraya beranjak dari tempatnya dan berjalan medekati Emily.
"Bagaimana khabarmu?" Tanya Feli ramah seraya merentangkan kedua tangannya memberi isyarat agar Emily memeluknya. Emily melirik Darren seolah meminta persetujuan. Darren menatapnya datar. Tidak memberi respon apapun.
__ADS_1
"Sayang, kau menakutinya" tegur Feli yang menyadari wajah tegang Emily. Semenjak kehamilannya ia berubah menjadi lebih peka terhadap keadaan si sekitarnya.
"Kemarilah. Jangan pedulikan dia" Feli menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku baik. Bagaimana denganmu? Aku mendengar nona Sharon mengatakan kau sedang mengandung" ucap Emily ditengah pelukan mereka.
"Ya..ini baru 7 minggu" jawab Feli penuh kebahagiaan seraya mengurai pelukan mereka.
"Selamat buatmu" ucapnya tulus. Feli mengangguk.
"Sayang, kemarilah."
"Kau harus memakan makananmu dulu"
"Dan kau Emily kau sudah bisa pergi" kembali wajah tidak bersahabat Darren terlihat.
Feli terkikik geli melihat wajah Darren yang seperti itu. Percayalah itu merupakan hal yang baru bagi Feli. Di ingatannya Darren adalah pria yang lemah lembut karena memang Darren selalu menatapnya penuh kelembutan. Bukan hanya tatapannya tapi perlakuannya memang juga lembut jika itu berhubungan dengan Feli.
"Jangan memperlihatkan wajah seperti itu sayang, kau membuat Emily takut. Bukankah dia teman masa kecilmu" Feli memeluk pinggang Darren dengan sebelah tangannya dan mencengkeram dagu Darren dengan gemas. Darren menunduk dan menggesekkan hidung mereka.
"Ayo makan!" Darren membawanya duduk di atas ranjang. Dan Emily cukup tahu diri ia oun segera pergi.
"Kau terlihat tidak menyukai Em" Feli bertanya ditengah kunyahannya.
"Bukankah kau mekarangku untuk berdekatan bahkan tersenyum pada wanita lain" kembali ia menyuapkan makanan ke dalam mulut Feli.
"Apa sebaiknya kita tidak usah tinggal di sini?"
"Kenapa?"
"Aku merasa kau di sini tidak aman..kita seperti berada di sarang penyamun. Penuh dengan orang-orang yang terlihat seperti akan mencelakaimu"
"Aku tidak perlu khawatir karena ada pangeranku yang akan setia menjagaku di dalam sarang penyamun ini" jawab Feli setengah bercanda.
❤❤❤❤❤
"Baiklah karena semuanya sudah berkumpul nonna (sebutan untuk nenek dalam bahasa Italy) akan memulainya" ucapnya seraya menatap satu persatu semua orang yang ada di hadapannya.
"Nonna sudah tua, jadi nonna memutuskan utntuk membagi warisan keluarga Maxston karena Nonna juga sudah tidak sanggup lagi untuk menangani perusahaan. Sudah waktunya nonna istrihat. Jadi tolong dengarkan baik-baik dan keputusan ini sudah mutlak dan nonna tidak ingin di bantah" tutupnya lalu meoleh menatap pengacara yang duduk di sampingnya.
"Silahkan" perintahnya yang langsung di angguki oleh si pengacara tersebut.
"Baiklah Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Di sini saya akan membacakan pembagian warisan yang sudah di buat oleh Ny. Sharon. Semua perusahaan pusat maupun anak cabangnya yang tergabung dalam Maxston Group termasuk perhotelan, perkebunan, peternakan, perfliman, klub dan lain sebagainya yang berjumlah 50 perusahaan jatuh kepada Tn. Darren Lionel Maxton" begitu pengacara tersebut menyebutkan nama Darren semua tercengang termasuk Darren dan Felicia. Meraka tidak menyangka keluarga Maxston mempunyai perusahaan sebanyak itu dan semuanya diberikan kepadanya secara cuma-cuma.
__ADS_1
Bernard mengeraskan rahangnya menahan emosi. Tangannya terkepal tidak terima dengan keputusan tersebut. Tapi dia bisa apa.
"Daftar-daftar perusahaan tersebut sudah tertulis di dalam surat ini" Pengacara tersebut mengangkat kertas yang ada di tangannya.
"Dan satu lagi mansion dan seluruh isi begitu juga dengan properti rumah ini juga jatuh ke tangan Tn. Darren" dan kembali Bernard merasa panas dingin. Ia menatap tajam ke arah Darren.
"Dan untuk Ny. Laura..semua perusahaan yang di atas namakan atas nama Ny.Laura sepenuhnya adalah milik Nyonya termasuk saham Ny.Sharon semuanya akan di alihkan menjadi milik Ny. Laura. Dan semua perusahaan atas nama Ny. Laura berjumlah 8 perusahaan dan semuanya juga sudah terdaftar di dalam sini" kembali si pengacara mengangkat kertas yang ada di tangannya.
"Semua sudah jelas?" tanya Nonna.
"Seperti yang ku katakan sebelumnya, tidak ada bantahan" tutupnya langsung menghentikan Bernard yang sepertinya akan protes.
"Baiklah aku akan istrihat dulu dan Mr. Johanson terima kasih kepadamu dan segera siapkan surat-suratnya" ucapnya seraya menepuk bahu sang pengacara.
"Baik Ny.Sharon" jawabnya dan langsung beranjak juga dari tempatnya.
"Bisakah kau dan istrimu mengantar nonna ke kamar" pinta grandma Sharon yang langsung diangguki oleh Feli dan Darren secara bersamaan.
"Grandma, bukankah yang tadi itu berlebihan?" Darren langsung bertanya begitu mereka sampai di dalam kamar Nonna.
Nonna menggeleng sambil tersenyum.
"Itu sudah keputusan wanita tua ini jadi jnagan membantah"
"Apa kau tidak meragukanku?"
"Kenapa aku harus meragukan cucuku sendiri?" Ia kembali bertanya.
"Tapi nonna itu terdengar tidak adil bagi Aunty Laura" kali ini Feli juga ikut menimpali dan menyebut grandma Sharon dengan sebutan nonna.
Garanma Sharon kembali terkekeh.
"Aku menyukai kau memanggilku seperti itu Feli" ucapnya.
"Laura tidak protes, artinya dia juga setuju" Nonna menjawab pertanyaan Feli.
"Itu karena nonna sudah terlebih dahulu memberi ultimatum tidak menerima bantahan" jawab Feli dan kembali nonna terkekeh dan mengangguk.
"Sebelum kau mewariskan semuanya kepadaku, tidakkah sebaiknya kau melakukan test DNA. Bisa saja aku ini bukan cucumu grandama" Darren mengatakan hal konyol karena sulit buatnya percaya ia sekarang menjadi seorang triliuner mengalahkan sang Daddy nya Felix yang hanya seorang miliader.
Tawa Nonna pun lepas mendengar ucapan cucunya itu.
"Wajahmu seperti copyan dari Daddy mu, apalagi yang ku ragukan" jawabnya.
__ADS_1
"Pernakah kau mendengar nonna didunia ini kita mempunyai kembaran sebanyak 7 orang. Bisa saja Darrren adalah kembaran Daddy Sean" Feli menimpali.
"Sudah jangan mengatakan hal konyol. Itu sudah keputusanku. Kalian istirhatlah. Mungkin mulai besok Darren akan sibuk" nonna mengakhiri pembicaraan mereka.