Bukan Cinta Terlarang

Bukan Cinta Terlarang
52. Masuk Angin


__ADS_3

"Morning sunshine"


Sapaan manis Darren menyambut pagi Feli. Feli menggeliat mereganggkan otot-otot tubuhnya. Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar mereka begitu menyilaukan. Feli mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan mendapati Darren, suaminya sudah berpakaian lengkap dan rapi berdiri di depan cermin berukuran besar.


Sudah 2 bulan mereka tinggal di apartement milik Darren yang dulunya adalah milik Daddy-nya. Setelah pulang dari bulan madu mereka dari Kanada, mereka memutuskan untuk tinggal terpisah dengan keluarganya.


Mika dan Felix tidak keberatan sama sekali karena itu sudah menjadi hak mereka. Setelah Darren dan Feli menikah mereka hanya bisa mendukung yang terbaik buat kedua anak mereka itu. Mereka tidak terlalu ingin ikut campur dalam rumah tangga Darren dan Feli karena Mika dan Felix yakin kedua anaknya itu mampu melakukan yang terbaik dan melihat cinta di kedua mata anak-anaknya mereka yakin Darren dan Feli mampu saling membahagiakan.


"Morning handsome" Feli tersenyum manis. Senyum yang sangat menenangkan hati Darren.


"Aku sudah menyiapkan sarapanmu. Makanlah setelah kau membasuh wajahmu dan menyikat gigimu darling".


"Terima kasih sayang" Feli segera beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi.


"Kau akan mulai bekerja hari ini?" teriak Feli dari kamar mandi.


"Ya honey. Daddy mengancam akan memecatku jika tidak datang hari ini" Darren terkekeh mengingat panggilan telpon Daddy-nya yang mengancamnya akan segera memecatnya jika sampai perusahaannya bangkrut. Memang semua pekerjaan di perusahaan Daddy-nya Darren yang memegang kendali paling besar.


Salahnya juga sebenarnya setelah menikah dengan Feli ia sama sekali belum pernah masuk ke kantor. Hampir 3 bulan ia mengabaikan perusahaan Daddy-nya. Katakan perusahaan mana yang memberikan cuti bulan madu selama tiga bulan? Salahkan Feli yang terlalu menggairahkan. Selama 3 bulan ini ia dan Feli bekerja keras untuk menghasilkan Maxston- Maxston kecil yang menyerupai dirinya atau pun istrinya Feli. Tentu saja proses pembuatan untuk menghasilkan Maxston kecil itu adalah hal yang paling disukai Darren dan ia selalu menggunakan alasan untuk mempunyai Baby agar Feli mau melayani nafsu setannya itu. Dan Feli yang malang selalu menurut setiap mendengar kata baby.


"Harusnya dulu kau menerima saat Daddy memberikan kuasa penuh padamu atas perusahaan".


"Itu bukan hakku sayang. Itu milik Mike"


"Apa kau masih lama sayang"


"Aku akan segera berangkat sebelum Daddy benar-benar memecatku"


"Daddy keterlaluan" sungut Feli begitu ia berdiri dihadapan Darren. Darren terkekeh sambil mengacak rambut istrinya itu.


"Suamimu ini juga memang harus bekerja untuk bisa menghidupimu dan anak-anak kita kelak" Ia menarik kursi dan duduk disana lalu ia menarik Feli agar duduk dipangkuannya. Feli mengambil dasi yang terletak diatas meja lalu memasangkannya dengan sangat lihai dan rapi.


"Terimakasih sayang" kecupan hangat dikening Feli dari Darren.


"Hmmm" Feli melingkarkan tangannya dibelakang leher Darren dan memangkukan dagunya di bahu Darren


"Aku pasti akan merindukanmu"


"Aku juga" Darren terkekeh seraya mengeratkan pelukannya. Seolah mereka akan terpisah sangat lama padahal hanya untuk beberapa jam.


