Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
27. Rahasia Darren 3


__ADS_3

"Feli dan Darren tidak boleh memiliki perasaan satu sama lain. Hal itu seharusnya tidak terjadi"


Darren tertegun ditempatnya begitu mendengar perbincangan Daddy dan Mommy nya yang sepertinya tidak menyetujui hubungannya dengan Feli. Darren merasa Mommy dan Daddy nya menyembunyikan sesuatu tapi tidak mungkin baginya untuk bertanya secara gamblang karena akan membuat suasana menjadi canggung.


Darren memutuskan untuk menemui seseorang yang ia yakini mengetahaui segala kisah dibalik cerita keluarganya.


Darren keluar dari mansion keluarga nya dan segera melajukan mobilnya menuju ke kediaman Orlando. Ya Roland Orlando ia yakini bisa menjawab rasa penasarannya yang ia yakini ada hubungannya dengan yang Mommy nya katakan sebelum meninggal.


Begitu sampai di kediaman Roland, Darren segera membunyikan bel rumah. Tidak menunggu waktu lama salah satu maid keluarga Orlando segera membukakan pintu untuknya.


"Ada hal penting apa sehingga kau datang berkunjung malam-malam begini anak muda. Tidak bisakah kau menunggu esok hari" Sambutan yang sangat manis sekali dari Roland.


"Aku sangat merindukanmu Uncle. Tidak mungkin bagi ku untuk menemui mu besok karena aku sudah tidak tahan lagi" kekeh Darren seraya duduk dihadapan Roland tanpa dipersilahkan.


"Bagaimana khabar Mommy dan Daddy mu?" tanya Keyra dengan senyum manis diwajahnya.


"Seperti biasa mereka masih sangat bergairah satu sama lain Aunty" Tanpa sungkan dan rasa malu Darren menggambarkan keadaan Mommy dan Daddy nya.


Keyra dan Darren tergelak


"Ya aku bisa melihatnya. Daddy mu selalu jatuh cinta pada Mommy mu setiap hari. Ouh betapa manisnya mereka berdua itu" ucap Keyra antusias.


"Ciihhhh lalu bagaimana dengan diriku?"


"Aku bahkan setiap detik selalu bergairah padamu Darl"


"Itu artinya kau mesum Uncle" timpal Darren yang membuat Keyra tergelak sementara Roland mendelik kesal.


"Apa kau datang mau bertemu dengan Rachel?" tanya Roland


Darren menggeleng


"Aku sudah mengatakan aku sangat merindukanmu Uncle"


"Aku mendengar nama ku disebut" Terdengar suara Rachel.


"Ouh kau datang?" tanya nya begitu melihat Darren. Darren hanya mengangguk.


"Katakan ada apa?" Roland merasa memang ada hal penting yang akan disampaikan oleh Darren.


"Uncle aku menyukai seseorang" Darren menatap Roland.


"Lalu?" Roland mengernyit. Kenapa Darren harus melapor kepadanya jika ia menyukai seseorang. Bukan kah seharusnya ia melapor kepada Mommy dan Daddy nya. Kecuali wanita yang disukainya itu adalah putrinya. Roland melebarkan matanya begitu kalimat itu telintas di otaknya


"Kau menyukai Rachel" Roland menyuarakan fikirannya yang membuat Keyra dan Rachel terbelalak.


"No.No.No" elak Darren cepat dengan melambai-lambaikan kedua tangannya. Keyra mendesah kecewa sedangkan Rachel bernafas lega.


"Feli. Aku menyukai Feli lebih tepatnya aku mencintainya Uncle" tegas Darren yang membuat Keyra dan Roland terkejut.


"Dia adikmu" Tatap Roland datar kearah Darren.


