
"Kau sudah siap?" Darren sudah berdiri di belakang tubuh Feli. Darren merengkuh tubuh Feli dalam pelukannya yang begitu hangat dan nyaman. Feli dapat mencium aroma sabun dari tubuh Darren. Feli menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Darren yang mempertanyakan kesiapannya
"Kau yakin?" Darren memastikan. Tangannya mengusap lembut perut Feli.
"Lakukanlah" jawab Feli dengan mata terpejam.
Begitu mendengar jawaban Feli, Darren segera memutar tubuh Feli. Menyerang bibir Feli dengan ciumannya.
Darren tiba-tiba membopong tubuh Feli tanpa melepaskan ciuman mereka dan membawanya ke atas ranjang.
Sepertinya Darren enggan melepaskan ciumannya. Feli dapat merasakan bibirnya mulai membengkak.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi sayang" ucapnya serak setelah melepaskan ciumannya. Feli bisa melihat bibir Darren juga sedikit membengkak
"Make me yours" Feli memberi Darren gigitan kecil disudut bibirnya.
"Ouh..kau menggodaku dengan sangat nakal baby" Darren kembali menyatukan bibir mereka. Menanamkan kelembutan dan kekuatan disana. Baik Darren atau Feli menginginkan lebih. Mereka tersesat dalam gelora membuncah. Saling merebut dan juga saling menuntut.
Darren melepaskan ciuman mereka. Nafas mereka terengah. Berusaha mengambil oksigen yang mereka bisa.
"You're beautiful" bisik Darren ditelinga Feli.
"Dan aku sangat bersyukur akan keberuntungan yang telah memilikimu"
Setelah mengatakan kalimat itu Darren kembali mencium Feli. Bukan dibibir melainkan di leher.
"Malam ini kau akan menjadi milikku sepenuhnya, sweetheart"
"Kemana braku?" tanya Feli ditengah aktivitas mereka.
Darren menghentikan kegiatannya. Ia menatap Feli tidak percaya
"Apa kau sedang melucu sayang?"
Feli menggeleng polos
"Seingatku aku mengenakannya"
"Kau memang mengenakannya dan aku melepasnya lalu melemparnya entah kemana" jawab Darren enteng
"Kenapa aku tidak menyadarinya??"
"Sentuhanku mungkin terlalu memabukkan dan membuatmu terbuai" Darren memang terkadang tidak tahu malu.
"Bisakah kita lanjutkan?" tanya Darren lembut berusaha menutupi nafsu yang sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Jika saja Feli wanita berpengalaman mungkin ia bisa melihat mata Darren tidak seteduh biasanya dan aura gelap terpancar dari bola matanya.
"Hmm" gumam Feli mengangguk pasrah.
"Darr..Dar..Darren.." suara Feli tercekat ketika Darren mulai beraksi.
"Ya sayang..panggil namaku. Aku menyukainya" gumam Darren tanpa menghentikan tangan nakalnya yang bermain-main di tubuh Feli
"Aa..apa yang kau lakukan" Feli menjambak rambut Darren.
"Bercinta, honey"
"Kau tidak berniat melepasnya juga kan seperti kau membuang braku?"
Refleks Darren menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat wajahnya menatap dalam wajah istri tercintanya yang polos-polos bodoh itu.
"Feli sayang..kita adalah suami istri. Dan ini adalah malam pertama kita dengan kata lain bercinta. Tentu saja aku harus melepas semua yang melekat pada tubuhmu agar aku bisa menikmatinya" Jawab Darren terang-terangan yang membuat Feli memnbelalakkan matanya dengan mulut menganga lebar.
"Maksudku agar aku bisa memuaskanmu sayang" Darren meralat kata-katanya.
__ADS_1
"Aku sudah puas dengan kau menjadi suamiku Darren"
"Dan kau akan lebih puas dengan pelayananku, sweewheart"
"Dengan menelanjangiku?" tanya Feli memperbaiki lingerie nya yang sudah tersingkap
Darren mengangguk
"Menelanjangimu dan menelanjangiku" Tegas Darren. Feli tersedak mendengar jawaban Darren. Matanya otomatis melihat kebawah Darren. Sesuatu kembali menonjol disana.
"Apakah artinya aku akan melihat itu" Tanya Feli polos sambil menunjuk sesuatu yang sudah mengeras dibawah pinggul Darren.
Tawa Darren meledak.
"Ya..apa kau penasaran..Aku akan membukanya dengan senang hati"
Feli menggeleng dengan wajah merona. Darren menarik tangan Feli dan membawanya kedalam pelukannya.
"Apa kau ingin memberikan Mom dan Dad cucu sayang?" Tanya Darren lembut sambil mengusap sayang rambut Feli. Feli menganguk.