Tiba-tiba Feli merasakan mual yang sangat luar biasa. Ia merasakan sesuatu dari dalam perutnya ingin keluar. Ia ingin muntah. Feli segera berlari kedalam kamar mandi sebelum ia melakukan hal bodoh dengan memuntahkan isi perutnya di tubuh Darren.


"Sayang...kau baik-baik saja" Darren mengikuti Feli.


"Uwweekk" Hanya ada cairan yang Feli muntahkan.


"Astaga..wajahmu pucat sekali"


"Ada apa denganmu?" Darren khawatir dan menangkup wajah Feli yang sudah berkeringat.


"Tubuhmu juga sangat dingin" Darren semakin panik


"Apa kau merasakan sesuatu"


Feli melepaskan tangan Darren dan kembali menunduk di atas wastafel


"Uwweeekk" kembali hanya cairan yang keluar.


"Oh Tuhan..ada apa denganmu" Darren menyingkap rambut Feli agar tidak mengenai muntahannya. Ia memijit tengkuk Feli dengan perlahan.


"Kepalaku pusing sekali"


"Sepertinya kita harus ke rumah sakit" Darren segera menggendong Feli bertepatan dengan ponselnya yang berdering.


"Ini pasti Daddy" ucapnya. Feli yang berada digendongan Darren merogoh kantong Darren untuk mengambil ponselnya. Ternyata memang panggilan dari Daddy nya. Feli mengangkatnya dan meletakkan nya ditelinga Darren


"Jika kau memang ingin memecatku, pecat saja Dad!! Istriku sedang sakit".


Feli menahan tawanya. Wajah khawatir Darren sangat ia nikmati. Itu artinya suaminya itu sangat mencintainya.


"Kau harus memakan sarapanmu dulu sebelum kita ke rumah sakit" Darren meletakkan tubuh Feli dengan sangat hati-hati di atas ranjang mereka seolah Feli adalah barang yang sangat rapuh.


"Katakan sayang selain kepalamu yang pusing, bagian mana lagi yang sakit?" Darren menatap Feli dengan lembut sedangkan tangannya membuka jasnya dan melemparnya begitu saja. Ia melipat lengan kemejanya sebatas siku lalu mengambil nampan yang di atas meja yang ia siapkan tadi untuk Feli.


"Aku hanya merasakn mual dan pusing" ucapnya manja.

__ADS_1


"Katakan Aaa..." Darren memerintah dan dengan patuh Feli menurut.


"Aaa..." Darren menyuapkan makanan ke mulut nya.


"Katakan jika ingin muntah lagi" masih saja Darren khawatir.


Bel apartement mereka berbunyi. Darren dan Feli saling tatap


"Apa kau ingin taruhan sayang?" Darren bertanya.


"Tidak! Karena aku juga memikirkan hal yang sama denganmu" jawab Feli.


"Daddy" jawab mereka bersamaan lalu mereka tertawa.


"Baiklah sayang, suamimu ini akan membukakan pintu untuk Daddy mertua dulu" Darren beranjak dari tempatnya.


Dan seperti dugaannya dan Feli wajah Daddynya terlihat begitu ia membuka pintunya. Dan ternyata bukan hanya Daddynya saja di sana tapi ada Mommynya dan adiknya juga Mike.


Darren terkekeh


"Silahkan masuk Mommy dan Daddy mertua begitu juga adik ipar" Darren mempersilahkan dengan sebelah tangannya.


"Kenapa lama sekali" Felix mendelik


"Harusnya kau tidak mengganti paswordnya anak sialan!" makinya.


"Jika aku tidak menggantinya aku yakin sewaktu-waktu kau akan menangkap basah diriku yang sedang making love bersama istri tercintaku. Apa kau yakin Dad, ingin melihat pertunjukan live kami" Darren menatap Daddy nya dengan seringai licik yang membuat Felix berdecak kesal


"Dasar anak tidak tahu malu" Feli mengangkat tinjunya.


"Oh Mom...i miss you" Darren segera menarik Mommy-nya ke dalam pelukannya sebelum tinju Daddy-nya mendarat di tubuhnya yang membuat Daddy-nya menggeram kesal. Lagi..lagi ia kalah dari Darren.