Darren mendengus


"C'mon Uncle jangan bergurau dengan ku. Aku sedang serius saat ini"


Roland terdiam. Ia menatap intens wajah Darren. Darren pun begitu sebaliknya. Mereka beradu tatap untuk beberap saat hingga akhirnya Roland berdehem


"Sejak kapan kau mengetahuinya?" Darren meminta Keyra dan Rachel meninggalkan mereka berdua. Sepertinya pembicaraan ini akan serius. Roland merasa Darren akan lebih leluasa berbicara jika hanya berdua dengan nya.


"Dari awal aku sudah mengetahuinya" jawabnya yang membuat Roland mengangguk.


"Kau sudah berbicara dengan Mommy dan Daddy mu?" Darren menggeleng


Roland menghembuskan nafasnya.


"Ashley yang memberi tahu mu?" kembali Roland bertanya dan menebak, Darren mengangguk.


Flash Back On


"Darren dimana Daddy mu sayang?"


Terdengar suara lemah Ashley yang terbaring diatas ranjang rumah sakit.


"Aku melihat Daddy sedang berbicara dengan Uncle Raymond, Mom" jawab Darren kecil


"Raymond disini? dirumah sakit ini?"


"Sepertinya Aunty Mika akan melahirkan, Uncle Raymond datang bersamanya Mom" jelas Darren yang melihat kepanikan Daddy nya dan Raymond tadi.


"Oh benarkah?" Ashley tersenyum


"Kemarilah sayang, mungkin ini saatnya kau mengetahui yang sebenarnya sayang" Ashley merasa bersalah terhadap Mika yang telah memisahkan ia dan Felix disaat mereka baru saja saling mengakui perasaan mereka masing-masing.


Darren bingung mendengar ucapan Mommy nya tapi ia tetap mendekat.

__ADS_1


"Apa kau sangat menyayangi Daddy mu?" senyum hangat terlihat diwajah Ashley.


Darren mengangguk


"Aku sangat mencintainya Mom, dan aku sangat bahagia"


"Apa kau akan marah pada Mommy jika selama ini Mommy berbohong pada mu?" Ashley mengusap rambut utra nya itu yang menjadi penguat bagi nya selama ini.


"Jika itu demi kebaikan, aku tidak akan marah Mom" jawabnya.


Ashley tersenyum getir


"Ini mungkin akan menyakitimu sayang" suaranya bergetar dan ia tidak kuasa menahan tangisnya.


"Hei..mom jangan menangis. Aku tidak suka melihat mu menangis. Baiklah aku aku janji tidak akan marah padamu" Darren mengusap air mata Mommy nya


"Darren sayang..Daddy yang kau anggap Daddy mu sekarang ini..


"Bukan Daddy ku yang sebenarnya?" potong Darren sebelum Ashley menyelesaikan ucapannya. Tangis Ashley semakin deras. Dengan berat hati ia mengangguk. Ia menarik Darren kedalam pelukannya.


"Maafkan Mommy sayang. Maafkan Mommy"


"Kenapa Mommy mengatakan nya sekarang?" tanya Darren


"Sayang dengarkan Mommy, Daddy mu sangat mencintai Aunty Mika begitu pun sebaliknya. Meraka berdua saling mencintai sayang. Dan mungkin bayi yang dilahirkan Aunty Mika adalah Anak Daddy mu" jelas Ashley terisak.


"Apa itu artinya Daddy tidak mencintai Mommy?"


"Daddy menyayangi Mommy sayang, dan Daddy juga sangat mencintaimu"


"Lalu siapa Daddy ku yang sebenarnya Mom dan dimana dia?"


Ashley tersentak mendengar pertanyaan putranya itu. Putra nya memang masih kecil tapi Darren adalah yang sangat pintar


"Daddy kandung mu adalah sahabat Mommy dan Daddy Felix" suaranya kembali bergetar. Ia teringat kejadian yang menimpanya yang berujung hadirnya Darren dirahimnya.


"Apa aku mewarisi mata indah ini dari dia?" tanya Darren lagi


Ashley mengangguk.


"Ya sayang"


"Berarti ia sangat tampan" ujarnya lagi dan kembali Ashley mengangguk


Ashley menggeleng.


