
"Berlarilah sejauh yang kau bisa..kupastikan polisi akan menemukanmu secepatnya" Darren segera berlalu meninggalkan Noura yang baru saja selamat dari ambang kematian.
Darren memasuki mobilnya menuju suatu tempat untuk memberikan pelajaran pada wanita lain yang sudah berani memgusik gadisnya. Emily.
Darren memasuki cafe yang tidak jauh dari perusahaannya. Ia memang sengaja memilih tempat yang dekat dengan perusahaannya karena sebentar lagi ia perlu menghadiri rapat dengan klien nya. Ia akan bergerak cepat menghadapi Emily. Ia hanya butuh rekaman itu.
Ia memasuki cafe dan matanya langsung bisa menemukan sosok Emily. Ia berjalan perlahan mendekati meja Emily.
"Hai..Emily" sapanya ramah seraya mendaratkan bokong nya dikursi dihadapan Emily.
"Oh..Hai.." Emily menyembunyikan keterkejutannya.
"Kau sedang menunggu seseorang" Darren menaikkan alisnya.
"Oo..tidak.." bohong Emily. Darren menganguk-anggukkan kepalanya.
"Apakah Allan sudah bangkrut?" Tanya Darren yang membuat Emily bingung
"Kau terlihat berkeliaran disini. Atau kau sudah dipecat"
Emily menggelengkan kepalanya cepat
"Tidak..tidak..Aku hanya mengambil cuti tahunan ku. Kebetulan aku ada urusan disini" Emily terlihat tidak nyaman dengan sorot mata Darren. Emily melihat ke kanan dan kekiri berharap ada seseorang yang bisa ia buat alasan agar bisa pergi dari hadapan Darren. Darren yang ia kenal dulu saat kanak-kanak sangat mengemaskan dan juga hangat. Berbeda dengan Darren yang ada dihadapannya sekarang sangat mengintimidasi. Emily hanya tidak mengetahui Darren yang dulu masih sama dengan Darren yang sekarang. Hangat dan lembut. Perbedaannya adalah Darren yang sekarang tidak menyukai jika ada yang mengusik miliknya.
"Dia tidak akan datang"
Emily menatap Darren
"Aku mengirimi mu pesan dengan ponsel Noura"
Sekarang Emily mengerti ia dijebak.
"Apa maksud mu melakukannya Darren" terdengar nada tidak suka dalam kalimat Emily
"Cukup basa-basinya. Oke Emily dengarkan aku selagi aku berbicara dengan baik. Itu artinya aku masih menganggap mu manusia" Wajah Darren kembali terlihat menyeramkan
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu apa tujuan mu mendekati ku, aku datang untuk meminta rekaman itu" Darren mengetuk meja dengan jarinya dengan tidak sabar
"Rekaman apa maksud mu Darren" Elak Emily
"Ayolah Emily, kau dan Noura sudah ketahuan. Tidak ada gunanya mengelak. Noura sendiri yang mengatakannya" Terdengar suara Clarissa dari belakang tubuh Emily.
Sial nenek sihir itu menjebakku, umpat Emily dalam hati
Darren mengerutkan dahinya melihat Clarissa yang tiba-tiba datang itu. Kenapa wanita ini suka sekali mendadak muncul, begitu fikiran Darren.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki rekamannya. Bukan kah itu milik ku. Kenapa aku harus menyimpannya" Emily menuduh Clarissa
Clarissa yang dituduh tidak terima. Ia segera merampas tas milik Emily. Emily menariknya. Terjadilah tarik menarik antara Emily dan Clarissa. Darren memutar bola matanya malas. Ia segera berdiri berniat untuk melerai. Emily melepaskan tarikannya dan mendorong tubuh Clarissa hingga terbentur. Emily mengambil kesempatan itu ia segera berlari. Persetan dengan rekaman itu. Ia perlu menyelamatkan dirinya.
"Kau baik-baik saja" Darren membantu Clarissa berdiri dan mendudukkan nya dikursi.
"Aku tidak apa-apa" Clarissa meringis menahan sakit di dahinya akibat benturan dikepalanya.
"Apa kau yakin dia sepupu mu" Tanya Darren. Sebelah tangannya terangakat memanggil pelayan untuk mengambilkan kotak P3K
"Ini semua salah ku"
"Dulu Emily adalah gadis yang baik"
"Tapi nasibnya tidak beruntung, dan aku memperlakukan nya dengan sangat buruk. Dia adalah sepupuku tapi aku memperlakukannya layaknya pembantu" jelas Clarissa penuh sesal
"Ia sangat terobsesi dengan kekayaan. Mungkin ia berfikir ia bisa membalas dendam kepadaku begitu ia mendapatkan seorang pria kaya. Kebetulan ia mengetahui aku sangat mencintai mu. Ia berfikir bisa memiliki mu tentunya dengan hasutan Noura. Tolong maafkan dia " mohon Clarissa
"Sungguh pemikiran yang konyol" Darren menerima kotak P3K yang diberikan oleh pelayan itu. Ia pun mulai mengobati luka didahi Clarissa.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Feli merasakan perasaan lega dihatinya. Seperti yang dikatakan Mommy nya ketakutannya hanya sia-sia. Ia akan mengunjungi Darren dikantornya. Memberikan nya kejutan. Feli menatap pantulan diri nya dicermin.