"Jika kau merindukanku kau pasti akan datang berkunjung" Mika membalas pelukan Darren seraya mengusap-usap punggungnya.


"Kenapa kau kurus sekali?"


"Apa Feli tidak memberikan mu makan?" Mika mendongak menatap wajah Darren


"Kau tahu putrimu tidak bisa memasak Mom"


"Tubuhnya mengecil karena terlalu berkerja keras dan berusaha setiap malam Mom" celetuk Mike.


"Dia tidak butuh makanan karena baginya Feli adalah hidangan terlezat" ucapnya frontal yang membuat Darren tergelak seraya memberikan dua jempolnya kepada adiknya itu


"Kau sangat mengenalku, Dude" ucapnya yang diangguki oleh Mike.


"Kau tidak perlu memperhatikannya sayang" Felix menarik Mika kesampingnya.


"Kita datang untuk melihat putri kita yang sedang sakit, bukan dia" Mendengar ucapan pedas Daddy-nya, Darren hanya tergelak.


Felix menuntun istrinya menuju kamar Darren dan Feli yang diikuti oleh Darren dan Mike dibelakang.


"Hai..." sapa Feli dengan semangat begitu melihat keluarganya.


"Oh putriku yang malang" Felix mendekat putrinya.


"Baru menikah 3 bulan kau sudah dibuatnya menderita" Mendengar ucapan Daddy nya Darren hanya terkekeh karena ia yakin sebentar lagi pembelanya akan membelanya. Mika memukul punggung suaminya.


"Perhatikan ucapanmu atau kau akan tidur diluar jika sekali lagi menyakiti putraku" tegurnya seraya menarik Felix agar beranjak dari sana


"Bagaimana khabarmu sayang?" tanya nya lembut mengusap lembut rambut putri nya itu


"Apa kau merasakan sesuatu?" tanya nya kembali


"Aku merasakan mual dan pusing Mom" Feli memeluk Mommy-nya.


"Apa kau sudah kedatangan tamu bulananmu?" Mendengar pertanyaan Mommy-nya Feli mengernyit begitu juga Darren.


"Kapan terakhir kau datang bulan?" kembali Mika bertanya.


"Apakah Feli hamil?" Mike menimpali.


Darren dan Feli kompak melebarkan mata mereka. Darren baru saja hendak berbicara ketika Mommy-nya membuka suara terlebih dahulu


"Itu belum pasti. Kita harus membawanya ke rumah sakit untuk memeriksanya" ucap Mika takut Darren Feli terlalu berharap. Kenapa juga Mike harus menimpali seperti tadi?.

__ADS_1


"Awas saja kalau kau membuat putriku hamil" Kembali Felix mencari keributan. Semua mata melotot ke arahnya.


"Memangnya apa masalahnya. Feli istriku jika kau lupa Dad?" jawab Darren kesal.


"Memangnya aku dirimu yang sembarangan menghamili tunangan orang lain" sindirnya tajam.


"Hei Bocil jika Daddy tidak menghamili Mommy-mu kau fikir kau bisa mendapat istri cantik dan unik seperti Feli" hardiknya.


"Oh..benar juga" ucap Darren dengan bodohnya.


"Maafkan aku Daddy mertua dan terima kasih pada senjatamu yang membuat tunangan Uncle Raymond hamil sehingga aku memiliki istri yang sangat cantik dan manis" Darren membunggkukkan tubuhnya seraya memberi hormat pada Felix yang membuat Felix tersenyum penuh kemenangan. Mika, Feli dan Mike yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah kapan kedua pria berumur itu bisa dikatakan dewasa.


¤¤¤¤¤¤


Feli masuk ke dalam sebuah ruangan bersama seorang Dokter wanita. Tentu saja Dokter wanita, Darren tidak ingin mengambil resiko dengan membuat keributan di rumah sakit jika Dokter yang memegang Feli istrinya adalah seorang pria.


"Kapan terakhir datang bulan?" tanya sang Dokter.