"Maafkan Mommy sayang, Mommy hanya mencintai Daddy mu Felix" jujur Ashley dengan berat hati.


"Kenapa kau tidak mencintainya? Apa Daddy ku orang jahat?" tanya nya


"Tidak sayang. Tidak. Daddy mu adalah orang yang sangat baik"


"Dimana dia?"


Sungguh untuk menjawab pertanyaan itu Ashley tidak tahu harus menjawab bagaimana.


"Mom..." desak Darren


"Ss..sayang..Daddy mu sudah tiada sebelum kau lahir"


Darren terdiam. Air mata mengalir diwajahnya. Baru saja ia merasakan betapa bahagianya mempunyai seorang Daddy tapi kenyataan sebenarnya seakan menghempaskannya dari langit teratas.


"Apa kau memiliki Fotonya. Setidaknya tunjukkan wajahnya padaku" isak Darren


Ashley mengangguk dengan air mata yang berderai diwajahnya. Ia meminta Darren untuk mengambilkan tasnya, lalu Ashley mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar fhoto disana. Didalam fhoto itu terdapat lima orang dewasa. Ashley, Felix, Marinka, Sean dan Noura.


Darren langsung bisa menebak dimana Daddy nya. Karena hanya ada dua orang pria disana.


"Benar, ia sangat tampan. Akhirnya aku mengetahui darimana aku mewarisi mata indah ini" Darren tertawa sambil menangis.


"Sayang..kelak jika kau dewasa apa pun yang terjadi kedepannya jangan pernah membenci Daddy mu Felix. Dan Mommy minta berhati-hati lah dengan wanita ini" Ashley menunjuk wajah Noura. Darren yang tidak mengerti arti ucapan Mommy nya saat itu hanya bisa mengangguk.


"Lalu siapa wanita ini Mom?" tanya Darren penasaran menunjuk wajah Mauryn.


"Adik Daddy mu Felix yang merupakan kekasih Daddy mu Sean Lionel Maxston" Jelas Ashley yang membuat Darren semakin bingung tapi tidak bisa mengutrakan kebingungannya.


Flash Back Off


Roland menghembuskan nafas yang ditahannya sedari tadi saat mendengar cerita Darren.


"Lalu masalahnya apa sekarang?"


"Jika kau sudah mengetahuinya dari awal bukankah kau tinggal mengatakan nya pada Mommy dan Daddy mu" Darren tidak melihat ada masalah lagi.


"Masalahnya bukan disitu Uncle. Aku juga ingin segera mengatakannya pada Mommy, hanya saja tadi tanpa sengaja aku memdengar perbincangan Mommy dan Daddy yang sepertinya tidak menginginkan aku dan Feli mempunyai hubungan selain hubungan keluarga. Daddy mengatakan itu akan menghancurkan semuanya. Ia tidak siap jika anak-anaknya membencinya jika rahasia itu terbongkar. Jadi Uncle katakan rahasia apa yang sedang Mommy dan Daddy ku sembunyikan?" Darren menatap Roland meminta penjelasan.

__ADS_1


Ingin rasanya Roland mencekik leher sahabatnya Felix. Bagaimana bisa ia harus terlibat lagi dalam cerita rumit keluarganya. Dan kenapa juga Darren datang mencarinya. Kenapa bukan Raymond atau setidaknya akan lebih baik jika ia menanyakannya langsung kepada kedua orang tuanya tanpa membebankannya pada orang lain.


"Dengarkan Darren.."


"Aku mendengarkannya Uncle"


"Rasanya tidak bijak jika kau bertanya kepada Uncle masalah yang menyangkut keluargamu. Tidak kah lebih baik kau menanyakan langsung kepada Mommy dan Daddy mu" Roland menasehati


"Aku takut Uncle"


"Aku takut jika aku bertanya langsung semuanya akan terasa canggung. Sungguh aku tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga kami"


"Apa bedanya dengan kau mengetahuinya dari Uncle" ucap Roland


"Dari ucapanmu, berarti memang ada rahasia yang disembunyikan Mommy dan Daddy" Kepintaran Darren memang tidak diragukan lagi.