"Artinya kau harus punya baby?"
Kembali Feli mengangguk.
"Dan untuk mendapatkan baby yang cantik dan lucu sepertimu kita harus bercinta honey"
Feli mendongakkan kepalanya. Menatap mata Darren yang juga sedang menatapnya dengan penuh kelembutan. Darren sedikit menundukkan kepalanya menggesekkan hidungnya dengan hidung Feli.
"Jika kau belum siap, kita bisa menundanya" Akhirnya Darren memilih mengalah.
Feli menggeleng cepat lalu menangkup wajah Darren dan menyatukan bibir mereka. Ia tidak boleh egois. Darren sudah terlalu banyak mengalah padanya. Ia akan memberikan nya malam ini pada Darren. Dan memang itu sudah seharusnya.
"I'm yours" Feli tersenyum. Matanya yang sayu menatap Darren memohon.
"Ini akan sedikit sakit sayang" ucapnya tidak lupa dengan kecupan dikepala Feli. Tubuh Feli kembali menegang.
"Kau takut?" Darren bertanya.
"Sedikit" jawab Feli jujur
"Aku juga"
Feli mengernyit mendengar pengakuan Darren. Ia mendongakkan kepalanya.
"Aku takut menyakitimu" Darren tersenyum getir. Feli mengecup singkat bibir Darren. Ia tahu Darren sangat mencintainya dan ia tahu apa yang dikatakan Darren adalah jujur dan bukan rayuan semata.
"Aku percaya padamu" Feli meyakinkan Darren.
Tangan Feli terangkat melepas kancing demi kancing kemeja yang dikenakan Darren. Darren menahan tangan Feli.
"Jangan terlalu memaksakan diri" ucapnya ragu.
"Sekarang atau tidak sama sekali" ancam Feli
Terbukti ancaman itu berhasil dengan cepat Darren melepas kemeja dan lingerie yang Feli kenakan.
Darren memagut bibir Feli dan kembali beraksi.
"Darren hentikan" kembali Feli berulah.
"Kau yakin honey?" Darren menatap Feli dengan tersenyum menggoda.
"Iya" Tapi tidak dengan kepalanya yang menggeleng.
__ADS_1
Darren tesenyum
"Sepertinya aku mau pipis?" Ucap Feli dengan malu-malu.
"Menyingkirlah"
Darren terkekeh. Mungkin pipis yang dimaksud Feli adalah ia sudah mencapai puncak.
"Darren!"
"Feli"
"Hentikan Darren"
"Jangan melucu sayang. Nikmati saja arusnya"
"Memangnya makanan kau menyuruhku menikmatinya dan bagaimana bisa menikmatinya, aku mau ke kamar mandi!.
Darren mengabaikan ucapan Feli, ia semakin menjadi dan menggila di bawah sana.
"Darren!" Pekik Feli
"Hmmm"
"Jangan ditahan sayang"
"Tidaaakkk!"
"Tidak!" Jambakan tangannya samakin kuat dirambut Darren. Mungkin beberapa helai rambut Darren sudah rontok tapi Darren tidak keberatan sama sekali.
"Daarrreeeennnn" teriak Feli saat desakan mau pipis itu tidak tertahan lagi.
"Benar-benar memalukan" rutuk Feli dengan suara tertahan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Buka matamu sayang" pinta Darren lembut
"Darren..maafkan aku" nafasnya masih terengah. Ia menatap Darren penuh penyesalan. Darren mengeleng dan tersenyum. Darren kemudian mengecup kening Feli.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Do you feel good?" Tanya Darren.
Feli menganggukkan kepalanya.
"Aku akan memberikan yang lebih nikmat lagi sayang" Darren beranjak dan segera melepas celananya.
Feli menunggu dengan gugup dan juga penasaran. Ia akan bertemu langsung dengan benda yang selalu menonjol dibalik celana Darren.
"Apa kau sudah siap bertemu dengan adikku sayang?"
Feli meneguk ludahnya susah payah. Fokusnya berada dibawah pinggul Darren.
"Haruskah aku menyapanya?" Kembali Feli bertanya serius tapi terdengar seperti lelucon.
Darren terkekeh. Dengan sekali hentakan ia melepaskan celananya. Satu-satu nya penghalang ditubuhnya.
"Akkkhhhh" Pekik Feli kaget begitu melihat benda yang selalu menonjol dibalik celana Darren. Sesuatu yang selalu membuat celana Drren sempit. Ia tidak menyangka alat kelamin pria terlihat sangat menakutkan seperti itu.
Feli kembali meneguk ludahnya susah payah.
T.B.C
NB. Bercinta lah setelah menikah๐โ๐๐
__ADS_1