"Dua hari lalu?" jawab Feli enteng. Dokter itu tersenyum lalu mengangguk.


"Sudah selesai" ucapnya seraya membantu Feli untuk duduk. Ia dan Feli pun keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan istri saya?"


"Apa aku benaran hamil?"


"Diperutnya sungguh ada keponakanku?"


"Apa yang terjadi pada putriku?"


"Apa putriku baik-baik saja?"


Pertanyaan beruntun itu membuat sang Dokter melongo. Ia menatap satu persatu wajah yang menatapnya dengan berbagai ekspresi itu.


"Begini Tuan dan Nyonya" Dokter itu menjeda. Darren, Feli, Mika, Felix dan Mike menahan nafas menungggu berita yang akan disampaikan sang Dokter


"Setelah saya memeriksanya ternyata..." Dokter itu kembali menjeda. Ia menatap wajah- wajah penuh antusias itu


"Dan ternyata Ny. Maxston.."


"Dan ternyata kakakku hamil" kembali Mike menimpali.


Dokter itu menggelengkan kepalanya yang membuat semuanya mengerutkan dahinya.


"Ny. Maxston hanya masuk angin. Masuk angin biasa" Dan kalimat sang Dokter mampu membuat semuanya speechless. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Apa kau yakin sudah memeriksanya dengan benar?" Mike menatap sang Dokter. Dokter itu tersenyum dan mengangguk


"Sudah saya periksa dengan baik dan Ny. Maxston juga baru selesai mensturasi dua hari yang lalu. Bukan begitu Ny. Maxston?" Dokter itu menatap Feli yang langsung diangguki oleh Feli.


Melihat Feli menganggukkan kepalanya dengan polos membuat Felix dan Mika geram. Ingin rasanya mereka melempar putri mereka itu ke dalam sungai.


"Kenapa kau tidak mengatakannya tadi sayang saat Mommy-mu bertanya? Dengan begitu kita tidak perlu repot-repot ke sini" geram Felix seraya menatap sang Dokter yang terlihat sedang menahan tawanya.


"Aku lupa" jawabnya enteng yang membuat Mommy dan Daddy-nya semakin geram


"Darren apa kau kecewa?" Feli mendongak dan menatap Darren.


Darren tersenyum hangat. Ia menggelengkan kepalanya seraya mengusap lembut rambut istrinya itu. Ia juga tahu istrinya tidak hamil ia membawa Feli kerumah sakit hanya ingin memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja. Hanya saja tadi ia juga lupa memberi tahu Mommy dan Daddy-nya kalau istrinya itu baru selesai datang bulan karena harus meladeni kekonyolan Daddy-nya itu.


"Tidak apa-apa sayang. Kita hanya perlu berusaha lebih giat lagi" jawab Darren


"Hmm..Jika kau meminta 3 atau 4 kali aku tidak akan protes lagi" Ucapan polos Feli membuat semua mata tertuju kepada mereka. Sang Dokter yang berusaha mati-matian menahan tawanya. Mika dan Mike menatapnya takjub


"Pantas saja Feli masuk angin, kau menggempurnya habis-habisan dan menelanjanginya sepanjang malam" Mike menepuk bahu Darren.


"Awas saja kalau putriku masuk angin lagi!!Siapa yang tidak masuk angin jika tidur tidak mengenakan apa pun selama 3 bulan" Felix menatap Darren lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Lima hari dalam sebulan Feli tidur nyenyak Dad lengkap dengan piyama teddy bear kesayangannya" Darren sengaja menjawab untuk membuat Daddy nya semakin kesal.


"Tentu saja karena Feli datang bulan" Mike memperjelas yang diangguki Darren


"Apa kau predator kelamin?" Felix mendelik kesal


"Dad kau menyakitiku dan membuatku malu" Darren melirik Dokter yang masih sekuat tenaga menahan tawanya. Ketiga pria dihadapannya adalah pria tertampan yang pernah ia lihat tapi ketiga pria itu juga terlihat sangat konyol.

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2