"Itu bukan hak Uncle untuk berbicara Darren" Roland beralasan.


"Daddy mu bisa membunuhku dan Mommy mu bisa meminta Keyra mengajukan surat cerai pada ku" Canda Roland yang mungkin saja memang benar akan dilakukan oleh suami istri itu.


"Aku mohon Uncle"


"Jika memang itu ada hubungannya dengan ku, Bukankah aku berhak mengetahuinya Uncle. Dan aku yakin itu ada hubungannya dengan apa yang Mommy katakan sebelum ia meninggal" Darren berusaha membujuk Roland. Roland jadi merasa serba salah. Yang dikatakan Darren memang benar ia berhak tahu, tapi tetap saja bukan hak nya untuk memberi tahu Darren


"Aku sangat mencintai Feli Uncle. Dan aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Jadi berbaik hatilah padaku, katakan apa hal tidak ku ketahui itu agar aku tahu bagaimana aku harus bersikap. Apakah aku ini layak untuk putri mereka atau tidak"


"Uncle yakin Daddy dan Mommy mu tidak akan keberatan sama sekali. Kau hanya perlu mengatakan kau mengetahui bahwa kau bukan anak kandung Felix. Ceritakan pada mereka apa yang kau ceritakan tadi kepada Uncle. Dengan begitu masalahnya akan selesai"


"Bagaimana bisa aku lahir, sedangkan Mommy mencintai Daddy Felix, dan Daddy Sean adalah Kekasih Aunty Mauryn?" Darren pantang menyerah


Roland menghela nafas berat. Ia tahu Darren adalah orang yang sangat gigih membujuk seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Noura menjebaknya. Membuat mereka seolah-olah berkhianat dan Daddy mu Felix melihatnya dengan mata kepalanya sendiri begitu juga dengan Aunty mu Mauryn."


"Dan Uncle hanya bisa mengatakannya sampai disitu" putus Roland.


"Jadi aku lahir karena kesalahan" Darren tersenyum getir. Ketakutan merasuki dirinya. Bagaimana jika Feli memandangnya dengan cara yang berbeda jika Feli mengetahui ia lahir karena kesalahan ditambah lagi ia juga pernah memisahkan Mommy dan Daddy nya disaat ia baru lahir.


"Darren tidak ada yang namanya lahir karena kesalahan. Semuanya adalah takdir" ucapnya bijak.


"Uncle apakah Daddy Sean orang yang jahat?"


"Tidak Darren. Dia adalah orang yang sangat baik dan penyayang. Sama seperti dirimu" Ya Roland melihat Sean didalam diri Darren. Darren seperti cerminan dari Sean, kecuali kemesumannya.


"Bagaimana dengan Daddy Felix?"


"Tanya hati mu son, kau akan mendapatkan jawabannya. Kau bisa merasakannya bukan?" Roland kembali bertanya.


"Jika Daddy Sean dan Daddy Felix adalah orang baik, lalu dimana letak masalahnya. Apa mungkin kematian Daddy Sean bukan hal yang wajar?" Darren menyipitkan matanya menatap Roland. Roland mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Apa yang harus dikatakannya. Ia sungguh ingin mencekik leher Felix kali ini. Kenapa ia harus dihadapkan pada posisi ini.


"Melihat Daddy yang mengila yang bila mencintai apa mungkin Daddy menghabisi nyawa Daddy Sean?"


Roland bungkam,


"Jadi begitu" suaranya bergetar. Sekujur tubuhnya menegang.