"Sepertinya penampilan ku sudah Ok. Baiklah Felicia mari kita jumpai kekasih mu" Feli berkata kepada dirinya sendiri.
"Momm..." panggilnya lagi ketika mendapat jawaban dari Mommy nya.
"Mom..apa Mommy ingin menitipkan sesuatu pada Daddy" teriaknya lagi
"Katakan Mommy merindukannya" terdengar jawaban Mommy nya. Feli memutar mata jengah.
"Mom..aku akan menyetir sendiri" ucapnya lagi
"Tidak Feli" Mommy nya muncul dari arah dapur. Sebenarnya apa saja yang dikerjakan Mommy nya itu didapur. Kenapa Mommy nya suka sekali menghabiskan waktunya di dapur.
"Kau tidak bisa pergi tanpa membawa sopir bersama mu" putus Mika.
"Baiklah, aku pergi" ucapnya tidak bersemangat.
Butuh waktu 15 menit untuk sampai di perusahaan milik keluarganya. Ia singgah di cafe di dekat perusahaan. Ia akan membelikan minuman sebelum menemui Darren. Feli memasuki cafe. Matanya langsung disuguhi pemandangan luar biasa yang langsung membuat darahnya mendidih. Ia melihat Darren yang membungkuk seperti mencium seseorang.
"Apa yang kau lakukan Maxston" teriak Feli berjalan mendekat kearah Darren. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui siapa wanita yang bersama kekasihnya itu. Clarissa. Feli menatap nyalang kepada keduanya.
"Feli.." Panggil Darren tanpa menyembunyikan keterkejutannya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan" Feli menahan tangisnya.
"Aku sedang mengobati lukanya" jawab Darren jujur
"Kenapa kau mengobati lukanya. Dia adalah orang jahat. Kenapa kau membantunya" Feli tidak terima.
"Feli...kau salah faham sayang"
"Clarissa tidak jahat" Darren menjelaskan dengan lembut.
"Kenapa kau membelanya Darren. Apa kau sudah lupa kejadian 5 tahun lalu" Feli meninggikan suaranya.
"Feli maafkan aku" Clarissa berdiri dan mendekati Feli. Ia menyentuh bahu Feli
"Jangan menyebut nama ku wanita sialan dan jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu" Feli menghempaskan tangan Clarissa dengan kasar sehingga Clarissa hampir saja terjatuh jika Darren tidak menahannya.
"Feliii...." tegur Darren setengah membentak
Pertahanan Feli runtuh. Air matanya tumpah begitu mendengar Darren membentaknya. Walau bisa dikatakan tidak benar-benar membentak.
"Kau bahkan membentakku hanya gara-gara wanita ini" Sungguh Feli benar-benar emosi dibuatnya.
"Maafkan aku sayang, bukan begitu maksud ku" Darren mencoba menyentuh lengan Darren.
"Jangan menyentuhku. Kau baru saja menyentuhnya dengan tanganmu dan kau ingin menyentuhku" amuk Feli tidak terima. Ia menepis tangan Darren lalu pergi berlalu dengan emosi yang berkecamuk di dadanya.
Feli berlari dengan pandangan buram karena air mata. Panggilan Darren tidak ia acuhkan. Feli teringat perkataan Mike yang mengatakan Darren menerima penggilan dari seorang wanita dan segera pergi dengan terburu-buru. Ternyata wanita itu adalah Clarissa, batin Feli.
"Feli...dengarkan aku" Darren terus mengejar dan Feli terus berlari.
"Kau salah faham sayang" Feli tidak mempedulikan teriakan Darren sama sekali.
"Feli jika kau tidak berhenti aku akan berlari ketengah jalanan ini" Ancam Darren dan itu sukses membuat Feli menghentikan langkahnya.
Darren tidak menyangka ucapan asalnya itu berubah menjadi malapetaka. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari dalam mobilnya.
"Beraninya kau menyentuhku sialan. Aku akan menghabisimu" Noura tersenyum iblis dan segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Darren tersenyum ketika Feli menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya. Feli terperanjat melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Feli segera berlari mendekati Darren. Darren yang melihat Feli berlari kearahnya segera merentangkan kedua tangannya tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya.
Tidak Darren..tidak..kau tidak boleh celaka. Tuhan jangan biarkan Darren celaka, Tuhan tolong selamatkan Darren. Feli berdoa dalam hati.
Feli semakin mempercepat larinya begitu mobil itu mulai mendekat. Feli segera mendorong tubuh Darren dengan sekuat tenaganya hingga Darren terpental begitu juga dengan dirinya terpental akibat hantaman mobil yang dikendarai Noura. Noura yang merasa menang, ia menoleh ke belakang untuk memastikan mangsanya tepat sasaran hingga ia tidak menyadari sebuah truk besar berada tepat di depannya. Hingga kecelakaan naas itu pun tidak terelakkan.
Banjir darah pun terjadi di lokasi itu. Darren yang shock akibat benturan di kepalanya, masih sempat melihat tubuh Feli yang sudah tidak berdaya tergeletak di jalan penuh dengan darah segar. Darren berusaha untuk bangkit tapi tubuhnya tidak berdaya hingga akhirnya pendangannya gelap gulita. Darren pingsan.
__ADS_1
T.B.C