"Darren semuanya salah faham. Sungguh Felix tidak sengaja. Awalnya ia hanya ingin menakuti. Ia sungguh tidak menyangka peluru yang mengenai Sean adalah peluru sungguhan, maksudnya peluru tajam yang mematikan. Percayalah Felix juga tidak mengetahui dari mana asal peluru itu. Ia mengira peluru yang ada didalam pistolnya yang biasa kami gunakan saat latihan tembak adalah peluru karet"


"Jadi Daddy Sean mati dengan cara seperti itu"


"Uncle disini bukan untuk membela Daddy mu. Tapi percayalah, Felix waktu itu juga sangat terpukul. Beberapa kali ia mencoba mengakhiri hidupnya. Ia benar-benar kembali hidup setelah bertemu dengan Mommy mu Mika. Tapi saat itu ia bahkan harus mengorbankan perasaannya demi dirimu dan Mommy mu Ashley. Tapi tanpa harus aku katakan kau bisa merasakannya. Merasakan bahwa Felix memang sungguh sangat mencintai mu bukan karena rasa bersalahnya tapi karena dirinya memang orang yang tulus" Roland berusaha menerangkan dan meluruskan agar Darren tidak salah mengambil kesimpulan.


"Darren kau boleh membencinya, tapi jangan pernah meninggalkannya. Karna jika kau meninggalkannya bukan hanya Felix yang terluka, tapi Mommy mu juga beserta Feli akan sangat terluka. Dan mungkin Felix akan kembali merasakan perasaan bersalah itu. Uncle yakin kau bisa menghadapi ini dengan bijak" Roland berjalan mendekati Darren lalu menepuk bahunya.


"Sungguh ingin sekali rasanya aku membenci Daddy Felix, tapi kasih sayang yang berlimpah Mommy dan Daddy berikan sungguh mampu membentengi rasa itu. Aku merasa tidak adil bagi Daddy Sean" Air mata mengalir diwajah Darren


"Apa yang harus ku lakukan Uncle. Dada ku terasa sesak menerima kenyataan ini. Otak ku memerintah agar aku membenci Daddy tapi hati ku menolaknya"


"Jangan memaksakan dirimu. Biarkan waktu yang menjawab semuanya.Jangan memaksakan diri untuk memaafkan. Tapi ingat lah satu hal, dendam dan benci juga tidak akan membawa kebahagiaan dihidupmu. Yang ada hanya kegelapan dan keterpurukan"


"Mengingat ia saat memarahiku masih bisa membuatku tersenyum. Saat aku membuat putrinya celaka ia bahkan tidak memarahi ku. Ia menenangkan ku begitu juga dengan Mommy. Ia mengajari ku semuanya. Mengajari ku bersepeda, berenang, berpacu kuda, mengendarai mobil dan hal lainnya. Ia membuatku merasa tidak kekurangan sedikitpun. Dengan cinta yang diberikannya aku tidak tahu apa itu kehilangan dan kesepian. Yang aku tahu hanyaIah kebersamaan yang hangat. Sungguh tidak ada sedikit celah yang membuatku bisa membencinya. Kenapa ia harus begitu sempurna setidaknya biarkan aku membencinya sedikit. Tapi kenyataan aku tidak bisa. Hati ku menolaknya. Aku membenci diriku ini"


Tanpa harus berada di posisi Darren ia tahu bagaimana perasaan Darren saat ini. Disaat kau memaksa dirimu untuk membenci seseorang tapi kau tidak menemukan alasan untuk membencinya karena yang ada dimemori mu terisi dengan kenangan manis bersamanya. Disitu kau akan merasa tersiksa sendiri dimana otak dan hati tidak sejalan.


"Kau persis seperti Daddy mu Sean, ia adalah orang yang hangat dan lembut. Dan ia juga orang yang sangat berlapang dada. Percayalah Sean pasti akan sangat bangga padamu" Roland kembali menepuk bahu Darren.


Darren menoleh menatap Roland


"Benarkah ia akan bangga padaku Uncle?"


Roland mengangguk


"Pasti"


T.b.c

__ADS_1


__ADS_2